Posts

5 Tahun Yang Lalu Dari Diriku

5 Tahun Yang Lalu Dari Diriku

Hai, bertemu lagi denganku. Sudah seminggu aku tidak menulis, ya ini karena aku terkena flu dan demam yang alhamdulillah dikarenakan kecapekan dan bukan COVID-19. Minggu lalu Aku pulang ke rumah, dengan rencana menghadiri kawinan teman SMA. Singkat cerita dalam satu hari itu rasanya aktivitasku padat sekali apalagi aku baru sampai rumah pagi dan lanjut kondangan siang hari. Langsung deh badan ngedrop.

Sedikit cerita tentang kepulanganku kemarin. Mengingat konten reuni SEMASA kemarin, Aku membuka lagi buku tahunan, lebih tepatnya buku kenangan SMA SAKRA 2015 (sengaja aku tulis siapa tahu teman SMA-ku ada yang baca ini). Tentu saat membuka buku itu, catatan pertama yang aku cari adalah diriku. Aku melihat fotoku yang menggunakan seragam pramuka, Aku ingat saat itu aku sedang selfie menggunakan kamera digital teman sekelasku. Seperti biasa, di buku kenangan itu tertulis nama, tanggal lahir, hobi, cita-cita, dan pesan-pesan. Di buku itu aku menulis tentang cita-cita sebagai seorang penulis, dan jurnalis. Memang Aku sudah gila dengan tulisan sejak kecil cuma sekedar gila saja tanpa disebarkan.

Jika diingat, kenapa Aku menulis itu? Jawabannya karena aku ingin kuliah di ilmu komunikasi atau broadcasting. Intinya yang nanti bakal jadi broadcaster yang ada di TV gitu, yang mencari berita ke sana ke sini. Menurutku pekerjaan itu keren, apalagi di tahun 2015 hanya sekadar alat komunikasi bagiku. Jadi untuk mencari informasi menarik media eletroniklah yang paling bagus.

Waktu berjalan, apa yang ku harapkan tak terjadi. Aku ditolak universitas sana-sini. Gagal mendapatkan bea siswa, tidak masuk universitas negeri, jurusan yang ku inginkan biayanya mahal, dan orangtuaku belum punya banyak rejeki saat itu. Keinginan untuk melanjutkan jenjang universitas terancam gagal atau diundur tahun depan. Tapi, akhirnya aku menemukan 1 kampus dengan biaya yang murah dan tak jelek-jelek amat. Meskipun jurusannya bukan broadcasting, atau ilmu komunikasi. Tapi ada persamaanlah di sana.

Akhirnya aku masuk UNISBANK dengan jurusan D3-Manajemen Informatika. Aku suka komputer, karena tetangga rumahku memiliki laptop dan aku senang bermain dengan laptopnya selama SMA. Kemudian berlanjut Aku ikut organisasi Internet Club dan bergabung di departemen internal, dimana ada kegiatan jurnalistik di sana. Setidaknya aku memiliki media untuk mengembangkan tulisanku kala itu.

Aku pikir, cita-cita menjadi jurnalis sangat bisa terwujud. Tapi ternyata tidak juga, Aku bahkan sempat WB (Writer Block) Aku tak menulis sama sekali kecuali jika ada tugas dari kampus atau tugas dari IC. Tugas dari kampus pun lebih sulit dikerjakan, maklum saja bahasanya harus baku. Singkat cerita Aku mulai memberanikan diri untuk menulis lagi setelah lulus kuliah. Aku masih berkiblat di cerita fiksi, Aku belum bisa menyampaikan opiniku melalui tulisan dengan baik, seperti sekarang.

Setelah lihat-lihat buku kenangan SMA, aku berpikir lagi. Ternyata apa yang kita tulis saat itu sangat bisa terjadi, meskipun rencanaku 5 tahun lalu tak berjalan sesuai dengan keinginan. Tapi ternyata Tuhan membuat perjalanan kita sedikit berliku agar memberi sensasi seru. Mungkin saat ini aku masih seorang penulis amatir, yang menulis bebas dengan kalimat yang belum efektif. Yang masih senang bercerita dan beropini sesuai dengan kata hati. Tapi setidaknya sekarang aku bisa menjadi jurnalis. Jurnalis untuk julnalku sendiri melalui ceritani.

Meskipun bukan bagian dari pers atau terikat kontrak dengan media apapun. Aku bisa menyuarakan dan menginformasikan sesuatu dari sini. Memang, yang terpenting dari sebuah jurnal adalah value bukan media. Jika ditarik 5 tahun ke belakang, aku mungkin tak menyangka. Betapa sedihnya diriku dulu saat tahu bea siswaku tak lolos, tak ada universitas negeri yang mau menerimaku, dan aku terancam tidak kuliah padahal aku sangat ingin kuliah karena masih ingin belajar.

Tuhan memang sudah merencanakan mimpiku akan terwujud. Cuma jalannya saja yang sedikit berliku. Untuk itu, mungkin dari cerita ini aku belajar lagi. Agar lebih serius lagi dalam menulis mimpi, meskipun tak sesuai ekspetasi tapi Tuhan tahu, apa yang kita mau dan butuhkan saat ini dan suatu saat nanti. Jadi kalau ada satu momen dihidup kita, dan kita diminta untuk memanjatkan doa atau harapan sebaiknya jangan pernah sia-siakan atau diisi sembarangan.

Segitu dulu ya ceritaku hari ini. Aku masih dalam masa pemulihan, sebenarnya sudah sehat. Hanya saja Aku harus mengubah pola hidupku lagi agar lebih baik. See You!

Gadis Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Perempuan Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Perempuan Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Gadis Dengan Garis Senyum Yang Panjang

Sumber Gambar : Photo by Christian Gertenbach on Unsplash

Aku sudah mengenal Tiara, gadis dengan garis senyum yang panjang. Namanya indah dan wajahnya selalu cerah. Aku sudah mengenal Tiara sejak kami sekolah di SD yang sama, belajar di tempat bimbel yang sama hingga akhirnya tepat 15 tahun Aku mengenalnya.

Seandainya dulu ku dengarkan kata orang kalau “Jangan berteman dengan lawan jenis kalau nggak mau terjebak friendzone.” Dan inilah kondisinya sekarang. Mengenal Tiara sejak kecil membuatku menaruh simpati padanya perlahan. Masih terbayang di kepala saat Tiara masih menangis karena diganggu kakak kelas waktu SMP atau jatuh saat naik sepeda di lapangan tenis kompleks.

Tiara, Tiara, Tiara… simpatiku kini berubah menjadi cinta. Cinta yang mungkin dirimu sendiri tidak tahu, cinta yang bahkan tak kamu sadari. Jangan bayangkan Aku dan Tiara memiliki hubungan dekat seperti sahabat yang digambarkan di novel atau film romantis.

Aku dan Dia hanya teman biasa, yang bicara secukupnya, dan saling menundukkan kepala saat berpapasan di jalan. Kami saling berkomunikasi saat ada keperluan penting entah terkait pelajaran di sekolah, amanah orangtua, atau pekerjaan.

Oh ya sebelumnya perkenalkan Aku Reno. Rumahku terletak tak jauh dari rumah Tiara. Meskipun satu sekolah, satu kantor dan satu lingkungan tempat tinggal kami tak pernah jalan berdua. Dia dijemput oleh pacarnya, Aku naik motor sendiri di belakang sambil membayangkan akan ada satu hari dimana kamu duduk membonceng motor ini.

“Minum air anget lagi?” Sapaku basa-basi.

“Iya, mari..” jawab Tiara singkat dan pergi begitu saja.

Sebenarnya Aku sudah tahu, bahkan hafal. Setiap hangat dia selalu minum air hangat di pantry, Aku juga hafal takarannya. 1/3 gelas air panas 3/4 air biasa, Tiara selalu minum air hangat entah cuacanya panas atau dingin. Entah sedang sakit tenggorokan atau sehat-sehat saja. Tiara lebih senang mengambil air hangat sendiri dibanding meminta bantuan OB. Tiara takut jika air hangat yang dibuat terlalu panas atau terlalu dingin.

Aku telah mengamati Tiara selama ini. Perasaanku terhadapnya semakin mendalam, andai ada satu momen sekali seumur hidupku untuk menyatakan perasaan cintaku padanya. Aku tak akan melewatkan itu, tak peduli apakah akan diterima atau ditolak.

Tapi Aku sadar, banyak orang yang menyukai Tiara. Hampir semua devisi di kantor ini mengetahui siapa Tiara, dan hampir sebagian besar berusaha merebut hatinya. Maklum saja, Tiara terkenal bukan karena wajahnya yang cantik. Dia punya nilai yang bagus, jiwa kepemimpinan yang baik terhadap tim, ramah dengan siapapun, bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, dan berani berargumen. Aku tahu itu, karena banyak teman-temanku di kantor yang meminta tolong untuk mendekatkan mereka dengan Tiara. Tentu Aku menolak keras permintaan itu.

Aku saja tidak mampu mendekati Tiara, bagaimana bisa menolong mereka. Kalaupun bisa Aku sangat tidak ikhlas. Sore ini, cuaca sedikit mendung. Sepertinya akan hujan lebat, Aku melihat lamaran cuaca di Hp-ku. Sekitar pukul 18.00 WIB akan terjadi hujan deras. Padahal di jam itu, banyak karyawan yang pulang.

Tiba-tiba Tiara berada di sampingku. Kami berdua melihat cuaca sore ini di jendela yang sama. Aku melirik wajahnya sedikit. Tampak raut wajah yang cemas, tapi apa yang perlu dikhawatirkan jika Dia dijemput oleh pacar yang mengendarai mobil.

Kali ini Aku tak menyapanya. Kami memang sedikit berbicara, lagi pula Aku sudah tahu apa yang akan Dia jawab. “Iya..” hanya kata itu saja yang selalu Tiara ucapkan setiap kali Aku berbicara kepadanya tentang hal apapun.

Hujan mulai turun. Pekerjaanku tinggal sedikit, satu per satu karyawan pulang. Tinggal Aku yang masih bertahan di ruangan ini. Rasanya ingin segera menyusul pulang, tapi di luar masih hujan deras dan pekerjaanku tak selesai.

Tepat 18.30 hujan mulai mereda, pekerjaanku juga sudah selesai. Aku mematikan Laptop dan membereskan meja kerjaku. Aku turun ke loby kantor untuk melakukan absensi.

Di depan mataku, ada mobil yang tampaknya tidak asing. Itu mobil pacar Tiara, dari depan kantor Aku melihat siluet orang yang sedang bertengkar. Pertengkarannya sepertinya hebat. Aku sedikit penasaran. Tapi jangan deh, siapa diriku yang ikut campur kehidupan cinta orang lain. Meskipun Aku mencintai Tiara diam-diam, tapi Aku juga tak punya hak atas urusan cintanya.

Aku menuju parkiran motor.

BRAKK suara benturan yang cukup keras. Tiara keluar dari mobil pacarnya. Tiara kehujanan, sedangkan pacarnya pergi meninggalkan Tiara dengan kecepatan tinggi. Tiara menepi di depan gedung, rambuh dan bahunya basah.

“Aku bawa helm dua” ucapku sedikit memberanikan diri. Dengan membawa motorku, ku tawarkan ia tumpangan untuk pulang ke rumah.

Wajahnya seperti cuaca hari ini, mendung dan hancur. Aku memang tak pandai menghibur, tapi setidaknya Aku ingin menemani Tiara menangis sore ini. Pertengkaran dengan kekasih tentu menyakitkan, setidaknya itu kata orang-orang.

“Maaf Ren, Aku udah pesen taksi.” Ucapnya sambil tersenyum lebar dan menunjukkan wajah kuat.

 

 

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Halo! Setelah beberapa waktu lalu aku bikin acara reuni virtual #1 yang membahas tentang body shaming, tepat kemarin (19/09) bersama teman SMA ku Ratih. Topik yang aku angkat kemarin sangatlah menarik, jujur ini demi menjawab pertanyaanku pribadi tentang “Nikah Muda”.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Ya, beberapa orang mungkin menganggap nikah muda adalah hal yang menyia-nyiakan masa mudanya. Kenapa demikian? Gini, Aku pun juga berpikir begitu dulu. Masa muda adalah saatnya kita mengejar mimpi, berjelajah, mencari jati diri yang sebenarnya, dan belajar menjadi lebih dewasa. Tapi jika sudah menikah, rasanya hidup bukan milik sendiri saja, namun sudah milik berdua dengan pasangan.

Kebanyakan orang berpikir di usia muda memiliki ego yang besar dan kondisi emosional yang nggak stabil. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menghadapi berbagai problematikan pernikahan. Tapi sedikit cerita tentangku saat membahas topik ini. Sejujurnya ini topik yang cukup berat buatku, selain karena Aku yang belum menikah. Bagiku isu pernikahan muda cukup sensitif, sebelum memulai acara reunivirtual aku membekali diriku dengan beberapa pengetahuan tentang pernikahan. Aku cari UU perkawinan negara (Aku cari tahu berapa batas minimal seorang wanita menikah, Aku pribadi nggak mau jika ternyata temanku dikategorikan KAWIN ANAK, dan untunglah tidak). Aku belajar bagaimana kehidupan pernikahan melalui buku.

Sungguh, Aku sangat berhati-hati membawakan topik tersebut. Aku nggak mau, konsep awal yang ingin membedah kisah teman tentang kehidupannya yang menikah muda, justru menggiring opini audiens untuk sesegera mungkin menikah.

Lanjut ke pembahasan reuni kemarin, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Aku cenderung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ratih tentang kehidupannya saat menikah muda. Ratih menikah di saat usianya 18 tahun. Ia baru lulus SMA dan selang beberapa bulan akhirnya menikah. Tentu aku penasaran dorongan apa yang membuat dirinya pribadi memutuskan untuk menikah dengan orang yang selisihnya 13 tahun lebih tua? Bagaimana kondisi emosionalnya? Bagaimana dia menurunkan egonya?

 

Ratih menceritakan sedikit keputusannya menerima lamaran suami. Ratih mengenal suami sudah 3 tahun lamanya, setelah ia lulus. Ratih dan suami mulai menjalin hubungan spesial, selang 3 bulan. Akhirnya sang suami meminta restu kedua orangtua, singkat cerita setelah pertemuan kedua keluarga tanggal pernikahan pun diperoleh. Awalnya Ratih masih diberi kesempatan untuk merintis karir beberapa tahun, tapi ternyata ia justru akan menikah dalam waktu terdekat. Ratih sempat mengalami dilematik, antara lanjut menikah atau berhenti saja. Tapi ia pikirkan lagi, tentang kepribadian sang suami yang baik, sikap religiusnya, menurutnya sulit saat ini mencari seorang imam keluarga yang baik. dan mumpung ia menemukan calon seperti itu, akhirnya ia memilih menerima.

Di awal pernikahan Ratih juga mengalami gejolak emosi. Kehidupan pernikahan dengan kehidupan lajang tentu berbeda jauh. Namun, sang suami senantiasa sabar menyikapi gejolak emosi Ratih yang berubah. Sang suami tentu paham, selain karena usia Ratih yang masih muda, Ratih juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan. Ia bilang butuh waktu 3 bulan untuk menstabilkan emosinya. Apalagi, di usia pernikahannya yang baru 1 bulan, Ratih diamanahkan anak. kondisinya yang hamil membuat Ratih harus benar-benar belajar mengendalikan emosi dan menjadi lebih dewasa.

Ratih mungkin masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan merintis karir lagi. Tapi ketika anaknya lahir, Ratih mulai merasa dilema. Meskipun sang suami mendukung jika dirinya ingin mengejar cita-cita. Tapi sebagai seorang ibu, Ratih masih memikirkan tumbuh kembang anaknya yang masih berusia 4 tahun. berganti peran memang berganti sudut pandang, Ratih mungkin belum sempat mengenyam bangku Universitas. Tapi karena suaminya seorang guru, Ratih sering kali membantu suami mengoreksi hasil ujian para siswa saat UAS dan UTS. Yang itu berarti Ratih juga masih belajar, meskipun dirinya ibu rumah tangga.

Kalau membahas pernikahan memang ada aja yang dibahas, bahkan aku sempat bertanya pada Ratih, apakah dia pernah merasa menyesal karena menikah muda? Pernah merasa irikah dengan teman-teman seusianya yang bekerja atau kuliah?

Ratih menjawab jujur jika dia pernah merasakan itu. Apalagi jika dia membuka media sosial, yang isinya penuh dengan gambaran teman-temannya yang kuliah, yang merintis karir dan lain-lain. Sesekali ia bercerita dengan suami, tapi apa yang ia katakan justru membuat suami merasa bersalah. Akhirnya Ratih memendam perasaan itu, ia memilih kembali kepada komitmen yang dibangun berdua dengan pasangannya.

Kini peran Ratih tak lagi sama. Ratih menjadi anak perempuan, istri dan ibu. Peran tersebut terkadang membuatnya semakin belajar bagaimana ibunya dulu yang bersusah payah mendidik anak, sekaligus istri.

Dari obolanku malam itu, mungkin ada hal yang bisa dipetik dari kisah pernikahannya Ratih. Kunci pernikahan bukan berada di dalam diri sendiri saja, namun juga pasangan. Saat satu pihak sedang belajar maka pihak yang lain perlu bersabar.

Tujuanku tetap cukup terpenuhi malam itu. Aku ingin mematahkan streotip masyarakat yang bilang jika nikah muda itu menyia-nyiakan masa mudanya. Itu menurutku salah.

KONSEP MENYIA-NYIAKAN AKAN ADA JIKA KITA TIDAK MENIKMATI PERNIKAHAN ITU SENDIRI DAN MERASA MENYESAL ATAS KEPUTUSAN TERSEBUT.

Jadi kalau kita menikah di usia 18 seperti Ratih. Atau 20, 30, bahkan 40 tahun kalau kita tidak bisa menikmatinya dan tidak menjalin hubungan yang baik dengan pasangan semua itu akan sia-sia. Menikah muda, memang pilihan. Aku yang berusia 23 tahun saja sudah ditanya punya calon atau belom. Menikah bukan hal yang mudah, perlu banyak persiapan. Baik secara mental, emosional, fisik, dan finansial. Untuk itu sebaiknya pertimbangkan sebaik mungkin, jangan sampai merasa menyesal dengan keputusan bersama seseorang sehingga kita merasa menyia-nyiakan waktu saat bersamanya.

Itu dulu cerita dariku, semoga ada pembelajaran yang diperoleh dari sesi reuni virtual kemarin. Tunggu konten reuni virtual berikutnya ya!

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Halo, berjumpa lagi. Hari ini aku mau bahas sesuatu yang sedikit baper karena membahas kata “sayang.” Emang sih ini bukan cerita fiksi yang aku tulis seperti biasanya. Memang kalau membahas rasa sayang kepada seseorang memang tak ada habisnya.

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Menurut kalian sendiri sayang itu seperti apakah? Apakah tulus mencintainya tanpa pamrih? Tulus memberikan cinta dengan ikatan relasi romantis? Sayang memang banyak bentuknya, mungkin kita merasa sayang dengan orangtua, saudara, atau sahabat karib. Rasa sayang tentu juga bisa kepada kekasih hati, dalam hal ini aku masih mencangkup batas pacaran atau pedekate gitu.

Sebenarnya ada banyak teori tentang cinta yang mendeskripsikan perasaan cinta manusia. Namun karena aku tidak mempelajarinya secara mendalam teori tersebut. Langsung aja ke pembahasan kita tentang rasa obsesi.

Sebelumnya Aku pernah membuat sajak yang membandingkan rasa cinta atau sekadar obsesi belaka. Aku bukanlah orang yang berasal dari pakar relationship, tapi berkat aku menjadi content Writer dengan tema Psikologi, Seksologi, dan Relationship. Aku jadi banyak belajar dan mengenali diriku. Beberapa orang mungkin sulit mendekripsikan perasaannya kepada seseorang. Sama seperti apa yang aku alami dulu. Bagiku cukup sulit untuk akhirnya mendeteksi jika perasaan itu adalah obsesi. Mungkin sebagian dari kalian juga demikian. Awalnya kita terlalu sayang sama Dia, telalu takut hidup tanpanya, Terlalu sedih jika dikecewakannya, dan perasaan keterlaluan lainnya.

Awalnya kita mengira itu benar-benar sayang dan cinta. Dimana Cuma ada dia yang ada di hati kita, yang kita pikirkan, yang kita harapkan di masa depan. Namun semua hal yang kita rasakan, jika terlalu berlebihan tentu bukan hal yang baik. Kita menjadi lebih takut dan waspada dengan hal-hal buruk yang terjadi. Seperti penolakan, pengkhianatan, atau hal kecil seperti keinginan kita yang tak dituruti oleh pasangan.

Menyadari bahwa apa yang kita kira cinta namun ternyata obsesi belaka tentu bukan hal yang mudah. Perlu pengenalan diri, pemahanan dengan perasaan cinta itu sendiri. Meskipun istilah “Cinta tak harus memiliki” adalah hal yang menyakitkan, namun itu bisa menjadi hal yang benar. Hal yang pertama Aku sadari jika itu sebuah obsesi adalah apakah diri ini bahagia? Apakah diri ini nyaman? Apakah pasangan merasa bahagia? Apakah pasangan merasa terkekang?

Berkali-kali ku tanyakan hal itu. Terutama pada diriku sendiri, apakah Aku yakin dia yang paling ku inginkan di dunia? Terkadang kita selalu dibutakan oleh keinginan semata, tanpa sadar dia mungkin yang kita inginkan, namun tak bisa memenuhi kebutuhan kita. Apa kebutuhan kita? Tentu kebutuhan dasar kita adalah bahagia? Rasa obsesi tak bisa menjamin bahagia, obsesi hanya memberikan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran.

Hal itulah yang kemudian aku sadari, jika Aku tak bisa memiliki sepenuhnya pasangan. Karena dia adalah orang yang paling berhak atas dirinya, begitupun Aku. Perlahan Aku sadar, obsesi bukan hanya membuat pasangan terkekang namun juga hati kita. Kita tak bisa bebas, selalu terusik oleh kekhawatiran, dan perasaan-perasaan yang tak pasti lainnya. Jika kita sudah di titik ini sebenarnya keputusan langkah apa selanjutnya yang akan diambil tergantung pribadi masing-masing. Mungkin beberapa akan memilih untuk memperbaiki dirinya.

Namun ada juga yang memilih untuk melepaskan. Melepaskan rasa obsesi sekaligus orang yang disayangi. Tak mudah memang, tapi kita harus sadar kebahagiaan kita sendiri yang menciptakan. Kita tak bisa memulai hubungan yang sehat jika diri sendiri tidak bahagia lebih dulu.

Aku tahu, memilih keputusan kedua itu berat. Beberapa orang akan mati-matian melepas dan menangis bermalam-malam. Namun percayalah, hal itu mungkin akan baik untukmu. Karena kita sudah tak memiliki beban, lebih bebas dan bisa menjadi diri sendiri. Memang menulis nasehat sangatlah mudah dibanding mempraktekannya. Tapi cobalah pikirkan lagi, apakah mau bertahan dalam hubungan yang terus membuat kita khawatir. Perlahan pasangan tentu tak akan betah dengan sikap obsesi yang diklaim sebagai rasa sayang.

Kita perlu paham, terkadang kehadiran seseorang di dalam hidup kita, hadir bukan untuk mendampingi namun untuk mengajari. Mari kita belajar melepas obsesi demi orang yang disayangi.

“Orang yang kita temui sepersekian detik di jalan saja sudah mengajarkan sesuatu tentang hidup. Lalu bagaimana dengan orang yang bersama kita selama berhari-hari, bermingg-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sudah berapa banyak hal yang dipelajari darinya? Apa yang bisa kita pahami saat sedang bersamanya? Tentu tiada terkira.”

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

 

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Hallo semua! Hari ini Aku mau berbagi pengalaman. Mungkin pengalaman body shaming bukan hanya dialami oleh aku saja, kebanyakan orang juga mengalaminya. Dikatain gendut lah, pendek lah, kecil lah, terlalu kurus, lah, jelek, dan lain-lain. Awalnya ledekan itu sebagai bahan bercandaan, tapi lama-lama malah menyakitkan bagi mereka yang bersangkutan.

Jujur Aku juga orang yang sering sekali mengalami body shaming. Alasannya karena tinggi badanku yang masih dibawah rata-rata orang seusiaku. Body shaming aku alami sejak SMP. Awalnya biasa, atau lebih tepatnya saat itu aku nggak bisa ngelawan. Bingung gimana caranya bisa menjawab semua ledekan mereka. Hal itu terus aku alami. Tapi aku bersyukur, dibalik teman-teman yang mengejekku masih ada teman yang mau nemenin dan berteman denganku. Kekesalanku terhadap tindakan body shaming dari teman-teman membuatku mudah marah. Aku sering memukul mereka dengan tangan atau mengumpat padanya. Maklum waktu itu aku banyak nememukan kosa kata baru, dan belum bisa bersikap sabar. Cenderung lebih sering memberontak. Aku nggak peduli apa mereka merasa sakit, karena apa yang mereka katakan jauh lebih sakit. Aku merasa menyimpan dendam pada mereka yang mengatakan itu.

Emang sih body shaming bikin rasa percaya diri kita jadi turun. Apalagi kalo diledeknya di depan orang banyak. Wahh itu pasti rasanya malu dan marah banget. Lalu saat masuk SMA, Aku mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tepat kelas X aku bertemu dengan temanku Mera. Kami memiliki tinggi badan yang sama. Bahkan setiap kali jalan ke kantin berdua, kami dianggap kembar oleh anak-anak.

Siapa sih yang suka kalo dipanggil 1 meter tak sampai? Kalau ada mungkin dia bermental baja. Masa SMA aku memiliki teman-teman dengan bentuk tubuh yang lebih proposional dibanding waktu SMP. Anak laki-laki tubuhnya kurus tinggi. Sedangkan anak perempuan, body goals lah.

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Awalnya aku pede-pede aja karena di kelas aku bertemu banyak orang yang bertubuh mungil. Ya ngerasa ada temennya. Dan karena Mera dan teman-teman yang lain juga aku merasa lebih diterima oleh lingkungan di kelas ataupun di sekolah. Aku merasa lebih dihargai keberadaannya di banding diintimidasi. Meskipun body shaming itu tetap ada, dan beberapa orang memanfaatkan postur tubuhku untuk kepentingan pribadinya. Tapi aku merasa lebih aman di lingkungan SMA ini.

Karena apa yang aku alami sama seperti yang Mera rasakan, beberapa waktu lalu kami memutuskan untuk membuat 1 ide konten baru. Aku sungguh sangat bersyukur melalui konten #reunivirtual kemarin Aku dan Mera saling bercerita di moment kemarin. Melalui IGLIVE aku dan dia saling cerita tentang pengalaman Body shaming yang kami rasakan semasa SMA. Namun, saat masih SMA aku dan Mera merasakan dan memberikan sikap yang sama. Ya, menganggapnya sebagai lelucon yang menyenangkan. Karena jujur orang yang selalu meledek kami berdua punya gaya pelawak gitu.

Dari obrolan selama 1 jam itu, kami berdua sama-sama merasakan. Terkadang cara terbaik menyikapi body shaming atau bentuk bullying lainnya adalah dengan fokus pada diri sendiri. Memang kita nggak punya bisa meminta orang lain untuk lebih menghargai perasaan kita. Kita nggak punya kontrol atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Kita Cuma punya kontrol pada diri sendiri.

Mera juga mengaku kalau berkat body shaming dari temen-temennya dia justru memiliki mental yang kuat. Terkadang memang Mera sering bertanya, kenapa selalu dia yang diledek dari semua temen-temennya? Kalau dipahami lagi terkadang teman-teman yang sering meledek, justru mereka yang paham betul dengan karakter kita. Karena bisa saja mereka yang meledek kita benar-benar tak bermaksud untuk melukai kita. Memang berusah mengakrabkan diri, tapi ternyata cara itu membuat kita merasa tidak nyaman.

Balik lagi ke bagaimana menyikapi Body Shaming itu. Kuncinya kita harus berganti fokus. Jangan terlalu fokus pada hal yang membuat kita terluka atau kepada mereka yang melakukan body shaming. Fokuslah pada hal besar yang kita miliki. Kondisi fisik adalah sebagian dari kehidupan kita, ada hal lain yang lebih besar dari itu. Ya sebut saja perasaan kita dan pikiran kita.

Aku sendiri juga merasa sedikit bersyukur atas hal yang tidak aku sukai di masa lalu itu. Berkat bully-an dan tindakan body shaming teman-temanku Aku bisa membuat karya yang bisa melegakan hatiku dan dinikmati orang-orang di sekitarku.

Mungkin itu dulu, sedikit rangkuman dari Reunivirtual kemarin. Semoga dengan apa yang aku dan Mera sampaikan bisa bermanfaat bagi siapa saja. Sekian dariku, selanjutnya aku akan membahas banyak hal lain dengan teman lamaku di masa SMA. See You! #reunivirtual SEMASA

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Halo semua, bagaimana kabar kalian? Sehat ya. Hari ini aku mau cerita, rasanya udah lama banget aku gak bercerita tentang perjalanan. Nah, selama masa pandemi ini tentu ada beberapa tempat wisata yang ditutup tapi ada pula yang dibuka dengan catatan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Minggu kemarin tepat (13/9) Aku bersama ketiga temanku pergi ke berkeliling Semarang. Ya, kami menaiki bis trans Semarang dan janjian berkumpul di halte Simpang Lima. Rencana awal Aku dan teman-teman ingin berkunjung di Museum Ronggowasita. Tempat itu memang aku yang mencetuskan. Ini bukan karena kami anak culun. Aku cuma ingin salah satu vlog dari Keluarga Belo yang mengatakan, salah satu cara belajar sejarah sebuah tempat adalah dengan mengunjungi museumnya. Bagiku memang tidak adil jika bertahun-tahun merantau di kota Semarang namun tak paham bagaimana sejarahnya. Untuk itu Aku mengajak ketiga temanku ini bermain ke sana. Tapi ternyata di hari itu museum masih ditutup (sementara) dan dibuka kembali bulan depan.

Akhirnya bingung dong mau kemana, mana panas banget. Setelah diskusi akhirnya kami memilih pergi ke taman Mareokoco. Meskipun bersifat taman dan dikategorikan sebagai wisata keluarga, namun bagiku ada beberapa hal yang bisa dipelajari di tempat itu.

Kami akhirnya pergi ke halte terdekat, setelah menunggu 30 menit akhirnya kami mendapatkan bis yang mengarah ke Mareokoco langsung.

Untuk tiket masuknya sendiri seharga 15.000 cukup murah. Kebetulan siang itu suasana Taman Mareokoco sedang ramai. Namun petugas tetap memerintahkan pengunjung menaati protokol kesehatan. Sampai di sana kami berhenti di salah satu warung untuk membeli minum. Jujur siang itu cukup panas, oh ya buat temen-temen kalau beli minum jangan lupa buang sampai di tempatnya ya. Setelah ngaso kami jalan-jalan keliling rumah adat.

Meskipun dibilang wisata keluarga namun taman Mareokoco juga sering dijadikan tempat hunting foto entah untuk memenuhi feed instagram atau prewedding. Ada banyak kabupaten yang digambarkan di sini. Mulai dari kabupaten Blora, Grobogan, Semarang, Surakarta, hingga Cilacap. Kalau dilihat dari peta wisata. Dari pintu masuk telah diurutkan kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah paling timur hingga ke paling barat.

Jadi kalau di amati kabupaten yang dekat dengan pintu dan di tengah-tengah adalah tempat yang cukup ramai dikunjungi. Oh ya tempat ini cukup luas, kalau capek mengelilingi dengan jalan kaki kita bisa pakai kereta.

Selain rumah ada, setiap kabupaten juga dilengkapi dengan ciri khas apa yang ada di sana. Misalnya Boyolali yang disebut sebagai New Zealand Central Java, dimana produksi susu di Boyolali yang tinggi. Jadi di sebelah rumah adat Boyolali dilengkapi dengan patung sapi perah. Terus, Banjarnegara yang terkenal dengan dawet Ayu, dan Jepara yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya.

Bukan hanya itu, Ada pula gambaran laut jawa yang bisa kalian kelilingi dengan perahu, dan miniatur seperti candi waduk bahkan bengawan solo.

Kalau kita telisiki lebih jauh, ini bukan hanya liburan semata. Tapi tempat ini juga bisa jadi tempat belajar yang menyenangkan. Terutama belajar kebudayaan kalau jaman SD belajar IPS mungkin. Kalau kalian masuk ke setiap rumah, coba deh perhatikan detail-detailnya. Seperti yang kita tahu rumah adalah tempat berlindung. Setiap daerah di Jawa Tengah memiliki kondisi geografis yang beragam. Jadi dibangunnya rumah adat tiap kabupaten memiliki ciri khas yang berbeda, mulai dari pilar, bentuk atap, tegel, bahkan hal kecil seperti ukiran-ukirannya. Sayangnya Aku gak didampingi tour gate gitu. Jadi aku hanya bisa menalar pemaknaan dari setiap rumah. Tapi, saat mengunjungi tempat ini justru aku merasa mendapatkan insight baru dan ingin belajar lebih jauh lagi tentang budaya Indonesia khususnya budaya Jawa Tengah.

Mareokoco Semarang, Keliling Jawa Tengah

Maklum aku sendiri juga merasa sedikit kehilangan kejawaan-ku. Jadi berkunjung sebentar ke Mareokoco membantuku kembali untuk mengingat jati diri sendiri. dan lebih banyak belajar tentang kebudayaan terutama di bidang arsitekturnya. Ini jujur, saat mengunjungi tempat ini, rasanya Aku ingin kelak ketika sudah berkeluarga mengajak anak-anak ke tempat seperti ini. Bukan hanya liburan semata namun juga belajar dan menambah pengetahuan mereka.

Nah itu dulu cerita dariku, semoga kalian terhibur! Oh ya Foto2nya sebenarnya banyak Aku cuma milih beberapa.

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Kelas Nulis Virtual Bareng IC: Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Halo semua! Hari ini aku mau cerita tentang pengalamanku semalam. Ngapain coba malem jumat? Nggak kok, nggak aneh-aneh.

Beberapa hari yang lalu, gak tahu kenapa rasanya kangen bet sama kegiatan sharing gitu. Jujur Aku termasuk orang yang selalu semangat kalau acara sharing dengan topik yang menarik (menurutku) entah diposisi peserta ataupun pengisinya. Nah kemarin malam, tepat malam jumat Aku mengajak anak-anak IC (Internet Club) buat bikin kelas kepenulisan secara virtual.

Setelah aku dan anak-anak IC setuju buat bikin kelas nulis bareng, akhirnya kami nentuin tanggal dan memulainya semalam.

Secara teknis acaranya seperti acara pada umumnya, sharing 30 menit dan tanya jawab 30 menit. Untuk materi yang aku bawain, itu hampir sama dengan artikel yang aku post beberapa waktu lalu, mengubah patah hati jadi cerita fiksi.

Oh ya Aku masih ingat bagaimana reaksi orang-orang saat tahu judul acaranya seperti demikian. Semua orang pikir jika materi yang aku bawakan itu materi galau. Aku senyum-senyum sendiri lihat respon mereka. Ya, aku tahu, dan aku sengaja minta anak IC buat ngasih judul acara gitu. Ya mau bagaimana, topik galau selalu menyedok perhatian orang-orang. Maklum lebih banyak orang yang patah hatinya dibanding yang jatuh cinta.

Ini jujur sih 2 malam menjelang hari H aku belajar. Ngeresume tulisanku dari blog dan baca ulang buku langkah awal menulis buku fiksi yang aku beli di bazar buku tahun lalu. Ya, Aku diajari “Saat ngisi acara jangan hanya omong kosong. Tapi harus ada isi” setelah mendengar pernyataan itu, aku mulai paham. Jika mendapatkan amanah sebagai pengisi bukan hanya sekadar panggung namun tanggung jawab. Untuk itu Aku harus mengisi ulang otakku, berharap jika apa yang aku sampaikan bisa menjawab rasa penasaran audiens.

Aku sebenarnya nggak menargetkan jumlah peserta yang bakal ikut kelas. Cuma info yang aku dapet sekitar 20 orang, tapi ternyata jumlah peserta semalam mencapai 30 orang. Aku gak nyangka apalagi terlihat mereka banyak yang antusias. Aku berharap pertanyaan mereka aku jawab dengan baik :’)

Setelah 1 jam lebih 15 menit kelas selesai. Tak lupa Aku menutupnya dengan sajak. Bukan Riski namanya jika tak memberi virus baper ke dunia. Hahaha…

Aku banyak belajar dari acara ini. Meskipun aku di sana sebagai pengisi namun aku belajar jika diriku harus memperdalam public speaking lagi. Meskipun bukan di atas panggung, tapi sensasi deg-degannya masih terasa. Bahkan keringatku sampai keluar banyak dan membasahi jilbab. Aku juga sadar jika kata yang aku sampein ke temen-temen masih bundel. Dan aku harap kalian paham maksud aku. Aku juga sadar, Aku juga harus latihan pernapasan, hahaha… ngomong 30 menit tanpa minum ternyata ngabisin suara juga.

Udah dulu ya ceritaku hari ini, semoga ada kelas-kelas nulis lainnya yang bisa diikuti orang-orang bukan hanya anak IC saja. Mungkin di antara kalian juga bisa! See You!

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Halo, hari ini sesuai janji di konten belajar nulis sebelumnya, kalau Aku bakal jelasin bagaimana sistem kerja content writer. Well, sebelumnya Aku kan udah bahas ya gimana mengubah patah hati menjadi cerita fiksi. Cielahh, sebenarnya menulis pada dasarnya sama sih. Mau itu nulis fiksi ataupun non-fiksi.

Cuma saat menulis fiksi dan artikel biasa, kita butuh sudut pandang yang berbeda. Hal itu juga berlaku loh, saat kita jadi content writer dan blogger. Kalau ditanya susah mana, jujur menulis fiksi lebih susah dibanding menulis artikel.

Menulis fiksi perlu imajinasi, dan sebagai penulis cerita kita harus bisa memvisualisasikan tempat, karakter, konflik, dan lain-lain. Butuh waktu dan komitmen untuk menyelesaikan ceritanya. Meskipun fiksi bisa dibuat versi cerita pendek, namun tetap saja. membuat cerita awal hingga mengakhirnya sesuai keinginan dibutuhkan fokus dan komitmen.

Nah balik lagi dipembahasan susah senangnya jadi content writer. Pada dasarnya, semua pekerjaan pasti ada susah senangnya. Karena Aku emang suka nulis dari kecil, jadi menurutku pekerjaan ini Aku nikmati. Ya, bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai tentu menyenangkan bukan, meskipun ternyata hal itu nggak semudah yang kita kira.

Pertama kali Aku menjadi content writer sekitar bulan November 2018 silam. Saat itu aku baru lulus kuliah. Jujur Aku masih kerja part time saat itu, sambil nyari pekerjaan tetap di perusaah tertentu. Kemudian, salah satu temanku menawarkan pekerjaan ini. Saat itu, masih sekadar freelancer. Dulu, artikel yang ku buat sebanyak 5 buah artikel dengan jumlah kata 500, dan itu harus dikirim setiap minggu. Jujur pertama deg-degan sih, ya maklum saat itu aku masih nge-blog lewat steemit (platform blockchain gitulah…) dan di akun steemit itu pun aku juga lebih banyak cerita tentang fiksi.

Di bulan pertama rasanya membuat seratus kata itu susah banget. Setiap pulang kerja part time aku selalu lanjut nulis. Jujur Aku selalu bingung mau nyusun gimana? Ini tulisannya enak dibaca apa nggak? Ini nanti termasuk kena plagiasi nggak? Segala ketakutan Aku rasain saat menulis. Untunglah, di bulan-bulan berikutnya aku mendapatkan treatment yang berbeda, seperti diberi referensi website, yang bisa jadi sumber konten. Saat itu mulai rasanya sedikit ringan. Selama jadi content writer aku cenderung menerapkan konsep re-write.

Sebenarnya ada dua teknik copy writing yang bisa kita pake, yakni:

  1. Re-write (menulis ulang artikel dari 2 situs website yang menjadi referensi dengan gaya bahasa kita sendiri sehingga menciptakan artikel yang baru.)
  2. Translate (Kita mengambil artikel atau jurnal asing yang kemudian kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan disusun kembali menjadi kalimat yang enak dibaca).

Seiring berjalannya waktu Aku jadi terbiasa. Sekitar 4-5 Aku freelancer menjadi content writer website orang. Hingga akhirnya di pertengahan tahun 2019 Aku bekerja tetap sebagai content writer di sebuah kantor.

Awalnya senang dong, tapi beda freelance beda pekerja tetap. Jika freelancer hasil artikel yang diminta masih sedikit dan deadline-nya per minggu. Sekarang tantangan bertambah, setiap hari aku harus membuat 5 artikel sesuai keyword yang diberikan. Awalnya susah, namun lama-lama kebiasa. Hingga akhirnya jumlah artikel ditambah jadi 7 artikel perhari.

Selain jumlah artikel yang ditambah, tapi jumlah katanya juga. Pertama 500, 600, 800, hingga 1000 bahkan 1200. Memang setiap keahlian harus diasah bukan. Cara mengasahnya tentu dengan memberi tantangan pada diri.

Bagi  kamu yang suka dengan bidang kepenulisan mungkin pekerjaan content writer sangatlah cocok. Karena disini kamu akan belajar banyak. Seiring banyaknya pengalaman menulis secara nggak langsung kita akan lebih banyak membaca. Kita lebih banyak sudut pandang tentang sesuatu, bukan hanya kecepatan dalam menulis saja yang meningkat, namun kita bakal lebih lihai lagi dalam menyusun kalimat yang efektif dan memilih kata yang cocok.

Selain itu, bagi kamu yang juga content writer dan suka nulis cerita fiksi. Kamu beruntung, seperti yang aku bilang saat kita banyak membaca dan mendapatkan banyak sudut pandang. Kita bakal banyak ide-ide. Akan lebih mudah bagi kita buat menyusun cerita dan ide akan semakin liar. Dan aku alami sendiri, meskipun bukan dari keresahan hatiku. Tapi karena banyak menulis artikel tentang topik tertentu aku jadi paham (meskipun hanya kulit) tentang isu tertentu di masyarakat. Tentu itu bakal jadi hal seru kalau dibuat versi fiksinya.

Oh ya, sebagai content writer tentu proses menulis gak selamanya lancar. Dulu waktu awal aku selalu menjadi 100 kata sebagai takaran aman. Maksudnya aku nggak bisa santai kalau jumlah katanya belum 100. Tapi aku juga pernah ngalamin yang namanya “Eh selesai?” ya nulis berapapun kata rasanya enteng banget. Itulah pengalaman, hehehe semoga dengan apa yang aku bagi sekarang bisa jadi hal yang bermanfaat bagi kita semua. See You!

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

 

#Sajaklara: Jingga Batas Pantai

Hari ini adalah hari spesial buatku, tepat tanggal 22 Desember 2019, Sahabat terbaikku Milo berulang tahun ke 18. Aku dan Milo telah bersahabat sejak duduk dibangku sekolah Dasar. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, Aku Lila. Aku dan Milo sudah saling kenal, sejak SD kami selalu berangkat sekolah bersama. Maklumlah Ayahku selalu mengantar kami berdua ke sekolah. Rumahku dan rumah Milo sangat dekat ya, hanya berjarak 3 rumah saja.

SD, SMP, hingga SMA kami selalu bersama. Satu kelas, bahkan satu bangku. Sesuai janji, hari ini kami akan merayakan pesta bersama. Jangan pikir Aku dan Milo, merayakan pesta mewah di tempat fancy layaknya anak remaja zaman sekarang. Kami berdua memiliki prinsip yang sama, yakni Jangan suka pamer kekayaan orangtua. Jadi dibanding membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting atau sekadar eksis di media sosial, lebih baik pergi ke tempat lain.

Sore ini kami berjanji, untuk pergi ke Pantai. Melihat sunset sambil menyantap jagung bakar. Jangan kira kami berdua ini, berpacaran. ‘Kita, masih bersahabat, dengan baik. Selamanya akan seperti itu’, begitulah kata Milo setiap kali Aku merasa sedih dan butuh teman bercerita.

“Lo, pastiin kita nggak kena macet ya. Aku nggak mau kita nggak sempet lihat sunset.” Ucapku dari belakang punggungnya. Milo masih tak menyahut, suaraku lebih pelan dibanding suara angin sore ini. Aku mendekat, sampai akhirnya ku sandarkan daguku pada bahunya yang lebar. Ku ulangi kalimat yang sama seperti Tadi.

“Lo, jangan sampai kita kena macet, nanti nggak keburu lihat sunset.”

“Udah tenang aja.”

Aku selesai berbicara, tapi daguku masih bersandar di bahu Milo.

Kami melewati jalan-jalan tikus agar terhindar dari lampu merah. Milo memang jagonya lincah, ia selalu pandai mencari jalan tikus di kota Madya Semarang ini. Padahal Aku yang sejak lahir tinggal di sini tak paham betul jalan-jalan kecil yang ada di kompleks rumah.

Sampai. Milo memarkirkan motor, semilir angin berhembus. Pantai ini tidak terlalu ramai, hanya segelintir orang yang datang untuk menikmati sore. Pantai Marina, pantai ini biasanya dijadikan tempat jogging oleh warga Semarang, kadang setiap perayaan Tahun Baru tempat ini selalu penuh karena ada konser musik. Kami duduk bersebelahan, saling menatap laut lepas.

Aku menghela napas, “Haahh… Indahnya langit jingga.”

“Iya, mau makan jagung bakar?” tawar Milo. Aku menganggukan kepala penuh semangat.

Milo beranjak dan membeli jagung bakar. Aku masih memandang laut lepas. “Nih.” Tak butuh waktu lama jagung bakar hangat sudah siap disantap.

“Sorry, Aku cuma bisa traktir kamu jagung bakar.”

“Jagung bakarnya enak kok, jadi nggak masalah. Lagian, tiap hari kamu tratir aku, makan di kantin, beliin es krim, pas lagi ngerjain tugas, dan kalo main ke rumah. Setiap pergi sama kamu, Aku selalu seneng.”

“Syukurlah. Aku juga seneng kalo kamu seneng.”

Jagung bakar kami habis, langit jingga kini semakin menitis. Bagiku ini adalah momen yang romantis, Aku tak peduli siapa yang bersamaku. Apakah itu Milo sahabatku, ataupun orang lain. Aku menyukai langit jingga di ujung garis laut depan sana.

“La, setelah lulus nanti kamu mau ngelanjutin kuliah dimana?”

“Aku mau di kedokteran UGM atau nggak UNDIP. Kamu?”

“Belum tahu. Masih bingung”

“Kok belum tahu, padahal sebentar lagi UN. Terus Ujian Masuk Perguruan Tinggi kok masih bingung sih.”

“Iya ya, hmmm… Mungkin kamu boleh cerita kenapa kamu pilih kuliah kedokteran. Siapa tahu itu bisa bantu Aku.”

“Emmm. Pertama, Aku suka materi Biologi, Kimia, dan Fisika. Kedua, Aku termasuk siswa yang cerdas di sekolah. Ketiga, Aku mau nolong orang dengan cara ini. Aku emang pengen punya pekerjaan yang nggak cuma menghasilkan uang, namun juga ada visi sosialnya. Dokter itu pekerjaan mulia, dan dikagumi banyak orang. Jadi Aku ingin dan sangat bersemangat untuk menjadi dokter.”

Milo tertawa kecil, dia seperti meledek. Aku menegurnya dan sedikit marah, tapi ia berkata tidak bermaksud begitu. “Baru cerita soal alesan aja kamu udah seneng banget, gimana kalau masuk beneran.”

“Pasti bahagia banget.”

“Meskipun itu artinya kita nggak sama-sama lagi.”

Senyumku menurun. Aku sadar apa yang dikatakan Milo barusan. Aku masih belum bisa membayangkan menjalani masa kuliah tanpa ada Milo.

“Aku bakal ke Ausie La. Aku udah keterima di sana.”

Jantungku serasa berhenti. Berita baik yang sebetulnya tak ku sukai. Aku, Senang Milo bisa sejauh itu, tapi Aku masih ingin terus di samping Milo.

“Bagus, kamu hebat.”

“Kamu nggak memohon Aku buat nggak pergi.”

Aku menggeleng. Meskipun sangat ingin mengatakan jangan pergi, Aku adalah teman baik untuk Milo. Aku nggak mau ngalangin sahabat yang ingin sukses.

“Maaf ya La. Aku harus pergi dan ninggalin kamu.”

Aku tersenyum, “Masih ada Skype, WA, dan media sosial Lo. Kenapa harus ngerasa berat ketika teknologi membuat kita dekat.”

“Karena Aku sayang sama kamu.”

“Kamu bilang kita bersahabat, kita akrab, dan kita tumbuh bersama. Tapi, kenapa sekarang kamu bilang sayang?”

Milo masih diam. Ia masih kaku.

“La, semua orang akan jatuh cinta kepada lawan jenisnya jika ia terus bersama. Kamu bukan hanya cewek yang nebeng di motorku setiap berangkat dan pulang sekolah, kamu bukan hanya temen belajar setiap ada PR dari guru, kamu bukan hanya tetangga yang selalu gangguin Aku setiap hari minggu. Kamu adalah orang yang selalu ada untuk Aku.”

Aku bingung harus menjawab apa. Perasaanku terhadap Milo menjadi aneh, Aku sayang dengan Milo. Tapi Aku tak yakin rasa sayangku kepadanya sama seperti apa yang ia rasakan padaku. Aku masih tak bisa berkata apapun saat ini.

“La, mau jadi pacar Aku?”

“Kita belum dewasa Lo. Kita masih…”

“Anak-anak? Kita udah sama-sama 17 tahun.”

“Dewasa artinya apa sih Lo? Apa cuma kita yang udah dapet KTP atau ngerayain Sweet Seventeen? Dewasa bukan persoalan angka Lo. Dewasa artinya kita harus tanggung jawab dengan apa yang kita pilih.”

“Dan Aku milih kamu La, buat jadi pacar Aku.”

Aku bingung. Mungkin iya, Aku menaruh perasaan sayang sedikit kepada Milo akhir-akhir ini. Tapi untuk berpacaran, bahkan untuk pacaran jarak jauh aku belum yakin akan sanggup menjalaninya.

“Kenapa kita nggak sahabatan aja selamanya Lo. Aku belum siap untuk kita pacaran, apalagi LDR. Akan ada banyak kesalahpahaman, pertengkaran, dan akhirnya kita putus. Merasa asing satu sama lain.”

“Kenapa kamu menakutkan hal yang belum pasti terjadi La. Aku serius sayang sama kamu. Menurutmu mungkin menjadi sahabat selamanya itu indah, tapi enggak menurutku. Aku nggak bisa menahan diri waktu kamu dideketin cowok lain, Aku nggak bisa terus dengerin kamu yang cerita tentang cowok lain selain itu. Mungkin persahabatan kita tampak indah, tapi itu menyakitkan buatku La.”

Matahari sudah terbenam. Langit jingga telah berubah menjadi petang. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Rencana kami untuk melihat senja gagal, kami justru saling berdebat.

“Maaf, kita emang lebih cocok temenan. Aku juga sayang sama kamu Lo, tapi Aku nggak bisa diminta untuk pacaran. Aku lebih suka kita temenan.”

Milo mangguk-mangguk, obrolan kita terhenti.

“Kita pulang sekarang. Gak ada lagi yang kita obrolin sekarang, hari juga udah malam.”

Di perjalanan pulang tak ada obrolan. Aku tahu akan sangat canggung jika aku berusaha mengatakan sesuatu yang menghibur hatinya. Inilah yang Aku takutkan. Hubungan persahabatan yang merenggang karena cinta.

Sampai di depan rumahku. Milo masih diam, Aku juga bingung berkata apa. Namun Aku ucapkan terima kasih padanya, Milo mengangguk dan mendorong mundur motornya.

“Milo..” teriakku.

Milo berhenti dan menoleh.

“Maaf soal tadi.”

“Iya. La, Aku bakal nembak kamu jadi pacarku lagi, selepas pulang dari Ausie.”

“Emmm… Aku nggak yakin. Kecuali, kamu bisa yakininku.”

“Aku akan berusaha yakinin kamu. Aku mohon tunggu Aku.”

 

3 tahun selepas itu.

Aku duduk lagi, di tepi pantai tepat saat Aku dan Milo dulu menghabiskan waktu sore untuk menikmati senja. Aku duduk sendirian, Milo masih belum pulang dari Ausie. Selepas kejadian yang lalu butuh 5 bulan agar kami akrab kembali. Milo masih menyimpan perasaannya padaku, setiap kali ia bilang jujur, Aku hanya tersenyum. Setiap satu minggu sekali ku habiskan waktuku di sini. Menenangkan memang menatap senja sendirian. Aku memang masih ingat pertengkaran kami berdua. Sayangnya pantai ini lebih banyak kecerian dan kebahagiaanku bersama Milo, dibanding pertengkaran itu.

“Lila!”

Aku menoleh, lelaki yang sekitar 3 tahun lalu menyatakan perasaanya kepadaku kini sudah pulang.

“La, Kamu mau tunangan sama Aku.” Ucapnya tiba-tiba sambil menjulurkan cincin. Dengan posen berlutut ibarat melamar seorang gadis pujaan.

“Kamu bilang kemarin pacaran, kemarin sekarang tunangan. Terus posenya kek ngelamar gini.”

“Aku nggak mau pacaran. Aku mau tunangan dan langsung nikah.”

“Kamu mau kan. Aku udah berusaha keras untuk yakinin kamu. Ini cara terakhirku.”

Aku tersenyum. Jika ditarik kembali, Aku ingat kata yang ku lontarkan saat itu. Apa itu dewasa? dan bagaimana Aku bertanggung jawab atas apa yang ku pilih. Milo, masih berlutut. Aku tersenyum.

Ku raih tanganku. Ku minta ia untuk berdiri tegap.

“Iya Aku mau.”

Milo teriak keras, ia memasangkan cincin itu di jari manisku. Ya, Aku merasa pilihanku 3 tahun yang lalu benar. Meskipun tak banyak kisah persahabatan yang berakhir sepertiku dan Milo. Tapi percayalah jika kita menyakini dan bertanggung jawab atas pilihan itu, kita pasti bahagia. Sama seperti Aku sekarang.

Cerpen Siti

Cerpen: Siti

Cerpen: Siti

Cerpen Siti

Sumber gambar : https://www.freepik.com/free-vector/women-elegant-line-art-style-design_9730172.htm

Siti. Wanita 23 tahun yang kini telah menjadi Ibu tunggal. Ia memiliki anak yang berusia 8 tahun dan kini memasuki sekolah dasar. Siti memang tak ingin hidup seperti ini.
Sama seperti gadis lainnya ia memiliki mimpi. Lulus sekolah, bekerja sambil kuliah, dan mengangkat derajat orangtuanya. Tapi sayang, itu hanyalah mimpinya. Di usia yang ke-15 tahun Siti menjadi korban kekerasan seksual oleh pacarnya sendiri. Ia kemudian dinikahkan paksa dengan pacarnya itu diusia 16 tahun. Itupun pernikahan siri, kedua orangtuanya terlalu malu, untuk membuat pesta resepsi anaknya yang hamil diluar nikah.

Banyak orangtua mengira jika menikah adalah solusi yang tepat bagi perempuan yang hamil di luar nikah. Tapi ternyata tidak, itu justru petaka baru untuk Siti. Suaminya, justru melakukan tindak kekerasan fisik dan verbal. Batin dan tubuhnya benar-benar terluka.
2 tahun setelah pernikahan pengadilan agama memutuskan gugatan perceraian diterima. Di usia 18 tahun, Siti telah menjadi Janda. Para tetangga dan warga desa merasa risih dengannya. Bahkan beberapa ibu-ibu yang sering belanja sayur mengucapkan sumpah serapah, mengumpat begitu kejam. Masa muda yang begitu menyakitkan. Akibat Siti, orangtuanya dan anaknya juga kena imbas. Sulit bagi orang-orang memberi mereka pekerjaan. Padahal kedua orangtua hanyalah burub serabutan. Anaknya selalu dikucilkan bahkan dianggap najis beberapa orang. Jika ini sebuah film mungkin backsound sedih atau lagu ‘you rest me up’ sudah disenandungkan sejak tadi.
Rasanya dalam 1 waktu, semua ujian hidup ditimpakan begitu saja. Sempat ada niat untuk mengakhiri hidup tapi, lagi-lagi ada orangtua dan anaknya yang harus ia hidupi.
Malam ini. Siti menyelesaikan cucian tetangga, ya meskipun banyak warga desa yang menyumpahinya. Namun, ada beberapa yang masih berbaik hati memberikan pekerjaan kecil2an pada Siti.

Tenaganya mulai menipis, namun masih ada seember pakaian yang harus dijemur. Bagas. Putra Siti, penyemangat hidupnya sampai mati. Menghampiri Siti.
“Bu, kenapa banyak orang yang benci sama Ibu?”
Siti terdiam. Dia tak ingin anaknya tahu betapa kelamnya masa lalu yang ia miliki.
“Bu banyak orang yang bilang. Ibu, wanita nakal. Tapi setiap hari, Ibu selalu bilang Bagas gak boleh jadi anak nakal”
“Jangan dengerin, apa kata orang ya nak”
“Bu, Bagas punya tugas dari sekolah. Kata bu guru, Bagas harus ngucapin Terima kasih sama orangtua.”
Siti hanya tersenyum. Itu hanya sekadar tugas sekolah yang bisa dikerjakan Bagas sendiri.
“Makasih Ibu udah lahirin Bagas di dunia ini.”
Air mata Siti terkumpul dan mengaliri pipinya. Tenaganya yang sudah menipis seakan terisi kembali.
Bagas. Mungkin beberapa irang merasa jijik dengannya. Klasik memang jika beberapa orang mengganggap bagas haram namun itulah kenyataannya. Mungkin melahirkan Bagas ke dunia ini adalah sebuah cobaan. Tapi ternyata tidak, Bagas adalah anugerah. Kini Siti memiliki mimpi baru, yakni menemani Bagas dan membesarkannya menjadi pria yang tangguh