Sabtu Malam

Sabtu Malam

Malam ini terasa sangat kelabu, mendung menutupi semua bintang yang aku pandang. Tapi aku tak masalah, masih ada kamu yang tak akan pernah bisa ditutupi oleh awan. Selayaknya orang di sabtu malam, kamu datang ke rumahku menyapa ibuku dan duduk di teras bersamaku. Aku tak pernah tak marah jika kamu datang secara mendadak sekalipun. Karena bagiku setiap hari adalah rindu.

“Kamu tahu puncak kejantanan seorang laki-laki itu seperti apa?”

Aku menoleh. Aku memandangimu, sebelum melanjutkan bicara kamu terus merapikan rambutmu yang panjang itu. Meskipun sudah sekian kali aku meminta untuk memotongnya.

“Hmmm… ketika mereka membawa tas belanja milik pasangannya.”

“Hahaha… itu terlalu remeh.”

“Tapi itu gentleman.”

“Iya, tapi menurutku bukan itu. Puncaknya adalah saat pria membawakan tas yang berisi persediaan susu. Karena sang istri tengah kerepotan menenangkan bayinya yang rewel.”

Aku tertawa, dan kamu juga ikut tertawa. Meskipun berkali-kali kamu bilang “Aku serius bilang itu, sayang.” Aku mengangguk, tak ada yang bisa mengalahkan keseriusanmu meskipun kamu juga ikut tertawa bersamaku.

Semenjak itu, aku sangat tidak sabar menantikannya. Menantikan hari dimana aku kerepotan mengurus bayi. Menantikan dimana aku melihatmu menggendong tas persediaan susu itu.

Satu minggu berlalu…

Di sabtu malam yang sama. Kita berdua sudah di depan teras rumah. Hari ini ada bintang yang bertabur dilangit, namun pandanganku hanya beralih kepadamu. Kamu lebih bersinar malam ini, mungkin karena akhirnya kamu memotong rambutmu yang panjang. Atau aku yang terlalu berlebihan jika sudah merindu.

“Apa lagi yang ingin kamu ceritakan? Aku sudah bersiap untuk mendengarkannya.”

Jika perempuan lain memilih untuk didengarkan sang pria. Aku malah sebaliknya, aku selalu merasa jika kamu memiliki cerita yang lebih menyenangkan dibanding aku. Itulan kenapa Aku ingin terus mendengarkanmu.

“Apa ya? Oh aku tahu. Kemarin malam aku bersama Ayahku pergi ke rumah nenek, biasa sih di sana mereka bertanya kapan Aku menikah.”

“Lalu kamu jawab apa?”

Aku sangat menunggu jawaban darimu. Membahas pernikahan artinya kamu membahas kelanjutan hubungan kita. “Emmm…. aku jawab, nanti kalau sudah bertemu dengan jodohnya.” Aku sedikit kecewa, jawaban itu seakan tidak menganggapku sebagai pasanganmu. Aku cemberut, sengaja ku pasang wajah masam di depanmu.

“Karena itu aku ke sini, meskipun jodoh sepenuhnya di tangan Tuhan. Tapi, aku mau masing-masing dari kita mempersiapkan diri. Sekarang mungkin belum waktunya kamu ku bawa ke hadapan keluarga besarku.” Sambung ceritamu.

“Bagaimana caraku mempersiapkan diri?”

“Jadilah pribadi yang baik dari waktu ke waktu.”

Aku tersenyum. Semenjak nasihat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk memperbaik sikapku, perilakuku, dan hubunganku. Aku tahu, sebelumnya Aku tak pernah memiliki hubungan yang baik dengan orangtua. Hubunganku dengan orangtua bukan tipikal yang terus bertengkar, namun juga bukan yang sering berkabar. Hubunganku hanya terasa hambar.

Perlahan aku memperbaiki kedekatanku dengan ibu, aku membantunya di dapur. Sampai-sampai ibu berkata, “Kamu mau kawin?” Aku hanya menjawab “Iya.” Bukan cuma itu, perlahan aku membangun hubungan yang dekat pula dengan Ayah. Meskipun kami sudah berpisah rumah sejak aku kelas 1 SMA. Perlahan aku menelpon Ayah, sekedar menanyakan kabar. Aku tahu ayahku telah menikah lagi dengan wanita lain. Itu membuatku terluka, sangat terluka.

Tapi kamu mengajarkanku, untuk menjahit kembali hubungan yang terlah putus sekian lama. Aku juga sadar, Aku perlu menjalin hubungan bak dengan Ayah. Karena kelak akan ada pria lain yang akan ku panggil Ayah juga, atau mungkin Bapak, Papa, atau setara dengan itu. Aku mau pria yang ku maksud itu kamu.

Di sabtu malam berikutnya…..

Aku menunggu di teras, tak kunjung ku lihat kehadiranmu. Apakah memang kamu terlambat. Aku masih menunggu, hingga akhirnya ada sebuah telpon dengan nomor baru di ponselku.

“Halo, dengan siapa ini?”

“Halo Rara, ini Bundanya Anton. Bisa ke rumah sakit sekarang?”

Jantungku berdebar, mungkin ada hal buruk yang harus siap aku dengar tentangmu. Aku sampai ditempat yang Bundamu maksud, disana sudah ada Ayah, Bunda, bahkan nenekmu yang pernah kau ceritakan itu. Aku baru sampai lorong, tapi Bundamu memelukku erat. Dalam pelukannya dia bilang “Nak Rara, mari kita doakan bersama kesehatan Anton.” Aku tak mengerti apa yang Bundamu bicarakan, hingga akhirnya aku mendekat di ruang ICU. Dari kejauhan, kamu tampak begitu pucat. Ada banyak selang yang menempel di dada dan lubang hidungmu.

“Anton Sakit apa?” tanyaku

“Sejak Kecil Anton memiliki jantung yang lemah.”

Jawab Bundamu sambil menggenggam tanganku.

“Tapi Dia selalu baik-baik saja di depanku.”

“Begitulah Anton.”

Jawaban Bundamu yang menangis namun masih menyertai senyumannya.

Semenjak malam itu, Aku menjadi lebih sering berdoa. Aku memohon dengan sangat kepada Tuhan atas kesembuhanmu. Bahkan Aku rela menyempatkan waktu di sepertiga malam untuk menyebut namamu. Aku berharap kamu sembuh, membuka matamu dan bisa melihatku.

Di sabtu malam setelah hari itu…

Aku kembali datang ke ruang ICU, kamu tak kunjung sadar. Orangtua pamit sebentar, mereka ingin membeli makan dan mandi. Kini hanya aku sendiri yang menjagamu dibalik sebuah kaca. Sudah 30 menit, kamu masih tetap sama. Sudah 1 jam, kamu tak berubah sama sekali, Aku tak lelah. Tak sedikitpun lelah meskipun sudah satu jam berdiri di sini. Aku merasa sesak, padahal kamu mungkin kesulitan bernapas sekarang. Aku merasa sakit, padahal bagian tanganmu yang ada jarum suntik.

“Aku ingin memelukmu.”

Mintaku dengan lirih. Air mataku mengalir, aku tahu kamu adalah orang yang benci melihatku menangis. Bukan karena kamu yang apatis, tapi kamu pasti tak tega, kamu pasti bingung harus berbuat apa. Aku ingin sekali saat ini, jarimulah yang menyeka semuanya. Aku sangat merindukanmu, namun bukan ini yang ingin ku lihat darimu. Kamu tampak redup, aku ingin kamu bersinar. Aku tak ingin air mataku atau bahkan Bundamu berlinang setiap malam.

Aku sudah terlanjut mencintaimu, bagikan semuanya. Dan Aku ikhlas untuk melaluinya berdua, bagikan sedikit sakitmu biar aku juga merasakannya. Biar sedikit bebanmu, sehingga kita bisa hidup bersamaan. Meskipun kamu tak pernah memiliki waktu untuk menyeka air mataku, tapi setidaknya datanglah saat aku bahagia.

Aku menangis sampai akhirnya Aku terjatuh. Energiku habis, mataku menutup. Aku pingsan.

Pagi harinya…

Aku membuka mata, tampak begitu cerah hari ini, entah karena lampunya atau memang sudah siang hari. Ditanganku sudah menancap jarum yang sama denganmu. Bukan hanya bagian itu saja, aku sama berantakannya denganmu, ada banyak selang di dadaku dan kedua lubang hidungku. Aku menatap langit-langit, meskipun tersadar mataku juga masih menyipit.

Aku menoleh ke depan, dibalik kaca sudah ada Ibu, Ayah dan istrinya. Ibu nampak sedih, Ayah juga. Aku melihat itu namun tak bisa berkata apa-apa. Aku menengok sebelah kiri hanya ada tirai yang tertutup. Ku tengkok pula arah yang berlawanan, tirai seakan sengaja terbuka. Itu Kamu, yang masih tak berdaya dan terlelap berminggu-minggu lamanya. Aku ingin meraih tanganmu, tapi siapnya tak ada hal lagi yang bisa ku gerakan selain kepalaku.

Aku masih menatapmu, sampai seorang Dokter menghalanginya.

“Kamu harus segera dioperasi, kanker mulai menyebar ke bagian jantung dan paru-paru.”

Aku hanya bisa mendengar dan tak bisa berkata apa-apa. Para perawat membawaku ke ruang lain yang tak ku tahu. Kita berpisah disini. Dalam hati aku hanya meminta kesembuhanmu secepatnya. Setidaknya jika aku benar dioperasi kamulah orang pertama yang ingin aku lihat setelah tersadar dari bius yang membuatku terlelap berjam-jam. Itu saja, “Sayang cepatlah sadar. Kita akan sama-sama berjuang sekarang.”

 

sumber gambar : pinterest

sunmori

Sunmori

sunmori

Aku senang menjadi orang selalu di belakangmu setiap kali kita menghabiskan waktu di Minggu pagi bersama motor maticmu ini. Orang hilang menghabiskan waktu untuk sunmori adalah hal yang luar biasa. Aku menyetujui itu. Menikmati perjalanan panjang dengan udara yang lebih sejuk adalah hal yang menyenangkan. Meskipun rute perjalanan kita selalu sama, namun kesan setiap perjalanan terus berbeda.

Pagi ini kamu mengajakku untuk makan bubur ayam sampai kota Salatiga. Untuk orang yang sekadar ingin cari sarapan, ini hanyalah buang-buang waktu. Untuk apa sejauh itu jika depan gang saja sudah ada penjual bubur ayam legendaris yang pembelinya mengantri berbaris-baris. Namun bagiku, tak ada yang terbuang jika semua itu dilakukan denganmu.
“Kamu tim bubur diaduk atau nggak?” Tanyaku menyela, pertanyaan receh seperti ini sangat serus untuk kita bahas berdua. Dibanding membahas hal lain seperti konspirasi dunia, yang sampai saat ini aku belum memahami itu.
“Diaduk, Aku belum terbiasa makan bubur ayam dengan cara lain selain itu”
“Aku juga, rasanya lebih nikmat kalau dicampur semua. Tetapi beberapa temanku bisa, makan bubur ayam tanpa mengaduknya”
“Yasudah, belajarlah dengan temanmu, agar bisa menikmati bubur ayam dengan 2 cara sekaligus” jawabmu dengan spontan
“Dibanding belajar cara-cara makan bubur ayam, aku lebih suka mencari alasan untuk terus makan bubur ayam denganmu saja.”
Kamu hanya tersenyum, dan kita melanjutkan makan. Jika ada perlombaan cepat makan, aku yakin kamu pasti yang akan menang. Sebelum aku menghabiskan setengah makananku kamu selalu selesai lebih dulu. Kamu selalu sabar menunggu aku selesai makan, kadang sambil menunggu aku selesai makan. Kamu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya sebagai penenang. Kamu tahu aku cukup benci dengan rokok, jadi kamu selalu membuang asapnya jauh-jauh dariku. Aku menghabiskan makananku dengan kamu, begitupun kamu dengan batang rokok yang kini sudah menjadi abu. Akhirnya kita lanjutkan perjalanan. Minggu pagi yang menyenangkan.

 

Aku menatap langit, awan di hari Minggu pagi memang terlihat sama. entah dari luar ruangan ataupun dalam kamar. Aku terus mengingat kenangan dulu setiap kali langit Minggu pagi itu ada.

Meski tak diluar untuk berjalan-jalan semua masih sama terasa. Pada kabirnya kamu juga meluangkan waktumu di minggu pagi untuk menemaniku, seperti sekarang.
“Jadi kamu rindu dengan angin pagi di hari minggu?” Tanyamu.
“Iya, bukan cuma paginya tapi memelukmu juga” jawabku dengan sedikit senyuman.
“Kamu tak harus menunggu hari minggu untuk memelukku, kamu bisa melakukan kapanpun selagi kamu mau” jawabanmu yang selalu menenangkan.
Kamu menggenggam tanganku erat. kita saling memandang, aku selalu tersenyum. Kamu selalu tampak indah di mataku.
“Mau makan bubur ayam sekarang?” Tanyamu dengan tersenyum tapi matamu begitu nanar. Aku mengangguk, kamu menyuapiku pelan-pelan. Kamu sudah hafal seberapa lama aku menguyah makanan. meskipun bubur adalah makanan yang aman untuk dikunyah sebentar. Tapi aku tetap menguyah lama seperti biasa.
“Dengan kondisi seperti ini, apa bisa aku sunmori lagi?” Tanyaku iseng
“Tentu saja bisa..” ucapmu yang semakin berat. Aku tahu kamu sangat tertekan, ada banyak rasa bersalah dalam benakmu. Aku meraih tanganmu. Ku minta agar semangkuk bubur yang tinggal setengah itu kamu taruh di atas meja. Aku menggenggam kedua tanganmu.
“Kamu tahu, setelah jatuh cinta padamu aku memiliki banyak bayangan indah. Tentang bagaimana kita menikah, bercinta, menghadapi masalah, dan punya anak. Semua itu cukup indah untukku bayangkan setiap kali kita berpelukan”
Air matamu mulai jatuh. Sekian tahun kita bersama baru kali ini ku lihat dirimu benar-benar rapuh. Padahal kamu termasuk pria yang menyembunyikan rasa sedihnya.
“Maaf, semua salahku. Harusnya aku yang sakit bukan kamu, harusnya aku yang memakai selang oksigen dan infus itu.” kini tangismu sudah tumpah. Kamu menunjukkan sisi lain yang selama ini tak diketahui banyak orang.
“Aku mengenalmu sebagai pria yang tak pernah terluka. Bahkan di hari pernikahan mantanmu saja kamu datang dan membawa hadiah yang besar”
Aku mengelus pipimu, ku usap lembut setiap air mata yang jatuh.
“Melihatmu sakit itu jauh lebih sulit.”
“Tapi selama kamu terus ada, aku tak akan pernah merasa sulit. Aku tahu kanker ini masih membutuhkan obatnya. Tapi bagiku, kamu sudah menjadi penawarnya”
“Aku takut kamu mati” ucapmu dan tangismu kini semakin menjadi-jadi.
“Semua dari kita akan mati. Tapi aku lebih takut, jika aku mati kamu akan terus menyalahkan diri sendiri. Kamu akan kesepian dan kehilangan kebahagiaan. Kanker paru-paru ini bukan sepenuhnya salahmu. Sejak kecil aku memang punya fisik yang riskan. Jadi ini bukan salahmu sepenuhnya”
“Harusnya aku berhenti merokok sejak kamu bilang, kamu membencinya”
Aku terdiam. Aku bingung apa yang harus aku katakan. Kini ku elus lembut bagian rambutnya. Ada sehelai, dua helai uban tanda jika kamu mulai menua.
“Aku memang membenci rokok. Tapi aku jauh mencintaimu, kamu sudah melakukan toleransi yang baik padaku. Ada banyak perokok aktif di sekitarku selain kamu”
Kamu memelukku dengan erat. Susana ruangan ini menjadi lebih dramatis.
“Berjanjilah padaku, setelah ini jangan ragu membuka hati dengan wanita lain.” Ucapan yang bijak yang mungkin terakhir kali bisa aku katakan padamu. Aku harap kamu melakukannya dengan sangat baik.
“Aku sudah menyiapkan satu ruang di hatiku yang hanya ada kamu. Dan tak ku izinkan siapapun untuk mengisinya cuma kamu yang boleh ada di sana, aku janji” sebuah kata bijak yang kamu ucapkan. Aku tersenyum dan menangis pula.
Semua kisah pasangan tentu berakhir berbeda-beda, kadang beberapa harus berpisah. karena memang tak sejalan, adanya pengkhianatan, atau memang tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Seperti kita sekarang.

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

“Kalau kamu mau belajar berempati, cobalah naik bis kota setiap pulang sekolah.”

“Kenapa Aku harus belajar naik bis kota, sedangkan setiap hari aku dijemput oleh Ayahku.”

“Ayolah Putri, cobalah naik bis kota sesekali. Dan kamu akan belajar dari itu.”

“Apa yang aku pelajari lagi selain berempati?”

“Kamu akan tahu, setelah kamu mencobanya sendiri.”

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

Sumber : Unsplash

Ucapan pria dengan jiwa pembual memang selalu menang. Dia berhasil lagi, menaruh rasa penasaranku terhadap apa yang dia ucapkan. Dia memang seorang Pangeran pembual.

“Kamu harus tahu, seorang K-POPERS rela berbagi tempat duduknya untuk nenek tua yang sudah rentan.”

“Bukankah itu hal wajar dilakukan untuk semua anak muda saat naik bis kota?”

“Iya, tapi bukan itu masalahnya. KPOPERS sangat menyukai naik bis kota, sambil mendengar musik atau bahkan menonton video klip idolanya. Tapi, mereka tahu ada seorang nenek tua mereka melepas earphone-nya dan membagikan kenyamanan pada nenek itu.”

“Memang kamu K-POPERS?”

“Bukan, Aku bukan pengagum Korea. Aku jauh lebih mengagumi. Dari setiap sudut mataku.”

“Aku jadi tahu, kenapa banyak orang yang menyukaimu sekarang. Itu semua pasti karena bualanmu seperti ini.”

Bis kota datang ke halte kami menunggu. Bersama kami memasuki bis kota itu. Ini adalah pengalaman pertamaku. Pangeran ini sangat tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu bagaimana cara agar aku bisa membayar lebih murah. Dia sangat tahu, mengajariku tentang hal yang belum pernah Aku coba adalah keahliannya.

“Sekarang kita sudah selesai membayar. Sampai mana obrolan kita?”

Aku tersenyum, apa iya harus dia teruskan bualannya meskipun kondisi bis siang ini cukup penuh.

“Oh ya, tadi sampai…”

“Maaf Dik, laki-laki depan. Silahkan berpindah.”

Tak ada pilihan lain, Dia ditegur oleh petugas bis. Kini kami terpisah. Aku memandangi suasana jalanan kota besar ini. Aku memandanginya sambil berdiri. Di depanku, ada seorang Ibu dengan anaknya yang masih kecil. Si anak itu menatapku, Aku merasa geli. Sesekali ku berikan senyuman dan tawa yang ceria padanya. Dan dia ikut tertawa juga. Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari si Pangeran pembual.

“KUATKAN KAKIMU, KITA AKAN BERDIRI TERUS SAMPAI 3 HALTE BERIKUTNYA.”

Aku menoleh padanya. Dia mengepalkan tangan, dan memberikan semangat. Aku hanya bisa mengangguk.  Sesuai dengan pesannya, kami turun di halte ke 3.

“Bagaimana?”

“Bagaimana apa?”

“Sudah belajar?”

“Aku hanya tersenyum pada anak kecil yang lucu. Itu saja.”

“Baiklah, kita akan transit untuk bis berikutnya. Jadi bersiaplah untuk hal yang tak terduga.”

Kami menunggu 30 menit untuk bis. Kali ini ukuran bis lebih dari sebelumnya, suasananya juga lebih sepi. Kami duduk terpisah lagi, Aku memasang earphone dan mendengarkan lagu. Satu per satu halte dilewati, perlahan bis menjadi penuh dengan sendirinya. Mungkin ini yang tadi dikatakan oleh Pangeran pembual. Aku membagikan kenyamananku pada seorang nenek yang berusia renta. Aku memberikan kenyamanku untuk orang yang lebih memerlukannya.

Aku menatap Pangeran, dia tersenyum kepadaku. Ia mengirim pesan lagi.

“KITA AKAN TURUN DI HALTE SETELAH INI”

Aku mengangguk padanya. Dan tak berapa lama kami turun bersamaan.

“Bagaimana dengan perjalanmu hari ini? Menyenangkan bukan, Putri?”

“Lumayan, Aku menyukainya. Kamu ada benarnya juga, Aku belajar memberikan kursiku pada orang yang mungkin jauh lebih perlu.”

“Senang mendengarnya.”

“Jika Aku belajar berempati. Lalu apa yang kamu pelajari hari ini, kamu sudah sangat sering naik bis kota dibanding Aku.”

“Aku. Tentu Aku belajar hal baru lagi. Mau tahu apa?”

Aku mengangguk.

“Aku belajar untuk lebih mengagumimu lagi. Bukan hanya dari sudut mataku saja, tapi juga dari sisimu. Aku mengagumimu meskipun kamu tak melihatku. Aku juga mengagumimu meskipun kamu membelakangiku. Aku mengagumimu meskipun kamu tertawa bukan untukku. Aku mengagumi dari setiap sisi yang tak pernah kamu tunjukkan padaku.”

“Kamu membual lagi.”

“Hanya denganmu aku tak pernah membual, yang ku katakan adalah kejujuran.”

“Sudahlah, sebaiknya kamu segera pulang ke rumah. Aku juga akan begitu.”

Kami telah tiba di depan rumahku, tepat 2 rumah setelah itu adalah rumahnya. Kami memang bertetangga. Berteman dan bersekolah bersama. Namun baru kali ini kami pulang berdua.

“Baiklah, hati-hati di rumah. Bilanglah pada Ayahmu, Aku berhasil mengantarmu pulang dengan baik.”

“Kamu memang anak SMA yang sangat pandai merayu wanita. Sayangnya Aku tidak akan termakan itu.”

“Aku memang tak memintamu untuk memakan semua rayuanku. Aku hanya ingin kamu memaknai setiap kataku.”

“Kamu semakin membingungkan.”

“Ya memang, karena Aku ingin kamu selalu menaruh penasaran padaku.”

“Sudah cepat pulang, sebentar lagi petang. Aku mau masuk ke rumah.”

“Putri, Maukah kamu naik bis kota lagi dengan Pangeran?”

“Pertanyaanmu seperti orang yang akan melamar.”

“Aku memang tidak siap untuk melamar, tapi Aku siap untuk mengantarkanmu pulang.”

Aku tertawa, ucapannya selalu menggelikan.

“Iya, Aku mau.”

DELAPAN FEBRUARI | 2

DELAPAN FEBRUARI | 2

Aku sangat terkejut. Sebuah pernyataan yang benar-benar diluar dugaan.

“Bin? Serius?”

Bintang mengangguk, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Aku tetap menyukaimu meskipun hampir setiap hari kamu bercerita tentang lelaki yang sedang dekat denganmu, atau kisah cintamu yang berakhir pilu. Meskipun kamu selalu bilang jika aku tak pernah paham perasaanmu. Tapi aku sangat mengenalmu, sikap kerasku dan pertanyaan ketusku hanyalah caraku untuk lebih dekat denganmu. Aku tak pandai merayu seperti mantanmu yang dulu, tapi percayalah jika kamu butuh sesuatu Aku adalah orang yang paling bisa kamu andalkan.”

“Ini terlalu cepat buat Aku Bin.”

“Aku tahu, untuk itu. Aku akan memberikanmu waktu, untuk siap menjawabnya. Kapan pun itu..”

Aku mendapatkan PR yang besar lagi. Setelah berhasil memutuskan hubungan dengan mantan kekasih, kini justru teman yang sangat denganku menyatakan hal yang diluar dugaan. Aku bahkan sampai takut menemuinya.

Satu minggu setelah Bintang menyatakan perasaannya kepadaku. Aku masih tak mau menemui atau menghubunginya. Aku merasa Bintang tak seharusnya mengatakan itu,  bahkan tak semestinya ia memiliki perasaan suka terhadapku. Kita kan hanya teman, dan itu akan berlaku selamanya.

Hari-hari berlalu, setelah putus dari mantan kekasihku, aku justru semakin dilema. Sejak Bintang menyatakan perasaanya, sempat kemarin kami bertemu. Bintang tak menanyakan jawabanku, dia masih bersikap sama seperti sebelumnya. Aku menjadi sangat kepikiran. Aku bahkan membaca buku tentang teman tapi menikah, pandangan psikologis tentang hubungan persahabatan antar lawan jenis dan masih banyak lagi.

Sampai akhirnya 3 bulan berlalu. Hari ini adalah hari wisuda Bintang, yah meskipun kami seumuran, tapi Bintang telat menyelesaikan ujian skripsinya. Karena terlalu sibuk mengurus bisnis yang jatuh bangun katanya. Sebenarnya, aku ingin mencari alasan untuk tidak hadir di hari wisudanya tapi. Tapi orangtuaku meminta untuk menyempatkan waktu, dikala jam istirahat nanti. Karena kami berteman sejak SMA, kedua orangtua kami tentu saling kenal. Bila diingat, 2 tahun lalu Bintang juga datang ke acara wisudaku, membawakan buket Matahari yang sangat aku sukai. Hah… baiklah aku akan menemui Bintang

Aku telah menghubungi Bintang, dia memintaku untuk menunggu di taman belakang Gedung DKV. Bintang datang, namun aku sedikit terkejut, dia datang dan dikeliling banyak wanita. Aku tak pernah mengenal wanita-wanita itu, apakah itu teman atau entahlah. Hatiku sedikit sakit, karena perhatian Bintang pasti akan terbagi. Buru-buru ku tepis perasaan itu, aku memberikan bunga yang sama seperti saat aku wisuda dulu, kami mengambil foto berdua sebelum akhirnya aku pamit pulang ke kantor.

Sesak dadaku, sangat, bahkan lebih sesak dari sebelumnya. Aku merasa sedikit sedih, tapi tidak tahu kenapa. Entah perasaan apa yang muncul dalam hatiku? Takut, kehilangan, dan duka. Ahh sial kenapa aku jadi tidak karuan lagi?

Malam hari, Bintang mengajakku keluar dia bilang akan mengajakku makan ke salah satu tempat favorit rekan-rekan kerjanya. “Tenang ini bukan makanan pinggir jalan kayak biasanya.” Ucapnya saat aku menggerutu dengan tawaran nasi goreng abang-abang biasanya.

Kami tiba di sebuah restoran bertemakan Jepang. Dari tampilan restorannya sangatlah berkelas, tahu begitu aku berpakaian rapi. Entah dapat Jackpot apa, sampai Bintang berani mentraktirku di restoran semewah ini. Hidangan datang Aku dan Bintang makan dengan sangat kalap.

“Aku sangat kenyang, bagaimana denganmu La?”

“Mantap!! Kenyang banget, berat badanku bisa saja naik dalam semalam”

Kami melanjutkan makan, hingga hidangan yang terakhir, Tokyo Banana.

“Aku menyukainya..” ucapku

“Siapa? Aku?”

Pertanyaan Bintang membuatku kembali berpikir. Tentang beberapa waktu terakhir, tentang perasaannya, sikapnya, bahkan wanita-wanita yang bersamanya.

“Makanan ini, siapa tadi siang yang bersamamu? Banyak sekali.”

“Temanku, semua temanku. Termasuk dirimu bukan?”

“Apa semua wanita yang menjadi temanmu, akan kamu sukai?”

“Tidak. Aku hanya menyukaimu La. Sampai sekarang pun hanya menyukaimu.”

Obrolan ini menjadi dingin. Aku merasa sangat canggung.

“Sejujurnya Aku sedih melihat kamu memiliki teman wanita lain. Aku..”

“Juga menyukaiku La?”

Aku terdiam, ini jawaban yang membuat jantungku sangat berdebar. Aku mengangguk, meski setengah hatiku menolak karena Bintang adalah temanku selamanya. Tapi setengah hatiku lagi merasa sangat takut kehilangan Bintang.

“Iya Bin, sepertinya aku juga begitu. Sangat menyukaimu. Aku nggak punya sosok lain yang bisa aku andalkan selain kamu. Jika kamu bersama dengan yang lain, bagaimana aku bisa seperti diriku yang sebenarnya?”

“Kamu bilang aku adalah orang yang sangat tidak memahami perasaanmu. Maaf atas semua kata ketusku. Aku tahu kamu sakit, tapi Aku tahu kamu terlahir sangat kuat. Karena Aku tahu kekuatanmu, aku berani bilang itu. Maaf jika terkadang aku menjadi pembakar, bukan pendengar.”

“Aku memakluminya, karena semua katamu selalu benar setelah aku tahu bagaimana kerasnya kenyataan. Aku mau memulai semua hal baik denganmu.”

Meski dihatiku masih menyimpan keraguan, tapi aku yakin. Bintang akan punya banyak cara agar aku bisa yakin dengannya. 50% hatimu telah diisi oleh cinta bintang, sedangkan sisanya Bintang minta untuk diberikan pada diriku sendiri. Yups, separuh dariku adalah milik Bintang.

DELAPAN FEBRUARI | 1

DELAPAN FEBRUARI | 1

Hatiku hari ini sangat patah… Lagi-lagi aku ditinggalkan orang yang paling aku sayangi. Ya, Aku putus dengan kekasihku, setelah 2 tahun lamanya kita menjalin hubungan asmara.

“Kamu kenapa Lala?” Tanya Bintang. Sahabat priaku yang sudah lama aku kenal sejak kami duduk di bangku SMA.

“Aku diselingkuhin Bin. Baru aja kemarin Aku sama dia jalan berdua. Eh tahunya, dia selingkuh dariku, dan memilih selingkuhannya dibanding Aku.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”

Pertanyaan Bintang selalu membuatku kesal, dia memang tak pernah memahami perasaanku yang sebenarnya.

“Kamu ngerti nggak sih? Orang putus pasti sedih!”

“Tapi, dia lebih mencintai orang lain bukan? Untuk apa menangisi orang yang jelas nggak cinta sama kamu.”

Aku sangat malam untuk menjelaskan ke Bintang. Meskipun diselingkuhi namun tetap saja, rasa kecewa, marah, terluka, dan kehilangan sangat memenuhi dadaku sampai rasanya sesak. Aku tak menjawab pernyataan dari Bintang. Dia adalah pria yang lama mengenalku, namun tak juga paham dengan sikap-sikapku. Apa yang dikatakan selalu bertolak belakang dengan maksudku.

Satu hari setelah aku dan mantan kekasihku putus. Aku masih masuk kerja, meskipun dengan wajah yang sangat lesu. Pikiranku masih membayangkan kejadian kemarin. Untungnya pekerjaanku hari ini tidak sepadat biasanya, sehingga aku masih memiliki waktu untuk membangun mood kembali.

Aku menuju pantry untuk membuat secangkir cokelat hangat agar perasaan tenang dan nyaman bisa aku rasakan. Aku meneguk perlahan cokelat panasku, namun perasaanku justru semakin gelisah. Rasanya masih ada kata yang harus aku ungkap. Masih ada perasaan yang harus segera aku keluarkan. Aku mengatakan hal penting pada mantan kekasihku. Tapi bagaimana? Tanpa sadar air mataku jatuh. Beberapa teman kerjaku yang melihat ini langsung mendekat. Mereka memelukku dan memberikan semangat. Aku senang akhirnya ada orang paham dengan perasaanku. Ya… perasaan seseorang yang baru saja diselingkuhi. Tapi sepertinya, ini tak cukup membuatku merasa lega.

Pekerjaan hari ini telah berlalu, Aku keluar dari kantor dan berjalan sebentar menuju taman kota yang mana jaraknya hanya 160 meter saja. Di bangku bawah lampu taman Aku berdiam, aku menggalaukan lagi perasaanku. Padahal ada banyak pekerjaan yang menungguku, tapi kenapa perasaanku kacau sekali. Jika terus begini, Aku akan dipecat dari kantor.

“Ahhhh…. Seballllllll” jeritku cukup keras, untungnya taman ini cenderung sepi. Tak banyak orang yang mengunjungi taman kota jika malam hari.

“Hey.. berisik gangguin orang lain.” Suara yang sangat aku kenal. Yups aku menoleh ke sebelah kiri, itu adalah Bintang. Dia datang sambil membawa sebotol air mineral dingin yang kemudian duduk di sampingku.

“Apa yang membuatmu sangat kesal?” Tanya Bintang lagi. Aku rasa, dia tak akan paham perasaan orang yang selalu putus.

“Aku sangat capek jika menjelaskan masalah cinta pada orang yang keras sepertimu. Yang selalu mengatakan logika tanpa ada rasa. Kamu sangat tidak paham seberapa patah hatinya aku sekarang.”

“Baiklah, lalu kamu mau Aku bagaimana La?”

“Sudah diam aja Bin. Aku akan semakin kesal jika kamu terlalu banyak bicara.”

“Apakah diam bisa membuatmu lebih tenang dan kesalmu jadi redam?”

“Tidak.” Jawabku dengan jelas. Aku tahu, aku malas menanggapi pernyataan dari Bintang. Tapi duduk terdiam terus juga tak akan membuatku tenang.

“Lalu kamu mau bagaimana?”

Aku berpikir sejenak. Pertanyaan Bintang membuatku berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. Aku tak bisa terus kesal sendiri seperti ini. Aku harus mengeluarkannya. Harus. Aku menarik napas, dan menepuk-nepuk pipi kanak dan kiriku. Aku harus mengumpulkan nyali terlebih dahulu sebelum yakin dengan keputusan ini.

“Antar Aku Bin. Antar aku menemui mantan kekasihku.”

Bintang mengiyakan permintaanku ini. Untuk urusan antar-mengantar Bintang adalah orang yang sangat aku andalkan. Dia tak pernah mengeluh, meskipun permintaanku aneh-aneh.

Karena 2 tahun kami berpacaran, tentu saja aku sangat hafal tempat mana saja yang mungkin mantan kekasihku kunjungi di malam hari. Aku mengarahkan Bintang untuk menuju sebuah kafe elite yang terletak di depat hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Sialan memang dia, selama denganku dia tak pernah mengajakku ke sana. Tapi diam-diam dia ke sana dengan selingkuhannya. Tebakanku tak salah, aku melihat mantan kekasihku dengan selingkuhan yang kini sudah resmi jadi kekasihnya tengah mengobrol mesra di ruang outdoor kafe.

Aku menata rambutku dengan sangat rapi dan menghapus bekas air mata di pipi, aku harus tampak kuat. Meskipun dalam hatiku masing sangat kacau. Aku tidak terima jujur saja, melihat dia yang sudah bahagia, sedangkan aku menangis semalaman dan pekerjaanku jadi berantakan olehnya. Aku tidak terima! Dengan dikawal Bintang, aku memantapkan langkah mendekati mejanya. Tentu mereka berdua sangat terkejut dengan kehadiranku. Aku bagai seorang penyihir yang merusak acara jamuan makan raja dan permaisuri.

“Mau apa kamu? Kita kan udah putus” tanya mantan kekasihku, yang sangat Aku benci ini.

“Aku tidak mau kamu. Tapi, Aku tidak mau hubungan ini berakhir begitu saja.”

“Maksudnya apa?” cela si selingkuhan, yang rasanya pengen Aku IHHHHHHHH…. Remet wajahnya.

“2 tahun yang lalu, kamu bilang akan bersamaku. Kamu bilang Akulah satu-satunya yang ada di hatiku, baik sekarang ataupun di kehidupan mendatang. Aku tahu, itu adalah gombalan yang sering kamu katakan ke wanita-wanita. Dan sialnya, Akulah yang terjebak. Aku terpikat pada kalimatmu yang berlebihan itu.”

Kini orang-orang memperhatikan kami. Kami seperti reality show settingan yang ada di TV-TV nasional dan mendapatkan rating yang tinggi.

“Setelah aku tahu, perlakuanmu kemarin. Bodohnya Aku menangisimu, Aku menggalaukanmu, dan aku merasa kehilanganmu. Padahal, seharusnya aku bersyukur, sebelum melangkah lebih jauh. Kamu telah menunjukkan sifat burukmu itu. Aku tak masalah jika kamu memilih dia dibanding aku. Aku tak masalah. Karena pada akhirnya kamu mencari tempat baru untuk dituju selain itu. Mungkin perkataan ini belum sempat kita bicarakan kemarin, meskipun secara nggak langsung kita sudah melakukannya. Mulai hari ini kita putus.”

Aku mengulurkan tangan ke arah selingkuhan yang kini sudah SAH, RESMI dan DIAKUI menjadi pasangan mantanku. “Selamat, kamu sudah resmi menjadi kekasih terang yang sebelumnya ada di kegelapan. Aku serahkan pria bangsat ini ke kamu.”

Tanganku ditangkis begitu saja. Ya, mereka berdua pasti malu Aku perlakukan begitu. Sekarang hatiku melega. Sekarang waktunya pulang dan bersiap untuk tidur lebih tenang. Aku mengendarai motor bersama Bintang. Di perjalanan Aku beberapa kali berteriak kencang seperti “Dasar pria bansat!”, “Selamat datang kesendirian!” dan luapan ekspresi lainnya. Hatiku benar-benar lega sekarang.

Sebelum sampai rumah, Bintang mengajakku mencicipi nasi goreng langganannya. Meskipun dipinggir jalan, namun rasanya sangat juara. Nasi goreng abang-abang emang tiada dua.

“Bagaimana perasaanmu La?”

Aku tersenyum sambil menyuap sesendok besar nasi goreng. Dari ekspresiku Bintang tahu jika aku sudah senang sekarang.

“Tadi kamu keren.”

“Iya dong, semua keberanian aku kumpulkan untuk mengatakan semuanya itu. Rasanya aku sangat lega membuat mereka malu. Tapi jahat nggak sih Bin?”

Bintang menggeleng, dia sama lahapnya denganku. Kami menikmati setiap suap nasi goreng malam ini. Karena perasaan yang lega, rasanya nasi goreng ini 2 kali lebih enak dari biasanya.

“Bicara jujur emang lega ya La?”

Aku mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu, Aku juga mau jujur La….” Bintang terdiam sebentar. “Aku sudah menyukaimu sejak kita kelas satu.”

Pria Tua

Sumber gambar : Photo by apri rianto on Unsplash

Aku adalah seorang pria yang tak pernah putus asa untuk mencari cinta. Hahaha, itu yang sering kali diucapkan oleh temanku saat kami tengah menikmati kopi dan sebatang rokok di angkringan langganan. Aku hanyalah pria biasa, tak punya paras tampan yang mampu membuat para wanita jatuh dan pingsan. Aku juga tak punya karisma bak seorang pangeran dari kerajaan, karna teman-temanku memanggilku Bajingan. Ups.. bajingan ini bukan seperti orang jahat dalam drama. Aku hanyalah bajingan yang sering ditinggal wanita.
Sebenarnya Aku tak masalah jika seseorang meninggalkanku, karena aku selalu berperinsip tetap dan tinggal adalah keputusan masing-masing. Hal ini bukan hanya berlaku pada percintaan saja, namun juga pertemanan.
Jika dilihat sore ini angkringan cukup sepi. Sebagian dari temanku sudah bekerja bahkan gaji mereka 3x lebih tinggi dariku. Tapi, mereka harus lembur setiap malam untuk menutup setoran.
Kalau ditanya apa pekerjaanku? Dengan bangga aku bilang Pengangguran. Benar. Sedikit cerita tentang masa laluku, aku seorang mahasiswa seni rupa di salah satu perguruan tinggi. Hari-hariku hanya bermain dengan warna cat dan prakarya tangan lainnya. Aku tahu, orang-orang menganggap remeh semua ini, bahkan mereka sering kali berkata. Apa yang aku kerjakan tak mungkin berubah jadi uang.
Sering kali orangtua dan lingkungan rumahku mendesak, mereka ingin aku segera mendapatkan pekerjaan yang layak. Setidaknya seperti teman-temanku lainnya. Tapi aku menolak, terikat kontrak, menghabiskan waktu berjam-jam, dibentak, dan Standar-standar lainnya. Itu bukanlah gaya, karena orang-orang tahu, sebebas apa diriku.
Sudahlah tak akan ada habisnya jika aku mengeluh tentang kehidupanku di rumah. Lebih baik ku gunakan waktuku untuk keluar rumah. Hari ini aku ada janji dengan teman perempuanku, iya teman. Sementara waktu ini kami memang masih berteman baik, aku harap ke depannya akan jauh lebih baik.
Aku mengendara, berkeliling kota menggunakan motor Honda Super Cub 80 cc yang kini menjadi primadona di kalangan anak muda. Hari ini aku ingin menjemput Laras, perempuan yang aku kenal di kedai kopi milik sahabatku satu bulan yang lalu. Lewat obrolan singkat aku meminta nomer HPnya, dan setelah itu kami rutin mengobrol via WhatsApp.
Hari ini pertama kalinya aku pergi ke rumah Laras. Ada harapan besar yang aku pendam dari obrolan kami selama ini. Bahkan dalam seminggu ini, aku dan Laras sangat sering menelpon satu jam sebelum tidur, sampai Aku mendengarkan suara dengkurannya kecil saat dia lupa mematikan telpon. Baru 1 bulan kenal tapi aku sudah berfantasi macam-macam.
Aku sudah sampai di depan gerbang rumah Laras. Di teras rumah dia sudah menunggu, menggunakan pakaian warna merah jambu yang membuatnya tampak sangat lucu. Aku menyalakan klakson motor, dan Laras menghampiriku.
“Hai Laras!” sapaku dengan sangat manis.
“Halo Ndi, em…”
Mimik wajah Laras berubah jauh, saat dia mendekatiku.
“Kenapa Ras?” Aku tahu mungkin dia keberatan dengan motorku, tapi aku masih menyimpan harapan jika dia menerimanya.
“Nggakpapa sih Ndi, tapi ini kah kita mau datang reuni. Kamu yakin ke sana pakai motor ini?”
“Iya biarpun lama, tapi aku sering membawanya ke bengkel secara rutin. Jadi bisa dibilang mesin ini tua tapi bisa bersaing dengan motor-motor jaman sekarang lah.”
Laras tampak masih berpikir.
“Kita pesen taksi aja ya. Nanti biaya patungan.”
Memang benar dugaanku. Sebenarnya aku tak masalah ataupun kecewa, karena Laras adalah wanita kesekian yang menolak ajakanku menggunakan motor tua peninggalan Bapak.
“Jadi, kamu malu denganku?”
Laras lama menjawab. Hampir terjeda 10 menit untuknya bilang “nggakpapa”
“Aku tahu, kamu malu dan nggak mau denganku setelah ini. Acara reuni nanti emang jadi kesempatanmu untuk memamerkan semua yang kamu punya. Ya, pekerjaan, pasangan, bahkan jabatan yang kamu pegang. Aku tahu kamu sangat keberatan untuk ku bonceng dengan motor tua peninggalan bapakku ini, karena yang kamu mau adalah mobil mewah terbaru.”
“Ndi bukannya begitu.”
“Kamu tak perlu merasa tidak enakan denganku. Aku sudah terbiasa dengan penolakan bahkan pengkhianatan sekalipun. Namun prinsipku, Aku akan berusaha total. Membahagiakan orang yang ku sayangi dengan segala yang aku miliki. Tapi…”
Aku menghela napas, akhirnya kalimat ini aku keluarkan lagi. Setelah hampir setahun lalu ku ucapkan juga pada perempuan sebelumnya.
“Tapi Ras, yang kamu butuhkan adalah hal yang tak aku punya. Itu tandanya kamu juga tak membutuhkanku, karena apa yang aku punya bukanlah keinginanmu. Dibanding kamu merasa tak enak hati, lebih baik kamu pergi sendiri dan aku akan kembali.”
“Sorry Ndi, bukan maksudku buat nyakitin kamu.”
“Ras, yang aku punya sekarang tak berkenan di hatimu, jadi untuk apa aku terus berharap padamu?”
Aku tak mendengarkan penjelasan Laras lagi. Aku menyalakan motor dan ku kembali ke angkringan lama berkumpul bersama isinya para bajingan muda yang kini mulai menua.
Baru saja ku duduk, namun salah satu temanku melihat wajahku yang merengut.
“Gagal percintaan lagi nih.” Ledeknya terhadapku.

Melankolonia

Melankoloni

Melankoloni

Melankolonia

“Jangan pernah merasa segan denganku”

Aku tertawa, sangat keras. Sampai semua orang yang ada di kiri dan kanan memperhatikan.

“Sebaiknya jangan katakan hal itu pada wanita yang kurang ajar sepertiku.”

Kamu menegup teh mu dengan sangat sopan dan elegan. Sejujurnya dari semua hal yang ku lihat sekarang, kamu selayaknya pria lembut yang sudah lama ku idamkan.

“Aku tak pernah menganggapmu kurang ajar.”

“Hah… Banyak teman wanitaku bahkan Ayahku mengatakan jika aku terlalu kurang ajar. Bahkan tak tahu malu kepada siapapun.”

“Apa yang membuat orang-orang menganggapmu kurang ajar?”

Aku berpikir sejenak, ku palingkan wajahku ke langit-langit kafe kecil ini. Kemudian aku tersadar dengan posisi dudukku yang berbeda denganmu. Kamu tampak sangat sopan menyilangkan kedua kaki dan menaruh tanganmu pada ujung lutut, dengan jemari yang saring mengikat. Sedangkan aku? Mengangkat kedua kaki dan meluruskannya sampai memenuhi sofa.

“Seperti yang kau lihat, aku tak bersikap elegan. Aku wanita dengan suara yang menyakitkan telinga orang-orang. Bukan hanya itu saja, mereka bilang Aku sangat membangkang dan sering melawan mereka.”

“Tapi dimataku kamu hidup dengan pendirian kuat. Sayangnya temanmu, Ayahmu, dan siapapun yang ada di sekitarmu menolak itu.”

“Omong kosong…”

“Aku sudah banyak sekali bertemu orang. Sampai akhirnya aku hafal dengan karakter-karakter manusia.”
“Jadi kamu mau sombong sebagai penulis kondang di tingkat Nasional?”

Giliranmu yang tertawa terbahak-bahak. Meja kita kini menjadi sorotan khalayak umum.

“Aku punya kemampuan untuk membedakan mana pecundang, mana pembangkang, dan mana pejuang.”

Kita tertawa bersama, suasana kafe kecil ini menjadi sangat ramai karena ulah kita berdua. Sekian lama tak bertemu denganmu aku menjadi banyak belajar. Tapi sayangnya obrolan kita harus terhenti sejenak. Orang-orang mulai terganggu dengan suara tawamu dan tawaku.

Kita memutuskan untuk keluar sejenak menikmati hiruk pikuk kota yang padat dengan mengandalkan kaki sendiri. Tanganku mendekap ke depan tepat di bawah dada, sedangkan tanganmu bergelantung bergerak sejalan dengan langkah kaki.

“Kapan terakhir kali kita seperti ini?”

“Saat kita kelas XII SMA.”

Aku masih ingat jelas. Pulang sekolah adalah momen yang menyenangkan untuk aku dan kamu. Saat yang lain memilih berboncengan dengan sepeda motor yang mahal. Kita justru berjalan berdua, dan beriringan namun tak perpegangan tangan sama persis dengan saat ini. Kenangan itu masih melekat jelas.

“Kamu tidak pernah berubah, sedikit pun. Seorang pria pemalu, dengan gaya yang elegan dan sangat sopan. Yah.. setidaknya itulah penilaian gadis urakan sepertiku ini.”

“Kamu juga, saat orang lain memanggilku banci.”

Kita terus berjalan hingga akhirnya di depan ada sebuah taman lengkap dengan tempat duduk yang bisa dikita singgahi berdua. Taman tengah kota di siang hari memang sangat sepi, maklum saja sejuknya pohon yang rindang kalah dengan polusi udara dan sinar matahari yang menyengat.

“Kamu tahu aku tak pernah memiliki kenangan indah di kota ini, karena ucapan mereka.”

Aku mendengarkanmu dengan seksama. Ya, kamu mengulang lagi kisah sedih di masa kecil dan remajamu. Padahal kamu harus tahu, meskipun 5 tahun kita tak bertemu. Aku masih ingat jelas ceritanya. Ejekan banci yang paling kamu benci, dijadikan kacung teman-teman laki-laki, bahkan jadi korban kekerasan fisik dan finansial. Kamu dikalahkan oleh orang yang superpower. Hingga datanglah aku, gadis berandalan yang tak pernah taat dengan aturan.

“Kamu harus bersyukur. Jika bukan karena hal buruk itu, kamu tak akan punya cerita indah yang bisa dijadikan buku.”

“Iya, aku tahu. Tapi bukan berarti cerita burukku sebagai bahan konsumsi. Aku hanya merepresentasikan perasaanku dan balas dendamku kala itu dengan cara yang amat sangat positif.”

“Tapi kamu juga harus bersyukur. Jika bukan karena aku, tak akan ada rasa berani dalam dirimu bukan?” Ucapku yang sedikit menyombongkan diri.

Kamu tertawa dan mengiyakan. Bahkan dia bilang, suatu hari dia akan menulis satu buku khusus yang nantinya akan ditujukan padaku. Ia ingin memprasastikan diriku secara abadi.

“Kenapa harus aku? Sedangkan di sekitarmu sekarang banyak orang hebat yang lebih menjual untuk dijadikan sebuah karya fiksi.”

“Kamu tak pernah kalah hebat dimataku.”

“Iya kamu benar, aku adalah orang yang sangat bisa menyombongkan diri.”

“Iya, dari dulu. Coba sebutkan lagi, apa saja yang bisa kamu sombongkan kali ini.”

Aku melihat langit lagi, tapi berbeda dengan langit-langi di kafe tadi. Yang ku lihat sekarang jauh lebih biru, jauh lebih panas, jauh lebih cerah, dan jauh lebih baik. Entah kenapa langit ini seakan berbisik lelucon ke telingaku, padahal lelucon itu mungkin suara dari hati.

“Aku pintar, Aku jauh lebih bebas, Aku punya sedikit teman namun mereka sangat sangat mengenalku dengan baik, karena Aku seperti langit biru sore ini.”

Aku terdiam, ku amati langit itu dengan pelan dan seksama. Ya sepertinya aku melihat refleksi wajahku di sana. Aku melihatnya dengan jelas, hidung dan mataku tergambar di awan yang sangat tipis.

“Iya langit biru sekarang. Meskipun nanti akan ada mendung atau berubah menjadi petang, itu hanyalah perubahan. Karena Aku tetaplah langit biru yang cerah. Yang luas, dan tinggi.”

Kamu tak merespon apapun, akhirnya suasana kita menjadi hening. Sangat jauh berbeda dari sebelumnya.

“Aku mencintaimu, sejak dulu. Sejak SMA, dan masih mencintaimu sampai sekarang.”

Aku merasa terkejut. Tapi tidak terlalu, masih pada umumnya.

“Aku mencintaimu, sungguh.”

Kamu mengulanginya, tapi aku tidak merespon apa-apa. Bahkan aku memandangmu, saat kamu ucapkan kalimat itu kedua kali.

“Harus berapa kali ku katakan, sampai kamu menganggap ucapanku itu serius?”

Aku tak tahu pasti. Sebelumnya kamu memang sudah mengatakan ini. Saat lulus SMA, semester kedua kuliah, saat aku wisuda, dan sekarang.

“Apa alasanmu tidak pernah berhenti mencintaiku?”

“Karena sayangku hanya kamu. Seluruh hatiku telah kamu bawa, aku memang tak menyediakan tempat lain lagi. Hatiku sudah penuh dengan dirimu. Namamu, senyummu, sedihmu, lukamu, dan mimpimu.”

“Kamu tahu, aku adalah orang yang sangat sombong sekali. Bahkan aku bisa menjadi orang yang 3x lipat lebih sombong darimu. Meskipun yang ku miliki hanya sepasang kaus kaki.”

“Aku tahu, kamu adalah orang yang sangat meninggi. Makanya kamu selalu melihat langit dimana pun kita bersama. Tapi itu bukan alasanku untuk berhenti mencintaimu. Saat kamu meninggikan diri, maka aku ikhlas akan merendahkan hatiku. Biarlah kamu jadi langit di setiap pagi hingga dini hari.”

Kali ini aku memandang wajahmu. Ku perhatikan baik-baik gerak bibirmu yang tipis untuk ukuran seorang pria.

“Namun, aku akan tetap menjadi tanah yang bisa terus melihatmu meskipun berjarak jauh.”

“Aku tak mau menjadi orang yang superpower dalam hidupmu. Berpasangan denganku sepertinya bukan solusi yang tepat untukmu.”

“Aku tahu, kamu punya banyak alasan. Dan yang kamu katakan tadi adalah alasan lama yang sudah kamu sampaikan di waktu awal aku menyatakan ini.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Aku tak bisa menjamin apapun, aku hanya mampu mendampingi dan mengajakmu ke sana kemari.”

“Tapi bagaimana jika citramu sebagai penulis yang paling melankolis di negeri ini, dirusak oleh seorang wanita yang anarkis seperti aku ini?”

“Itu mudah, aku tinggal merendahkan diriku. Mungkin yang kamu sebut penulis terkenal itu adalah kata yang sangat tinggi. Aku sudah merasa cukup bila denganmu.”

Aku masih berpikir lagi. Jika tadi terus ku dongakkan kepalaku ke atas, kini aku justru menunduk, dan melihat kaki kita berdua.

“Mari kita merendahkan hati, dan saling membuka diri.” Kamu mendongakkan kepalaku lagi. Memintaku untuk menatapmu.

“Jangan pernah memintaku untuk menetap meskipun itu sekali saja. Karena bagiku permintaan itu akan berlaku selamanya.”

Kamu tersenyum.

“Tetaplah tinggal denganku, kali ini dan selamanya sampai nanti.”

Mungkin tak ada kisah yang menarik di antara kita berdua. Maklum saja, ini hanya sekilas cerita sederhana yang tak layak untuk dikonsumsi orang-orang. Bagiku kamu tetaplah penulis kondang meskipun setelah kamu umumkan hubungan kita. Banyak pihak baik dari fans maupun menejemenmu yang berantakan dan tidak terima, dan sekarang biarlah kisah kita berdua yang diabadikan cukup di hati, tak perlu media lain lagi.

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Semuanya terjadi dengan baik-baik saja dan sesuai rencanaku. Hingga suatu pagi kabar buruk datang dan menghancurkan semua. Aku tak pernah menyangka jika nanti, bahkan suatu hari entah sekarang atau ratusan tahun lagi kamu seperti ini. Sebuah kabar buruk tentang kecelakaan pesawat pukul 01.29 Jakarta.

Bandara Kala Itu

Sumber photo : Photo by Ross Parmly on Unsplash

Rasanya baru semalam aku melepas pelukmu di bandara. Rasa hangatnya bahkan masih terasa hingga lekat bagaikan selimut sutra. Aku masih tak percaya sungguh…

“Yang sabar ya, kami belum tahu kondisinya. Kita doakan yang terbaik.” Ucap orangtuamu padaku, sesaat ku dengar kabar hilangnya pesawatmu. Tanpa pikir panjang aku melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumahmu. Di sana sama kacau balaunya. Ibu menangis keras, kakakmu juga, bahkan Ayahmu yang punya watak keras. Semuanya bersedih tak tahu bagaimana kondisimu saat itu. Aku bingung, dibandingkan Aku mungkin ibumu lah yang paling hancur. Tapi justru Ibumu yang sangat menguatkan ku pagi ini.

“Maafkan Aku tante..”

Tak ada kata lain yang bisa ku sampaikan selain maaf. Aku sangat menyesal, dan membenci diriku. Tepat satu minggu lalu, sebelum akhirnya kamu putuskan untuk pergi ke Bandara.

“Aku belum siap buat LDR sama kamu.” Tegasmu, ya kala itu kamu masih bucin-bucinnya.

“Heii, kamu ke Malaysia kan buat belajar bukan untuk apa-apa. Lagian LDR juga bukan masalah besar buat kita. Asal kita saling percaya.” Kalimatku yang berusaha menenangkanmu

“Tapi, Ka…”

“Don, kamu punya beasiswa untuk kuliah gratis di luar negeri karena pencapaian-pencapaianmu selama ini. Kira-kira mana lagi cewek mana yang merasa dirinya nggak beruntung bisa mendampingimu?”

“Tapi…”

“Udah jangan tapi, tapi. Pergilah dan kita akan tetap sayang dan saling percaya.”

Inilah salahku. Mengizinkanmu untuk pergi jauh, bahkan sekarang sangat jauh. Sangat, dan sangat jauh, tak ada lagi kesempatan untuk menemuimu.

Satu hari setelah kabar itu, aku seharian di rumahmu mandi, makan, bahkan tidur di kamarmu. Ibumu sangat baik, dia selalu menganggapku seperti anaknya sendiri, iya seperti kamu hanya bukan versi laki-laki.

Satu minggu berlalu, Aku sempatkan untuk mengunjungimu setiap malam. Orangtuaku mulai khawatir karena aku tak kunjung pulang ke rumah selepas acara tahlil. Hampir setiap malam Ayah dan Ibuku menemaniku berkunjung ke rumahmu.

Satu bulan, Aku masih mengunjungi rumahmu. Setidaknya seminggu sekali. Keluargamu memang belum mendapatkan kabar baik, apapun yang melekat dalam dirimu, pakaianmu, barang-barangmu, bahkan kacamatamu tak ditemukan oleh Tim SAR. Keluargamu berpasrah mereka bilang ini musibah dari Tuhan. Perlahan mereka akan belajar ikhlas, dan memintaku untuk melakukan hal yang sama.

Enam bulan berlalu, aku mulai jarang berkunjung. Ibumu selalu menanyakan kabarku setiap hari, setiap pagi memberikan doa-doa rohani agar aku selalu baik. Aku masih bingung kenapa beliau masih saja baik denganku, padahal kita bukan lagi siapa-siapa dan Aku juga sudah sangat jarang ke sana.

1 tahun tepat hari dimana kabar duka itu terdengar di telingaku. Kemarin ibumu memberi kabar jika ada acara tahlil satu tahun dirumah, ibumu memintaku untuk datang. Tapi aku memilih untuk menghindar.

Fotomu dalam bingkai di waktu kita masih berseragam sekolah, terus aku letakan di atas laci samping kasurku. Meskipun belum ada kabar baik tentangmu, entah kenapa aku selalu percaya kamu akan ada. Kamu akan datang. Dan aku sangat percaya itu.

Aku menyalakan TV di kamar, ada sebuah tayangan iklan yang lagi-lagi mengingatkanku tentangmu. Ya, tayangan iklan konser coldplay di Kuala Lumpur. Iya, itu adalah band favorit kita berdua. Setiap pulang sekolah dan selesai belajar kita habiskan waktu dengan gitar dan bernyanyi bersama. Hampir semua kunci lagu coldplay kamu hafalkan dalam waktu yang sebentar. Bahkan aku juga masih ingat, sewaktu acara pensi sekolah kita berdua berduet menyanyikan lagu “Fix You” dari lagu itu kita dinobatkan sebagai raja & ratu.

Lucunya, meskipun sudah lama. Semua hal tentangmu masih sangat melekat dan terasa erat. Lagu favoritmu hampir setiap hari aku dengar entah di radio, tempat perbelanjaan, atau beberapa orang-orang di kampusku yang menyanyikannya saat tengah berkumpul. Bukan hanya lagu yang terus melekat, film, hingga baju dengan gayamu juga sangat sering aku jumpai. Aku heran, dan aku benci. Semua ada, semua terdengar, semua terlihat, apapun yang kita pernah lakukan ada di sekitar mataku sekarang. Tapi, apa yang sangat aku butuhkan justru menghilang. Kamu, iya benar tak ada lagi yang bisa ku butuhkan selain itu.

Aku menangis tersedu. Di rumah sedang sangat sepi, melihat semua ini. Rasanya aku sangat sendiri. Terdengar egois memang, saat semua orang termasuk orangtuaku mengkhawatirkanku. Aku justru merasa sangat sengsara sendirian. “Maaf..” tak ada lagi kata yang bisa ku ucapkan setiap hari selain itu. Aku meraih bingkai foto kita, ku peluk hangat, tapi tak sehangat sata kita berada di bandara.

Aku menangis dalam lelap. Selamanya, sampai kapanpun kamu akan terus ada. Dalam hatiku, dalam ruang yang tak bisa digantikan oleh siapapun.

Aku menangis, dimimpiku pun masih terus menangis.

“Hei..”

Pria dengan kacamata yang sangat akrab ku tatap, muncul secara tiba-tiba. Membangunkanku perlahan dengan elusan tangan yang hangat. Ia menata poniku yang berantakan, dan menghapus air mataku.

Aku beranjak.

“Don..”

“Apa kabar?”

“Don..”

Kamu tersenyum, dan kita duduk bersebelahan di kasurku. Aku bingung bagaimana kamu bisa datang ke kamar? Apakah yang dikatakan Ayah dan Ibuku sewaktu pergi adalah menjemputmu kembali?

Aku memelukmu, hangat. Masih hangat seperti saat kita berada di bandara kala itu.

“Aku sangat sedih, aku sangat tidak baik saat kamu pergi.”

“Aku tahu, tapi kamu tahu sebelumnya aku sangat baik. Tapi melihatmu yang seperti ini, aku tak bisa sebaik itu.”

“Kamu harus tahu, selama satu tahun ini, orang selalu memintaku untuk ikhlasin kamu. Tapi Aku nggak bisa. Aku nggak mau. Kamu sangat aku butuhkan di sini. Bagaimana Aku bisa ikhlas kalau tanpamu aja Aku nggak bisa apa-apa.”

Aku menangis, semua aku tumpahkan kala itu. “Aku mau kamu tetap ada, selamanya.”

“Ka, kamu masih marah? Bicaramu seakan menantang semesta.”

“Aku nggak marah. Mana bisa aku marah sama kamu?”

“Bukan denganku, tapi dengan semesta.”

“Aku tidak pernah marah dengan semesta. Aku… Aku hanya… Aku hanya ingin kamu ada.”

Kamu tersenyum dengan sangat tulus. Aku belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya.

“Aku memang selalu ada Ka. Di hatimu, kamu bahkan menyisakan tempat untukku.”

Aku merasa kamu terlihat berbeda. Cara bicaramu tak pernah sedewasa ini, kamu tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Kamu sudah sangat berubah. Dulu kamu sangat ceria, bersuara paling keras di antara teman-teman lainnya. Bahkan tak malu untuk menari-nari sendiri di belakangku. Tapi sekarang, kamu terlihat surut. Rambutmu, wajahmu, pakaianmu, ini bukanlah kamu.”

“Kamu harus tahu satu tahun yang aku lalui selama ini, tanpa kamu.”

Kamu merapikan rambutku. Menyisirnya dengan tanganmu sendiri. Aku tahu kamu adalah orang yang sangat humoris, namun tak pernah romantis. Kamu juga mengisap pipiku, setiap air mata yang jatuh kamu usap terus. Aku bisa bayangkan betapa berantakannya aku sekarang.

“Tentu aku tahu. Jika tidak tahu mana mungkin aku kemari. Ka, kamu tahu aku sangat suka kalau kamu berpakaian rapi. Kamu tahu, kalau kamu adalah wanita yang pernah aku miliki. Kamu juga tahu, Aku tak bisa disini.”

Aku menangis, ada apa ini? Kenapa kita justru seperti ini?

“Ka, Aku sangat sayang kamu. Bahkan lebih sayang dari perasaanmu untukku. Aku nggak mau kamu kayak gini. Benar kata Ibuku, mulailah belajar ikhlas.”

“Itu sulit untukku.”

“Untuk semua orang tentu ikhlas sangat sulit. Tapi aku percaya, kamu pasti bisa tanpa peduli berapa lama.”

“Don, jangan minta Aku buat lupain kamu.”

“Tidak akan pernah aku meminta itu. Aku hanya memintamu untuk mengikhlaskanku.”

Aku semakin menangis, kali ini kamu tak mengusap pipiku lagi.

“Waktuku sudah habis Ka. Selamat bangun, dan aku ingin kamu menjalani hari yang lebih baik dari ini.”

Kamu pergi ke arah pintu kamarku. Aku mengejarmu, namun saat ku buka pintu kamarku Aku terbangun dari tidur. Aku menangis, dan terdengar oleh ibu. Aku masih menangis, sekarang aku hanya ingin satu hal. Kamu baik-baik saja di sana.

 

KESEMPATAN

KESEMPATAN

KESEMPATAN

“Menurutmu Kesempatan itu Apa?”

Aku terus memandangmu. Sejujurnya aku selalu menikmati setiap saat kita mengobrol, kamu seakan manusia maha tahu. Dimana semua pertanyaanku kamu jawab dengan mudahnya, tanpa perlu panjang memikirkan. Atau kamu saja yang menjawabnya dengan asal?

“Hmmm… Sebuah akibat saat kita memilih sesuatu.”

Aku tertawa, penjelasan yang sangat tidak masuk akal dalam logikaku.

“Mana bisa seperti itu?”

“Lucu ya? Tapi coba deh kamu pikirin setiap kali kamu memilih sesuatu, kamu akan melihat berbagai hal yang bisa menjadi kesempatanmu hidup lebih baik.”

“Lalu bagaimana dengan kesempatan kedua? Bukankah terlalu banyak memilih itu bisa aja disebut dengan plin-plan?”

“Bukankah lebih bagus kalau kita punya banyak pilihan, dibanding hanya memilih satu jalan?”

“Jawabanmu tak membuatku puas.”

Kamu tertawa.

“Menurutku, kesempatan kedua itu keputusanmu yang digabungkan dengan keputusan Tuhan.”

Bagiku menelaah setiap penjelasan darinya adalah hal yang lebih sulit dibanding Ujian Akhir Semester. Setiap kali kami bertemu, dan mengobrol bersama. Aku terus memikirkan itu. Rangkaian katanya penuh dengan makna.

Aku sangat ingin mengenalnya dulu, dan setelah itu terjadi aku merasa biasa. Ada juga kagumnya dan penasarannya. Entah dia manusia keturunan siapa. Otaknya seperti memiliki poros yang berbeda dengan manusia pada umumnya.

“Apa kamu tidak lelah?”

“Lelah dengan apa?”

Aku terdiam. Aku juga bingung kenapa aku menanyakan hal itu. “Entah.” Jawabku singkat

“Kalau ada kesempatan lagi untuk kita bertemu, kamu mau aku melakukan hal apa?”

“Jangan konyol, kamu akan pergi lagi? Untuk berapa lama? Dan kemana lagi?”

Kamu tertawa, sangat keras hingga berdahak-dahak. Aku memberikanmu minum, dengan tawamu seperti itu aku yakin tenggorokanmu pasti akan sangat kering setelahnya.

“Saat ini mungkin belum. Tapi tidak tahu besok, lusa, minggu depan, atau bulan depan lagi.”

“Kenapa kamu selalu pergi dan datang seperti ini.”

“Aku masih mencari.”

“Apa yang kamu cari?”

Kita saling berpandangan. Seketika, jantungku berdetak lebih kencang. Aku bingung setengah mati.

“Tempat pulang.”

“Inikan rumah kamu. Rumah kita.”

“Iya, aku tahu. Meski hanya panti asuhan tempat dimana kita besar. Tapi arti rumah bagiku berbeda, dia yang akan memberikanku kenyamanan bukan hanya melindungi dari air hujan.”

Aku sedikit sedih, untuk kesekian kali ia akan pergi. Ya setelah sekian lama ia menjadi seseorang yang sangat misterius di panti ini. Hanya aku, cuma aku saja yang bisa sedekat ini.

“Sampai kapan kamu mau pergi-pergi?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku sangat sulit percaya denganmu, rasanya semua kalimat-kalimatmu hanya sebuah omong kosong belaka.”

Kamu meneguk minuman yang tadi ku berikan.

“Syukurlah, itu lebih bagus. Karena aku lebih senang kamu menjadi pribadi yang punya pendirian dibanding mengikuti kata orang.”

“Sudahlah hentikan omonganmu. Jika ingin pergi sekarang, segeralah langit sedang mendung.”

Kamu berpamitan. Untuk kesekian kalinya, aku tak menangis. Aku selalu yakin jika nanti kamu akan kembali ke sini.

Andai saja aku tahu, kamu tak pernah kembali lagi.

Sekian tahun berlalu, panti asuhan ini akan diambil alih oleh yayasan. Aku dan anak-anak akan pindah ke tempat lain. Bahkan di saat Aku memandang lama panti asuhan ini, khususnya teras depan yang sering kita gunakan untuk mengobrol berjam-jam, kamu tak kunjung datang. Mungkin kesempatan itu tak pernah ada. Entah kedua, ketiga, bahkan seterusnya.

Di tempat tinggal baru. Sedikit lebih mewah dibanding panti asuhan yang lama. Aku penasaran siapakan manusia dermawan yang berbaik hati memberikan tempat tinggal sebagus ini.

“Selamat datang, dan selamat pulang.”

Aku sangat tidak asing dengan suara ini. Suara yang hampir 2 tahun tak lama ku dengar setiap sore menjelang magrib di panti asuhan lama.

Aku berbalik. Apakah kamu manusia dermawan itu.

“Maaf, aku tak menyempatkan waktu untuk datang. Tapi setidaknya, aku bisa membawamu pulang kemari.”

“Bagaimana bisa? Kamu jadi seperti ini.”

Aku sangat terkejut, sikap, tutur kata, bahkan intonasi suaramu tidak berubah sama sekali. Meskipun sekarang penampilanmu jauh lebih rapi.

“Selama pergi Aku punya banyak kesempatan, dan seperti inilah aku sekarang. Ajaib bukan?”

“Sangat.”

Aku sangat bahagia. “Emm… sudahkah menemukan tempatmu pulang?”

“Sudah lama ku temukan. Sudah sangat lama, kamu. Iya, kamu tempatku pulang yang paling ku inginkan. Sekarang, aku tak akan pergi lagi. Kamu sudah ku bawa kemari, akan pulang bersamamu setiap waktu.”

“Kamu tetap saja omong kosong di mataku.”

Aku tersenyum. Kamu juga demikian. Kesempatan? Entahlah aku rasa sekarang ini aku mengerti sedikit maksudnya.

Kita yang pernah

Untuk Kita yang Pernah

Untuk kita yang pernah

Sampai sekarang kamu masih saja hafal denganku. Apa makanan kesukaanku, bahkan bagiamana aku menyisihkan sawi ditepian mangkuk mi ayam. Kamu juga tahu, entah dimanapun kita makan, Aku lebih senang duduk berhadapan dibanding disampingmu. Karena bagiku saat itu, memandangmu tanpa ada kata apapun sudah sangat cukup. Iya, aku dibudakan oleh cinta sepertinya, banyak temanku yang bilang jangan terlalu gila padamu. Tapi mau bagaimana lagi, rasa sayang telah tumbuh sedemikian rupa. Tak bisa aku sangkal atau sembunyikan.

Kita yang pernah

“Kamu pernah.. mengatakan ini.’Jika suatu saat nanti kita sudah saling bertentangan kita harus sama-sama menguatkan’ Dan itu telah terjadi sekarang”

Kamu hanya bisa diam.

“Kamu juga pernah ada bilang banyak hal yang aku telah tahu darimu. Aku tahu rumahmu, keluargamu, hewan peliharaanmu, teman sepermainanmu, bahkan semua kesukaanmu.”

Aku menahan tangis.

“Kamu pernah… Kamu pernah bilang sayang yang sangat dalam padaku..”

“Semuanya pernah kita lakukan.”

Akhirnya kamu bicara.

“Semua hal yang kamu katakan sudah pernah kita lalui dan rasakan selama ini. Mungkin Aku telah berusaha menguatkanmu, tapi pada akhirnya. Kita sama-sama tak pernah setuju, kamu dan aku sudah sangat berlawanan. Menurutku ini adalah akhirnya..”

“Aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat cinta, bahkan kita berjanji untuk hidup selamanya.”

Kamu memelukku hangat. Aku menangis dalam dekap. Kamu melepaskan tubuhmu dengan sangat pelan.

“Ini saatnya kita berpisah.”

Padahal saat itu, aku ingin berkata. Hal itu tak akan pernah terjadi, tapi mau bagaimana? Kamu sudah membulatkan keputusan itu. Hatiku hancur selama beberapa bulan. Kamu bukan cuma kenangan indah tapi juga pemberi luka yang dalam.

“Kita pernah melakukan semua hal indah, dan akhirnya semua berubah. Kita pernah saling mengenal dekat tapi perlahan rasa itu justru pekat. Kita pernah melalui semua itu. Dan sekarang kamu mau mengulanginya denganku? Tapi Aku janji tak akan meninggalkanmu”

Setelah semua hal itu kita lalui, semua kata ‘pernah’ kita lakukan. Mungkin inilah yang namanya belajar, Aku menerimamu lagi sebagai pasangan yang seutuhnya. Untuk menjalani kehidupan yang semoga selamanya.

“Iya.”

Kamu memasangkan cincin itu, dan memeluk hangat tubuhku lagi.