DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

“Kalau kamu mau belajar berempati, cobalah naik bis kota setiap pulang sekolah.”

“Kenapa Aku harus belajar naik bis kota, sedangkan setiap hari aku dijemput oleh Ayahku.”

“Ayolah Putri, cobalah naik bis kota sesekali. Dan kamu akan belajar dari itu.”

“Apa yang aku pelajari lagi selain berempati?”

“Kamu akan tahu, setelah kamu mencobanya sendiri.”

DIALOG MINGGU : PUTRI BIS KOTA

Sumber : Unsplash

Ucapan pria dengan jiwa pembual memang selalu menang. Dia berhasil lagi, menaruh rasa penasaranku terhadap apa yang dia ucapkan. Dia memang seorang Pangeran pembual.

“Kamu harus tahu, seorang K-POPERS rela berbagi tempat duduknya untuk nenek tua yang sudah rentan.”

“Bukankah itu hal wajar dilakukan untuk semua anak muda saat naik bis kota?”

“Iya, tapi bukan itu masalahnya. KPOPERS sangat menyukai naik bis kota, sambil mendengar musik atau bahkan menonton video klip idolanya. Tapi, mereka tahu ada seorang nenek tua mereka melepas earphone-nya dan membagikan kenyamanan pada nenek itu.”

“Memang kamu K-POPERS?”

“Bukan, Aku bukan pengagum Korea. Aku jauh lebih mengagumi. Dari setiap sudut mataku.”

“Aku jadi tahu, kenapa banyak orang yang menyukaimu sekarang. Itu semua pasti karena bualanmu seperti ini.”

Bis kota datang ke halte kami menunggu. Bersama kami memasuki bis kota itu. Ini adalah pengalaman pertamaku. Pangeran ini sangat tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu bagaimana cara agar aku bisa membayar lebih murah. Dia sangat tahu, mengajariku tentang hal yang belum pernah Aku coba adalah keahliannya.

“Sekarang kita sudah selesai membayar. Sampai mana obrolan kita?”

Aku tersenyum, apa iya harus dia teruskan bualannya meskipun kondisi bis siang ini cukup penuh.

“Oh ya, tadi sampai…”

“Maaf Dik, laki-laki depan. Silahkan berpindah.”

Tak ada pilihan lain, Dia ditegur oleh petugas bis. Kini kami terpisah. Aku memandangi suasana jalanan kota besar ini. Aku memandanginya sambil berdiri. Di depanku, ada seorang Ibu dengan anaknya yang masih kecil. Si anak itu menatapku, Aku merasa geli. Sesekali ku berikan senyuman dan tawa yang ceria padanya. Dan dia ikut tertawa juga. Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari si Pangeran pembual.

“KUATKAN KAKIMU, KITA AKAN BERDIRI TERUS SAMPAI 3 HALTE BERIKUTNYA.”

Aku menoleh padanya. Dia mengepalkan tangan, dan memberikan semangat. Aku hanya bisa mengangguk.  Sesuai dengan pesannya, kami turun di halte ke 3.

“Bagaimana?”

“Bagaimana apa?”

“Sudah belajar?”

“Aku hanya tersenyum pada anak kecil yang lucu. Itu saja.”

“Baiklah, kita akan transit untuk bis berikutnya. Jadi bersiaplah untuk hal yang tak terduga.”

Kami menunggu 30 menit untuk bis. Kali ini ukuran bis lebih dari sebelumnya, suasananya juga lebih sepi. Kami duduk terpisah lagi, Aku memasang earphone dan mendengarkan lagu. Satu per satu halte dilewati, perlahan bis menjadi penuh dengan sendirinya. Mungkin ini yang tadi dikatakan oleh Pangeran pembual. Aku membagikan kenyamananku pada seorang nenek yang berusia renta. Aku memberikan kenyamanku untuk orang yang lebih memerlukannya.

Aku menatap Pangeran, dia tersenyum kepadaku. Ia mengirim pesan lagi.

“KITA AKAN TURUN DI HALTE SETELAH INI”

Aku mengangguk padanya. Dan tak berapa lama kami turun bersamaan.

“Bagaimana dengan perjalanmu hari ini? Menyenangkan bukan, Putri?”

“Lumayan, Aku menyukainya. Kamu ada benarnya juga, Aku belajar memberikan kursiku pada orang yang mungkin jauh lebih perlu.”

“Senang mendengarnya.”

“Jika Aku belajar berempati. Lalu apa yang kamu pelajari hari ini, kamu sudah sangat sering naik bis kota dibanding Aku.”

“Aku. Tentu Aku belajar hal baru lagi. Mau tahu apa?”

Aku mengangguk.

“Aku belajar untuk lebih mengagumimu lagi. Bukan hanya dari sudut mataku saja, tapi juga dari sisimu. Aku mengagumimu meskipun kamu tak melihatku. Aku juga mengagumimu meskipun kamu membelakangiku. Aku mengagumimu meskipun kamu tertawa bukan untukku. Aku mengagumi dari setiap sisi yang tak pernah kamu tunjukkan padaku.”

“Kamu membual lagi.”

“Hanya denganmu aku tak pernah membual, yang ku katakan adalah kejujuran.”

“Sudahlah, sebaiknya kamu segera pulang ke rumah. Aku juga akan begitu.”

Kami telah tiba di depan rumahku, tepat 2 rumah setelah itu adalah rumahnya. Kami memang bertetangga. Berteman dan bersekolah bersama. Namun baru kali ini kami pulang berdua.

“Baiklah, hati-hati di rumah. Bilanglah pada Ayahmu, Aku berhasil mengantarmu pulang dengan baik.”

“Kamu memang anak SMA yang sangat pandai merayu wanita. Sayangnya Aku tidak akan termakan itu.”

“Aku memang tak memintamu untuk memakan semua rayuanku. Aku hanya ingin kamu memaknai setiap kataku.”

“Kamu semakin membingungkan.”

“Ya memang, karena Aku ingin kamu selalu menaruh penasaran padaku.”

“Sudah cepat pulang, sebentar lagi petang. Aku mau masuk ke rumah.”

“Putri, Maukah kamu naik bis kota lagi dengan Pangeran?”

“Pertanyaanmu seperti orang yang akan melamar.”

“Aku memang tidak siap untuk melamar, tapi Aku siap untuk mengantarkanmu pulang.”

Aku tertawa, ucapannya selalu menggelikan.

“Iya, Aku mau.”