Tentang Wanita Tua

Tentang Wanita Tua

Tentang Wanita Tua

Sebenarnya saat ini sudah banyak konten, bahkan galang dana untuk mendonasi pejuang senja yang terus bekerja di hari tuanya. Ada banyak ajakan donasi sekadar untuk memberi makan lansia, bahkan donasi #bisa sembuh. Saat ini kesadaran banyak orang tentang berbagi semakin tinggi, banyak institusi, komunitas, bahkan personal yang menggunakan platform tertentu untuk menyebarluaskan galangan dana itu. Aku sangat senang karena inilah yang dimanakan kehidupan sosial, prinsip tolong menolong akan terus melekat dalam hidup manusia.
Hari ini aku ingin bercerita, ini bukan tentang seorang kakek/nenek yang masih berjalan selama sekian km untuk menjajakan dagangannya. Aku hanya bercerita sederhana, melihat figur hebat memang sudah banyak dan beredar di media sosial. Akan tetapi, terkadang kita lupa dengan sekitar. kita? mungkin aku saja yang merasakan ini. Jadi aku tinggal di sebuah kostan yang letaknya di perkampungan warna, di sini memang warganya ramah-ramah. Salah satunya adalah Mbah Ran, aku tidak tahu nama lengkapnya, yang jelas aku memanggilnya demikian. Mbah Ran, adalah seorang pedagang sayur dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang bertempat tak jauh dari kostku, masih dibilang kami bertentangga. Aku tak tahu betul berapa usia mbah Ran, yang jelas beliau sudah tua. Semua terlihat dari rambutnya yang beruban, garis keriputnya yang ada di mata, dahi dan pipi. Mbah Ran hidup dalam warungnya, kalian jangan berpikir jika warung mbah Ran itu sebuah gubuk. Ukurannya memang kecil 3×4 meter mungkin, seperti ukuran kamar mewah di semarang. Mbah Ran tinggal dalam warungnya yang sudah dibangun tembok, lengkap dengan kamar dan Wc pribadi di sana. Sebenarnya tempat tingga sekaligus warung mbah Ran sudah layak untuk ditinggali. Mungkin karena dangannya banyak jadi terasa sempit.
Aku tidak ingin bercerita dengan konteks yang memelas, aku ingin bercerita tentang konteks yang menakjubkan dari apa yang aku lihat pada sosok Mbah Ran ini. Aku tahu usianya sudah lanjut, aku pernah mendengar cerita dari teman kostku yang juga cukup dekat dengan beliau. Mbah Ran adalah seorang single woman (entah dia sempat menikah atau belum), beliau tak memiliki anak dan pasangan. Bisa dibilang dalam warungnya tersebut Mbah Ran tinggal sendirian. Hiburan satu-satunya yang Mbah Ran miliki sepertinya berkumpul dengan tetangga sekitar, karena di warungnya juga tak ada TV. Meskipun sudah berusia lanjut Mbah Ran cukup ulet dalam bekerja. Setiap kali aku membeli sayur, mbah Ran selalu menghitung satu per satu hasil belanjaku tanpa perlu alat kalkulator. Mbah Ran juga tahu bagaimana cara menyimpan tahu tanpa perlu kulkas, dan sering menawarkanku bumbu-bumbu masakan jika aku bingung ingin memasak apa. Misalnya saja aku membeli ayam, tapi aku bingung ingin mengolahnya menjadi apa? Mbah Ran bilang pakai bumbu ini dan masak seperti ini. Ya, untuk anak muda sepertiku tentu hal itu sangatlah membantu. Maklum saja, saat ini banyak anak kost yang nggak bisa masak seperti aku dulu. Selain kemampuan menghitung belanjaan dan resep masakan, mbah Ran juga orang yang cerdas setiap orang yang berhutang selalu beliau catat baik-baik dalam bukunya. Aku sungguh salut, yups di usianya yang tak lagi muda, mbah Ran tetap berwirausaha bukan hanya itu keterampilan dalam memanajemen usahanya juga masih sangat cakap. Catatan hutang selalu diberi detail tanggal, nama pihak yang terlibat, dan total belanjanya. Sosok Mbah Ran membuatku sadar, jika wanita yang mandiri tak akan takut untuk hidup sendiri. Kecakapannya dalam melayani setiap pembeli juga harus diacungi jempol, terkadang benar kita hanya perlu melihat sekitar untuk menemukan tokoh inspiratif. Mbah Ran seperti sebuah citra kemandirian seorang wanita tanpa mengenal usianya.
Satu lagi wanita yang sudah menua, yang sangat aku ingat. Wanita ini namanya Bu Sri, dia juga single woman. aku mengenal Bu Sri saat masih duduk di bangku kuliah, aku mengenalnya selama 2 tahun. Dimana Bu Sri merupakan ibu yang membersihkan kostku setiap hari minggu kala itu. Seperti ibu-ibu pada umumnya, Bu Sri juga termasuk orangtua yang cerewet, suka memarahi kami, dan bercerita ngalur-ngidul. Awalnya aku sangat sebal dan ingin sekali menghindarinya setiap kali kami bertemu di kostan. Tapi lama-kelamaan aku memahaminya. Di balik semua cerita yang terkadang menyebalkan itu, Bu Sri adalah sesosok wanita yang kesepian juga. Terkadang dia bercerita sambil menangis, tapi terkadang dia juga marah besar karena bagian lantai yang kotor ketumpahan minyak. Bu Sri selalu menasehatiku dan anak kost lainnya untuk hati-hati memilih pria. Dia bahkan sampai bilang jangan buat harga diri kalian diinjak oleh pria. Kala itu aku hanya berkata IYA. Tapi, saat perlahan satu demi satu kami lulus kuliah dan meninggalkan kostan. Bu Sri merasa sangat sedih, dia bilang menganggap kita semua seperti anaknya sendiri. Sama seperti mbah Ran, aku sadar jika Bu Sri merupakan sesosok wanita tua yang mandiri juga. Meskipun gajinya kecil, bu sri selalu bercerita kepada kami untuk menyisihkan gajinya agar bisa ditabung dan memberi uang saku anggota keluarganya yang lain. Bu Sri memang hebat, dia bekerja keras siang dan malam sebagai ART untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan tak bergantung pada siapapun.
Aku sungguh senang mengenal kedua wanita ini, meskipun tak ada intensitas yang sering untuk berbagi cerita namun dengan mengamati kehidupan mereka saja aku jadi belajar banyak. Semoga kalian juga demikian, terinspirasi oleh orang-orang di sekitar.
Sekian dulu ceritaku hari ini, semoga berkenan di hati kalian semua, see you.

DELAPAN FEBRUARI | 2

DELAPAN FEBRUARI | 2

Aku sangat terkejut. Sebuah pernyataan yang benar-benar diluar dugaan.

“Bin? Serius?”

Bintang mengangguk, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Aku tetap menyukaimu meskipun hampir setiap hari kamu bercerita tentang lelaki yang sedang dekat denganmu, atau kisah cintamu yang berakhir pilu. Meskipun kamu selalu bilang jika aku tak pernah paham perasaanmu. Tapi aku sangat mengenalmu, sikap kerasku dan pertanyaan ketusku hanyalah caraku untuk lebih dekat denganmu. Aku tak pandai merayu seperti mantanmu yang dulu, tapi percayalah jika kamu butuh sesuatu Aku adalah orang yang paling bisa kamu andalkan.”

“Ini terlalu cepat buat Aku Bin.”

“Aku tahu, untuk itu. Aku akan memberikanmu waktu, untuk siap menjawabnya. Kapan pun itu..”

Aku mendapatkan PR yang besar lagi. Setelah berhasil memutuskan hubungan dengan mantan kekasih, kini justru teman yang sangat denganku menyatakan hal yang diluar dugaan. Aku bahkan sampai takut menemuinya.

Satu minggu setelah Bintang menyatakan perasaannya kepadaku. Aku masih tak mau menemui atau menghubunginya. Aku merasa Bintang tak seharusnya mengatakan itu,  bahkan tak semestinya ia memiliki perasaan suka terhadapku. Kita kan hanya teman, dan itu akan berlaku selamanya.

Hari-hari berlalu, setelah putus dari mantan kekasihku, aku justru semakin dilema. Sejak Bintang menyatakan perasaanya, sempat kemarin kami bertemu. Bintang tak menanyakan jawabanku, dia masih bersikap sama seperti sebelumnya. Aku menjadi sangat kepikiran. Aku bahkan membaca buku tentang teman tapi menikah, pandangan psikologis tentang hubungan persahabatan antar lawan jenis dan masih banyak lagi.

Sampai akhirnya 3 bulan berlalu. Hari ini adalah hari wisuda Bintang, yah meskipun kami seumuran, tapi Bintang telat menyelesaikan ujian skripsinya. Karena terlalu sibuk mengurus bisnis yang jatuh bangun katanya. Sebenarnya, aku ingin mencari alasan untuk tidak hadir di hari wisudanya tapi. Tapi orangtuaku meminta untuk menyempatkan waktu, dikala jam istirahat nanti. Karena kami berteman sejak SMA, kedua orangtua kami tentu saling kenal. Bila diingat, 2 tahun lalu Bintang juga datang ke acara wisudaku, membawakan buket Matahari yang sangat aku sukai. Hah… baiklah aku akan menemui Bintang

Aku telah menghubungi Bintang, dia memintaku untuk menunggu di taman belakang Gedung DKV. Bintang datang, namun aku sedikit terkejut, dia datang dan dikeliling banyak wanita. Aku tak pernah mengenal wanita-wanita itu, apakah itu teman atau entahlah. Hatiku sedikit sakit, karena perhatian Bintang pasti akan terbagi. Buru-buru ku tepis perasaan itu, aku memberikan bunga yang sama seperti saat aku wisuda dulu, kami mengambil foto berdua sebelum akhirnya aku pamit pulang ke kantor.

Sesak dadaku, sangat, bahkan lebih sesak dari sebelumnya. Aku merasa sedikit sedih, tapi tidak tahu kenapa. Entah perasaan apa yang muncul dalam hatiku? Takut, kehilangan, dan duka. Ahh sial kenapa aku jadi tidak karuan lagi?

Malam hari, Bintang mengajakku keluar dia bilang akan mengajakku makan ke salah satu tempat favorit rekan-rekan kerjanya. “Tenang ini bukan makanan pinggir jalan kayak biasanya.” Ucapnya saat aku menggerutu dengan tawaran nasi goreng abang-abang biasanya.

Kami tiba di sebuah restoran bertemakan Jepang. Dari tampilan restorannya sangatlah berkelas, tahu begitu aku berpakaian rapi. Entah dapat Jackpot apa, sampai Bintang berani mentraktirku di restoran semewah ini. Hidangan datang Aku dan Bintang makan dengan sangat kalap.

“Aku sangat kenyang, bagaimana denganmu La?”

“Mantap!! Kenyang banget, berat badanku bisa saja naik dalam semalam”

Kami melanjutkan makan, hingga hidangan yang terakhir, Tokyo Banana.

“Aku menyukainya..” ucapku

“Siapa? Aku?”

Pertanyaan Bintang membuatku kembali berpikir. Tentang beberapa waktu terakhir, tentang perasaannya, sikapnya, bahkan wanita-wanita yang bersamanya.

“Makanan ini, siapa tadi siang yang bersamamu? Banyak sekali.”

“Temanku, semua temanku. Termasuk dirimu bukan?”

“Apa semua wanita yang menjadi temanmu, akan kamu sukai?”

“Tidak. Aku hanya menyukaimu La. Sampai sekarang pun hanya menyukaimu.”

Obrolan ini menjadi dingin. Aku merasa sangat canggung.

“Sejujurnya Aku sedih melihat kamu memiliki teman wanita lain. Aku..”

“Juga menyukaiku La?”

Aku terdiam, ini jawaban yang membuat jantungku sangat berdebar. Aku mengangguk, meski setengah hatiku menolak karena Bintang adalah temanku selamanya. Tapi setengah hatiku lagi merasa sangat takut kehilangan Bintang.

“Iya Bin, sepertinya aku juga begitu. Sangat menyukaimu. Aku nggak punya sosok lain yang bisa aku andalkan selain kamu. Jika kamu bersama dengan yang lain, bagaimana aku bisa seperti diriku yang sebenarnya?”

“Kamu bilang aku adalah orang yang sangat tidak memahami perasaanmu. Maaf atas semua kata ketusku. Aku tahu kamu sakit, tapi Aku tahu kamu terlahir sangat kuat. Karena Aku tahu kekuatanmu, aku berani bilang itu. Maaf jika terkadang aku menjadi pembakar, bukan pendengar.”

“Aku memakluminya, karena semua katamu selalu benar setelah aku tahu bagaimana kerasnya kenyataan. Aku mau memulai semua hal baik denganmu.”

Meski dihatiku masih menyimpan keraguan, tapi aku yakin. Bintang akan punya banyak cara agar aku bisa yakin dengannya. 50% hatimu telah diisi oleh cinta bintang, sedangkan sisanya Bintang minta untuk diberikan pada diriku sendiri. Yups, separuh dariku adalah milik Bintang.

DELAPAN FEBRUARI | 1

DELAPAN FEBRUARI | 1

Hatiku hari ini sangat patah… Lagi-lagi aku ditinggalkan orang yang paling aku sayangi. Ya, Aku putus dengan kekasihku, setelah 2 tahun lamanya kita menjalin hubungan asmara.

“Kamu kenapa Lala?” Tanya Bintang. Sahabat priaku yang sudah lama aku kenal sejak kami duduk di bangku SMA.

“Aku diselingkuhin Bin. Baru aja kemarin Aku sama dia jalan berdua. Eh tahunya, dia selingkuh dariku, dan memilih selingkuhannya dibanding Aku.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”

Pertanyaan Bintang selalu membuatku kesal, dia memang tak pernah memahami perasaanku yang sebenarnya.

“Kamu ngerti nggak sih? Orang putus pasti sedih!”

“Tapi, dia lebih mencintai orang lain bukan? Untuk apa menangisi orang yang jelas nggak cinta sama kamu.”

Aku sangat malam untuk menjelaskan ke Bintang. Meskipun diselingkuhi namun tetap saja, rasa kecewa, marah, terluka, dan kehilangan sangat memenuhi dadaku sampai rasanya sesak. Aku tak menjawab pernyataan dari Bintang. Dia adalah pria yang lama mengenalku, namun tak juga paham dengan sikap-sikapku. Apa yang dikatakan selalu bertolak belakang dengan maksudku.

Satu hari setelah aku dan mantan kekasihku putus. Aku masih masuk kerja, meskipun dengan wajah yang sangat lesu. Pikiranku masih membayangkan kejadian kemarin. Untungnya pekerjaanku hari ini tidak sepadat biasanya, sehingga aku masih memiliki waktu untuk membangun mood kembali.

Aku menuju pantry untuk membuat secangkir cokelat hangat agar perasaan tenang dan nyaman bisa aku rasakan. Aku meneguk perlahan cokelat panasku, namun perasaanku justru semakin gelisah. Rasanya masih ada kata yang harus aku ungkap. Masih ada perasaan yang harus segera aku keluarkan. Aku mengatakan hal penting pada mantan kekasihku. Tapi bagaimana? Tanpa sadar air mataku jatuh. Beberapa teman kerjaku yang melihat ini langsung mendekat. Mereka memelukku dan memberikan semangat. Aku senang akhirnya ada orang paham dengan perasaanku. Ya… perasaan seseorang yang baru saja diselingkuhi. Tapi sepertinya, ini tak cukup membuatku merasa lega.

Pekerjaan hari ini telah berlalu, Aku keluar dari kantor dan berjalan sebentar menuju taman kota yang mana jaraknya hanya 160 meter saja. Di bangku bawah lampu taman Aku berdiam, aku menggalaukan lagi perasaanku. Padahal ada banyak pekerjaan yang menungguku, tapi kenapa perasaanku kacau sekali. Jika terus begini, Aku akan dipecat dari kantor.

“Ahhhh…. Seballllllll” jeritku cukup keras, untungnya taman ini cenderung sepi. Tak banyak orang yang mengunjungi taman kota jika malam hari.

“Hey.. berisik gangguin orang lain.” Suara yang sangat aku kenal. Yups aku menoleh ke sebelah kiri, itu adalah Bintang. Dia datang sambil membawa sebotol air mineral dingin yang kemudian duduk di sampingku.

“Apa yang membuatmu sangat kesal?” Tanya Bintang lagi. Aku rasa, dia tak akan paham perasaan orang yang selalu putus.

“Aku sangat capek jika menjelaskan masalah cinta pada orang yang keras sepertimu. Yang selalu mengatakan logika tanpa ada rasa. Kamu sangat tidak paham seberapa patah hatinya aku sekarang.”

“Baiklah, lalu kamu mau Aku bagaimana La?”

“Sudah diam aja Bin. Aku akan semakin kesal jika kamu terlalu banyak bicara.”

“Apakah diam bisa membuatmu lebih tenang dan kesalmu jadi redam?”

“Tidak.” Jawabku dengan jelas. Aku tahu, aku malas menanggapi pernyataan dari Bintang. Tapi duduk terdiam terus juga tak akan membuatku tenang.

“Lalu kamu mau bagaimana?”

Aku berpikir sejenak. Pertanyaan Bintang membuatku berpikir tentang apa yang harus aku lakukan. Aku tak bisa terus kesal sendiri seperti ini. Aku harus mengeluarkannya. Harus. Aku menarik napas, dan menepuk-nepuk pipi kanak dan kiriku. Aku harus mengumpulkan nyali terlebih dahulu sebelum yakin dengan keputusan ini.

“Antar Aku Bin. Antar aku menemui mantan kekasihku.”

Bintang mengiyakan permintaanku ini. Untuk urusan antar-mengantar Bintang adalah orang yang sangat aku andalkan. Dia tak pernah mengeluh, meskipun permintaanku aneh-aneh.

Karena 2 tahun kami berpacaran, tentu saja aku sangat hafal tempat mana saja yang mungkin mantan kekasihku kunjungi di malam hari. Aku mengarahkan Bintang untuk menuju sebuah kafe elite yang terletak di depat hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Sialan memang dia, selama denganku dia tak pernah mengajakku ke sana. Tapi diam-diam dia ke sana dengan selingkuhannya. Tebakanku tak salah, aku melihat mantan kekasihku dengan selingkuhan yang kini sudah resmi jadi kekasihnya tengah mengobrol mesra di ruang outdoor kafe.

Aku menata rambutku dengan sangat rapi dan menghapus bekas air mata di pipi, aku harus tampak kuat. Meskipun dalam hatiku masing sangat kacau. Aku tidak terima jujur saja, melihat dia yang sudah bahagia, sedangkan aku menangis semalaman dan pekerjaanku jadi berantakan olehnya. Aku tidak terima! Dengan dikawal Bintang, aku memantapkan langkah mendekati mejanya. Tentu mereka berdua sangat terkejut dengan kehadiranku. Aku bagai seorang penyihir yang merusak acara jamuan makan raja dan permaisuri.

“Mau apa kamu? Kita kan udah putus” tanya mantan kekasihku, yang sangat Aku benci ini.

“Aku tidak mau kamu. Tapi, Aku tidak mau hubungan ini berakhir begitu saja.”

“Maksudnya apa?” cela si selingkuhan, yang rasanya pengen Aku IHHHHHHHH…. Remet wajahnya.

“2 tahun yang lalu, kamu bilang akan bersamaku. Kamu bilang Akulah satu-satunya yang ada di hatiku, baik sekarang ataupun di kehidupan mendatang. Aku tahu, itu adalah gombalan yang sering kamu katakan ke wanita-wanita. Dan sialnya, Akulah yang terjebak. Aku terpikat pada kalimatmu yang berlebihan itu.”

Kini orang-orang memperhatikan kami. Kami seperti reality show settingan yang ada di TV-TV nasional dan mendapatkan rating yang tinggi.

“Setelah aku tahu, perlakuanmu kemarin. Bodohnya Aku menangisimu, Aku menggalaukanmu, dan aku merasa kehilanganmu. Padahal, seharusnya aku bersyukur, sebelum melangkah lebih jauh. Kamu telah menunjukkan sifat burukmu itu. Aku tak masalah jika kamu memilih dia dibanding aku. Aku tak masalah. Karena pada akhirnya kamu mencari tempat baru untuk dituju selain itu. Mungkin perkataan ini belum sempat kita bicarakan kemarin, meskipun secara nggak langsung kita sudah melakukannya. Mulai hari ini kita putus.”

Aku mengulurkan tangan ke arah selingkuhan yang kini sudah SAH, RESMI dan DIAKUI menjadi pasangan mantanku. “Selamat, kamu sudah resmi menjadi kekasih terang yang sebelumnya ada di kegelapan. Aku serahkan pria bangsat ini ke kamu.”

Tanganku ditangkis begitu saja. Ya, mereka berdua pasti malu Aku perlakukan begitu. Sekarang hatiku melega. Sekarang waktunya pulang dan bersiap untuk tidur lebih tenang. Aku mengendarai motor bersama Bintang. Di perjalanan Aku beberapa kali berteriak kencang seperti “Dasar pria bansat!”, “Selamat datang kesendirian!” dan luapan ekspresi lainnya. Hatiku benar-benar lega sekarang.

Sebelum sampai rumah, Bintang mengajakku mencicipi nasi goreng langganannya. Meskipun dipinggir jalan, namun rasanya sangat juara. Nasi goreng abang-abang emang tiada dua.

“Bagaimana perasaanmu La?”

Aku tersenyum sambil menyuap sesendok besar nasi goreng. Dari ekspresiku Bintang tahu jika aku sudah senang sekarang.

“Tadi kamu keren.”

“Iya dong, semua keberanian aku kumpulkan untuk mengatakan semuanya itu. Rasanya aku sangat lega membuat mereka malu. Tapi jahat nggak sih Bin?”

Bintang menggeleng, dia sama lahapnya denganku. Kami menikmati setiap suap nasi goreng malam ini. Karena perasaan yang lega, rasanya nasi goreng ini 2 kali lebih enak dari biasanya.

“Bicara jujur emang lega ya La?”

Aku mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu, Aku juga mau jujur La….” Bintang terdiam sebentar. “Aku sudah menyukaimu sejak kita kelas satu.”

Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa

Sudah cukup lama aku tak menulis cerita yang berkaitan dengan liburan singkatku. Sebenarnya beberapa waktu lalu aku mengunjungi beberapa tempat yang sudah sangat dikenal banyak orang, namun menurutku tempat ini yang paling cocok untuk ku ceritakan. Sebelumnya aku ingin bercerita sedikit, sejak SMA aku sangat suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan “KISAH” termasuk sejarah. Dibanding harus mengingat rumus-rumus fisika atau nama biologis makhluk hidup aku lebih suka memahami sejarah. Meskipun saat itu, literasi dan pemahaman yang aku miliki tidak terlalu luas.

Nah, seperti yang kita tahu, salah satu cara untuk mengerti bagaimana orang zaman dahulu hidup, adalah dengan mengunjungi MUSEUM. Aku tahu setiap kota pasti memiliki museum, karena setiap wilayah memiliki sejarah yang perlu digali.

Salah satu museum yang cukup terkenal di Kabupaten semarang adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Menurutku museum bukan hanya tempat wisata bagi anak-anak ataupun keluarga saja. Museum juga bisa jadi tempat yang dikunjungi orang dewasa. Ada banyak pengetahuan yang bisa didapatkan dari satu tempat ini.

Namanya juga museum kereta, di sini tentu banyak kereta Api peninggalan jaman penjajahan Belanda yang masih terawat sangat baik. Dulu kereta api ini bergerak menggunakan tenaga uap, bahkan pada bagian relnya terdapat gerigi yang membantu kereta untuk melewati jalur rel yang menanjak. Bukan hanya itu saja, ada banyak koleksi lainnya, mulai dari mesin cetak tiket, dokumentasi jurnal/buku peraturan PT KAI, topi masinis & seragam masinis, lampu atau simbol-simbol lalu lintas kereta api, bahkan beberapa bangunan halte yang zaman dulu digunakan kereta lokal jalur Solo-Yogyakarta untuk berhenti.

Sebenarnya ada banyak ulasan yang bisa teman-teman peroleh dari internet, terkait museum ini. Bahkan jauh lebih lengkap dibanding apa yang aku tulis sekarang. Akan tetapi, yang aku sayangkan di sini adalah beberapa orang yang datang hanya untuk berfoto tanpa menyempatkan waktunya untuk membaca penjelasan dari barang-barang koleksi museum. Padahal dengan membaca setiap penjelasannya setidaknya kita akan memiliki visualisasi bagaimana orang zaman dahulu bekerja, berpindah-pindah tempat menggunakan kereta.

Untuk harga tiket masuk sangat terjangkau Rp. 5.000 untuk anak-anak dan Rp. 10.000 untuk orang dewasa. Bahkan bagi pelajar yang berseragam ada harga khususnya juga. Berkunjung ke museum merupakan wisata edukasi yang murah bukan?

Sebenarnya tulisan ini bukan untuk mereview tempat wisata ini, namun hanya ingin menceritakan ketertarikanku terhadap museum. Aku berharap ada banyak lagi orang-orang yang mengunjungi museum untuk belajar, berfoto, dan bernostalgia.

Pria Tua

Sumber gambar : Photo by apri rianto on Unsplash

Aku adalah seorang pria yang tak pernah putus asa untuk mencari cinta. Hahaha, itu yang sering kali diucapkan oleh temanku saat kami tengah menikmati kopi dan sebatang rokok di angkringan langganan. Aku hanyalah pria biasa, tak punya paras tampan yang mampu membuat para wanita jatuh dan pingsan. Aku juga tak punya karisma bak seorang pangeran dari kerajaan, karna teman-temanku memanggilku Bajingan. Ups.. bajingan ini bukan seperti orang jahat dalam drama. Aku hanyalah bajingan yang sering ditinggal wanita.
Sebenarnya Aku tak masalah jika seseorang meninggalkanku, karena aku selalu berperinsip tetap dan tinggal adalah keputusan masing-masing. Hal ini bukan hanya berlaku pada percintaan saja, namun juga pertemanan.
Jika dilihat sore ini angkringan cukup sepi. Sebagian dari temanku sudah bekerja bahkan gaji mereka 3x lebih tinggi dariku. Tapi, mereka harus lembur setiap malam untuk menutup setoran.
Kalau ditanya apa pekerjaanku? Dengan bangga aku bilang Pengangguran. Benar. Sedikit cerita tentang masa laluku, aku seorang mahasiswa seni rupa di salah satu perguruan tinggi. Hari-hariku hanya bermain dengan warna cat dan prakarya tangan lainnya. Aku tahu, orang-orang menganggap remeh semua ini, bahkan mereka sering kali berkata. Apa yang aku kerjakan tak mungkin berubah jadi uang.
Sering kali orangtua dan lingkungan rumahku mendesak, mereka ingin aku segera mendapatkan pekerjaan yang layak. Setidaknya seperti teman-temanku lainnya. Tapi aku menolak, terikat kontrak, menghabiskan waktu berjam-jam, dibentak, dan Standar-standar lainnya. Itu bukanlah gaya, karena orang-orang tahu, sebebas apa diriku.
Sudahlah tak akan ada habisnya jika aku mengeluh tentang kehidupanku di rumah. Lebih baik ku gunakan waktuku untuk keluar rumah. Hari ini aku ada janji dengan teman perempuanku, iya teman. Sementara waktu ini kami memang masih berteman baik, aku harap ke depannya akan jauh lebih baik.
Aku mengendara, berkeliling kota menggunakan motor Honda Super Cub 80 cc yang kini menjadi primadona di kalangan anak muda. Hari ini aku ingin menjemput Laras, perempuan yang aku kenal di kedai kopi milik sahabatku satu bulan yang lalu. Lewat obrolan singkat aku meminta nomer HPnya, dan setelah itu kami rutin mengobrol via WhatsApp.
Hari ini pertama kalinya aku pergi ke rumah Laras. Ada harapan besar yang aku pendam dari obrolan kami selama ini. Bahkan dalam seminggu ini, aku dan Laras sangat sering menelpon satu jam sebelum tidur, sampai Aku mendengarkan suara dengkurannya kecil saat dia lupa mematikan telpon. Baru 1 bulan kenal tapi aku sudah berfantasi macam-macam.
Aku sudah sampai di depan gerbang rumah Laras. Di teras rumah dia sudah menunggu, menggunakan pakaian warna merah jambu yang membuatnya tampak sangat lucu. Aku menyalakan klakson motor, dan Laras menghampiriku.
“Hai Laras!” sapaku dengan sangat manis.
“Halo Ndi, em…”
Mimik wajah Laras berubah jauh, saat dia mendekatiku.
“Kenapa Ras?” Aku tahu mungkin dia keberatan dengan motorku, tapi aku masih menyimpan harapan jika dia menerimanya.
“Nggakpapa sih Ndi, tapi ini kah kita mau datang reuni. Kamu yakin ke sana pakai motor ini?”
“Iya biarpun lama, tapi aku sering membawanya ke bengkel secara rutin. Jadi bisa dibilang mesin ini tua tapi bisa bersaing dengan motor-motor jaman sekarang lah.”
Laras tampak masih berpikir.
“Kita pesen taksi aja ya. Nanti biaya patungan.”
Memang benar dugaanku. Sebenarnya aku tak masalah ataupun kecewa, karena Laras adalah wanita kesekian yang menolak ajakanku menggunakan motor tua peninggalan Bapak.
“Jadi, kamu malu denganku?”
Laras lama menjawab. Hampir terjeda 10 menit untuknya bilang “nggakpapa”
“Aku tahu, kamu malu dan nggak mau denganku setelah ini. Acara reuni nanti emang jadi kesempatanmu untuk memamerkan semua yang kamu punya. Ya, pekerjaan, pasangan, bahkan jabatan yang kamu pegang. Aku tahu kamu sangat keberatan untuk ku bonceng dengan motor tua peninggalan bapakku ini, karena yang kamu mau adalah mobil mewah terbaru.”
“Ndi bukannya begitu.”
“Kamu tak perlu merasa tidak enakan denganku. Aku sudah terbiasa dengan penolakan bahkan pengkhianatan sekalipun. Namun prinsipku, Aku akan berusaha total. Membahagiakan orang yang ku sayangi dengan segala yang aku miliki. Tapi…”
Aku menghela napas, akhirnya kalimat ini aku keluarkan lagi. Setelah hampir setahun lalu ku ucapkan juga pada perempuan sebelumnya.
“Tapi Ras, yang kamu butuhkan adalah hal yang tak aku punya. Itu tandanya kamu juga tak membutuhkanku, karena apa yang aku punya bukanlah keinginanmu. Dibanding kamu merasa tak enak hati, lebih baik kamu pergi sendiri dan aku akan kembali.”
“Sorry Ndi, bukan maksudku buat nyakitin kamu.”
“Ras, yang aku punya sekarang tak berkenan di hatimu, jadi untuk apa aku terus berharap padamu?”
Aku tak mendengarkan penjelasan Laras lagi. Aku menyalakan motor dan ku kembali ke angkringan lama berkumpul bersama isinya para bajingan muda yang kini mulai menua.
Baru saja ku duduk, namun salah satu temanku melihat wajahku yang merengut.
“Gagal percintaan lagi nih.” Ledeknya terhadapku.