Kita yang pernah

Untuk Kita yang Pernah

Untuk kita yang pernah

Sampai sekarang kamu masih saja hafal denganku. Apa makanan kesukaanku, bahkan bagiamana aku menyisihkan sawi ditepian mangkuk mi ayam. Kamu juga tahu, entah dimanapun kita makan, Aku lebih senang duduk berhadapan dibanding disampingmu. Karena bagiku saat itu, memandangmu tanpa ada kata apapun sudah sangat cukup. Iya, aku dibudakan oleh cinta sepertinya, banyak temanku yang bilang jangan terlalu gila padamu. Tapi mau bagaimana lagi, rasa sayang telah tumbuh sedemikian rupa. Tak bisa aku sangkal atau sembunyikan.

Kita yang pernah

“Kamu pernah.. mengatakan ini.’Jika suatu saat nanti kita sudah saling bertentangan kita harus sama-sama menguatkan’ Dan itu telah terjadi sekarang”

Kamu hanya bisa diam.

“Kamu juga pernah ada bilang banyak hal yang aku telah tahu darimu. Aku tahu rumahmu, keluargamu, hewan peliharaanmu, teman sepermainanmu, bahkan semua kesukaanmu.”

Aku menahan tangis.

“Kamu pernah… Kamu pernah bilang sayang yang sangat dalam padaku..”

“Semuanya pernah kita lakukan.”

Akhirnya kamu bicara.

“Semua hal yang kamu katakan sudah pernah kita lalui dan rasakan selama ini. Mungkin Aku telah berusaha menguatkanmu, tapi pada akhirnya. Kita sama-sama tak pernah setuju, kamu dan aku sudah sangat berlawanan. Menurutku ini adalah akhirnya..”

“Aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat cinta, bahkan kita berjanji untuk hidup selamanya.”

Kamu memelukku hangat. Aku menangis dalam dekap. Kamu melepaskan tubuhmu dengan sangat pelan.

“Ini saatnya kita berpisah.”

Padahal saat itu, aku ingin berkata. Hal itu tak akan pernah terjadi, tapi mau bagaimana? Kamu sudah membulatkan keputusan itu. Hatiku hancur selama beberapa bulan. Kamu bukan cuma kenangan indah tapi juga pemberi luka yang dalam.

“Kita pernah melakukan semua hal indah, dan akhirnya semua berubah. Kita pernah saling mengenal dekat tapi perlahan rasa itu justru pekat. Kita pernah melalui semua itu. Dan sekarang kamu mau mengulanginya denganku? Tapi Aku janji tak akan meninggalkanmu”

Setelah semua hal itu kita lalui, semua kata ‘pernah’ kita lakukan. Mungkin inilah yang namanya belajar, Aku menerimamu lagi sebagai pasangan yang seutuhnya. Untuk menjalani kehidupan yang semoga selamanya.

“Iya.”

Kamu memasangkan cincin itu, dan memeluk hangat tubuhku lagi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *