Ujianku Gagal Part 1

Ujianku Gagal | Part 1

Ujianku Gagal | Part 1

Tas ranselku sudah penuh dengan pakaian ganti, perlengakapan mandi, dan tak lupa buku pelajaran. Pagi ini adalah keberangkatanku ke Jogja. Dengan ditemani oleh kak Firman aku menunggu terminal kota Pemalang. Ayah dan Ibu masih setia duduk disampingku. Padahal aku sudah mengatakan jika aku akan baik-baik saja, tapi mereka adalah orang tua yang penyayang. Tak akan tega meninggalkan anaknya pergi ketempat yang baru dikunjungi.

Ujianku Gagal Part 1

Bis jurusan Jogjakarta telah datang, aku mencium tangan kedua orang tuaku. Ibu dan Ayah memberikanku pesan untuk segera menghubungi jika sudah sampai. Aku hanya menganggup, ayolah aku sudah 17 tahun sekarang. Aku sudah dewasa.

Aku duduk didekat jendela, perjalananku kali ini sangat menyenangkan. Meskipun menempuh waktu hingga 5 –  6 jam bagiku tak masalah. Karena ada Kak Firman di sampingku. Sebenarnya hubunganku dan dia bukan hanya sekedar senior dan junior dalam sekolah. Sudah 6 bulan ini aku menjalin hubungan pacaran dengannya secara diam-diam. Aku belum berani mengatakan yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu kalau mantan guru private ku ini adalah pacarku.

Kami memang dipertemukan melalui les private, Kak Firman adalah alumni SMA ku, kini dia melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Yogyakarta. Menginjak kelas tigas SMA ibu mengundang Kak Firman untuk mengajariku di rumah. Ibu dan Ayah selalu berharap agar aku masuk Universitas Negeri, dan aku tak menganggap itu serius. Namun setelah aku resmi menjadi pacar Kak Firman, aku harus satu kampus dengannya.

Aku mataku tak berhenti melihat pemandangan yang ada di balik jendela kaca. Ini pertama kalinya aku pergi jauh tanpa orang tuaku. Perjalanan ini juga pertama kalinya aku bisa pergi dengan Kak Firman.

“La, mau?” ucap Kak Firman sambil menyodorkan sepotong roti padaku.

Itulah yang aku sukai dari Kak Firman, dia baik dan perhatian. Aku memang anak tunggal di rumah. Tak memiliki kakak ataupun adik. Aku juga jarang bermain dengan teman, berkat Kak Firman datang aku merasa tak pernah kesepian. Perjalanan masih sangat jauh, aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Sungguh bantal terhebat yang aku miliki sekarang.

Langit kota Jogja memang lebih indah daripada langit yang aku lihat dari jendela kamar. Setelah sampai di kota Jogja. Kak Friman mengajakku berjalan-jalan, menikmati suasana Jogja di malam hari. Jogja memang kota yang romantic, berjalan dan bergandengan tangan sejauh apapun aku tak merasa lelah. Padahal baru tadi sore aku sampai, namun ketika melihat pemandangan seperti ini buatku tak masalah untuk berjalan jauh lagi.

Aku dan Kak Firman menuju Malioboro, dia mengatakan jika nanti kami berdua satu kampus hampir Kak Firman akan mengajakku terus berjalan-jalan.

Akhirnya Kak Firman berhenti sebuah kedai penyetan pinggir jalan. Jam menunjukan sudah pukul 21.00 tapi suasana disini masih sangat ramai. Aku terus keheranan dengan kota ini, rasanya suasana Jogja membuatku terlihat seperti orang gila yang tersenyum sendiri.

“Kamu suka Jogja La?”

Senyumku semakin lebar ketika ku tahu orang yang aku cintai menikmati secangkir teh hangat denganku.

“Suka banget kak.”

“Semangat ya buat ujiannya besok, habis ini kamu istirahat”

“Tapi kak ada sesuatu yang ingin aku beli”

Sebenarnya Kak Firman melarangku untuk pergi lebih malam lagi, tapi aku adalah seorang yang manja. Karena bujukanku akhirnya kami memutuskan untuk mengelilingi Malioboro lagi.

Wanita memang selalu kalap jika sudah bersentuhan dengan barang-barang yang ada di pasar. Sama seperti aku sekarang, aku membeli berbagai pakaian untuk ku bawa ke rumah. Selain itu pernak pernik gelang dan kalung tak lupa dari daftar belanjaku.

“Bagus La, kayaknya cocok buat kamu”

Terlihat sebuah kalung silver dengan bandul bunga krisan yang cantik. Aku mengiyakan apa yang dikatakan Kak Firman, kami berdua saling bertatapan. Waktu di dunia serasa berhenti. Aku biasanya selalu kalah dalam lomba menatap, tapi ketika dengan Kak Firman kenapa aku tak mampu berkedip meski sedetik.

Tubuh Kak Firman semakin mendekat, apakah ini ciuman? Tunggu kak aku belum siap! Aku merasakan tangannya melewati bahuku. Rasanya sedikit berat, tapi ini membuatku hangat. Aku malu dengan orang yang melihat kami, tapi bagaimanapun aku sangat menyukai ini. Aku tak ingin Kak Firman melepaskan pelukannya dariku. “Sudah!”

Aku sedikit menengok ke bawah, kalung yang indah telah bergantung di leherku. Aku tak bisa berkata apapun, rasanya aku ingin memeluk Kak Firman lagi tapi nanti saja di tempat yang sepi. “Itu hadiah dariku, agar kamu bisa lulus ujian nanti.”

Kak Firman menunggu di luar ruangan, aku duduk dengan calon mahasiswa lainnya. Mereka menggunakan serangam almamaternya masing-masing. Cuma aku yang disini memakai putih hitam, bagaimana lagi aku tak tahu jika harus memakai seragam.

Ujian berlangsung selama 3 jam. Dari kaca jendela aku melihat bayang-bayang Kak Firman. Sungguh dia terlihat sangat tampan bila menggunakan kemeja merah kotak-kotak. Selama ini aku terlihat seperti adiknya karena aku selalu memakai seragam sekolah saat kami sedang bermain bersama. Bagaimana lagi, orang tua ku melarang kuliah hingga aku tamat SMA. Satu-satunya alasan agar aku bisa pergi dengan pacarku ada bimbingan belajar. Karena kondisi rumah yang selalu ramai dan membosankan Kak Firman lah yang menyarankan untuk satu bulan sekali belajar di luar rumah dan orang tuaku menyetujui itu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *