Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Masa kuliah ku lalui dengan penuh kegiatan. Pagi hingga petang aku habiskan di luar rumah. Mencari pekerjaan yang bisa aku lakukan asal mendapatkan uang yang halal. Tanpa sadar, karena terobsesi membantu kakak, aku lupa dengan tanggung jawab ku sebagai adik. Hari ini aku pulang terlambat. Dari dalam rumah terdengar suara adzan isya’ aku melihat mbak Fitri. Menggeletakan badannya di samping Ibu. Akhir-akhir ini mbak Fitri malah semakin kerepotan karena mengurus ibu lebih sering. Bahkan di sela jam makan siang ia memilih pulang ketimbang harus makan bersama rekan kerjanya.

Niatku untuk meringankan beban mbak Fitri tapi malah sebaliknya. Mbak Fitri semakin kerepotan karena ulahku. Aku harus cari cara lain, aku harus bekerja di tempat lain.

Kini tahun-tahun terakhirku, berkat bea siswa yang diberikan pihak kampus. Dan uang tabunganku selama masa kuliah sudah banyak terkumpul. Bukan hanya itu dengan doa dari Ibu dan mbak Fitri, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku. Awalnya setelah memutuskan Indah, aku akan kesulitan untuk menyelesaikan ini. Namun malam itu di depan teras rumah. Aku melamunkan peristiwa tadi siang. Dalam hatiku sedikit menyesal melukai wanita sebaik Indah. Tapi pikiranku berubah setelah ku dengar kalimat indah dari mbak Fitri. “Ram, kamu tahu ungkapan jodoh nggak akan kemana?” sebenarnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu, bagiku itu hanyalah hiburan bagi lelaki bujang yang dilanda kegalauan seperti aku.

“Kamu nggak percaya ya Ram? Jika memang Indah ditakdirkan berjodoh denganmu dia akan kembali. Hubungan kalian sudah 2 tahun, dia pasti sudah tahu sikap kamu seperti apa? Dia sudah tahu bagaimana keluarga kita? Bukannya dia sudah bilang mencintaimu dengan tulus juga?”

“Tapi aku nggak mau mengajak dia sensara mbak. Aku pengen indah tetap bahagia, hidup denganku malah membuatnya menderita.”

“Iya mbak tahu. Justru kalian adalah dua orang yang saling mencintai dengan tulus. Mbak tak ingin membuatmu semakin menyesal dengan keputusanmu. Kamu tahu hal apa yang paling tidak disukai wanita selain kesengsaraan”

Aku menggeleng. “Kebohongan dari orang yang paling ia percayai. Mbak harap Indah bisa mengerti apa yang kamu maksud. Jangan buat kamu berada dalam rasa bersalah terhadap wanita Ram. Kamu juga harus ingat Ketika kamu melepaskan satu wanita yang kamu cinta, akan ada wanita lain yang harus kamu jaga..”

Aku memalingkan wajahku, dan ku tatap dalam wajah mbak Fitri “Ibu.” Jawabku pelan.

Benar. Bukan waktu ku untuk menggalaukan Indah. Kalimat yang awalnya sebagai penghibur saja, kini malah menjadi prinsipku yang baru. Kemarin aku melihat Indah sudah menggandeng pria lain. Jodoh memang tak akan kemana, jika Indah bukan jodohku ya sudah pergilah..

Aku memandang dalam foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Seluruh harta kami telah berpindah ke pegadaian. Setelah kelulusan ku aku bertekad untuk mengembalikan semua hal yang berharga bagi kami. Komputer, mobil, bahkan rumah dan kebahagiaan. Aku tak ingin ada kesengsaraan yang terjadi. Kebahagiaan itu akan aku rakit mulai esok hari.

“Kami ucapkan Selamat atas wisudawan dan wisudawati, jaga nama baik almamater dimanapun kalian berada..”

Pidato penutupan Upacar Wisuda UIN Walisongo Semarang ke 90. “selanjutnya sambutan dari perwakilan wisudawan dan wisudawati, yang diwakilkan oleh Rama Trihartono Putra, S.Psi”

Langkahku semakin mantap. Dari atas tribun aku melihat mbak Fitri dan Ibu melambaikan tangan padaku. Aku mencoba menatap ke langit podium. Aku yakin Ayah juga melihatku di surga. Ayah akan bangga padaku, aku telah lulus sesuai apa yang harapkan. Bukan hanya itu, aku juga menepati janjiku untuk menjaga dua wanita yang paling berarti dihidupnya, mesti terkadang malah aku yang dijaga.

“Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Berkat rahmatnya kita semua dapat berkumpul di acara wisuda kali ini. Teman-temanku yang teramat aku sayangi, kadang kita terlalu banyak mengeluh dengan tugas yang diberikan bapak ibu dosen. Hingga kita lupa bagaimana bersyukur. Tapi aku tetap salut dengan keberhasilan kita bersama, ditengah keluh kesah yang kita rasakan. Mungkin kita lupa dengan mengucapkan terima kasih pada orang yang berjuang untuk semua mimpi-mimpi kita. Ayah, Ibu, kakak dan semua orang. Kita merasa jika perjuangan kita sungguh berat, tapi begitulah manusia yang tak bisa peka akan sekitar. Aku ingin di upacara wisuda kali ini bukan hanya kita yang saja merasakan kebahagiaan. Bukan hanya dosen kita yang senang melihat anak didiknya berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ayo kita bersama lihatlah sisi kanan kiri dan belakang. Lihat siapa orang yang telah berjuang menaruh setiap harapannya di pundak kita. Mari kita berikat penghormatan setinggi mungkin untuk Ayah, Ibu dan Kakak yang ada di sana… mereka adalah pahlawan yang tanpa kita minta, dengan ikhlas memberi. Hari ini bukan hanya untuk merayakan kelulusan kita, namun juga perjuangan mereka…. Kakak, Ibu terimalah penghargaan terbesar dariku. Toga kelulusanku.”

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *