Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Aku selalu kalah jika berdebat dengan mbak Fitri. Entah bagaimana lagi aku membujuknya agar membiarkanku untuk mengganti perannya. Semua harta di rumah telah habis, mobil, motor, computer game, kulkas dan mesin cuci. Semua habis dijual untuk biaya terapi ibu dan uang pangkal kuliahku. Bahkan mbak Fitri mengambil cuti semester untuk mengambil kerja serabutan. Padahal tinggal 2 semester lagi dia akan lulus. Bagaimana lagi satu bulan lalu, dokter mendiagnosis jika ibu menderita gangguan mental Skezofrenia. Aku dan kakak bertekad untuk melakukan apapun demi kesembuhan Ibu.

Aku telah menawakan untuk ikut membantu perekonomian tapi ternyata watak keras kepala Ayah menurun ke anak sulungnya. Tugas ku sebagai adik hanyalah menjaga Ibu dan nilai setiap semesterku. Bagaimanapun aku tak boleh merepotkan mbak Fitri. Diam-diam aku mengambil beberapa projek dari dosen. Selain mendapatkan bea siswa, dalam setiap 3 bulan sekali aku juga mendapatkan tambahan uang saku dari kampus. Pelan-pelan uang dari kampus aku tabung. Aku tak tahu kapan bisa menggunakannya. Tapi aku janji tabungan ini akan aku gunakan untuk membalas budi mbak Fitri.

 “Ram, ini uang kuliah kamu.

“Mbak, kemarin kan aku cerita kalua aku dapat bea siswa. Jadi uangnya bisa mbak Fitri tabung untuk biaya kuliah Fitri sendiri”

“Ram, kebutuhan kuliah itu banyak loh. Ada laptop, fotocopy, buku. Apa kamu punya uang buat itu semua?”

“Mbak Fitri nggak perlu khawatir. Masih ada laptop Ayah meski seri lama tapi masih bisa aku gunain. Fotocopy dan buku aku bisa uang saku yang aku tabung. Kan setiap hari aku bawa bekal dan gak pernah jajan.”

“Ram..”

“Mbak, jangan cuma aku yang kuliah. Mbak Fitri juga, mbak Fitri selalu bilang kalau jangan berhenti buat meraih cita-cita. Kalau seandainya kita berhenti nanti Ayah bisa marah. Bukannya itu yang selalu mbak Fitri bilang ke aku?”

“Ram, biaya kuliah mbak itu nggak seringan kedengaranya. Tak mudah bagi mbak untuk menjadi seorang dokter. Mbak rela membuang jauh mimpi mbak, asal kamu tak bernasib kayak mbak Fitri. Boleh saja mbak kehilangan mimpi tapi jangan biarkan mbak kehilang kamu dan Ibu.”

Aku pikir, aku adalah satu satunya laki-laki tangguh di sini. Tapi mendengar apa yang dikatakan mbak Fitri aku sadar. Dialah yang paling tangguh. Tak mungkin bisa aku mengecewakan dia, bagaimanapun caranya aku harus berbuat hal yang sama. Dokter. Aku tahu uang saku dari kampus tak akan cukup untuk membiayai satu semester mbak Fitri.

Satu minggu ini, aku tak menghubungi Indah. Aku tahu dia marah, itu wajar karena aku adalah laki-laki yang tak berkomitmen tinggi. Waktu masih SMA dia memintaku untuk mendaftar di Universitas Diponegara, dengan jurusan yang sama dengan dia. Aku hanya mengiyakannya saja saat itu, padahal diam diam membohonginya. Aku sengaja memilih UIN karena biaya kuliahnya lebih terjangkau bagiku. Semenjak itu aku jadi sering berbohong pada Indah. Ketika dia meminta ketemu aku selalu beralasan mengerjakan tugas. Padahal aku sedang bekerja sambilan di warnet atau fotocopyan. Hal itu terpaksa aku lakukan, bagaimanapun aku tak yakin Indah akan memahami kondisiku. Indah telah terbiasa dengan kehidupan hedonis, mungkin sewaktu masih kuliah aku mampu menuruti semua kemauannya. Tapi sekarang untuk bertemu saja aku harus berpikir beberapa kali. Ndah, aku bukanlah Rama yang dulu, yang selalu manja padamu. Yang masih seperti anak laki-laki yang minta disuapi ibunya. Ndah aku telah banyak berdusta padamu. Bukan sekali atau dua kali, tapi setiap kali kamu  meminta sesuatu dariku. Aku sangat mencintaimu, tapi ada dua wanita lainnya yang lebih mencintaiku. Aku tak mungkin menggadaikan mereka hanya untuk wanita yang belum resmi menjadi istriku. Ndah aku tahu kamu akan mengerti, bagaimanapun kamu adalah seorang kakak dan calon ibu.

Aku harus menyiapkan diriu. Aku tahu Indah sangat menyayangiku, begitu pula denganku. Tapi hubungan ini tidak bisa dijalani lebih jauh lagi. Aku harus pergi dan Indah berhak mendapatkan yang pantas dengannya. Tentu saja bukan aku..

“Ram, aku nggak tahu kamu kenapa? Kamu nggak pernah ngangkat telpon dari aku, nggak pernah kasih kabar. Diajak ketemu susahnya minta ampun. Padahal banyak hal ingin aku lalui bareng kamu. Aku terima keputusan kamu untuk tetap kuliah di UIN. Tapi aku gak mau sikap kamu ke aku jadi kayak gini. Aku salah apa Ram? Apa kamu ada cewek lain disana?”

“Ndah, aku ini semua nggak adil buat kamu. Tapi aku harap kamu bisa terima keputusan ini. Aku mau kita..”

“Tapi aku nggak mau kita putus Ram!! Apa kamu minder sama aku karena kondisi keluarga kamu sekarang. Aku tahu kamu menghindariku karena ini. Berapa kali aku bilang kalau aku cuma sayang sama kamu!”

“Ndah aku tahu kamu marah sama aku. Tapi dengerin dulu penjelasanku, sebentar saja… kita memang gak bisa bersama kek dulu. Aku punya..”

“Kamu punya ibu dan kakak yang jadi tanggung jawabmu? Aku sudah tahu itu bahkan semenjak kita masih SMA”

“Aku punya wanita lain di UIN..!!”

Obrolan kami menjadi hening. Pertama kali dalam hidupku, aku berbuat terlalu jahat kepada wanita yang aku cintai. Ini bukan lagi sebuah kebohongan ini adalah pengkhianatan. Maaf Indah aku tak ada alasan lain. Membagi cintamu mungkin adalah luka terbesar yang akan kamu terima. Tapi adalah cara tercepat untukmu melupakanku. Kamu harus bahagia meski tanpa aku! Maaf Indah prinsip benar “jangan berani mengencani wanita jika yang kamu berikan hanyalah kesengsaraan.” Itulah prinsip yang aku pegang sekarang. Kamu tak boleh hidup susah denganku.

Sungguh aku tak tega melihatmu berlalu dengan kebencian, aku tak sanggup mengejarmu dan menghapus setiap air mata yang menetes. Kau adalah wanita yang baik, dan tak pernah meminta neko-neko. Di luar sana ada laki-laki yang sama kastanya denganmu. Maafkanlah aku biar segala rasa sakit yang kamu rasakan jadikanlah kebencian, aku siap menanggungnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *