Toga Ini Untuk Kakak, Part 1

Toga Ini Untuk Kakak, Part 1

Toga Ini Untuk Kakak, Part 1Toga Ini Untuk Kakak, Part 1

Langkah ku telah semakin berat setelah memasuki lorong rumah sakit. Semua keluarga ku telah berkumpul di depan pintu ruang jenazah. Aku sudah menduga ini mungkin akan terjadi, aku terlambat. Ayah, maafkan bahkan aku tak bisa menemuimu. Ayah… maaf aku belum bisa menggantikan posisimu. Saat ini aku hanyalah  remaja puber yang masih menempuh pendidikan menengah, aku belum siap menghidupi Kakak dan Ibu.

Sudah lebih dari 3 hari ini aku tak berangkat ke sekolah. Teman-teman ku  mengucapkan bela sungkawa, aku menghargainya karena itu bentuk simpati dari mereka. Selama 3 hari izin, aku tak pernah mendapatkan kabar mengenai tugas dan PR. Mungkin semua teman ku tahu tak mungkin aku mengerjakan saat hati ku sedang kalang kabut. Pengumuman mengenai SBMPTN tertempel di mading sekolah. Aku ingat pesan Ayah sebelum dia pergi, dia bilang aku harus menjadi anak laki-laki yang membanggakan. Aku harus rajin belajar seperti kakak. Bagaimanapun aku akan adalah satu-satunya jagoan untuk Ayah, Ibu, dan Kakak.

“Ram, kamu udah daftar?”

Suara Indah pacarku saat ini. Sudah hamper satu tahun kami menjalin hubungan asmara. Saat acara pemakaman kemarin dia adalah satu-satunya orang yang mau menerima air mataku untuk jatuh dipundaknya. “Belum, kamu udah daftar?” Aku menggelengkan kepala ku. Aku tahu mungkin Indah sedikit kecewa. Dulu kami saling berkomitmen untuk masuk di Universitas yang sama. Tapi melihat kondisi keluargaku sekarang sepertinya aku tak sanggup menepati janji ke Indah.

Suasana tahlil 7 hari perginya Ayah. Suasana rumah masih sangat berkabung, ibu selalu murung di dalam kamar. Mungkin ibu sangat terpukul, saat ini aku tak bisa berbuat apapun. Aku ingin seperti ibu, tapi aku melihat satu sisi yang menguatkanku. Mbak Fitri, dia memang kakak terbaik. Saat ibu sedang dalam kesedihan yang mendalam kakak lah yang menyiapkan ini semua. Betapa egoisnya aku ketika mbak Fitri sedang kerepotan aku hanya duduk sambil memandangi foto Ayah.

Alhamdulillah acara 7 hari kepergian Ayah telah selesai. Aku membantu mbak Fitri membereskan kembali tikar, dan piring-piring yang kotor. Di rumah kami masih ada om dan tante, mereka adalah satu-satunya saudara dari Ayah yang peduli dengan kami. Selama satu minggu ini mereka tinggal di rumah ini, merawat Ibu dan menyiapkan berbagai keperluan acara bersama mbak Fitri.

“Ram, Ujian SBMPTN sebentar lagi. kamu nggak belajar?”

“Mbak semenjak kepergian Ayah, aku sudah nggak ada keinginan buat lanjut kuliah mbak.”

“Kenapa harus gitu? Ram, masa depan kamu penting untuk dikejar. Kalau nggak kuliah kamu mau jadi apa dengan ijazah SMA?”

“Aku bakal kerja apa aja mbak. Aku satu-satunya laki-laki di keluarga ini. Biarkan aku yang menggantikan posisi Ayah. Aku juga ingin membantu biaya kuliah mbak Fitri”

“Ram, pecaya sama mbak. Kamu gak perlu banting tulang untuk menghidupi keluarga kita apalagi membiayai kuliah mbak. Percayalah, kita bakal bisa melewati semua ini. Bukannya Ayah selalu pengen kamu punya pendidikan yang tinggi”

Selalu saja, setiap mendengar kata-kata mbak Fitri selalu membuatku sadar jika aku orang yang terburu-buru dan egois. Aku memiliki kakak sebaik mbak Fitri tapi kenapa aku merasa sendiri? Malam itu aku baru menyadari, hanya mbak Fitri lah satu-satunya wanita yang bisa menenangkanku. Indah mungkin tak bisa seperti ini.

Dua bulan berlalu, dari hasil tes SBMPTN ku kemarin, aku lolos di Universitas Islam Negeri Walisongo. Mbak Fitri sangat senang mendengar kabar itu. Sedangkan ibu ku dia tak tahu apa-apa. Sudah satu bulan ini ibu menjalani terapi, depresi yang ia derita semakin parah. Bahkan aku merasa jika ibu tak akan lagi bahagia. Hampir setiap hari aku san mbak Fitri bergantian menjaga ibu.

“Mbak seneng kamu lolos SBMPTN. Nanti mbak bakal kerja biar bantu biaya kuliah kamu.”

“Aku bakal kerja sendiri buat biaya kuliah ku mbak. Mbak Fitri gak perlu banting tulang demi aku.”

“Mbak itu kakak kamu, jadi wajar mbak banting tulang demi kamu.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *