Terkikis

Terkikis

Terkikis

Halo, berjumpa lagi denganku. Aku ingin membagikan cerita, beberapa waktu lalu aku dan teman-temanku pergi ke sebuah villa yang terletak di wilayah Jepara Jawa Tengah. Villa Mororejo, letaknya cukup stategis di area JOP (Jepara Ocean Park).

Terkikis

Kali ini aku belum mengulas tentang Villa itu sendiri, karena ada banyak hal baru yang aku rasakan selama 2 hari 1 malam menginap di sana. Karena lokasinya yang dekat dengan pantai, jadi sangat mudah untuk melihat sunset dan sunrise. Di waktu subuh aku sudah terbangun, sedangkan teman-temanku yang lain masih tertidur. Ada yang memang sudah bangun untuk menjalankan ibadah sholat namun tidur lagi setelah itu.

Karena aku tidur yang paling awal dan sudah kena air sulit rasanya untuk tidur lagi. Aku putuskan untuk membuat segelas coklat dan duduk di halaman. Cuaca masih gelap, tapi perlahan di ujung pantai suasana merah muda. Sang surya mulai tampak, melihat dari halaman villa sepertinya kurang memuaskan. Akhirnya ku pilih turun ke pantai lagi.

Benar, suasananya lebih menyenangkan dan menyegarkan. Air sedang surut, langkah kakiku terasa lebih mudah karena kondisi pasir yang lebih halus dan basah sampai meninggalkan jejak. Aku memotret beberapa objek. Sebenarnya ada banyak objek foto menarik yang bisa ku ambil. Foto-foto ini akhirnya akan ku jadikan latar sajak-sajakku. Sajak-sajak itu akan ku unggah di Instagram.

Sebenarnya ada banyak objek foto yang bisa ku sajakkan, tapi yang cukup bagus dan bisa ku opinikan adalah tentang beton di pantai yang terkikis.

Mungkin dulu beton ini dijadikan warga sekitar sebagai alat bantu untuk menjaring ikan di pinggir pantai. Karena saat berjalan sendiri melihat sunrise 1,2 warga sekitar tengah menjaring. Ya pencari nafkah di pagi hari. Setiap dari mereka patut diapresiasi.

Kembali lagi tentang beton itu. Yang tersisa hanyalah setengah dari kondisi yang sebelumnya, bahkan kurang dari setengah. Sebagian lagi terkikis oleh asinnya air laut. Saat pertama kali melihat beton itu yang ada dipikiranku adalah terkikis.

Beton selalu menjadi bangunan, pondasi, dan infrastruktur yang kuat. Namun akan ada kalanya lapuk, termakan usia, atau kondisi alam. Kadang diri kita juga seperti itu, terlihat gagah, berkuasa, dan mampu melakukan segalanya. Tapi akan ada saatnya kita lapuk, lapuk karena sudah terlalu tua dan tak berdaya melakukan pekerjaan. Atau kita yang mungkin masih muda, namun tak siap menghadapi tantangan sehingga lebih mudah lapuk.

Kadang diri kita terkikis oleh lika-liku kehidupan. Bagaimana tidak? Coba dihitung ada berapa banyak tantangan yang harus dihadapi setiap hari, untuk bangun pagi tanpa tidur lagi saja sudah menjadi tantangan pertama saat kita memulai hari. Tantangan, masa sulit, dan hal-hal lain terkadang membuat kita terkikis secara emosional. Rasanya dari waktu ke waktu kita merasa hampa dan sulit, kekuatan untuk melawan dunia terasa habis seketika. Ada banyak luka, entah luka fisik ataupun batin.

Semua rasanya telah terkikis. Tapi, saat itu terjadi, saat itu kita alami. Kita lupa, kita masih punya kerangka. Kerangka hati, kerangka pikir dari kerangka-kerangka yang kita miliki masih ada waktu untuk memperbaikinya. Masih ada kesempatan untuk membangunnya kembali, meskipun harus membuatnya dari awal lagi. Tak masalah, masih ada kerangka yang dapat menjadi pondasi dan bisa saja bangunan itu kita improvisasi dan akhirnya menjadi bangunan baru yang mungkin lebih besar dan kokoh.

Diri yang terkikis memang kurang menyenangkan, apalagi jika terkikis sampai habis. Tapi coba tengok orang yang memiliki tubuh seperti tulang dan kulit saja masih bisa hidup dan melakukan aktivitas. Ada tulang dan persendian yang membuatnya bergerak, daging atau bangunan utuh bukanlah hal yang terlalu penting. Asal ada kerangka semua akan baik-baik saja.

Mungkin aku terlalu berbicara ngalur-ngidul, tapi Aku yakin dengan apa yang ku katakan sekarang. Aku tahu setiap tulisanku tak selamanya benar dan sesuai dengan kondisi kalian. Tapi setidaknya ketahuilah, setiap orang akan terkikis pada waktunya. PR terbesar adalah apakah dia mau membangun ulang kembali atau tetap dalam kondisi itu.

Semoga apa yang ku sampaikan kali ini bermanfaat dan bisa ditangkap pesannya, sampai bertemu di tulisan-tulisanku berikutnya.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *