Tentang Wanita Tua

Tentang Wanita Tua

Tentang Wanita Tua

Sebenarnya saat ini sudah banyak konten, bahkan galang dana untuk mendonasi pejuang senja yang terus bekerja di hari tuanya. Ada banyak ajakan donasi sekadar untuk memberi makan lansia, bahkan donasi #bisa sembuh. Saat ini kesadaran banyak orang tentang berbagi semakin tinggi, banyak institusi, komunitas, bahkan personal yang menggunakan platform tertentu untuk menyebarluaskan galangan dana itu. Aku sangat senang karena inilah yang dimanakan kehidupan sosial, prinsip tolong menolong akan terus melekat dalam hidup manusia.
Hari ini aku ingin bercerita, ini bukan tentang seorang kakek/nenek yang masih berjalan selama sekian km untuk menjajakan dagangannya. Aku hanya bercerita sederhana, melihat figur hebat memang sudah banyak dan beredar di media sosial. Akan tetapi, terkadang kita lupa dengan sekitar. kita? mungkin aku saja yang merasakan ini. Jadi aku tinggal di sebuah kostan yang letaknya di perkampungan warna, di sini memang warganya ramah-ramah. Salah satunya adalah Mbah Ran, aku tidak tahu nama lengkapnya, yang jelas aku memanggilnya demikian. Mbah Ran, adalah seorang pedagang sayur dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang bertempat tak jauh dari kostku, masih dibilang kami bertentangga. Aku tak tahu betul berapa usia mbah Ran, yang jelas beliau sudah tua. Semua terlihat dari rambutnya yang beruban, garis keriputnya yang ada di mata, dahi dan pipi. Mbah Ran hidup dalam warungnya, kalian jangan berpikir jika warung mbah Ran itu sebuah gubuk. Ukurannya memang kecil 3×4 meter mungkin, seperti ukuran kamar mewah di semarang. Mbah Ran tinggal dalam warungnya yang sudah dibangun tembok, lengkap dengan kamar dan Wc pribadi di sana. Sebenarnya tempat tingga sekaligus warung mbah Ran sudah layak untuk ditinggali. Mungkin karena dangannya banyak jadi terasa sempit.
Aku tidak ingin bercerita dengan konteks yang memelas, aku ingin bercerita tentang konteks yang menakjubkan dari apa yang aku lihat pada sosok Mbah Ran ini. Aku tahu usianya sudah lanjut, aku pernah mendengar cerita dari teman kostku yang juga cukup dekat dengan beliau. Mbah Ran adalah seorang single woman (entah dia sempat menikah atau belum), beliau tak memiliki anak dan pasangan. Bisa dibilang dalam warungnya tersebut Mbah Ran tinggal sendirian. Hiburan satu-satunya yang Mbah Ran miliki sepertinya berkumpul dengan tetangga sekitar, karena di warungnya juga tak ada TV. Meskipun sudah berusia lanjut Mbah Ran cukup ulet dalam bekerja. Setiap kali aku membeli sayur, mbah Ran selalu menghitung satu per satu hasil belanjaku tanpa perlu alat kalkulator. Mbah Ran juga tahu bagaimana cara menyimpan tahu tanpa perlu kulkas, dan sering menawarkanku bumbu-bumbu masakan jika aku bingung ingin memasak apa. Misalnya saja aku membeli ayam, tapi aku bingung ingin mengolahnya menjadi apa? Mbah Ran bilang pakai bumbu ini dan masak seperti ini. Ya, untuk anak muda sepertiku tentu hal itu sangatlah membantu. Maklum saja, saat ini banyak anak kost yang nggak bisa masak seperti aku dulu. Selain kemampuan menghitung belanjaan dan resep masakan, mbah Ran juga orang yang cerdas setiap orang yang berhutang selalu beliau catat baik-baik dalam bukunya. Aku sungguh salut, yups di usianya yang tak lagi muda, mbah Ran tetap berwirausaha bukan hanya itu keterampilan dalam memanajemen usahanya juga masih sangat cakap. Catatan hutang selalu diberi detail tanggal, nama pihak yang terlibat, dan total belanjanya. Sosok Mbah Ran membuatku sadar, jika wanita yang mandiri tak akan takut untuk hidup sendiri. Kecakapannya dalam melayani setiap pembeli juga harus diacungi jempol, terkadang benar kita hanya perlu melihat sekitar untuk menemukan tokoh inspiratif. Mbah Ran seperti sebuah citra kemandirian seorang wanita tanpa mengenal usianya.
Satu lagi wanita yang sudah menua, yang sangat aku ingat. Wanita ini namanya Bu Sri, dia juga single woman. aku mengenal Bu Sri saat masih duduk di bangku kuliah, aku mengenalnya selama 2 tahun. Dimana Bu Sri merupakan ibu yang membersihkan kostku setiap hari minggu kala itu. Seperti ibu-ibu pada umumnya, Bu Sri juga termasuk orangtua yang cerewet, suka memarahi kami, dan bercerita ngalur-ngidul. Awalnya aku sangat sebal dan ingin sekali menghindarinya setiap kali kami bertemu di kostan. Tapi lama-kelamaan aku memahaminya. Di balik semua cerita yang terkadang menyebalkan itu, Bu Sri adalah sesosok wanita yang kesepian juga. Terkadang dia bercerita sambil menangis, tapi terkadang dia juga marah besar karena bagian lantai yang kotor ketumpahan minyak. Bu Sri selalu menasehatiku dan anak kost lainnya untuk hati-hati memilih pria. Dia bahkan sampai bilang jangan buat harga diri kalian diinjak oleh pria. Kala itu aku hanya berkata IYA. Tapi, saat perlahan satu demi satu kami lulus kuliah dan meninggalkan kostan. Bu Sri merasa sangat sedih, dia bilang menganggap kita semua seperti anaknya sendiri. Sama seperti mbah Ran, aku sadar jika Bu Sri merupakan sesosok wanita tua yang mandiri juga. Meskipun gajinya kecil, bu sri selalu bercerita kepada kami untuk menyisihkan gajinya agar bisa ditabung dan memberi uang saku anggota keluarganya yang lain. Bu Sri memang hebat, dia bekerja keras siang dan malam sebagai ART untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan tak bergantung pada siapapun.
Aku sungguh senang mengenal kedua wanita ini, meskipun tak ada intensitas yang sering untuk berbagi cerita namun dengan mengamati kehidupan mereka saja aku jadi belajar banyak. Semoga kalian juga demikian, terinspirasi oleh orang-orang di sekitar.
Sekian dulu ceritaku hari ini, semoga berkenan di hati kalian semua, see you.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *