Posts

Mengubah Patah Hati Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah  Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah Hati jadi cerita fiski

Halo semua, sudah lama Aku tak menulis di blog ini. rasanya sudah sangat berdebu sekali bukan? Haha, Nah sesuai judul hari ini aku akan membahas tentang cara mengubah Patah hati menjadi cerita fiksi. Sebenarnya bukan cuma Aku yang melakukan hal ini, mungkin sudah banyak orang yang menjadikan pengalaman pribadi mereka menjadi sebuah karya entah dalam bentuk puisi, lagu, film, buku ataupun lainnya.

Memang karya yang dibuat yang bersumber dari perasaan kita berarti memiliki makna tersendiri. Beberapa orang yang pernah aku ajak bicara soal ini mungkin bilang “Siapa sih cowok yang bikin kamu Patah hati?” Haha, sebenarnya banyak. Eh, enggak. Aneh sih, menurutku wujud dari patah hati bukan hanya tentang hubungan asmara saja. Menurutku Patah hati tak selamanya tentang pacar, gebetan, atau hal yang berkaitan dengan cinta. Apa yang dirasakan hati kita tentu bukan hanya cinta semata, ada banyak perasaan yang kita rasakan baik itu positif maupun negatif. Menurutku pribadi Patah hati bisa berupa bentuk-bentuk emosional yang negatif, seperti perasaan nelangsa, dilematik, gelisah, dan lain-lain.

Patah hati nggak selamanya, diputusin pasangan bukan? Masak kita harus nunggu putus atau ditolak dulu baru bikin karya?

Lanjut ke pembahasan mengubah Patah hati jadi cerita Fiksi. Ya sebenarnya, Aku bukan penulis kondang yang kalian kenal. Aku hanya seorang penulis amatiran yang terus menyusun kata sampai sekarang. Dulu awalnya menulis adalah kebutuhanku untuk berekspresi dan berimajinasi. Aku sering bilang dengan orang terdekat khususnya, Aku memulai menulis sejak kelas 4 SD. Awalnya dari buku bacaan yang ada di LKS dan kartun yang Aku tonton. Jujur kedua hal itu sangat membantuku dalam mengolah imajinasi cerita. Dulu aku sangat malu dan setiap hasil tulisan selalu ku simpan sendiri. Perlahan mulai muncul rasa percaya diri, Aku mulai menulis di media sosial, SMS ke temenku, dan sampai akhirnya membuat buku serta menulis blog.

Seperti yang kita tahu, saat diri sedang Patah hati tentu yang ada hanyalah rasa marah, kesal, sedih, dan emosi-emosi negatif lainnya. Tentu hal itu membuat kita merasa nggak nyaman. Kalau Aku, merasa sangat sesak, Aku butuh media untuk mengungkapkannya. Secara psikologis, selain bercerita ke teman atau orang terpercaya. Menulis dan meluapkan segala perasaan kita adalah salah satu cara untuk mengurangi emosi negatif, ya bisa dibilang healing.

Sayangnya, beberapa orang justru meluapkan perasaan Patah hatinya dengan cara yang kurang tepat dan merugikan. Misalnya saja, pola hidup jadi berubah, jarang makan, dan gak bisa tidur. It’s okay, Patah hati emang sakit, tapi jangan ditambah dong dengan menyiksa diri. Cobalah untuk meluapkan rasa Patah hatimu dalam sebuah tulisan. Kamu bisa menulis dari satu kalimat dulu, Atau kamu menulis sesuatu yang seakan-akan kamu bercerita dengan orang lain. Tulislah apapun yang membuatmu tenang.

Jika kamu malu kalau suatu hari nanti, akan ada orang yang bakal baca tulisan itu. Kamu bisa membuat versi cerita orang lain. Buatlah seakan-akan kisah hidupmu sebuah cerita fiksi. Ubah nama setiap pelaku, tempat, dan waktu. Hal itu tentu tak akan disadari teman-temanmu. Selain itu, kisah hidupmu pribadi yang kamu samarkan bisa menjadi cerita fiksi yang menarik.

Untuk mencapai sebuah buku memang tak mudah, butuh waktu, konsistensi dan usaha yang cukup besar. Mulailah karya dari cerita sederhana, dari 1 paragraf, 1 halaman, 1 lembar hingga akhirnya menjadi 1 buku!

Nah, semoga ceritaku bisa membantu kalian dalam mengatasi segala bentuk patah hati. Cara terbaik untuk berterima kasih pada rasa patah hati adalah dengan menjadikannya karya.

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sehari setelah itu, Aku kembali ke tempat kemarin. Namun tak ada siapa-siapa, hanya ada orang biasa. Sepertinya acara itu hanya 1 hari saja. Aku kembali berganti tempat, Aku pergi pusat perbelanjaan. Namun sama saja. Aku tak menemukan badut anjing.

Aku berharap bisa bertemu mereka lagi. Tolong semesta, engkau yang mungkin paling memahami pertemukan Aku dengan mereka. Merekalah yang bisa membuatku lega. Tolonglah.

“Hei!”

Seseorang memegang tanganku. Aku menoleh, pria dengan postur tubuh tinggi. Aku cukup takut, Aku belum pernah bertemu orang asing. Apalagi sampai disentuh seperti ini. Aku terjatuh, sedikit ketakutan. Jujur ini bukan berlebihan, tapi cobalah pahami. Aku menyembunyikan wajahku, Aku sangat takut. Aku menangis.

“Maaf, tolong tenang. Maaf.”

Pria itu mendekatiku, namun tak lagi menyentuh. Aku masih dalam posisi yang sama. Ada dua orang wanita yang mendekatiku, membantuku untuk berdiri. Kedua wanita itu menenangkanku. Sedangkan pria yang tadi memegang tanganku berdiri dari kejauhan.

Aku sedikit lebih tenang.

“Kamu nggak papa? Perlu kamu bantu carikan taksi untuk pulang?”

Aku menggeleng. Aku sudah lebih baik.

“Tapi kamu benar udah baik?” Tanya wanita yang satu lagi.

Aku mengangguk. Aku yakin sudah baik, meskipun sebenarnya tidak benar-benar baik.

Mereka menanyakan beberapa hal tapi Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Pria yang tadi memegang tanganku mendekat. Sebenarnya masih ada rasa takut, tapi dua wanita yang menolongku berkata tidak apa.

“Maaf Aku mengagetkanmu. Aku tak bermaksud jahat.”

Aku masih diam.

“Eee… Aku udah lihat kamu sebelumnya di acara kemarin, acara salam hangat TEMAN DENGAR. Aku orang yang ada di dalam kostum badut anjing. Maaf karena nggak sempet kenalan kemarin.”

Aku mengerti sekarang. Aku tersenyum sedikit namun belum juga berbicara.

“Aku Okan, mereka berdua juga dari Teman Dengar.”

“Aku Yura.” Ucapku pelan.

Okan mengulurkan tangannya, Aku meraih tangan itu.

Semenjak pertemuan itu. Aku aktif berkegiatan di komunitas Teman Dengar. Setiap minggu, ada kegiatan berkumpul. Entah hanya sekadar bermain, membuat acara, atau mengajar anak-anak jalanan. Aku senang dengan komunitas ini. Mereka benar-benar teman yang mau mendengarkan cerita satu sama lain.

Kini kegiatanku juga lebih berwarna, buku dari psikiaterku sudah mulai penuh. Setiap hari ada 3 hal yang Aku tulis, dan setiap minggu Aku menceritakan kegiatanku bersama Teman Dengar. Jika buku ini habis, sepertinya Aku perlu membeli buku yang baru. Ya, Aku merasa lebih hidup sekarang.

“Yura, semenjak kamu gabung. Kamu selalu jadi pendengar kami. Aku harap akan ada kesempatan bagi kami untuk mendengarkan cerita darimu. Kamu bisa cerita, kapanpun kamu butuh.”

Aku terdiam sebentar. Benar, selain sedikit berbicara, Aku juga belum pernah bercerita tentang diriku padahal sudah 2 bulan lebih Aku bergabung.

“Maaf…” Aku sedikit kikuk. Tapi teman-temanku menggenggam tanganku, Aku merasakan kepedulian dari mereka. Ya, Aku harus mulai percaya pada mereka.

“Maaf, karena Aku baru cerita sekarang. Tapi Aku harap kalian tetap bersamaku. Maksudku tetap mengizinkanku di sini. Aku akan cerita, sekitar 2 tahun lalu…”

Ku ceritakan semua, mulai dari tragedi 2 tahun lalu, kegiatanku sehari-hari, hubunganku dengan tante Vanya, hingga ku ceritakan jika masih melakukan pengobatan psikologis. Raut wajah mereka berubah, semua tampak sedih dan iba padaku. Namun tidak dengan Okan, di justru tersenyum.

“Kamu hebat. Selama 2 tahun kamu berjuang sendirian. Aku tahu pasti rasanya kesepian dan putus asa. Aku tak bisa membayangkan jika berada di posisimu saat ini. Aku salut padamu, ketika beberapa orang menyerah, kamu tetap bertahan dan berjuang. Meskipun butuh waktu lama, tapi kamu harus tahu Tuhan tak akan meninggalkan umatnya sendirian. Aku, atau Teman Dengar mungkin gak bisa ngasih solusi, tapi kami mau menemanimu melewati semua ini. Jangan pernah merasa sendiri. Masih ada kami, masih ada orang yang sayang kamu, masih ada Semesta yang selalu bersamamu.”

Aku meneteskan air mata. Tangisanku tak terbentung lagi, Aku merasa benar-benar egois selama ini. Aku kira, Aku adalah orang yang paling menyedihkan di dunia. Hidupku terasa hampa dan mati rasa. Tak seharusnya Aku begitu, Aku terlalu larut dalam duka, hingga lupa dengan mereka, dengan tante Vanya, dengan siapapun yang berada di sekitarku. Aku bahkan lupa dengan Pencipta-ku. Aku sungguh egois.

Aku menangis tak terhenti. Suasana sore ini menjadi larut. Semua orang di ruangan mulai menemaniku menangis, namun ada beberapa yang tidak. Mereka justru memberikan senyuman yang tulus dan pelukan hangat.

Aku pulang cukup malam. Lampu di rumah sudah menyala, ini pasti tante Vanya. Aku masuk ke dalam, terlihat tante Vanya sedang membereskan dapur. Ia bahkan mengisi kulkas dengan buah dan sayur. Aku berjalan mendekat. Dari belakang ku peluk tubuhnya yang kurus. Semenjak mengurusku sepertinya tante Vanya jauh lebih kurus.

“Maafin Yura.”

Tante Vanya terkejut dengan sikapku. Ia juga terkejut mendengar kata-kataku.

“Maafin Yura, yang selalu ngerepotin tante. Maafin Yura karena terlalu berburuk sangka kalau tante bakal ngambil rumah ini. Maafin Yura, karena membuat tante terluka selama ini.”

Tante Vanya membalikan badannya. Air mataku menetes lagi. Tante menghapus air mataku, Aku melepaskan pelukan. Aku sungguh bersalah terhadapnya. Harusnya Aku tahu, bukan hanya Aku yang kehilangan Ayah dan Ibu, tapi tante Juga. Mana bisa ia ikhlaskan kepergian Ayah, satu-satunya kakak yang ia punya.

“Akhirnya Tante mendengar kamu bicara.”

“Yura sayang sama tante. Maafin Yura, karena terlalu egois. Yura lupa, tante pasti terluka karena sikap Yura, tante pasti juga terluka karena kepergian Ayah. Maafin Yura, karena selama ini Yura kira cuma Yura yang menderita, dan nggak ada satu orang pun yang akan memahaminya. Yura lupa kalo Yura punya tante Vanya. Orang yang sangat bisa diandalkan.” Aku tersenyum namun juga menangis.

Tante Vanya memelukku. Malam itu. Hari itu, rasanya hatiku terbuka lebar. Hatiku terasa lebih lapang. Aku bahagia sekarang. Jika Ayah dan Ibu melihat mungkin ia akan senang.

 

Hari ini, warna dihidupku yang dulunya hanya monokrom telah berubah

Aku mulai melukis lagi, ku ambil warna yang lebih cerah

Monokrom hanyalah dasar lukisan

Akan ku sampaikan kepada Semesta

Terima kasih telah menemaniku yang kesepian

Terima kasih telah memberikan jalan dan kanvas kosong

Aku akan melukis lagi dengan warna-warna pelangi

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Siang yang terik. Sangat cerah, banyak orang beraktivitas di luar. Sedangkan Aku masih menatap jendela kamar. Persediaan makanku sudah habis, saatnya pergi berbelanja. HP-ku bergetar, itu tante Vanya lagi, kenapa belum cukup bertemu kemarin sampai akhirnya menelpon seperti ini?

“Yura, Tante telah mengirim uang bulanan ke rekening kamu. Simpan uang tabungan dari asuransi Ayah dan Ibu. Mulai sekarang biar tante yang mencukupi kebutuhan hidupmu.”

Aku hanya diam. Aku tak merasa senang, atau terhina. Aku hanya merasa hampa.

“Yura. Sampai kapan kamu berdiam diri seperti ini? Sudah 2 tahun, kamu tidak berbicara denganku. Tolonglah, tolong sekali, satu kata saja. Katakan sesuatu, jangan sampai tante lupa bagaimana suara kamu.”

Aku mematikan telponnya. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali berbicara dengan tante Vanya. Aku hanya berteriak saat sesi konseling, dan kalimatnya pun sama. Jika bukan karena teriakan itu mungkin Aku sudah lupa bagaimana suaraku, atau lupa bagaimana caranya berbicara.

Mi instant, makanan kaleng, snack, minuman botol, dan soda. Hanya itu kebutuhan dapurku. Aku tak pernah menyetok sayuran, buah, nasi, atau bahan makanan yang sehat lainnya. Selepas belanja, Aku selalu langsung pulang ke rumah.

Seseorang yang berkostum hewan anjing memberikannya padaku. Aku menerima brosur itu, hanya sekadar iseng saja. “KOMUNITAS TEMAN DENGAR” Ku simpan kertas itu dalam tas belanja.

Hari demi hari Aku lalui dengan sama. Tidur di sore hari, terjaga di malam hari, makan, dan melamun. Aku tak pernah keluar dari rumah. Jika keluar pun itu untuk kebutuhan hidup dan berobat.

“Yura. Sudah 2 tahun proses konseling kita. Perubahan kamu belum signfikan, bagaimana jika kita ubah metodenya.”

Aku diam, tak merespon apapun. Aku tentu akan mengikuti seluruh arahan psikiater, karena Aku juga ingin sembuh dari luka batin ini.

“Aku berikan buku. Mulai sekarang cobalah tulis hal-hal sederhana yang kamu sukai setiap hari. Lalu, kamu juga perlu menceritakan apa yang terjadi dalam satu minggu.” Aku menerima buku itu. Aku tak ada pilihan lain, selain mengikuti arahan psikiaterku.

Aku pulang dengan berjalan kaki. Hatiku, pikiranku, dan pandanganku kosong. Hampa sekali rasanya, Aku lupa bagaimana perasaan bahagia, bagaimana perasaan sedih, dan bagaimana perasaan marah. Hatiku sungguh mati rasa.

Aku terhenti, seseorang memegang tanganku. Aku terkejut dan sedikit takut. Aku menoleh berharap itu bukan orang jahat. Seseorang dengan kostum anjing yang sama. kami bertemu lagi, Aku jadi ingat brosur yang diberikan beberapa waktu lalu. Orang itu melakukan gerakan, mengisyaratkan ekspresi gembira. Dia juga menggerakkannya ke arah kiri. Memintaku untuk bergabung. Aku masih terdiam, kostum itu menggambarkan anjing yang ceria. Apalagi dengan gerakan yang menggemaskan, Aku tersenyum sedikit. Aku masih berdiri, orang itu masih menungguku. Ku putuskan untuk melangkah. Aku menuruti ajakannya.

Sebuah taman terbuka, di sana sudah disediakan kursi dan panggung. Aku duduk di bangku paling belakang. Suasana tidak terlalu ramai. Hanya ada 10 orang di bangku penonton. Iringan musik memeriahkan suasana. Aku menikmatinya, tak lama segerombolan anak-anak kecil datang. Mereka seperti anak-anak yang biasa menjual koran di jalan. Mereka tertawa, tampak menggemaskan. Beberapa panitia membagikan permen kepada kami. Terlihat anak-anak itu sangat senang saat mendapatkan permen lolipop yang berwarna-warni. Bahkan di antara mereka meminta 2 permen.

“Jangan cul, gigi kamu nanti tambah ompong.” Celetuk salah satu anak yang usianya tampak paling tua.

Anak itu malah merengek dan meminta 2 permen. Namun teman-temannya tak membolehkan. Aku tersenyum lagi. Aku melihat permenku, Aku tidak makan makanan manis. Ku berikan permen itu pada anak kecil yang merengek.

Anak itu tampak cerita dan berterima kasih kepadaku. Bahkan teman-temannya juga ikut berterima kasih. Aku membalas mereka dengan senyuman. Aneh dalam 1 hari, Aku sudah 3 kali tersenyum. Acara dimulai, sangat menyenangkan. Anak-anak juga tampak lebih ceria, mereka tampak bersemangat saat sesi game berlangsung. Bahkan mereka sangat antusias untuk bermain game dan memenangkan hadiahnya.

Aku tersenyum lagi, sangat indah. Tiba-tiba air mataku mengalir. Aku tak tahu perasaan apa ini, tangisan ini sangat jauh berbeda saat Aku melakukan sesi konseling. Tangisan ini membuat hatiku lega. Aku berusaha menahan air mata. Suasana sore ini sangat cerah, tak mungkin ku hancurkan dengan air mata. Aku terus mengusap air mataku, dan terus tersenyum. Perasaan apa ini? Apa semesta ingin menyampaikan sesuatu padaku?

“Ini Kak, permen.”

Aku mengangkat kepalaku. Anak kecil yang tadi ku beri permen, justru mengembalikan permennya padaku. “Jangan sedih. Aku kembalikan permen Kakak. Belom Aku gigit kok.”

“Terima kasih.” Tanpa sadar Aku mengucapkan kalimat itu.

Anak kecil itu, kembali bersama teman-temannya mereka bersiap untuk pergi. Sempat mereka melambaikan tangan padaku. Bahkan terdengar “Dada kakak cantik!”

Tepat pukul 1 pagi Aku masih terjaga. Aku merasa sedikit lega karena kejadian tadi sore. Buku yang diberikan dokter masih ku pegang. Aku ingin menulis sesuatu sekarang. Aku mungkin sudah lama tak berbicara, namun bukan berarti Aku lupa bagaimana cara menyusun kata.

Tanggal : 1 januari

Hal yang Aku syukuri hari ini:

  • Bertemu badut anjing lucu
  • Tersenyum lebih dari 3 kali sehari
  • Dikasih permen sama anak kecil
  • Dipanggil kakak cantik
Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Masa kuliah ku lalui dengan penuh kegiatan. Pagi hingga petang aku habiskan di luar rumah. Mencari pekerjaan yang bisa aku lakukan asal mendapatkan uang yang halal. Tanpa sadar, karena terobsesi membantu kakak, aku lupa dengan tanggung jawab ku sebagai adik. Hari ini aku pulang terlambat. Dari dalam rumah terdengar suara adzan isya’ aku melihat mbak Fitri. Menggeletakan badannya di samping Ibu. Akhir-akhir ini mbak Fitri malah semakin kerepotan karena mengurus ibu lebih sering. Bahkan di sela jam makan siang ia memilih pulang ketimbang harus makan bersama rekan kerjanya.

Niatku untuk meringankan beban mbak Fitri tapi malah sebaliknya. Mbak Fitri semakin kerepotan karena ulahku. Aku harus cari cara lain, aku harus bekerja di tempat lain.

Kini tahun-tahun terakhirku, berkat bea siswa yang diberikan pihak kampus. Dan uang tabunganku selama masa kuliah sudah banyak terkumpul. Bukan hanya itu dengan doa dari Ibu dan mbak Fitri, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku. Awalnya setelah memutuskan Indah, aku akan kesulitan untuk menyelesaikan ini. Namun malam itu di depan teras rumah. Aku melamunkan peristiwa tadi siang. Dalam hatiku sedikit menyesal melukai wanita sebaik Indah. Tapi pikiranku berubah setelah ku dengar kalimat indah dari mbak Fitri. “Ram, kamu tahu ungkapan jodoh nggak akan kemana?” sebenarnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu, bagiku itu hanyalah hiburan bagi lelaki bujang yang dilanda kegalauan seperti aku.

“Kamu nggak percaya ya Ram? Jika memang Indah ditakdirkan berjodoh denganmu dia akan kembali. Hubungan kalian sudah 2 tahun, dia pasti sudah tahu sikap kamu seperti apa? Dia sudah tahu bagaimana keluarga kita? Bukannya dia sudah bilang mencintaimu dengan tulus juga?”

“Tapi aku nggak mau mengajak dia sensara mbak. Aku pengen indah tetap bahagia, hidup denganku malah membuatnya menderita.”

“Iya mbak tahu. Justru kalian adalah dua orang yang saling mencintai dengan tulus. Mbak tak ingin membuatmu semakin menyesal dengan keputusanmu. Kamu tahu hal apa yang paling tidak disukai wanita selain kesengsaraan”

Aku menggeleng. “Kebohongan dari orang yang paling ia percayai. Mbak harap Indah bisa mengerti apa yang kamu maksud. Jangan buat kamu berada dalam rasa bersalah terhadap wanita Ram. Kamu juga harus ingat Ketika kamu melepaskan satu wanita yang kamu cinta, akan ada wanita lain yang harus kamu jaga..”

Aku memalingkan wajahku, dan ku tatap dalam wajah mbak Fitri “Ibu.” Jawabku pelan.

Benar. Bukan waktu ku untuk menggalaukan Indah. Kalimat yang awalnya sebagai penghibur saja, kini malah menjadi prinsipku yang baru. Kemarin aku melihat Indah sudah menggandeng pria lain. Jodoh memang tak akan kemana, jika Indah bukan jodohku ya sudah pergilah..

Aku memandang dalam foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Seluruh harta kami telah berpindah ke pegadaian. Setelah kelulusan ku aku bertekad untuk mengembalikan semua hal yang berharga bagi kami. Komputer, mobil, bahkan rumah dan kebahagiaan. Aku tak ingin ada kesengsaraan yang terjadi. Kebahagiaan itu akan aku rakit mulai esok hari.

“Kami ucapkan Selamat atas wisudawan dan wisudawati, jaga nama baik almamater dimanapun kalian berada..”

Pidato penutupan Upacar Wisuda UIN Walisongo Semarang ke 90. “selanjutnya sambutan dari perwakilan wisudawan dan wisudawati, yang diwakilkan oleh Rama Trihartono Putra, S.Psi”

Langkahku semakin mantap. Dari atas tribun aku melihat mbak Fitri dan Ibu melambaikan tangan padaku. Aku mencoba menatap ke langit podium. Aku yakin Ayah juga melihatku di surga. Ayah akan bangga padaku, aku telah lulus sesuai apa yang harapkan. Bukan hanya itu, aku juga menepati janjiku untuk menjaga dua wanita yang paling berarti dihidupnya, mesti terkadang malah aku yang dijaga.

“Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Berkat rahmatnya kita semua dapat berkumpul di acara wisuda kali ini. Teman-temanku yang teramat aku sayangi, kadang kita terlalu banyak mengeluh dengan tugas yang diberikan bapak ibu dosen. Hingga kita lupa bagaimana bersyukur. Tapi aku tetap salut dengan keberhasilan kita bersama, ditengah keluh kesah yang kita rasakan. Mungkin kita lupa dengan mengucapkan terima kasih pada orang yang berjuang untuk semua mimpi-mimpi kita. Ayah, Ibu, kakak dan semua orang. Kita merasa jika perjuangan kita sungguh berat, tapi begitulah manusia yang tak bisa peka akan sekitar. Aku ingin di upacara wisuda kali ini bukan hanya kita yang saja merasakan kebahagiaan. Bukan hanya dosen kita yang senang melihat anak didiknya berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ayo kita bersama lihatlah sisi kanan kiri dan belakang. Lihat siapa orang yang telah berjuang menaruh setiap harapannya di pundak kita. Mari kita berikat penghormatan setinggi mungkin untuk Ayah, Ibu dan Kakak yang ada di sana… mereka adalah pahlawan yang tanpa kita minta, dengan ikhlas memberi. Hari ini bukan hanya untuk merayakan kelulusan kita, namun juga perjuangan mereka…. Kakak, Ibu terimalah penghargaan terbesar dariku. Toga kelulusanku.”

 

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Aku selalu kalah jika berdebat dengan mbak Fitri. Entah bagaimana lagi aku membujuknya agar membiarkanku untuk mengganti perannya. Semua harta di rumah telah habis, mobil, motor, computer game, kulkas dan mesin cuci. Semua habis dijual untuk biaya terapi ibu dan uang pangkal kuliahku. Bahkan mbak Fitri mengambil cuti semester untuk mengambil kerja serabutan. Padahal tinggal 2 semester lagi dia akan lulus. Bagaimana lagi satu bulan lalu, dokter mendiagnosis jika ibu menderita gangguan mental Skezofrenia. Aku dan kakak bertekad untuk melakukan apapun demi kesembuhan Ibu.

Aku telah menawakan untuk ikut membantu perekonomian tapi ternyata watak keras kepala Ayah menurun ke anak sulungnya. Tugas ku sebagai adik hanyalah menjaga Ibu dan nilai setiap semesterku. Bagaimanapun aku tak boleh merepotkan mbak Fitri. Diam-diam aku mengambil beberapa projek dari dosen. Selain mendapatkan bea siswa, dalam setiap 3 bulan sekali aku juga mendapatkan tambahan uang saku dari kampus. Pelan-pelan uang dari kampus aku tabung. Aku tak tahu kapan bisa menggunakannya. Tapi aku janji tabungan ini akan aku gunakan untuk membalas budi mbak Fitri.

 “Ram, ini uang kuliah kamu.

“Mbak, kemarin kan aku cerita kalua aku dapat bea siswa. Jadi uangnya bisa mbak Fitri tabung untuk biaya kuliah Fitri sendiri”

“Ram, kebutuhan kuliah itu banyak loh. Ada laptop, fotocopy, buku. Apa kamu punya uang buat itu semua?”

“Mbak Fitri nggak perlu khawatir. Masih ada laptop Ayah meski seri lama tapi masih bisa aku gunain. Fotocopy dan buku aku bisa uang saku yang aku tabung. Kan setiap hari aku bawa bekal dan gak pernah jajan.”

“Ram..”

“Mbak, jangan cuma aku yang kuliah. Mbak Fitri juga, mbak Fitri selalu bilang kalau jangan berhenti buat meraih cita-cita. Kalau seandainya kita berhenti nanti Ayah bisa marah. Bukannya itu yang selalu mbak Fitri bilang ke aku?”

“Ram, biaya kuliah mbak itu nggak seringan kedengaranya. Tak mudah bagi mbak untuk menjadi seorang dokter. Mbak rela membuang jauh mimpi mbak, asal kamu tak bernasib kayak mbak Fitri. Boleh saja mbak kehilangan mimpi tapi jangan biarkan mbak kehilang kamu dan Ibu.”

Aku pikir, aku adalah satu satunya laki-laki tangguh di sini. Tapi mendengar apa yang dikatakan mbak Fitri aku sadar. Dialah yang paling tangguh. Tak mungkin bisa aku mengecewakan dia, bagaimanapun caranya aku harus berbuat hal yang sama. Dokter. Aku tahu uang saku dari kampus tak akan cukup untuk membiayai satu semester mbak Fitri.

Satu minggu ini, aku tak menghubungi Indah. Aku tahu dia marah, itu wajar karena aku adalah laki-laki yang tak berkomitmen tinggi. Waktu masih SMA dia memintaku untuk mendaftar di Universitas Diponegara, dengan jurusan yang sama dengan dia. Aku hanya mengiyakannya saja saat itu, padahal diam diam membohonginya. Aku sengaja memilih UIN karena biaya kuliahnya lebih terjangkau bagiku. Semenjak itu aku jadi sering berbohong pada Indah. Ketika dia meminta ketemu aku selalu beralasan mengerjakan tugas. Padahal aku sedang bekerja sambilan di warnet atau fotocopyan. Hal itu terpaksa aku lakukan, bagaimanapun aku tak yakin Indah akan memahami kondisiku. Indah telah terbiasa dengan kehidupan hedonis, mungkin sewaktu masih kuliah aku mampu menuruti semua kemauannya. Tapi sekarang untuk bertemu saja aku harus berpikir beberapa kali. Ndah, aku bukanlah Rama yang dulu, yang selalu manja padamu. Yang masih seperti anak laki-laki yang minta disuapi ibunya. Ndah aku telah banyak berdusta padamu. Bukan sekali atau dua kali, tapi setiap kali kamu  meminta sesuatu dariku. Aku sangat mencintaimu, tapi ada dua wanita lainnya yang lebih mencintaiku. Aku tak mungkin menggadaikan mereka hanya untuk wanita yang belum resmi menjadi istriku. Ndah aku tahu kamu akan mengerti, bagaimanapun kamu adalah seorang kakak dan calon ibu.

Aku harus menyiapkan diriu. Aku tahu Indah sangat menyayangiku, begitu pula denganku. Tapi hubungan ini tidak bisa dijalani lebih jauh lagi. Aku harus pergi dan Indah berhak mendapatkan yang pantas dengannya. Tentu saja bukan aku..

“Ram, aku nggak tahu kamu kenapa? Kamu nggak pernah ngangkat telpon dari aku, nggak pernah kasih kabar. Diajak ketemu susahnya minta ampun. Padahal banyak hal ingin aku lalui bareng kamu. Aku terima keputusan kamu untuk tetap kuliah di UIN. Tapi aku gak mau sikap kamu ke aku jadi kayak gini. Aku salah apa Ram? Apa kamu ada cewek lain disana?”

“Ndah, aku ini semua nggak adil buat kamu. Tapi aku harap kamu bisa terima keputusan ini. Aku mau kita..”

“Tapi aku nggak mau kita putus Ram!! Apa kamu minder sama aku karena kondisi keluarga kamu sekarang. Aku tahu kamu menghindariku karena ini. Berapa kali aku bilang kalau aku cuma sayang sama kamu!”

“Ndah aku tahu kamu marah sama aku. Tapi dengerin dulu penjelasanku, sebentar saja… kita memang gak bisa bersama kek dulu. Aku punya..”

“Kamu punya ibu dan kakak yang jadi tanggung jawabmu? Aku sudah tahu itu bahkan semenjak kita masih SMA”

“Aku punya wanita lain di UIN..!!”

Obrolan kami menjadi hening. Pertama kali dalam hidupku, aku berbuat terlalu jahat kepada wanita yang aku cintai. Ini bukan lagi sebuah kebohongan ini adalah pengkhianatan. Maaf Indah aku tak ada alasan lain. Membagi cintamu mungkin adalah luka terbesar yang akan kamu terima. Tapi adalah cara tercepat untukmu melupakanku. Kamu harus bahagia meski tanpa aku! Maaf Indah prinsip benar “jangan berani mengencani wanita jika yang kamu berikan hanyalah kesengsaraan.” Itulah prinsip yang aku pegang sekarang. Kamu tak boleh hidup susah denganku.

Sungguh aku tak tega melihatmu berlalu dengan kebencian, aku tak sanggup mengejarmu dan menghapus setiap air mata yang menetes. Kau adalah wanita yang baik, dan tak pernah meminta neko-neko. Di luar sana ada laki-laki yang sama kastanya denganmu. Maafkanlah aku biar segala rasa sakit yang kamu rasakan jadikanlah kebencian, aku siap menanggungnya.

Toga Ini Untuk Kakak, Part 1

Toga Ini Untuk Kakak, Part 1

Toga Ini Untuk Kakak, Part 1Toga Ini Untuk Kakak, Part 1

Langkah ku telah semakin berat setelah memasuki lorong rumah sakit. Semua keluarga ku telah berkumpul di depan pintu ruang jenazah. Aku sudah menduga ini mungkin akan terjadi, aku terlambat. Ayah, maafkan bahkan aku tak bisa menemuimu. Ayah… maaf aku belum bisa menggantikan posisimu. Saat ini aku hanyalah  remaja puber yang masih menempuh pendidikan menengah, aku belum siap menghidupi Kakak dan Ibu.

Sudah lebih dari 3 hari ini aku tak berangkat ke sekolah. Teman-teman ku  mengucapkan bela sungkawa, aku menghargainya karena itu bentuk simpati dari mereka. Selama 3 hari izin, aku tak pernah mendapatkan kabar mengenai tugas dan PR. Mungkin semua teman ku tahu tak mungkin aku mengerjakan saat hati ku sedang kalang kabut. Pengumuman mengenai SBMPTN tertempel di mading sekolah. Aku ingat pesan Ayah sebelum dia pergi, dia bilang aku harus menjadi anak laki-laki yang membanggakan. Aku harus rajin belajar seperti kakak. Bagaimanapun aku akan adalah satu-satunya jagoan untuk Ayah, Ibu, dan Kakak.

“Ram, kamu udah daftar?”

Suara Indah pacarku saat ini. Sudah hamper satu tahun kami menjalin hubungan asmara. Saat acara pemakaman kemarin dia adalah satu-satunya orang yang mau menerima air mataku untuk jatuh dipundaknya. “Belum, kamu udah daftar?” Aku menggelengkan kepala ku. Aku tahu mungkin Indah sedikit kecewa. Dulu kami saling berkomitmen untuk masuk di Universitas yang sama. Tapi melihat kondisi keluargaku sekarang sepertinya aku tak sanggup menepati janji ke Indah.

Suasana tahlil 7 hari perginya Ayah. Suasana rumah masih sangat berkabung, ibu selalu murung di dalam kamar. Mungkin ibu sangat terpukul, saat ini aku tak bisa berbuat apapun. Aku ingin seperti ibu, tapi aku melihat satu sisi yang menguatkanku. Mbak Fitri, dia memang kakak terbaik. Saat ibu sedang dalam kesedihan yang mendalam kakak lah yang menyiapkan ini semua. Betapa egoisnya aku ketika mbak Fitri sedang kerepotan aku hanya duduk sambil memandangi foto Ayah.

Alhamdulillah acara 7 hari kepergian Ayah telah selesai. Aku membantu mbak Fitri membereskan kembali tikar, dan piring-piring yang kotor. Di rumah kami masih ada om dan tante, mereka adalah satu-satunya saudara dari Ayah yang peduli dengan kami. Selama satu minggu ini mereka tinggal di rumah ini, merawat Ibu dan menyiapkan berbagai keperluan acara bersama mbak Fitri.

“Ram, Ujian SBMPTN sebentar lagi. kamu nggak belajar?”

“Mbak semenjak kepergian Ayah, aku sudah nggak ada keinginan buat lanjut kuliah mbak.”

“Kenapa harus gitu? Ram, masa depan kamu penting untuk dikejar. Kalau nggak kuliah kamu mau jadi apa dengan ijazah SMA?”

“Aku bakal kerja apa aja mbak. Aku satu-satunya laki-laki di keluarga ini. Biarkan aku yang menggantikan posisi Ayah. Aku juga ingin membantu biaya kuliah mbak Fitri”

“Ram, pecaya sama mbak. Kamu gak perlu banting tulang untuk menghidupi keluarga kita apalagi membiayai kuliah mbak. Percayalah, kita bakal bisa melewati semua ini. Bukannya Ayah selalu pengen kamu punya pendidikan yang tinggi”

Selalu saja, setiap mendengar kata-kata mbak Fitri selalu membuatku sadar jika aku orang yang terburu-buru dan egois. Aku memiliki kakak sebaik mbak Fitri tapi kenapa aku merasa sendiri? Malam itu aku baru menyadari, hanya mbak Fitri lah satu-satunya wanita yang bisa menenangkanku. Indah mungkin tak bisa seperti ini.

Dua bulan berlalu, dari hasil tes SBMPTN ku kemarin, aku lolos di Universitas Islam Negeri Walisongo. Mbak Fitri sangat senang mendengar kabar itu. Sedangkan ibu ku dia tak tahu apa-apa. Sudah satu bulan ini ibu menjalani terapi, depresi yang ia derita semakin parah. Bahkan aku merasa jika ibu tak akan lagi bahagia. Hampir setiap hari aku san mbak Fitri bergantian menjaga ibu.

“Mbak seneng kamu lolos SBMPTN. Nanti mbak bakal kerja biar bantu biaya kuliah kamu.”

“Aku bakal kerja sendiri buat biaya kuliah ku mbak. Mbak Fitri gak perlu banting tulang demi aku.”

“Mbak itu kakak kamu, jadi wajar mbak banting tulang demi kamu.”

Selamat Jalan Nenek | Part 4

Selamat Jalan Nenek | Part 4

Aku memapah Mbah Uti sampai ke kamar. Di usianya yang 79 tahun sulit bagi Mbah Uti untuk berjalan sendiri, bukan hanya berpegangan dengan tanganku. Mbah Uti juga memakai tongkat untuk menyanggah badannya saat berdiri atau berjalan. Jika sinetron atau FTV sudah selesai dia pasti kembali ke kamar, dan tidur. 3 jam kemudian Mbah Uti akan bangun lagi dan menonton Sinetron atau FTV lagi.

“Sini La, duduk sama Mbah.”

“Mbah Uti nggak mau tidur?”

“Iya nanti Mbah Uti tidur, tadi filmnya bagus kan La?”

“Iya bagus.”

“Mbah Uti boleh minta tolong, ambilin kotak merah di laci meja sebelah”

Aku tak mengerti tak biasanya Mbah Uti berperilaku seperti ini. Aku menuruti permintaannya, ku ambil kotak merah yang ada di laci. Kotak itu seperti perhiasan, jangan-jangan…

“Makasih ya La. Kamu tahu nggak kalau dulu Mbah Kakung sering ngasih hadiah ke Mbah setiap ulang tahun pernikahan. Hadiahnya nggak begitu besar tapi sangat membantu keluarga kita. Semenjak Mbah Kakung meninggal, hadiah ini sering keluar masuk pegadaian buat mencukupi kebutuhan anak-anak. Tapi akhirnya Mbah Uti bisa nebus ini semua.”
“Mbah Uti…”

“Sekarang anak-anak Mbah sudah tidak membutuhkannya lagi, Mbah sengaja menyimpannya biar bisa mengenang Mbah kakung. Tapi Mbah sadar, Mbah kakung sudah tersimpan di dalam hati Mbah. Perhiasaan seperti ini sudah tak lagi penting, jalau cita-cita cucu sendiri tidak tercapai.”

“Mbah..” ucapku begitu lirih, aku mengerti kenapa Mbah Uti memintaku untuk mengobrol dengannya saat ini. Air mataku mulai menetes. Jemari Mbah Uti yang lembut menghapus air mataku, aku mencoba tersenyum. Mengisyaratkan betapa bahagianya aku memiliki Mbah Uti saat ini, Mbah Uti juga membalas hal yang serupa. Bahkan senyum Mbah Uti lebih manis dibandingkan senyumku yang dilengkapi lesung dua pipi.

“Sekarang jangan sedih kalau nggak bisa kuliah, perhiasan ini nanti dijual aja. Bilang sama Ibu, kalau Mbah Uti yang bakal bayarin biaya pendaftaran kamu. Jangan nunggu sampe tahun depan, nanti Mbah Uti semakin Tua dan gak bisa lihat kamu wisuda.”

“Makasih ya Mbah.. aku kira nggak ada satu orang pun di rumah yang mau ngertiin Laela.”

“Siapa bilang? Semua ngertiin Laela, mulai sekarang belajar lagi ya. Nanti biar bisa jadi guru”

“Jadi Jurnalis Mbah bukan guru.”

“Ya terserah Laela mau jadi apa. Yang penting ilmunya bermanfaat.”

Aku memeluk Mbah Uti begitu erat, hari itu. Sangat ku ingat, saat ku kira tak ada seorangpun yang memahami aku, ternyata aku salah. Itu hanyalah sudut pandangku saja, Mbah uti adalah orang yang paling mendukungku waktu itu. Ia juga berhasil mendobrak hati ibu, hingga akhirnya mengizinkan aku kuliah di jurusan yang aku mau.

Aku masih duduk terdiam, ku tatap foto nenek dalam dompetku. Kini kami terpisah begitu jauh, dan sudah tak mungkin lagi bertemu. Aku masih duduk termenung, tak sadar jika Tio pacarku telah menemaniku sedari tadi.

“La kamu kenapa nangis?”

“Gakpapa kok. Aku keinget Mbah Uti, 3 hari lagi adalah acara 100 hari meninggalnya Mbah. Tapi aku masih saja di sini.”

“Kamu yang sabar ya La, kalau mau pulang kamu bisa minta izin kepala desa buat libur 3 hari.”

“Aku nggak tahu gimana? Meskipun diizinkan tapi Jarak Cibubur ke Wonosobo itu jauh yo..”

“Gak mau coba pakek kereta?”

Aku menggeleng, Ibuku saja semalam menelpon untuk tidak perlu pulang dari tempat KKN. Aku masih menangis, aku tidak tahu harus menceritakan apa. Tio menggenggam tanganku, aku merasakan kepedulian Tio.

“La, kalau mau nangis. Nangis aja gak papa…”

“Dulu simbahku bilang kalo Aku kuliah nanti bisa jadi guru. Tapi aku malah jawab kalo aku gak mau jadi guru. Dia juga bilang jangan terlalu lama nunda kuliah nanti Mbah Uti keburu tua dan gak bisa lihat aku wisuda.”

Tio lalu memelukku, dan menepuk pundakku begitu pelan. Aku semakin menangis, ku basahi almamaternya dengan air mataku.

“La, jangan nyalahin diri sendiri ya. Ini semua pasti ada hikmahnya, kamu tahu nggak ilmu komunikasi juga bisa jadi guru loh.”

Tio menarik napas sejenak dan melepaskan pelukannya.

“Sekarang ada banyak anak-anak dan Ibu-ibu yang nunggu sosialisasi dari kamu. Kamu nggak perlu jadi guru untuk mengajarkan mereka bagaimana cara berkomunikasi yang baik?”

Aku tersenyum pada Tio dan dia juga membalas senyumanku. Ia menghapus air mataku sama seperti Mbah Uti waktu itu.

“Lagian kamu gak cocok kok buat jadi guru… guru itu dibayar sedangkan kamu mengajar dengan kesukarelaan. Sejak pertama kali datang, bukannya kamu setiap hari ngajar anak-anak disini meskipun itu bukan bagian dari proker kita?… Kamu akan sadar jika permintaan orang tersayang kamu sudah kamu penuhi, jadi jangan menyesali apapun.”

“Tio.. Apa Mbah Uti akan datang ke wisudaku nanti?”

“Jangan menunggu wisuda, sekarang dia sudah datang… dalam lubuk hatimu terdalam.”

Aku tak tahu apakah yang dikatakan Tio sebuah gombalan saja agar aku bisa tenang. Tapi bukanlah masalah besar, aku lebih tenang sekarang. Tio benar Mbah Uti telah tinggal di hatiku, jadi tak seharusnya aku mengucapkan selamat tinggal atas kepergiannya.

Raga kami telah berpisah tapi perasaan dan kasih sayang Mbah Uti akan selalu kurasakan.

 

Selamat Jalan Nenek | Part 3

Selamat Jalan Nenek | Part 3

Rika menatapku begitu kaget, mungkin bukan hanya Rika tapi siapa saja yang melihatku di warnet itu. Aku sangat bersyukur karena tidak diterima di kampus yang aku pilih kemarin. Sekarang aku tinggal bilang Ibu untuk mengizinkanku kuliah di Ilmu Komunikasi Ahmad Dahlan.

“Aku nggak keterima di universitas negeri bu. Jadi boleh aku daftar di universitas swasta?”

“Kenapa Rika bisa keterima dan kamu nggak La. Padahal kalian sering belajar bersama.”

“Bu, kalau aku nggak diterima itu artinya belum rejeki, itu pun aku nggak cocok dengan jurusannya.”

“Kan Ibu sudah bilang kalau belajar itu lebih serius lagi, semua jurusan kalo kamu pelajari juga bakal cocok kan.”

“Kenapa sih Ibu selalu nyalahin aku yang gak pernah serius dalam belajar? Kenapa ibu gak pernah dukung kemauan aku buat kuliah di ilmu komunikasi?”

“Biaya kuliah itu nggak murah La. Ayah kamu saja satu bulan ini belum ngasih uang sama sekali, bagaimana ibu bisa bayar uang pendaftaran kamu? Kalau kamu nggak keterima di universitas negeri tahun ini, kamu harus daftar lagi tahun depan.”

“Aku gak mau!! Apa bedanya tahun ini sama tahun depan kalau Ibu nggak ngizinin aku buat daftar ke jurusan yang aku mau?”

“Ibu selalu mengizinkan kamu untuk bersekolah apalagi kuliah. Tapi kalau memang kondisi keluarga kita gak mampu apa kamu mau memaksakan?”

“Kenapa sih Bu? Mimpi aku terhalang sama keuangan keluarga kita?”

Tanpa sadar aku mulai menangis, Ibu tak merespon apapun. Ia justru kembali ke dapur, aku masih duduk di tempat meja belajar sederhana buatan Ayah. Semakin kencang aku menangis meskipun tak ada suara, Mbah Uti sudah tidur di kamar. aku tidak boleh membangunkannya karena suara tangisanku. Ternyata semenyakitkan ini tidak lulus di universitas, meskipun itu bukan hal yang diinginkan.

Aku semakin membuka kota kenangan selama menjadi bagian tim redaksi SMA. Saat itu aku bertugas sebagai editor, aku sangat senang dengan jabatan itu. Melalui tim redaksi sekolah aku mengenal Rika, Bimo dan teman-teman lainnya. Bahkan setiap rapat redaksi guru-guru yang masih di ruangan mampir ke ruangan kami. Memberikan makanan, minuman, bahkan ditraktir batagor. Harapan kecil yang berasal dari kegiatan kecil di sekolah harus ku pendam. Selamanya…

Sudah dua hari, aku perang dingin dengan Ibu. Kami memang sedikit bicara, namun aku tetap membantunya menyiapkan dagangan dan membereskan rumah. Selesai acara perpisahan, sudah tidak ada lagi aktivitas di sekolah. Jadi sudah tugasku untuk membantu di rumah. Selain itu sore ini aku ada janji dengan Rika, aku memintanya untuk menemaniku ke warnet lagi.. aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku masih menyimpan banyak cara, tak kan ku biarkan mimpiku yang ingin membanggakan keluarga malah menjadi beban bagi mereka.

“La kamu cari info universitas apa aja?”

“Universitas apa aja yang ada jurusan ilmu komunikasinya”

Aku tahu Rika heran denganku, mungkin baru kali ini memperlihatkan wajah yang serius. Aku mencatat betul biaya setiap SKS, SPI, buku, hingga perkiraan biaya hidup selama aku kuliah. Mungkin aku salah ketika berdebat dengan Ibu namun tak adabukti apa pun yang membuatnya yakin.

Waktu makan malam adalah saat yang tepat untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rencanakan. Meskipun dengan muka yang masih masam, ibu tepat melayani aku dan Mbah Uti makan malam. Ini saatnya..

“Bu, soal kuliah kemarin..”

“Ibu sudah bilang sama Ayah. Dia setuju kalau kamu ikut seleksi universitas negeri tahun depan.”

“Kenapa Ibu minta persetujuan Ayah bukan persetujuanku sendiri? Bu aku yang kuliah, aku yang punya masa depan. Aku sangat bersyukur karena Ibu dan Ayah membiayai pendidikan aku selama ini. Tapi nggak begini caranya.”

“Terus kamu mau cara yang bagaimana? Kamu sudah dewasa sudah saatnya memahami kondisi keluarga!!”

Tanpa mendengar penjelasaku Ibu membanting sendok nasinya dan kembali ke kamar. jujur aku tak ingin berdebat dengan Ibu, harusnya aku tahu Ibu adalah orang yang keras. Ia memang tidak cocok denganku, karena keras kepalanya menurun padaku. Aku mengalihkan pandanganku ke Mbah Uti, tampak dia begitu kaget dengan perdebatanku dan Ibu. Aku meraih tangannya, aku ingin mengisyaratkan jika kami tidak apa-apa.

Pagi ini sudah pukul 07.00 aku melihat meja makan sudah terisi beberapa makanan. Dapur sudah bersih, dan Ibu entah pergi kemana? Apa dia marah denganku karena perdebatan semalam?

Seusai sarapan aku berpindah ke ruang TV, di sana sudah ada Mbah Uti yang masih setia dengan acara FTV pagi ini. Aku duduk disampingnya taka da yang terucap antara kami. “La, kok berangkat sekolah?”

“Aku udah lulus mbah, jadi nggak harus ke sekolah.”

“Terus nggak belajar katanya mau kuliah?”

“Nggak dibolehin Ibu Mbah, disuruh tahun depan.”

“kenapa?”

“Aku gak lolos seleksi pendaftaran di universitas negeri, jadi suruh daftar tahun depan.”

“Kenapa tahun depan? Nanti kamu keburu tua loh La, bagusnya kuliah sekarang aja.”

“Laela pengennya juga gitu Mbah, tapi gimana Ibu nggak punya biaya.”

Mbah Uti tidak meresponku, aku tahu dia pasti tidak mengerti dengan masalah yang sedang aku alami. Sepertinya tak ada seorangpun di rumah ini yang mengerti aku. Uang adalah faktor pendukung terbesar, untuk kuliah. Sudahlah aku tak ingin semakin sedih…

“La anterin Mbah ke kamar.”

Selamat Jalan Nenek | Part 2

Selamat Jalan Nenek | Part 2

Dalam hati ku ingin berkata jujur. Bagus darimana sih mbah itu sinetron Alay, lagian bucin banget si ceweknya rela ngasih apa aja meskipun cintanya nggak dibales sama si cowok.

“Iya bagus Mbah.”

“Tadi gimana sekolahnya?”

“Biasa aja.”

“Jadi kuliahnya nanti dimana?”

“Nggak tahu”

“Kok nggak tahu, emang Laela mau kuliah dimana?”

“Belum ada pengumuman Mbah, lagian aku nggak suka jurusan yang aku pilih kemarin. Aku pengen daftar Universitas lain nggak dibolehin Ibu.”

“kemarin daftar dimana emang?”

“Daftar pendiidikan Akuntansi, tapi aku nggak mau jadi guru Mbah. Aku maunya di Ilmu Komunikasi biar bisa jadi Jurnalis”

“Bagus.”

“Tapi nggak dibolehin Ibu.”

“Guru Bagus, bisa bantuin anak-anak jadi pinter. Dulu Mbah dulu gak punya kesempatan buat belajar di sekolah, pernah sekolah tapi Cuma 3 bulan. Terus di suruh pulang sama Mbah buyut buat nikah sama Mbah Lanang.”

“Terus Mbah nggak sekolah lagi?”

“Nggak. Nanti kalau semisal Laela jadi guru bisa ngajarin orang kan dapet pahala juga selaiin dapet gaji.”

“Tapi Laela lebih suka jadi jurnalis Mbah.”

“Jurnalis itu bagu apa ya La, Mbah Uti nggak tahu”

“Haha.. Jurnalis itu yang biasanya ada di…” tanpa sempat aku jelaskan ke Mbah Uti, Ibu sudah memanggil.

“La, Udah malem Mbah Uti ajak ke kamar.”

Obrolanku dan Mbah Uti berarkhir, Ibu memang galak. Bukan cuma sama aku doang tapi sama Mbah Uti juga. Dulu pernah ditegur sama Ayah kalau jangan terlalu galak sama aku, tapi watak Ibu memang keras. Padahal Mbah Uti kalo ngomong sama aku lembut banget, tapi kenapa Ibu galak banget. Apalagi kalau semisal aku nggak belajar atau nggak bangun pagi.

Bulan telah berganti setelah acara perpisahan kelas XII, hari ini adalah pengumuman hasil seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri. Aku tak berharap apapun dari hasil seleksi, justru ku tidak mengharapkan untuk diterima. Jika tidak diterima aku ada alasan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Menurut pengakuan guru BP, pengumuman dilakukan tepat pukul 16.00 melalui akun masing-masing.

Aku dan Rika masih stay di dalam warnet, menanti pengumanan. Wajah Rika tampak harap-harap cemas, aku mencoba menenangkannya. Mungkin dia heran mengapa aku tak secemas dia, “Udah keluar La!”

Aku dan Rika menyimak dengan seksama setiap kata yang muncul dalam hasil pengumuman.

Dengan ini menyatakan Peserta

Nama                                    : Rika Anitiyas

Progdi yang dipilih           : S1 – Manajemen Perekonomian Syariah (Universitas Negeri Yogyakarta)

Menyatakan dengan ini :

DITERIMA

“La aku Lulus seleksi La!! Alhamdulillah”

“Iya Selamat ya Ka! Sekarang giliran akum au coba cek”

“Iya La Buruan!! Semoga kita bisa satu kampus nanti”

Kali ini aku merasa sedikit cemas, jujur detak jantungku menjadi lebih cepat. Bahkan untuk mengetik No. Id dan password tanganku sampai gemeteran. Kalo Rika keterima mungkin aku juga begitu, apalagi nilai raport aku gak beda jauh sama nilainya Rika.

Dengan ini menyatakan Peserta

Nama                                    : Laela Mustika Ningrum

Progdi yang dipilih           : S1 – Pendidikan Akuntansi (Universitas Negeri Yogyakarta)

Menyatakan dengan ini :

TIDAK DITERIMA

“Alhamdulillah aku nggak lolos seleksi!!”

Selamat Jalan Nenek

Selamat Jalan Nenek | Part 1

Selamat Jalan Nenek | Part 1Selamat Jalan Nenek

“Allahu Akbar Allahu Akbar…”

Suara adzan subuh berkumandang,  tapi mataku masih berat untuk dibuka. Aku merasa Ibu sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk sholat di mushola dekat rumah. Semenjak lebaran kemarin, Ayah putuskan untuk merantau ke luar jawa tepatnya kota Makasar. Di rumah hanya ada 3 orang dan semua adalah perempuan, aku, Ibu dan Nenek.

Meskipun masih sangat fajar, namun ibu sudah bersiap-siap memasak. Maklum saja untuk membantu biaya sekolahku, ibu harus berdagang nasi bungkus yang di jual di sekolah-sekolah. Termasuk sekolah tempatku belajar.

Mungkin aku bukanlah anak yang serajin bagi Ibuku. Atau serajin anak-anak uyang digambar di TV atau cerita motivasi lainnya. Ketika ibu sibuk menyiapkan dagangan aku masih tidur, terkesan tidak adil memang. Tapi inilah karakterku sebagai anak tunggal di rumah. Sebenarnya dulu Ibu sempat marah padaku jika tidak membantu tapi setiap kena marah aku justru ngambek dan bertekad tidak keluar kamar meskipun harus bersiap berangkat sekolah.

“La, Laela! La, Ibu mau minta tolong buruan bangun.”

“Aku masih ngantuk Bu, bangunin 15 menit lagi aja.”

“Nggak bisa, Ibu butuh kamu sekarang.”

“15 menit lagi aja bu aku masih ngantuk ini.”

“La, Ibu mau masak kamu siapin air panas buat mandi Mbah Uti.”

“Mandi pakek air biasa sama agak siang kan sama aja Bu, gak usah bikin air panas”

PLAKKKK…

Akhirnya aku bangun, Ibu tak berkata apapun. Ya, dia marah denganku karena aku selalu beralasan jika tidak membantunya. Aku memanaskan air hanya 8 menit, berhubung airnya cukup banyak aku sengaja menyimpan setengahnya untuk diriku sendiri. Ku pindahkan air panas untuk mandi Mbah Uti ke ember, aku menambahkan segayung demi gayung air bak mandi ke dalam ember. Tak lupa aku mengecek apakah terlalu panas atau terlalu dingin.

“Bu airnya udah”

“Kalau udah ya Mbah Uti dimandiin, Ibu masih masak.”

“Nggak mau bu, Mbah Uti kalau pagi pasti BAB. Aku nggak mau bersihin kotorannya.”

Ibu kembali memasang wajah seramnya, dan bersiap-siap untuk memukul lagi pantatku. Aku mencoba menyiapkan mental, namun Ibu hanya beranjak dan pergi menuju kamar Mbah Uti.

Suasana di sekolah saat ini sangat sepi. Ya selama Ujian Akhir Sekolah berlangsung siswa kelas X dan XI diliburkan. Aku telah memasuki tahun ajaran terakhir, Aku harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional dan ujian masuk universitas. Aku membolak balik brosur Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebenarnya aku sudah memasukan nilaiku ke universitas negeri tapi aku tidak yakin jika nilai raportku bisa lolos. Apalagi jurusan yang aku daftar kemarin tidak sesuai dengan keinginanku. Aku sangat menyukai buku majalah dan aku ingin menjadi seorang jurnalis. Sedangkan kemarin aku mendaftar program studi pendidikan akuntansi.

Jujur dalam hati aku berharap jika aku tidak lolos seleksi Nasional, jiwaku bukan seorang tenaga pengajar. Tapi seorang yang ingin menyebarkan berita!!

“La, tungguin hasil seleksi nasional dulu ya. Baru cari universitas ”

“Tapi Bu… aku nggak cocok sama jurusannya”

“La, biaya kuliah di kampus swasta itu lebih mahal. Ibu sama Ayah belum tentu sanggup biayai, diusahain masuk Universitas Negeri dulu ya.”

“Iya Bu.”

Jujur aku sudah sering debat masalah kuliah akhir-akhir ini. Aku sudah lelah beradu argument dengan Ibu, biaya memang selalu dipermasalahkan. Apalagi pendapatan Ibu juga nggak menentu setiap hari, mungkin aku harus mengerti maksud Ibu. Biaya untuk pendidikan keguruan memang lebih murah dibanding dengan jurusan ilmu terapan. Sudahlah lebih baik aku nonton TV.

Aku mengganti beberapa channel, dan benar saja tak ada acara yang bagus sama sekali. Semua acara hanya dipenuhi talkshow comedy dan sinetron. “kok, gak ada kartun sih” ucapku pelan.

“Film itu aja, Mbah suka”

“Yang mana?”

“Yang tadi”

Karena Mbah Uti tidak tahu judulnya sinetronnya, dan aku juga gak ngerti apa yang disukai Mbah Uti. Akhirnya aku mengulangi lagi semua channel TV. “Yang ini!”

Sebuah sinetron yang menceritakan cinta segitiga, padahal sinetrn Indonesia juga endingnya selalu sama, dan alur cerita juga nggak pernah berubah. Aku sebenarnya sudah bosan dengan sinetron sejenis ini, tapi nggak tahu kenapa Ibu atau Mbah Uti suka banget. Ku nikmati sinetron ini dengan Mbah Uti, dan terdengar suara tangisan. Aku menengok ke belakang, benar Mbah Uti menangis di adegan perpisahan yang menurutku terlalu lebay. Mbah Uti masih menangis padahal sinetronnya sudah habis. Aku mengambil tissue yang ada di meja dan ku berikan pada Mbah Uti. “Filmnya bagus ya La”