Posts

Selamat Jalan Nenek | Part 2

Selamat Jalan Nenek | Part 2

Dalam hati ku ingin berkata jujur. Bagus darimana sih mbah itu sinetron Alay, lagian bucin banget si ceweknya rela ngasih apa aja meskipun cintanya nggak dibales sama si cowok.

“Iya bagus Mbah.”

“Tadi gimana sekolahnya?”

“Biasa aja.”

“Jadi kuliahnya nanti dimana?”

“Nggak tahu”

“Kok nggak tahu, emang Laela mau kuliah dimana?”

“Belum ada pengumuman Mbah, lagian aku nggak suka jurusan yang aku pilih kemarin. Aku pengen daftar Universitas lain nggak dibolehin Ibu.”

“kemarin daftar dimana emang?”

“Daftar pendiidikan Akuntansi, tapi aku nggak mau jadi guru Mbah. Aku maunya di Ilmu Komunikasi biar bisa jadi Jurnalis”

“Bagus.”

“Tapi nggak dibolehin Ibu.”

“Guru Bagus, bisa bantuin anak-anak jadi pinter. Dulu Mbah dulu gak punya kesempatan buat belajar di sekolah, pernah sekolah tapi Cuma 3 bulan. Terus di suruh pulang sama Mbah buyut buat nikah sama Mbah Lanang.”

“Terus Mbah nggak sekolah lagi?”

“Nggak. Nanti kalau semisal Laela jadi guru bisa ngajarin orang kan dapet pahala juga selaiin dapet gaji.”

“Tapi Laela lebih suka jadi jurnalis Mbah.”

“Jurnalis itu bagu apa ya La, Mbah Uti nggak tahu”

“Haha.. Jurnalis itu yang biasanya ada di…” tanpa sempat aku jelaskan ke Mbah Uti, Ibu sudah memanggil.

“La, Udah malem Mbah Uti ajak ke kamar.”

Obrolanku dan Mbah Uti berarkhir, Ibu memang galak. Bukan cuma sama aku doang tapi sama Mbah Uti juga. Dulu pernah ditegur sama Ayah kalau jangan terlalu galak sama aku, tapi watak Ibu memang keras. Padahal Mbah Uti kalo ngomong sama aku lembut banget, tapi kenapa Ibu galak banget. Apalagi kalau semisal aku nggak belajar atau nggak bangun pagi.

Bulan telah berganti setelah acara perpisahan kelas XII, hari ini adalah pengumuman hasil seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri. Aku tak berharap apapun dari hasil seleksi, justru ku tidak mengharapkan untuk diterima. Jika tidak diterima aku ada alasan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Menurut pengakuan guru BP, pengumuman dilakukan tepat pukul 16.00 melalui akun masing-masing.

Aku dan Rika masih stay di dalam warnet, menanti pengumanan. Wajah Rika tampak harap-harap cemas, aku mencoba menenangkannya. Mungkin dia heran mengapa aku tak secemas dia, “Udah keluar La!”

Aku dan Rika menyimak dengan seksama setiap kata yang muncul dalam hasil pengumuman.

Dengan ini menyatakan Peserta

Nama                                    : Rika Anitiyas

Progdi yang dipilih           : S1 – Manajemen Perekonomian Syariah (Universitas Negeri Yogyakarta)

Menyatakan dengan ini :

DITERIMA

“La aku Lulus seleksi La!! Alhamdulillah”

“Iya Selamat ya Ka! Sekarang giliran akum au coba cek”

“Iya La Buruan!! Semoga kita bisa satu kampus nanti”

Kali ini aku merasa sedikit cemas, jujur detak jantungku menjadi lebih cepat. Bahkan untuk mengetik No. Id dan password tanganku sampai gemeteran. Kalo Rika keterima mungkin aku juga begitu, apalagi nilai raport aku gak beda jauh sama nilainya Rika.

Dengan ini menyatakan Peserta

Nama                                    : Laela Mustika Ningrum

Progdi yang dipilih           : S1 – Pendidikan Akuntansi (Universitas Negeri Yogyakarta)

Menyatakan dengan ini :

TIDAK DITERIMA

“Alhamdulillah aku nggak lolos seleksi!!”

Selamat Jalan Nenek

Selamat Jalan Nenek | Part 1

Selamat Jalan Nenek | Part 1Selamat Jalan Nenek

“Allahu Akbar Allahu Akbar…”

Suara adzan subuh berkumandang,  tapi mataku masih berat untuk dibuka. Aku merasa Ibu sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk sholat di mushola dekat rumah. Semenjak lebaran kemarin, Ayah putuskan untuk merantau ke luar jawa tepatnya kota Makasar. Di rumah hanya ada 3 orang dan semua adalah perempuan, aku, Ibu dan Nenek.

Meskipun masih sangat fajar, namun ibu sudah bersiap-siap memasak. Maklum saja untuk membantu biaya sekolahku, ibu harus berdagang nasi bungkus yang di jual di sekolah-sekolah. Termasuk sekolah tempatku belajar.

Mungkin aku bukanlah anak yang serajin bagi Ibuku. Atau serajin anak-anak uyang digambar di TV atau cerita motivasi lainnya. Ketika ibu sibuk menyiapkan dagangan aku masih tidur, terkesan tidak adil memang. Tapi inilah karakterku sebagai anak tunggal di rumah. Sebenarnya dulu Ibu sempat marah padaku jika tidak membantu tapi setiap kena marah aku justru ngambek dan bertekad tidak keluar kamar meskipun harus bersiap berangkat sekolah.

“La, Laela! La, Ibu mau minta tolong buruan bangun.”

“Aku masih ngantuk Bu, bangunin 15 menit lagi aja.”

“Nggak bisa, Ibu butuh kamu sekarang.”

“15 menit lagi aja bu aku masih ngantuk ini.”

“La, Ibu mau masak kamu siapin air panas buat mandi Mbah Uti.”

“Mandi pakek air biasa sama agak siang kan sama aja Bu, gak usah bikin air panas”

PLAKKKK…

Akhirnya aku bangun, Ibu tak berkata apapun. Ya, dia marah denganku karena aku selalu beralasan jika tidak membantunya. Aku memanaskan air hanya 8 menit, berhubung airnya cukup banyak aku sengaja menyimpan setengahnya untuk diriku sendiri. Ku pindahkan air panas untuk mandi Mbah Uti ke ember, aku menambahkan segayung demi gayung air bak mandi ke dalam ember. Tak lupa aku mengecek apakah terlalu panas atau terlalu dingin.

“Bu airnya udah”

“Kalau udah ya Mbah Uti dimandiin, Ibu masih masak.”

“Nggak mau bu, Mbah Uti kalau pagi pasti BAB. Aku nggak mau bersihin kotorannya.”

Ibu kembali memasang wajah seramnya, dan bersiap-siap untuk memukul lagi pantatku. Aku mencoba menyiapkan mental, namun Ibu hanya beranjak dan pergi menuju kamar Mbah Uti.

Suasana di sekolah saat ini sangat sepi. Ya selama Ujian Akhir Sekolah berlangsung siswa kelas X dan XI diliburkan. Aku telah memasuki tahun ajaran terakhir, Aku harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional dan ujian masuk universitas. Aku membolak balik brosur Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebenarnya aku sudah memasukan nilaiku ke universitas negeri tapi aku tidak yakin jika nilai raportku bisa lolos. Apalagi jurusan yang aku daftar kemarin tidak sesuai dengan keinginanku. Aku sangat menyukai buku majalah dan aku ingin menjadi seorang jurnalis. Sedangkan kemarin aku mendaftar program studi pendidikan akuntansi.

Jujur dalam hati aku berharap jika aku tidak lolos seleksi Nasional, jiwaku bukan seorang tenaga pengajar. Tapi seorang yang ingin menyebarkan berita!!

“La, tungguin hasil seleksi nasional dulu ya. Baru cari universitas ”

“Tapi Bu… aku nggak cocok sama jurusannya”

“La, biaya kuliah di kampus swasta itu lebih mahal. Ibu sama Ayah belum tentu sanggup biayai, diusahain masuk Universitas Negeri dulu ya.”

“Iya Bu.”

Jujur aku sudah sering debat masalah kuliah akhir-akhir ini. Aku sudah lelah beradu argument dengan Ibu, biaya memang selalu dipermasalahkan. Apalagi pendapatan Ibu juga nggak menentu setiap hari, mungkin aku harus mengerti maksud Ibu. Biaya untuk pendidikan keguruan memang lebih murah dibanding dengan jurusan ilmu terapan. Sudahlah lebih baik aku nonton TV.

Aku mengganti beberapa channel, dan benar saja tak ada acara yang bagus sama sekali. Semua acara hanya dipenuhi talkshow comedy dan sinetron. “kok, gak ada kartun sih” ucapku pelan.

“Film itu aja, Mbah suka”

“Yang mana?”

“Yang tadi”

Karena Mbah Uti tidak tahu judulnya sinetronnya, dan aku juga gak ngerti apa yang disukai Mbah Uti. Akhirnya aku mengulangi lagi semua channel TV. “Yang ini!”

Sebuah sinetron yang menceritakan cinta segitiga, padahal sinetrn Indonesia juga endingnya selalu sama, dan alur cerita juga nggak pernah berubah. Aku sebenarnya sudah bosan dengan sinetron sejenis ini, tapi nggak tahu kenapa Ibu atau Mbah Uti suka banget. Ku nikmati sinetron ini dengan Mbah Uti, dan terdengar suara tangisan. Aku menengok ke belakang, benar Mbah Uti menangis di adegan perpisahan yang menurutku terlalu lebay. Mbah Uti masih menangis padahal sinetronnya sudah habis. Aku mengambil tissue yang ada di meja dan ku berikan pada Mbah Uti. “Filmnya bagus ya La”

Garis Depan | Part 4

Garis Depan | Part 4

Garis Depan | Part 4Garis Depan | Part 4

Tepat satu hari sebelum aksi turun ke jalan. Ada perkumpulan, sesuai dugaanku, banyak mahasiswa yang berpartisipasi. Wajah Mas Ilham terlihat sumringah. Banyak pihak yang mendukungnya, termasuk kampus kami. Aku duduk di barisan paling depan bersama Rangga. Aku menatap Rangga penuh dengan semangat, setelah semalam ku katakan padanya jika Mama merestuiku.

Aku menengok kanan kiri dan belakang, halaman Fakultas Hukum penuh oleh mahasiswa. Bukan hanya dari fakultas hukum saja, namun beberapa program studi lainnya juga ikut bergabung. Aku bahagia melihat antusias mahasiwa sebesar ini. Tepat di depanku, ada presiden Mahasiswa Univesitas Negeri Semarang dan beberapa presiden fakultas, termasuk Mas Ilham.

Mas Ilham menatapku keheranan. Ia mencoba berbicara denganku, suaranya mungkin tak terdengar tapi dari gerak bibirnya aku bisa membaca apa yang dia katakan. “Kamu jadi ikut?”

Aku menganggukan dengan penuh semangat. Mas Ilham pun tersenyum, selepas perkumpulan tadi sore. Presiden Mahasiswa kami meminta untuk berkumpul tepat jam 09.00 dan akan berangkat ke lokasi sekitar jam 10.15, selepas dibubarkan aku menghampiri mas Ilham. “Mas Ilham!”

“Iya, gimana?”

“Mas, akhirnya aku dibolehin sama Mama.. besok aku bakal ikut turun ke jalan!”

“Syukurlah, tapi kamu bagian tim medis aja ya.. Mas Ilham takut kalau kamu kenapa-napa. Apalagi kamu paling familiar sama obat-obatan.”

“Yah Mas Ilham padahal aku pengen di garis depan.”

“Hei.. garis depan itu buat cowok-cowok. Tim medis itu penting, bagaimana kalo ada orang terluka?”

“Iya, iya.. Rangga besok kamu ikut kan?”

“Ah… iya”

“Nanti kamu di garis depan ya bareng Mas Ilham.”

“Hei.. Rangga harus bareng kamu. Karena Mas jauh sama kamu, Cuma Rangga yang bisa jagain. Tolong ya Ngga, besok jagain adekku ini.”

Rangga tak menjawab dia hanya tersenyum. Aku merasa Rangga terlihat aneh setiap kali membahas aksi turun ke jalan.

Esok pagi tepat pukul 10.00 aku masih memutar badanku, ku amati dengan teliti sosok Rangga sampai sekarang belum nampak. “Grace nunggu apa?”

“Rangga Mas.”

“Udah, nanti kita bakal ketemu sama Rangga di sana. Percaya sama mas Ilham.”

Aku pun menurut. Mungkin saja Rangga masih ada urusan, sesekali aku mengecek chat terakhir yang aku kirim dan benar Rangga belum membalasnya. Tepat di Jalan Pahlawn kota Semarang, Mas Ilham berada di barisan paling depan bersama beberapa Mahasiswa laki-laki dari kampus lainnya. Sesuai dengan pesan Mas Ilham, aku harus di baris belakang bersama tim medis lainnya. Sempat aku berkenalan dengan beberapa mahasiswa dari kampus lain. Sesuai dengan dress code baju hitam dan almamater. Kalau di lihat dari atas mungkin ini seperti warna pelangi. Kami memutari Simpang Lima, tepat pukul 11.30 suasana terasa makin panas. Banyak keringat yang bercucuran di dahi, area hidung dan punggung. Dari kejauhan aku mendengar jika anak-anak barisan depan hendak menuju gedung DPRD Jawa Tengah dan bertemu dengan pak Gubernur.

Jarak yang terbentang antara aku dan Mas Ilham cukup jauh. Padahal aku ingin di dekat mas Ilham, kemudian terdengar suara kericuhan di baris depan. Sepertinya mahasiswa sedang memaksa masuk gedung. Aku merasa takut dengan kondisi Mas Ilham. Aku tak mau Mas Ilham kena pukul, aku gak mau mas Ilham dikeroyok oleh aparat. Aku mau Mas Ilham selamat!

Tanpa memikirkan apa pun, aku langsung menuju baruisan depan. Ku belah lautan mahasiswa yang padat merayap ini. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Aku berusaha secepat mungkin untuk sampai ke depan. Terdengar sorakan mahasiswa semakin kencang, sedikit lagi aku akan sampai.

GUBRAKKKKK!!!!!

Mahasiswa berhasil menjebol gerbang. Semua orag yag melihat ini bersorak, semua berteriak nama Pak Ganjar, selaku Gubernur Jawa tengah. Aku masih menyelip diantara mahasiswa lainnya. Aku tahu mereka seperti aku, ingin mendekat garis depan, jebolnya gerbang gedung DPRD Jateng mengobarkan semangat seluruh mahasiswa yang turun di jalan. Langkahku semakin sempit, aku justru sedikit terdesak dengan mahasiswa yang lain. Dari kejauhan aku mulai melihat sosok Mas Ilham. Aku berusaha memanggil mas Ilham, tapi orang-orang di depanku terlalu tinggi dan menutupiku. Aku mencoba dengan sopan melewati mereka dan mereka memberikan jalan padaku.

Sekitar 3 meter jarakku dari Mas Ilham, aku memanggilnya sekali lagi. “Mas..” tapi sedetik kemudian pandanganku teralihkan. Sosok Rangga berada jauh di dalam area halaman gedung DPRD. Tanpa mengenakan dress code yang sama dengan kami. Rangga terlihat begitu rapi, bergerombol dengan beberapa aparat di sana. Aku menatap Rangga begitu lama, hingga akhirnya ia sadar dengan keberadaanku. Kami saling menatap. Aku melihat Rangga dengan perasaan kecewa, aku mematung begitu lama.

Suasana kembali ramai, para mahasiswa bergerak ke arahku. Pak Ganjar menemui kami. Semua berusaha mendekat sambil mendengarkan beliau beorasi. Namun aku masih mematung. Aku tidak sadar jika tubuhku telah didorong-dorong. Suasana semakin ramai dan sedikit sesak. Pandanganku kabur… namun aku melihat satu tangan menarik tubuhku, dan menyelamatkanku dari lautan manusia.

Aku tak melihat siapa yang menarikku, yang jelas aku mencengkram erat tubuhnya. Setelah jauh dari lautan manusia. “Rangga..”

“Kamu nggak papa?”

Kataku telah habis, dadaku terasa sesak. Lututku mulai lemas, rasanya aku ingin terjatuh tapi Rangga menopang tubuhku. Aku tidak tahu rasaya asmaku kabuh dan tubuhku sangat lelah, namun hatiku jauh lebih lelah… aku melepaskan diri dari Rangga. “Grace, biarkan aku mengantarmu pulang. Wajah kamu pucat.”

Aku menggeleng.. aku sungguh kecewa dengan Rangga. Dia membuatku benar-benar terluka… aku berusaha melangkah pelahan menjauh darinya. Tanpa sadar aku menabrak seseorang, “Mas Ilham.”

Tanpa sepatah kata apa pun Mas Ilham menggendongku, dia mungkin paham apa yang aku rasakan.  Mas Ilham hanya memandang Rangga dengan dalam, dan sempat tersenyum padanya. Aku tak ingat jelas apakah Mas Ilham mengatakan sesuatu, yang jelas selama digendong, aku tak sadarkan diri.

Terdengar suara samar orang berbicara… pelahan aku membuka mata. Mas Ilham dan Mama sedang berdiskusi di depanku. Aku memanggil Mama pelahan.. “Mama…”

“Iya sayang Udah sadar? Kamu minum dulu ya biar enakan.”

“Ma, Grace mau ngomong sama Mas Ilham benta boleh?”

Mama mengerti maksudku. Ia meninggalkanku bersama Mas Ilham. Mas Ilham mengambil posisi duduk di depanku, “Mas Ilham sudah tahu?”

“Tahu soal apa Grace?”

“Soal Rangga.”

Mas Ilham mengangguk, sudah ku duga.. Rangga hanya menutupi ini dariku saja.

“Kenapa Rangga begitu jahat.”

“Grace, Rangga juga berada dalam kesulitan. Dia tak tahu harus berpihak ke siapa. Ke orangtuanya atau temannya.”

“Aku tidak mempermasalahkan soal dia yang tidak ikut bersama kita. Aku kecewa padanya karena dia berbohong dan tidak terbuka denganku. Aku ini pacarnya, tapi kenapa dia tak pernah bilang latar belakang keluarganya. Kenapa dia tidak bilang jika dia anak dari pejabat atau aparat pemerintah. Kenapa dia masih saja ikut denganku, dan menjanjikan jika kami akan berada di garis depan.”

“Grace…”

“Aku hanya terluka karena ucapannya yang ingkar.”

“Iya, Mas Ilham paham. Terus kalau sudah begini kamu mau gimana?”

“Putus dengannya..”

Suara kicauan burung, hari ini cuaca cukup panas. Tapi karena rindangnya pohon bayangannya melindungiku dari sengatan matahari. Di sampingku, Rangga. Dengan wajahnya yang takut, cemas, dan tak ada senyuman. Kamu duduk berdua, sudah semalaman aku menangis. Aku tahu Rangga pasti melihat mataku yang sembab. Tapi keputusanku telah bulat..

“Ngga.. aku tahu ini keputusan sepihak. Tapi aku kecewa denganmu, aku tidak suka hubungan yang tidak dilandasi keterbukaan. Aku pernah dikecewakan oleh kebohongan dulunya… dan sekarang kamu melakukan hal yang sama.”

“Grace apa nggak ada kesempatan buat aku memperbaikinya?”

“Seharusnya ada, tapi kekecewaanku jauh lebih besar dibanding kesempatan kedua.”

“Sebaiknya kita pisah. Kamu akan lebih fokus dengan duniamu aku juga akan begitu.”

“Grace tolong..”

“Ngga Tolong, mataku telah sembab memikirkan luka. Jangan kau buat semakin besar dengan penyesalan. Kamu lelaki yang baik, tapi sayang akan lebih baik kamu tidak denganku.”

“Cuma kamu satu-satunya wanita di hatiku.”

“Cuma kamu satu-satunya lelaki yang membuatku patah hati sedalam ini.”

Lagi.. aku menangis dan menatap Rangga. Aku berusaha menahan ini. Tapi ternyata aku tak sekuat harapanku. “Nggak, kamu boleh bahagia.. tapi untuk terakhir kalinya jangan libatkan aku.”

Rangga mematung, aku tak ingin semakin memperlihatkan kesedihanku. Aku pergi Rangga… maaf jika perpisahan ini melukaimu. Tapi aku harus pergi, segeralah cari wanita lain agar semakin cepat sembuh dari luka yang ku buat hari ini. Biarkan patah hati ini yang menjelaskan jika kita tak memiliki kecocokan, biarkan patah hati yang mengatakan jika aku tidak menyukai kebohongan..

Garis Depan | Part 3

Garis Depan | Part 3

Garis Depan | Part 3Garis Depan | Part 3

Bau nasi goreng buatan Mama sudah tercium harum dari kamarku. Pagi ini nasi goreng spesial telah siap di meja makan. Nenek dan Mama sudah siap, aku mengambil beberapa centong nasi goreng, seperti biasa Nenek menyalakan televisi sambil sarapan. Kebiasan menonton berita dipagi hari telah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Jika orang-orang lebih memilih kartun atau sinetron aku justru memilih perdebatan dan berita.

“#Gejayanmemanggil terjadi demonstrasi mahasiswa di kota Jogjakarta yang menentang RUU KUHP,….”

Mendengar berita yang disiarkan di TV, rasanya nasi gorengku berubah menjadi hambar. Nenek sepertinya menyimak betul apa yang dikatakan oleh reporter. Sedangkan Mama sibuk memotong sayur untuk di masak nanti siang.

“Banyak yag demo ya….” ketus nenek keheranan.

Aku tak merespon apa pun. Dibading aku mencoba membenarkan tindakan mahasiswa justru akan membuat Mama dan nenek terluka.

Selama mata kuliah, aku terus melamun. Aku tak dapat mencerna setiap materi yang disampaikan oleh dosenku kali ini. Aku masih dilema antara berpartisipasi menyuarakan penolakan atau berdiam diri. “Grace?”

Tanpa sadar suasana kelas berubah sepi, di depanku kini ada Rangga sambil membawa beberapa berkat tugas kuliah.

“Udah makan?”

“Udah tadi di rumah.”

“Hmmm itu namanya sarapan… ke kantin yuk!”

Aku mengiyakan ajakan Rangga. Meja makan di kantin sudah penuh hanya ada 2 bangku kosong, mau tidak mau aku dan Rangga harus berbaur dengan yang lain. “Grace! Rangga Sini!!” Suara Mas Ilham memanggil kami untuk bergabung di meja makannya. Untung saja…

“Sore nanti kita ke basecamp ya. Ada hal penting yang harus aku sampein.” Mendengar permintaan Mas Ilham aku berfirasat jika ini tentang demo minggu depan.

Pukul 15.30, tepat 30 menit yang lalu basecamp ini dipenuhi dengan canda tawa dan guyonan anak-anak. Namun setelah Mas Ilham menceritakan niatnya untuk menggrebek gedung DPRD Jawa Tengah suasana telah berubah. Ada yang ikut bergejolak membawa kemarahan, ada yang bersikap biasa juga. “Aku gak akan maksa kalian buat berpartisipasi, aku ingin kalian bersuara atas keinginan dan kesadaran masing-masing. Aku gak akan marah jika kalian tidak ikut turun ke jalan, kalian punya hak masing-masing.”

Setelah perkataan itu, tak ada banyak orang yang menanggapi. Suasana mulai terasa panas, Mas Ilham akhirnya membubarkan rapat sore ini. Mas Ilham keluar ruangan, wajahnya memerah aku tahu dia menahan kekesalan. Dia menuju halaman depan basecamp dan duduk di bawah pohon mangga, aku mencoba menghampirinya.

Dari belakang terlihat, seputung rokok dia ambil. Dibakarlah ujung rokok itu dan dia hisap dengan mantap, “Mas Ilham…” ucapku pelan. Mas Ilham membalikan badannya, melihat diriku ia langsung mematikan putung rokok yang tadi dia genggam.

Aku mengambil posisi duduk di sebelah kanan Mas Ilham. Ku amati wajahnya dengan baik-baik, aku paham saat berusaha menahan amarah ataupun menghadapi masalah rokoklah yang mampu menenangkan Mas Ilham. Sejak SMA ia telah terbiasa merokok, namun setiap kali mengajakku berbicara Ia selalu mematikan rokok karena Mas Ilham tahu penyakit asma yang aku miliki.

“Mas.. Aku tahu..”

“Tahu apa Grace, kamu sukanya nebak-nebak?”

“Mas Ilham jangan sedih ya, aku yakin akan banyak yang dukung Mas Ilham. Meskipun mereka belum berani berpendapat. Tapi aku yakin akan banyak orang yang bakal ikut serta.”

“Kamu peramal ya?”

“Aku memprediksi Mas..”

“Iya.. iya Mas tahu, by the way. Khusus buat kamu aku gak maksa buat ikut, Mas takut nanti kamu kenapa-napa. Kalo asma kamu kambuh, nanti Mas Ilham yang dimarahin Mama..”
“Mas Ilham jangan gitu, padahal aku telah membakar semangatku buat dukung Mas Ilham tapi Mas Ilham malah gini. Aku pengen ikut tapi, aku gak tahu izin ke Mama gimana?”

“Ya kamu bilang aja apa adanya…”

“Mama gak bakal ngizinin kalo aku bilang apa adanya.”

“Kalo kamu bohong Mama lebih marah dan gak ngizinin kamu lagi.”

Aku terdiam kehabisan kata dan ide, baik berbohong ataupun jujur sama saja Mama gak bakal mengizinkan aku turun ke jalan.

Rangga menantapku, pandanganku masih kosong. “Hei… dari tadi masih ngalamun. Apa sih yang dipikirin?”

“Aku gak yakin Ngga..”

“Kenapa sini cerita.”

“Menurut kamu kalo aku ikut turun ke jalan gimana? Aku pengen tapi Mama gak ngizinin mungkin.”

“Kamu kan punya asma, kalau kamu kenapa-napa gimana?”

“Aku gak papa, asal bawa Inhiler pasti aman.”

“Kamu tahu kan Mama kamu sayang banget sama kamu, dia pasti khawatir… ada baiknya kamu dengerin Mama. Ingat restu orangtua itu penting buat anaknya.”

“Iya kamu bener… Tapi kamu ikut turun ke jalan kan?”

Rangga tak langsung menjawab, Ia menunduk cukup lama… apa dia termasuk kelompk orang yang ragu-ragu untuk ikut? Tapi setahuku Rangga adalah orang yang siap badan demi orang banyak. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. beberapa waktu terakhir Rangga juga sering ikut kegiatan menyampaikan aspirasi saat CFD, dan aku ingat dia adalah saingan terberat Mas Ilham saat berorasi merebut kursi Presiden BEM Fakultas. Rangga tak pernah menunjukan keraguannya.

“Rangga!”

“Ahh iya, tadi tanya apa?”

“Kamu besok ikut turun ke jalan kan? Seandainya aku gak dapet izin, aku pengen kamu ikut dan dukung Mas Ilham.”

“Iya aku ikut!”

“Oke, aku akan berusaha.. nanti kita akan sama-sama maju di garis depan.”

Sampai pada hari ini, 2 hari sebelum agenda aksi turun ke jalan. Mama masih belum tahu, karena aku belum menceritakan apapun. Mas Ilham berulang kali bilang jika jangan terlalu memaksakan. Tapi aku tak bisa terus diam. Kesempatanku hanya hari ini dan esok. Jika aku melewatkannya lagi… aku tak ada kesempatan, Sore ini aku akan bicara dengan Mama…

Setelah diantara pulang Rangga aku memasuki kamar Mama, dia terlihat begitu letih. Bangun pagi menyiapkan sarapan dan harus pergi ke pasar menjajakan dagangan untuk membiayai hidup kami sekeluarga. Aku menyentuh wajah Ibu, raut mukanya terlihat jelas ia kelelahan. Perasaan bersalah muncul, ada baiknya aku mendengar saran Mas Ilham dan Rangga. Tanpa sadar air mataku jatuh. Mama… Maafin Grace keras kepala, tapi…

“Kamu udah pulang nak.”

Suara Mama terdengar pelan, buru-buru aku menghapus air mataku. Aku bisa dimarahi jika ketahuan menangis seperti ini. “Iya… barusan nyampe Mah.”

“Ada apa?”

“Gakpapa Mah.. Grace cuma laper mau tanya Mama masak apa.”

“Beneran Cuma laper?”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku tidak lapar, bahkan tidak nafsu untuk makan.

“Ada apa? Kamu nangis tadi?”

“Mama kenapa sih. Grace kan cuma laper, terus tadi pas dijalan lupa kaca helm belom ditutup jadinya kelilipan.”

“Jangan bohong sama Mama, kamu berantem sama Rangga? Atau habis dimarahin Ilham?”

Ikatan seorang Ibu memang kuat, aku telah berusaha menyimpan perasaanku yang sebenarnya. Tapi Mama terlalu cerdas untuk membaca apa yang aku rasakan. Aku memeluk Mama, hangat… pelukan Mama memang hangat. Mengalahkan pelukan Rangga.

“Ma… Maafin Grace. Mama pasti gak akan ngizinin. Tapi hatiku gak bisa bohong…”

Aku menceritakan semua.. rencana untuk turun ke jalan. Wajah Mama tak memberikan respon apapun, aku tahu Ia pasti terkejut. Aku siap menerima penolakan, bagaimana pun restu Mama lah yang bisa membuatku pergi bersama Mas Ilham dan Rangga. Mama menundukan kepalanya. Suaranya terasa berat, Mama menangis? Astaga… selama hidupku aku terus mewanti-wanti hal ini terjadi. Tapi kenapa? Aku melukai orang yang sangat mencintaiku sebesar ini.

“Maafin Grace Ma…” aku menggenggam erat tangan Mama. Mama mendongakan kepalanya… air matanya berjatuhan. Tangan kananku meraih wajah Mama. Ku hapus dengan pelan, air mata yang telah menetes ke pipi Mama.

“Dari dulu.. Semenjak kamu masih dalam kandungan Mama. Papa selalu berdoa sambil menyetuh perut Mama. Papa selalu bilang, ia ingin punya anak yang pemberani. Selalu bersikap jujur, dan mandiri. Demo mungkin berbahaya… karena Mama takut kamu akan bernasib sama seperti Papa dulu…”

Mendengar itu, tak ada lagi harapanku untuk turun ke jalan. Aku juga tak ingin memaksa Mama, traumanya sampai saat ini belum hilang. “Grace ngerti Ma.. Maafin Grace.”

“Kamu gak perlu minta maaf nak. Kamu nggak salah, Kamu gak perlu minta maaf…”

Aku masih menatap Mama begitu dalam. Wajah Mama menampakan senyuman, “Mama.. mengizinkan kamu.. Mama sangat khawatir. Tapi sedari kecil Grace memang selalu menjadi wanita yang pemberani. Selalu bela anak tetangga yang dijahilin. Berani melawan anak-anak cowok di sekolah. Kalo Papa masih hidup, Papa pasti bangga. Kamu menjadi anak pemberani seperti yang diharapkan. Grace, kamu adalah anak Mama yang kuat! Hati-hati ya, jaga diri. Mama percaya kamu pasti bisa, Mama akan selalu mendukung Grace..”

Aku tak menyangka, Mama mengizinkanku. Aku memeluk Mama begitu erat, “Makasih Ma…. Grace sayang sama Mama.”

Garis Depan Part 2

Garis Depan | Part 2

Garis Depan | Part 2Garis Depan Part 2

Rangga masih duduk termenung di depan basecamp kami. Entah apa yang ia pikirkan, aku mendatanginya, aku ingin membujuknya untuk ikut ke pertemuan mahasiswa se-Semarang bersama Mas Ilham. “Rangga!”

“Iya?”

“Ikut Mas Ilham ke perkumpulan mahasiswa Semarang yuk!”

“Buat bahas gerakan Mahasiswa menolak pengesahan UU bermasalah lah. Yuk!”

Aku tak pernah menjumpai ekspresi Rangga yang seperti. Dia tampak ragu dan bimbang. Sebelumnya setiap ajakanku, dia selalu antusias dan tak pernah berpikir dua kali.

“Tapi aku ada janji dengan teman SMA malam ini.”

“Janjian jam berapa?”

“Jam 8!”

“Yaudah nanti kita pulang jam 7 aja. Yuk!”

“Gak bisa, soalnya aku juga perlu mandi sama siapain beberapa perlengkapan sebelum ketemu dia!”

“Oh.. yuaudah kalo kamu nggak bisa. Aku samperin Mas Ilham dulu ya, aku mau bilang kalau nggak jadi ikut.”

Rangga mengangguk, dia tak menemaniku menghampiri Mas Ilham. Dia masih duduk di tempatnya.

“Mas, aku gak jadi ikut. Rangga malam ini ada acara ternyata, maaf ya!”

Aku tidak enak dengan Mas Ilham, aku yang memaksa ikut tapi malah aku sendiri yang membatalkannya. Aku tak ingin memaksa Rangga untuk menuruti semua keinginanku, memang ada kalanya aku harus menghargai waktunya dengan orang lain.

“Iya gakpapa…”

“Maaf ya Mas.”

“Gakpapa santai aja.. Udah gak usah sedih, nanti kalau selesainya lebih cepet dari dugaan. Mas Ilham mampir ke rumah deh. Nanti Mas cerita semua ke kamu, senyum dong. Masak udah Mahasiswa masih aja manyun.”

Mendengar apa yang dikatakan Mas Ilham aku kembali tersenyum, dia memang sosok kakak yang sempurna untukku. Tidak di rumah atau di kampus dia selalu melindungi dan mengerti diriku. Aku kembali ke basecamp, Rangga termenung lagi.. lebih baik aku menanyakannya nanti.

Biasanya setiap kali aku memboncengnya, Ia selalu banyak bicara dan membuat guyonan. Tapi kali ini berbeda, ia hanya berbicara singkat dan seperlunya. “Udah sampai..”

“Makasih ya Rangga.”

“Iya sama-sama.. aku pulang ya salam buat Mama”

“Tunggu.. aku mau tanya sesuatu!”

“Apa?”

“Dari tadi kamu mikirin apa sih?”

“Kamu!” celetusnya.

“Rangga aku serius, kamu gak pernah sediam ini sebelumnya! jujur!”

“Gakpapa, aku cuma kepikiran gak enak aja sama Ilham dan kamu. Kamu pasti kecewa ya, maaf ya.”

“Kan aku udah bilang gakpapa, lagian aku juga gak mau temen kamu kecewa.”

Aku senang jika pikiran aneh-anehku ternyata salah. Rangga Rangga… kamu memang selalu seperti ini..

Di dalam kamar sambil memposisikan tubuh rebahan, aku membolak-balik setiap kertas tadi siang. Aku menggarisbawahi kalimat yang menurutku krusial. Aku menunggu kabar dari Mas Ilham. Apa dia sampai malam? Sudah jam 09.00 dia belum mengabari apa-apa.

Terdengar bunyi getar dari ponselku, sepertinya ini ada telpon masuk. Mas Ilham! Aku buru-buru mengangkatnya.

“Hah? Gerakan Mahasiswa? Demo depan Gedung DPRD?”

“Jangan kenceng-kenceng juga kali, ini udah malem. Nanti ganggu tetangga di sebelah rumah.”

“Iya, maaf soalnya aku kaget banget waktu Mas Ilham bilang demo. Jadi kapan mas?”

“Selama minggu depan tanggal 24.”

“Sebenarnya udah ada gerakan mahasiswa tapi masih dibilang kecil, tapi untuk tanggal 24 nanti itu gerakan seluruh mahasiswa Semarang.”

Aku tak menyangka jika akan terjadi pergerakan sebesar ini. Sebenarnya dalam hati aku ingin ikut, tapi apakah Mama ngizinin aku pergi? Aku berpikir keras. Sampai aku tak sadar Mas Ilham memanggilku beberapa kali.

“Grace ngalamun. Udah jam setengah 12 malem, aku pamit pulang ya. Capek mas, besok kuliah pagi juga..”

“Iya Mas, maaf ya. Aku malah minta Mas Ilham mampir ke rumah padahal besok diobrolin di kampus juga bisa.”

“Iya gakpapa, lagian Mas kesini mau numpang istirahat minta minum haus banget.”

“Kalo mas pulang jam segini gak takut? Apa nginep aja mas? Aku takut Mas Ilham kenapa-kenapa.”

“Udah gakpapa, mas naik motornya cepet kok 15 menit paling udah nyampe rumah.”

“Yaudah deh kalau gitu. Nanti kalau sampai rumah kabarin ya mas.”

“Iya, minta tolong bukain gerbangnya dong.”

Bayangan Mas Ilham berlalu, aku bergegas menutup pintu dan masuk kamar ku tatap langit-langit kamarku. Kalau aku ikut demo tanpa izin tentu aku akan kena marah, tapi jika aku bilang Mama pasti gak ngizinin. Demo di jalan memang mengingatkan Mama pada papah. Mei 1998 lalu, saat aku masih dalam kandungan, semua orang pasti tahu jika tahun tersebut Indonesia mengalami krisis moneter dan terjadi demo dan penjarahan besar-besaran di Jakarta.

Korban bukan lagi dari kalangan mahasiswa atau militer namun juga warga sipil. Papah menjadi salah satu korban penjarahan, aku tidak tahu pasti apa penyebabnya? Mama bilang saat itu sangat mengerikan dan Ia tak mau menceritakannya, Mama gak mau sedih teringat kepergian Papah. Oleh sebab itu, 1 tahun setelah kelahiranku. Mama putuskan kembali ke Semarang agar kondisi perekonomian kami lebih stabil, dan tinggal bersama nenek di sini.

Dan inilah alasanku memilih Hukum, karena aku sadar banyak rakyat yang harus dibela. Aku gak mau ada anak-anak yang kehilangan orangtuanya karena ketidakadilan. Aku tak ingin banyak orang yang merasakan hal sama sepertiku, ditinggal Papah sejak lahir. Melihat Papah hanya dari foto album, tak bisa merayakan hari Ayah di sekolah. Tanpa sadar air mataku menetes, astaga cengengnya aku…

Garis Depan | Part 1

Garis Depan | Part 1

Garis Depan | Part 1Garis Depan | Part 1

“Saya Akhiri pertemuan kali ini, tolong diingat lagi mendekati UAS proposal penelitiannya segera dikumpulkan 1 minggu sebelum UAS.”

Mendengarkan 3 sks mata kuliah memang menyebalkan. Apalagi jika dosen hanya membacakan presentasi tapi tidak mengajak mahasiswanya berdiskusi. Aku adalah salah satu mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Negeri Semarang. Sebagai mahasiswa aku memang dituntut untuk belajar di kampus, tapi juga aktif dalam kegiatan sosial.

Semua mahasiswa berhamburan beberapa orang pergi ke warung atau kantin kampus untuk makan siang. Aku? dibanding harus membuang waktu bermain atau bercanda gurau lebih baik aku datang ke basecamp sesuai mandat ketua organisasi jam 2 siang nanti akan ada pertemuan. Tapi seperti biasa, aku harus pergi ke minimarket untuk membeli beberapa jajanan untuk dimakan bersama. sudah menjadi kebiasaanku menyiapkan makanan yang dapat dikonsumsi bersama.

“Grace!! Tunggu”

Suara yang tak asing untuk ku dengar, aku menghentikan langkahku saat menuruni tangga. “Grace” terdengar lagi teriakan itu. Aku pun menoleh ke belakang. Rangga. Pacarku, dia mahasiswa fakultas hukum sama sepertiku, akan tetapi dia satu tingkat lebih tinggi dariku. Aku ingat kami bertemu dalam organisasi ini, aku menjadi junior dan dia senior.

Aku ingat tepat 1  tahun yang lalu, Semenjak acara bootcamp ditengah api unggun dan udara Bandungan yang dingin. Aku memanjatkan harapan bersama lilin yang kupengang sampai ku tak sadar jika hampir semua orang telah kembali ke vila. Rangga menghampiriku, memberikan selimut ia tak memarahiku karena belum masuk kamar. Rangga justru menemaniku, kami mengobrol hangat waktu itu.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak segera masuk kamar seperti yang lain?” tanyanya, aku tersenyum.

“Aku butuh waktu sedikit lebih lama untuk memanjatkan doa.”

“Apa yang kau doakan?”

“Bahagia dan keadilan.”

“Waw.. keren. Aku harap itu dikabulkan.”

Dan esoknya, sesampainya di kampus, aku menunggu jemputan di gerbang pintu masuk. Rangga datang menghampiriku, aku tak tahu maksudnya apa. Namun dengan tiba-tiba dia berkata “Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu masuk organisasi. Mau jadi pacarku? Aku beri waktu untuk kita saling mengenal dulu.”

Dan beginilah kami…

Hampir 8 bulan bersama. Aku sungguh berterima kasih dengan organisasi ini, mempertemukanku dengan orang yang bisa ku percayai dan ku cintai. “Kamu mau beli jajan apa aja?” tanya Rangga sambil membolak-balik beberapa merk kripik kentang yang di-display.

“Ini masih milih-milih. Kamu mau sesuatu?”

“Aku? kalo ada Nasi Padang instant disini aku mau.”

“Ya gak adalah rangga. Roti aja ya..”

“Udah gak usah, lihat kamu udah kenyang kok.”

“Gombal.”

Dia tersenyum padaku. Setiap kali gombalan alay-nya keluar aku selalu tertawa, meskipun berlebihan tapi aku terus tertawa karenanya. Suasana basecamp sudah cukup ramai, aku datang bersama Rangga dan tampak teman-teman yang lain menyambut kami dengan gembira. Terutama dengan kantor kresek yang aku bawa.

“Minta dong… kalian memang pasangan paling top deh. Langgeng terus ya!” ucap salah satu teman seorganisasi. Aku hanya menyikapinya dengan tertawa, sepertinya rapat hari ini belum dimulai. Apalagi Mas Ilham juga belum datang, mas Ilham adalah ketua organisasi ini. Ya, dia adalah Presiden BEM Fakultas Hukum, sekaligus kakak sepupuku dan teman seangkatan Rangga. Sekantong kresek jajanan telah habis dimakan anak-anak.

Mas Ilham belum juga datang, padahal dia adalah tipekal orang yang selalu tepat waktu. Aku mencoba mengirim pesan singkat ke Mas Ilham. Aku telah mengenal Mas Ilham sejak kecil, jika sudah seperti ini biasanya aku memiliki firasat buruk. “Grace kenapa?”

“Gakpapa, aku Cuma sedikit gelisah gak biasanya Mas Ilham telat. Aku takut ada masalah..”

“Grace tenang… Ilham adalah orang yang cerdas dan kuat. Gak akan ada masalah…”

Aku mencoba tersenyum di depan Rangga, meskipun yang ia katakan benar tapi tetap saja rasa kekhawatiranku terhadap kakak sepupuku begitu besar.

30 menit berlalu… Mas Ilham datang. Membawa berlembar-lembar kertas, dengan raut wajah yang sangat serius, sedikit marah dan gelisah. Aku yakin isi kertas itulah yang membuatnya seperti ini.

Rapat dimulai, aku mendengarkan dengan seksama topik rapat kali ini. Selain itu aku membaca isi kertas yang dibagikan Mas Ilham. Aku tau kenapa Mas Ilham marah, ya… pemerintah telah berulah. Ada beberapa point UU yang bermasalah dan cenderung menguntungkan para elite politik dan merugikan rakyat kecil. Bukan hanya aku yang merasakan gejolak kekecewaan terhadap para wakil rakyat, tapi seisi ruangan juga merasakan. “Aku akan mengkoordinir beberapa mahasiswa lainnya di kampus lain. Beberapa kampus di Jakarta sudah membuat aksi untuk menggugat pengesahan RUU ini…” Mas Ilham menghela nafas. Memandangi kami satu persatu, dialah pemimpin kami. Berusaha menggerakan kami sebagai mahasiswa yang mewakili hati rakyat.

“Ingat, kita harus menyuarakan ini semua demi kepentingan bersama. aku meminta kerja sama kalian, siapa lagi yang bisa memulainya jika bukan kita generasi muda. RUU ini bukan hanya masalah utama, masih ada masalah lain yang perlu kita sampaikan. Ingat kita adalah Mahasiswa! Harus bergerak demi kepentingan semua pihak. Ini adalah kepentingan seluruh rakyat Indonesia, jangan biarkan reformasi ini dikorupsi!

Closing statement dari Mas Ilham memang selalu membakar semangat siapapun yang mendengarnya. Aku menyimpan kertas yang dibagikan Mas Ilham dalam tasku. Seusai rapat Mas Ilham dan beberapa temannya pamit pergi untuk bertemu dengan mahasiswa Univesitas lain, untuk membahas topik pembicaraan yang sama. “Mas, aku boleh ikut?”

“Kamu yakin Grace? Nanti Mas Ilham sampai malem banget, Nanti kamu dimarahin Mama.”

“Gakpapa Mas, aku ajak Rangga nanti semisal udah jam 9 biar aku pulang, jadi Mas Ilham tetep bisa nerusin obralannya. Gimana?”

“Yaudah gakpapa.. udah sana bilang sama Rangga. Mas tunggu di parkiran ya.”

“Siap!”

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 4

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 4

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 4

Aku menoleh ke belakang, Kak Feril berdiri dan melangkah mendekatiku. “Biar aku mengantarmu..”Ibu Lebih Sayang Kakak Part 4

Sampai sekarang, aku belum merasakan ikatan batin yang dibilang orang-orang. Padahal saat ini kami sudah satu mobil, tak ada perbincangan apa pun. Kecuali saat dia menanyakan kemana alamat yang aku tuju. Suasana mobil terasa begitu hening, kak Feril fokus dengan kondisi jalanan yang ramai lancar. Sedangkan aku mengamati setiap sudut kota Bogor.

“Apa kamu ingin bertemu Ayah?”

Sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak aku percayai akan diucapkan oleh kak Feril. “Iya Boleh.”

Aku tidak berpikir sedikit pun kemana Ayah berada sekarang, bisa saja dia bekerja atau sedang bermain dengan temannya. Oh ya sebagai kesan pertama, alangkah lebih baik aku membawa sebuah bingkisan. Aku ingat dulu setiap hari Ibu selalu mengganti bunga mawar putih yang ada di ruang tamu jika sudah layu. Apa sebaknya aku membawakan itu?

“Kak. Boleh aku membeli bunga dulu sebelum bertemu?”

Kak Feril mengangguk. Aku hanya berdiam diri mengikuti kemana jalannya mobil ini pergi, sesuai dengan permintaanku. Kak Feril memberhentikan mobilnya di sebuah Florist. Aku meminta untuk dibuatkan satu buket cantik dengan 10 mawar putih. Tak perlu menunggu lama cukup 15 menit saja buket pesenanku telah jadi. Aku kembali memasuki mobil, aku harap Ayah akan menyukainya.

Tempat yang aku sendiri tak membayangkan, selama dalam mobil aku memang tak berekspetasi apapun. Namun aku mulai memahami apa yang disebut pertemuan, saat kaki ini menginjak daerah pemakanan. Kak Feril memintaku untuk mengikutinya, sepertinya aku mulai memahami. Kakak tak mengatakan apapun selama perjalanan. Dan… mungkin ini adalah jawabannya.

Kami berhenti di salah satu makam, dengan batu nisan yang tertulis nama Abdullah Mujib – meninggal 02 Februari 2016. “sudah 3 tahun” ucap kak Feril pelan. Aku mengarahkan pandanganku padanya, tampak matanya begitu sayu.. ia meneteskan air mata dan terus memandang makam tersebut. Aku tahu ini adalah makan Ayahku.

Aku kembali menandang makam Ayah begitu dalam. Ku taruh bunga mawar putih disamping namanya.

“Ayah meninggal karena apa?”

“Serangan jantung. Dia memang keras kepala, aku selalu melarang Ayah memakan berkolestrol tinggi. Tapi, dia selalu seperti anak-anak usia 5 tahun yang bandel.”

Aku tak tahu, aku tidak bisa merasakan kesedihan apapun. Rasanya air mataku sudah kering. Atau karena aku tak bisa merasakan kesedihan sama seperti kak Feril. Jujur aku sendiri juga sedikit kecewa ketika seumur hidupku tak bisa menemui Ayah kandungku sendiri. Tapi kenapa? Tak ada setetes air mataku yang keluar karenanya.

“Setelah kepergian Ayah, aku kira.. Aku adalah anak yang paling sengsara di dunia. Kepergian Ayah sebulan sebelum pernikahanku, aku telah melihat segalanya… pakaian, foto, gedung dan segalanya. Sejak kecil Ayah selalu berharap jika ia selalu menemani momen penting dalam hidupku. Dan pernikahan adalah momen berharga bagiku.. tapi Ayah melewatkannya.”

Kami berdua saling berpandangan, jujur aku bingung harus bersikap apa. Tapi aku merasakan, rasa kehilangan dari seorang anak untuk Ayahnya. Aku merasakan kesedihan seorang saudara perempuan. Matanya sangat mirip denganku, terutama saat kami sama-sama sedang menangis.

“Maafkan aku. Harusnya aku tak melakukan ini padamu, batinku masih berperang. Aku tak bisa menjanjikan apapun…”

“Maksudnya Kak Feril menolak ajakanku ke Malang?”

Dia mengangguk. Meskipun tadi aku berkata tak apa jika aku lebih menyukai cara lain dibandingkan harus mengajak kak Feril pulang. Tapi, sejujurnya ini bukanlah harapanku. Aku takut tante kecewa, aku takut ibu tidak segera sembuh. Aku takut untuk pulang kembali… Tenanglah Keyla!!! Tenangkan dirimu!

Aku menarik napas panjang. Aku menaruh kekecewaan berat kepada kak Feril dan seluruh keluarganya. Kalau semisal mengutuk bukanlah perbuatan dosa, jujur aku ingin mengutuknya, ibunya dan Ayah! Mereka pikir siapa yang paling sengsara saat ini?

“Baiklah… bukan salah kakak juga. Ini adalah salahku terlalu percaya dengan cerita tante Yuni yang mengatakan jika aku memiliki Kakak. Penolakan kakak membuatku sadar, Kamu memang bukan kakak kandungku! Dan kita memang tidak akan pernah bersaudara.”

“Maafkan aku.. tolong pahami kondisiku”

“Bagaimana aku bisa memahamimu, kamu saja tidak memperlakukan sebaliknya padaku..” Aku tahu ini kasar, tapi aku sudah lelah. Satu hari layaknya satu tahun “…Ternyata pergi ke Bogor adalah ide terbodoh yang aku lakukan untuk kesembuhan ibu. Aku harap ini adalah pertemuan kita yang terakhir.”

Aku melangkah pergi, aku mempercepat langkahku. Aku tak peduli kak Feril mengejarku, sebenarnya tante Yuni menyuruhku untuk menginap 1 atau 2 malam. Namun, menurutku aku tidak bisa terlalu lama di sini meski hanya satu malam.

Malam tepat pukul 19.30 Bandara Soekarno-Hatta. Aku mempesiapkan diri untuk pulang kembali ke Malang. Aku terpaksa me-reschedule jadwal penerbangan ke Malang. Aku telah menelpon tante Yuni, aku mengatakan padanya jika malam ini aku akan pulang. Kaki ku begitu lemas… padahal aku hanya menangis seharian tapi kenapa kakiku yang lelah?

Pengumuman penerbangan Armada Citilink Jakarta-Malang 15 menit lagi terdengar cukup keras. Tanpa pikir panjang aku melangkah menuju terminal 2, rinduku terhadap Ibu sungguh sangat besar sekarang.

“Key…”

Seperti ada yang memanggilku? Atau hanya firasatku saja, namaku kan pasaran jadi pasti itu ditujukan untuk orang lain.

“Keyla… Keyla tunggu!!”

Aku yakin orang yang dimaksud adalah diriku. Aku berbalik. Terlihat, kak Feril yang berlari ke arahku dan disusulkan oleh suaminya. Aku tak menyangka jika ia akan kemari, padahal tadi siang aku berharap itu adalah pertemuan terakhir. Tapi saat ini aku merasa senang, kehadiran kak keyla sepertinya akan  membawa kabar bahagia untukku.

Tanpa meminta izin, Ia langsung memelukku. Begitu erat, hangat.. itulah yang aku rasakan sekarang. “Maafin kakak… Kakak memang orang yang tak berani bertanggung jawab.”

Ia melepaskan pelukannya, aku hanya terkejut dan tak bisa berkata apapun.

“Maafin Kakak terlalu egois, untung saja kakak nggak terlambat. Selamanya kakak bakal menyesal jika malam ini kehilangan kamu.”

“Maksudnya kak?”

“Ibu sudah bercerita semuanya..” ucap kak Feril sambil terisak dalam tangisnya “… Kakak akan ikut kamu ke Malang. Kakak sadar kehilangan Ayah adalah kepahitan dalam hidup kakak, dan kakak tak ingin merasakan itu lagi. Kakak tak ingin kehilangan kamu ataupun Ibu.”

Malam itu, pesawat yang seharusnya aku naiki telah terbang ke langit kota Malang. Namun aku masih berdiam di bandara, aku mendekap erat Kakakku. Mungkin ini yang dibilang ikatan batin. Ya, kami sama-sama terluka, sama-sama mengalami hal yang rumit, dan sama-sama dibohongi. Namun bukan berarti kami harus saling membenci. Tidak percaya mungkin hal yang wajar awalnya, namun jika kita mengutarakan perasaan satu sama lain. Mungkin kita akan lebih memahami satu sama lain.

Mungkin benar, aku harus terluka lebih dalam untuk menggapai hal yang besar. Aku telah terluka oleh kebohongan Ibu, namun untuk apa berkutip pada masa lalu? Jika pada akhirnya aku menemukan ikatan yang baru, Kakak kandungku.

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 3

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 3

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 3

Pelahan mataku terbuka, aku berada dalam ruangan yang tak ku kenali. Tampak begitu samar penglihatanku, aku beberapa kali mengedipkan mata sama semua terlihat jelas. Di depanku ada sosok laki-laki yang aku temui saat berada di rumah kak Feril. Dia sedang menggendong bayi, dan mengarahkan pandangannya padaku.Ibu Lebih Sayang Kakak Part 3

“Sudah mendingan?” ucap laki-laki itu.

Aku mengangguk, dalam hatiku menebak sepertinya aku berada di rumah kak Feril. Laki-laki itu membawakan segelas air di tangan kanannya. Dan menggendong bayinya di tangan yang satunya.

“Diminum dulu, sekarang kamu ada di kamar tamu kami. Kalau sudah mendingan mari ke ruang makan di sana sudah ada Feril dan Ibu.”

Aku tahu maksud laki-laki ini baik. Mungkin sekarang kak Feril dan Ibunya sedang memperdebatkan kedatanganku. Aku pun meminta untuk diantar ke ruang makan, jujur aku sedikit takut. Aku harap apa yang aku lakukan tidak akan menyakiti kak Feril dan Ibunya. Meskipun kedatanganku saja sudah membuat konflik besar di rumah ini. Jujur saja dalam hatiku aku tak ingin peduli siapa kakak kandungku sendiri. Namun, kesembuhan Ibu adalah hal yang terus aku pikirkan.

Suasana ruang makan yang biasanya begitu hangat oleh percakapan satu sama lain, kali ini terasa begitu dingin dan mencekam. Terlihat kak Feril dan Ibunya saling menatap dengan pandangan penuh amarah. Laki-laki itu memintaku duduk di samping Ibu Kak Feril. Suasana kali ini masih dingin tak ada siapa pun yang memulai pembicaraan. Hingga laki-laki yang menjadi suami kak Feril ikut bergabung dengan kami dan memulai obrolan.

“Tadi nama kamu Keyla ya? Sebelum memulai pembicaraan ada baiknya kita makan dulu. Kasian kamu pasti tidak punya tenaga setelah pingsan.”

“Nggak usah mas. Aku nggakpapa..”

Aku bukanlah orang bodoh, mana mungkin aku bisa nafsu makan dalam situasi serumit ini. Apalagi melihat ekspresi kedua wanita yang ada di dekatku. Mereka yang meperlihatkan ketidaknyamanannya atas kehadiranku. Mana mungkin aku bisa bersantai makan di tempat yang aku sendiri tidak nyaman.

“Kita tidak akan memulai pembicaraan sampai Keyla makan!”

Dengan nada yang tegas namun tidak agresif laki-laki itu menegaskan perilaku kak Feril dan Ibunya. Akhirnya kami makan dalam suasana yang sangat canggung. Baik aku maupun kak Feril dan Ibunya sama-sama kehilangan nafsu makan. Mungkin tak lebih dari 3 sendok nasi yang masuk dalam perut kami.

30 menit setelah makan… suasana kembali mendingin. Aku tak tahu bagaimana lagi, semua yang terjadi saat ini di luar prediksiku.

“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan jika aku ini kakak kandungmu?”

Jujur aku sendiri juga belum menyimpulkan jika aku adik kandungnya. Kejadian semalam tentang apa yang dibicarakan tante Yuni masih belum bisa aku percaya.

“Aku tidak tahu.. aku sendiri juga tidak bisa mempercayainya. Selama perjalanan aku selalu berpikir untuk menyangkal apa yang dikatakan tante kepadaku mengenai kak Feril. Bahkan untuk memanggilmu kakak saja aku belum mampu, hatiku, pikiranku bahkan tubuhku semua menolak…”

Aku mulai menjatuhkan air mata. Wajah kak Feril masih dipenuhi emosi, aku tak peduli jika dinilai ini adalah air mata buaya. Mungkin jika dia berada di posisiku dia akan paham betapa sulit menempuh perjalanan hanya untuk menemukan ikatan darah yang sempat hilang.

“…kemarahan yang kak Feril rasakan berada di luar rencanaku. Kalau ada cara lain untuk menyembuhkan Ibu selain menemui aku yakin aku akan pilih itu. Aku tahu kakak tidak bisa menerima kenyataan, aku sama.”

“Memang bagaimana kondisi ibumu sekarang?”

“Setelah pengangkatan tumor di otaknya, sebagian ingatannya hilang. Bahkan ingatannya membawa ibu ke 23 tahun lalu, sebelum aku lahir. Ibu hanya mengingat kak Feril dan Ayah, namun ia melupakanku. Dan kata dokter salah satu cara agar Ibu segera sembuh adalah membawa kak Feril dan Ayah.”

Suasana ruang makan berubah, terdengar isakan dari Ibu kak Feril. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Jujur rasanya aku ingin membencinya seumur hidupku, wanita yang berani merenggut kebahagiaan hidup. Namun aku tahu marah pada wanita itu tak akan membantuku, kak Feril akan menjadi sulit mempercayaiku. “Tante.. anda saja banyak waktuku di Bogor. Tentu aku akan melakukan apa pun untuk membalaskan dendam Ibu. Aku ingin seumur hidupku membenci tante, tapi aku tahu itu tidak akan membuat Ibu cepat sembuh..”

Aku menyeka air mataku yang menetes.

“…Aku tahu, tante mungkin sangat bersimpati padaku. Jika aku tak bisa meyakinkan kakak ku sendiri, bisakah tante mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak berharap jika aku berhasil membawa kak Feril, justru aku berharap aku sedang bermimpi. Aku bermimpi semalaman dan di pagi hari aku melihat wajah ibuku yang tersenyum padaku.”

Suasana ruangan larut dalam emosiku. Tak ada seorang pun yang menyelaku. Semua terdiam, jujur aku ingin mengungkapkan semuanya.

“Tante adalah wanita, pasti merasakan bagaimana menjadi seorang Ibu. Tante juga pernah menjadi seorang anak bukan? Harusnya tante paham jika apa yang lakukan ini…”

“Maaf..” satu kata yang mungkin tak akan pernah bisa menebus semua yang terjadi.

“Maaf Tan?..” aku mencoba menahan emosiku, aku yakin siapa pun yang berada dalam posisiku tak akan pernah bisa menerima itu selamanya. Aku memandangi semua orang yang ada di ruang tamu ini, Kak Feril hanya memalingkan pandangannya. Sementara suami kak Feril terlihat bingung harus berkomentar apa.

“Selama 23 tahun, aku percaya dalam kebohongan Ibuku sendiri jika Ayahku meninggal saat Ibu masih mengandung. Selama 23 tahun aku percaya jika aku adalah anak tunggal, dan hanya aku satu-satunya orang yang ia sayangi. Andai saja kebenaran ini aku  ketahui lebih awal, mungkin kita seperti kakak-adik yang sangat akrab. Anda aku tahu ini, mungkin sedari dulu aku menemui Ayah, aku akan memintanya mengambilkan raportku di Sekolah…”

Aku menghela napas begitu dalam, aku tak peduli lagi dengan air mata yang terus menerus menetes.

“Aku tahu kak Feril marah atau kecewa dengan kehadiranku. Tapi cobalah memikirkan bagaimana posisiku. 23 tahun tanpa Ayah, 23 tahun hidup dalam kebohongan. Menurutku itu sudah cukup menyakitkan, dan aku tak ingin menambah luka lagi… Saat harus melalui sisa hidup tanpa diingat oleh ibuku sendiri.”

Tanpa pikir panjang, aku beranjak dari tempat duduk. Aku rasa cukup sampai di sini perjuanganku membawa kak Feril. Aku tak ingin terlalu mengulur waktu lagi. “Aku tak memiliki banyak waktu, jika memang aku tak berhasil membawa kak Feril. Aku yakin tenaga medis rumah sakit akan menemukan cara lain. Aku pergi sekarang.”

Tanpa berpikir dua kali aku melangkah menuju pintu keluar. Aku sudah tidak peduli dengan ambisiku sesampainya di Bogor, semua hanya sia-sia.

“Tunggu biar aku antar.”

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 2

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 2

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 2

Bogor. Sebuah kota yang masuk dalam wilayah Jabodetabek, aku tak pernah berada di kota ini. Dulu waktu SMP ibu tak mengizinkanku untuk mengikuti studi tour ke Jakarta. Dia bilang Jakarta terlalu jauh, dan aku nanti kecapekan. Anehnya aku dulu menyetujui itu, Ibu benar-benar melindungiku dari kawasan kota-kota besar di wilayah barat kota Jawa.Ibu Lebih Sayang Kakak Part 2

Andai aku tahu hal ini lebih awal, mungkin dulu aku membrontak dan tetap mengikuti studi tour ke Jakarta. Bandara Soekarno-hatta begitu ramai, banyak orang yang menyambut kedatangan namun ada pula yang harus melakukan perpisahan. Sedangkan aku? aku sendiri bingung, apakah ini pergi atau pulang ke rumah ayahku sendiri.

Tante berpesan padaku, untuk menaiki taksi online kemana pun aku pergi. Dia melarangku untuk menaiki angkutan umum baik itu bus atau kereta listrik. Tak peduli semahal apapun biayanya, yang penting aku selamat dan dapat bertemu kakak dan Ayahku…

Perjalanan dari bandara sampai Bogor cukup panjang. Hampir sekitar 1,5 jam aku berada di dalam taksi. Akhirnya aku telah sampai di sebuah kompleks perumahan di daerah Ciomas, Sukamakmur. Menurutku ini kompleks perumahan yang cukup elite. Tante memberikan alamat rumah Ayah yang ia ketahui 5 tahun lalu. Aku harap dia masih disini… Apakah Ayah nanti akan mengenaliku? Atau justru berdalih dan mengatakan jika aku bukan anaknya?

Langkahku semakin getir. Ku lalui dengan kakiku kompleks perumahan yang belum pernah aku kunjungi, jujur ini cukup berbeda dengan rumah yang ada di Malang. Sebenarnya driver taksi tadi menawarkan untuk mengantarku sampai ke rumah yang dituju. Namun aku menolaknya, aku perlu beradaptasi dengan lingkungan ini. Aku juga perlu menyiapkan diri untuk mengajakan hal yang sampai sekarang tidak bisa aku percaya.

Rumah yang ku tuju, Rumah Blok D No. 28 sudah di depanku. Terlihat sangat sepi, semoga aku berhasil menemui kakak dan Ayah kandungku. Tanganku terus gemetar… bahkan mengetuk pintu rasanya begitu sulit. Sering kali aku mengalami perang batin. Pikiranku mengatakan untuk pergi saja, namun hatiku.. mengatakan aku harus tetap melakukannya.

Aku menarik nafas yang panjang, ku siapkan suaraku yang sepertinya terasa mulai serak. Aku menghapus air mataku yang setetes jatuh. Aku harus mampu melalui ini!

“Permisi..”

TOK TOK TOK…

“Permi…”

“Iya, cari siapa mbak?” di depanku. Sosok laki-laki muda dengan tubuh yang tegap dan tinggi. Apakah ini kakakku?

“Feril..ucapku sedikit pelan. Pemuda itu mengizinkan aku masuk ke dalam rumahnya. Pria itu memintaku duduk di ruang tamu. Dari jauh tampak sosok wanita yang sedang menggendong seorang bayi. Dalam hatiku aku bertanya dimana kakak kandungku, dan dimana Ayah?

Wanita yang ku lihat dari kejauhan mendekat ke ruang tamu. Bayi yang tadi digendongnya diserahkan pada si pria tinggi tegap itu. Aku tak tahu apakah ini ikatan batin atau tebakanku saja. Wanita itu adalah Feril.

“Iya mbak ada apa cari saya? Sebelumnya Mbak siapa ya?”

“Kak Feril, ini aku Keyla….” suaraku mulai terasa berat. Rasanya aku tidak sanggup untuk mengatakan sapa identitasku yang sebenarnya. “…Aku adik kandung Kak Feril.”

Layaknya sebuah petir yang sedang menyambar rumah ini. Terlihat ekspresi Kak Feril begitu sangat terkejut. Mungkin aku terlalu frontal mengatakan ini. Tapi aku tak memiliki cara lain.

“Aku tahu aku lancang… 23 tahun kita berpisah. Aku juga baru mengetahuinya kemarin, bukan Cuma kakak yang berat tapi aku juga. Tapi aku jauh-jauh ke sini cuma ingin ngajak Kak Feril dan Ayah pulang!”

Air mataku begitu pecah.. aku tak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Mungkin ini berat untuk Kak Feril, tapi begitu juga buatku!

“Maaf mbak. Sepertinya mbak salah orang kalau mau menipu. Saya ini orang berpendirikan mbak, gak mungkin percaya dengan tipu daya klasik seperti itu.”

“Kak aku tahu kakak kaget, aku juga sama.. tapi tolong dengerin aku.”

“Keluar mbak. KELUAR!!!!”

Aku dikeluarkan secara kasar oleh kakakku sendiri, aku tahu saat ini dia rapuh sepertiku. Aku tak tahu bagaimana caranya meyakinkan jika apa yang ku katakan adalah sebuah kenyataan. Aku terus menangis di depan halaman rumahnya. Aku tahu beberapa orang sekitar melihatku begitu melas. Seribu alasan diotakku mengatakan sebaiknya pulang ke Malang. Tapi.. aku tidak ingin selamanya Ibu melupakanku.

Aku masih terus menangis, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tak boleh menyerah sekarang. Tapi aku tak tahu lagi harus bagaimana sekarang?? Aku kehabisan akal, tenagaku semakin terkuras. Tubuhku terasa sangat gemetar, rasanya tenagaku pelahan habis. Sebaiknya aku ke penginapan sekarang. Aku harus mencari cara agar bisa membawa kakak dan Ayah pulang.

Aku menguatkan kakiku untuk berdiri, tapi tanpa sadar aku terjatuh. Mataku memberat. Tenagaku benar-benar habis sekarang…

Ibu Lebih Sayang Kakak Part 1

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 1

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 1

Pagi ini, dengan tas yang dipenuhi dengan pakaian aku memasuki angkot. Untung saja isi angkot ini cukup sepi, jadi tak membuatku kerepotan untuk membawa tas besar. Sebenanya langkahku cukup sulit untuk pergi ke tempat ini. Setiap pagi aku harus mondar mandir antara rumah dan tempat yang aku tuju sekarang. Hatiku sungguh berat badanku pelahan juga semakin lelah, namun di sana ada satu orang yang teramat berharga bagiku. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, dia telah berkorban banyak untukku. Sekarang adalah giliranku…Ibu Lebih Sayang Kakak Part 1

“Mbak sudah sampai”

Lamunanku pecah saat pak supir mengatakan jika aku telah sampai tujuanku. Rumah Sakit Permata Bunda, langkahku selalu berat untuk menyelusuri lorong di sini. Suara tangisan bayi, orang dewasa dan anak-anak terdengar. Ya kepergian sosok yang dicintai memang berat apalagi jika sudah terikan oleh darah. Tak sadar jika sudah berada di depan pintu ruang merak 3. Ruangan dimana orang yang paling ku sayangi terbaring lemah di dalam.

“Bu,” ucapku begitu lirih.. semenjak operasi pengankatan tumor di otak beberapa waktu lalu, Ibu menjadi sering melamun. Bukan hanya itu sekarang daya ingatnya menjadi menurun.

Aku merasa semakin sedih, karena Ibu sangat jarang memanggil namaku. Ia lebih sering memanggil nama tante setiap kali meminta bantuan. Apakah Ibu mulai melupakanku? Padahal aku adalah anak satu-satunya. Bagaimana dia bisa lupa, padahal sudah 23 tahun ini kami bersama.

Aku segera menghapus air mataku, dan kembali mendekati Ibu. “Bu.. makan bubur dulu”

“Yuni.. Yuni.. Yuni..”

“Tante Yuni lagi ke luar Bu, sementara Ibu sama Keyla dulu ya.”

“Yuni..” ucap ibu sambil dengan nada yang merengek. Kalau sudah begini, biarlah tante Yuni yang menyuapi Ibu. Aku harus mencari tante Yuni secepatnya.

Dengan sedikit berlari aku mencari sosok tante Yuni, dan tampak dari kejauhan dirinya tampak begitu lemas. Aku tahu tante Yuni amat lelah, aku ingin menggantikannya meskipun sehari saja. Namun sikap Ibu yang mengharuskan aku tersingkir. Tanpa pikir panjang.. aku menemui tante Yuni.

“Tante, Ibu nyariin tante”

“Ah Keyla udah nyampe sini ternyata”

“Wajah tante seperti habis menangis”

“Gakpapa kok, ini cuma karena kurang tidur aja”

“Maaf ya tante..”

“Nggak papa, namanya juga ujian dari Tuhan. Keyla harus kuat, kalo Keyla kuat Tante juga sama”

Aku merasa sangat bersalah dengan tante Yuni. Tak seharusnya dia menghabiskan waktu selama beberapa hari hanya untuk di rumah sakit. Bukan hanya suami dan anak tante saja yang kurang terurus namun diri tante sendiri sering diabaikan. Aku sungguh ingin meringankan tante dan Ibu!

Tak terasa aku tertidur di samping Ibu, tangannya masih saja ku genggam. Ku amati kembali wajah Ibu yang teduh. Rambutnya telah habis dicukur setelah operasi. Aku berharap besok ibu segera pulang ke rumah. Rumah sakit adalah tempat yang menyebalkan. Berulang kali aku mendengar tangisan disini. aku tak ingin melakukan hal yang serupa dengan mereka. “rill… rill…” suara Ibu terdengar samar aku mencoba mendekatkan wajahku berharap lebih jelas lagi apa yang dikatakan Ibu.

“Keyla Boleh tante bicara?”

Aku membalikan badanku, ku tatap wajah tante. Kali ini ekspresinya sangat berbeda daripada biasanya. Suasana malam begitu dingin, apalagi setelah hujan seperti ini. Aku dan tante Yuni berjalan di depan ruangan Ibu. Suasana rumah sakit sungguh sepi. wajah tante begitu sangat gelisah, sungguh aku sangat penasaran apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan?

“Sebagian ingatan Ibu kamu hilang, dan itu bisa jadi permanen. Makanya sampai sekarang Ibu tidak pernah menyebut namamu…”

Aku mendengarkan baik-baik penjelasan dari tante Yuni. Jujur dada terasa sesak, penjelasan tante Yuni begitu menyakitkan. Bagaimana bisa Ibu melupakanku, anak satu-satunya yang ia kasihi selama ini.

“Tapi ibu hanya ingat satu nama anaknya.. Feril kakakmu.”

“Siapa? Kakak? Aku nggak paham tante! Ibu bilang aku anak tunggal, dan tidak memiliki saudara.”

“Saat sedang mengandungmu. Ayah kamu ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, tentu ibu kamu begitu sakit hati dan memutuskan untuk berpisah. Ayah kamu memilih wanita selingkuhannya dan mengajak Feril saat masih berusia 3 tahun…” suara tante Yuni semakin serak. Nadanya terasa begitu berat. Aku terus mendengarkan, meski rasanya seluruh tubuhku gemetar. Sebuah fakta yang ditutupi selama hidupku ini. Ayah yang dibilang Ibu telah meninggal ternyata meninggalkan Ibu dan aku.

“Selama ini Ibu kamu memendam lukanya sendiri. Dia tetap menyimpan dendam pada Ayah kamu, mungkin sulit baginya untuk memaafkan. Ia berharap bisa melupakan Ayahmu, tapi semakin lama kebencian Ibumu terhadap Ayah semakin tubuh. Sulit baginya untuk melupakan.”

“Tapi kenapa Ibu gak pernah cerita ke aku?”

“Tante juga nggak tahu. Ibumu mempunyai hati yang kaku, sulit bagi tante untuk menasehatinya.”

“Akibat operasi ingatan Ibu kembali pada saat masih bersama Ayah. Jadi bisakah kamu membawa Feril dan Ayahmu kemari? Semakin Ibumu mengingat sumber lukanya, maka mudah baginya mengingat hal yang lain termasuk kamu..”

Pernyataan tante Yuni semalam, bagaimakan sebuah mimpi buruk bagiku. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan jika Tuhan tidak adil!! Tapi aku tau itu semua sia-sia. Tuhan akan semakin membenciku dan Ibu justru akan semakin melupakanku. Aku sudah lelah, benar-benar lelah. Semalaman aku tak bisa tidur, aku terus menangis sambil menatap Ibu. Ibu, kenapa harus menanggung kebohongan seperti ini sendirian? Kenapa tak sedari dulu Ibu jujur padaku, aku tak akan marah. Justru aku rela membagi luka denganmu.

Tante Yuni menyiapkan seluruh perlengkapanku dalam ransel. Beberapa hari ini aku akan berpisah dengan Ibu. Aku merasa berat untuk meninggalkannya meski hanya sehari, namun akan lebih berat lagi jika dalam sisa hidup Ibu tak mengingat aku anaknya sendiri.

Aku harus menempuh perjalanan dari Batu Malang menuju Bogor. Semua tiket dan penginapan telah disiapkan tante Yuni.

Ku pandang lagi wajah Ibu yang begitu lelap dalam tidur. Aku menghapus air mataku, aku tak boleh terlalu lemah. Aku harus menyimpan tenagaku. Ku tatap tante Yuni, dia tersenyum kepadaku. Aku tahu tante adalah satu-satunya orang yang bisa aku percayai untuk menjaga Ibu.

Tante merentangkan tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan. Pelukan tante Yuni adalah pelukan terbaik setelah Ibu. “Jaga Ibu baik-baik ya tante.”

“Pasti.” Ucapnya sambil mengecup keningku.