Posts

Melankolonia

Melankoloni

Melankoloni

Melankolonia

“Jangan pernah merasa segan denganku”

Aku tertawa, sangat keras. Sampai semua orang yang ada di kiri dan kanan memperhatikan.

“Sebaiknya jangan katakan hal itu pada wanita yang kurang ajar sepertiku.”

Kamu menegup teh mu dengan sangat sopan dan elegan. Sejujurnya dari semua hal yang ku lihat sekarang, kamu selayaknya pria lembut yang sudah lama ku idamkan.

“Aku tak pernah menganggapmu kurang ajar.”

“Hah… Banyak teman wanitaku bahkan Ayahku mengatakan jika aku terlalu kurang ajar. Bahkan tak tahu malu kepada siapapun.”

“Apa yang membuat orang-orang menganggapmu kurang ajar?”

Aku berpikir sejenak, ku palingkan wajahku ke langit-langit kafe kecil ini. Kemudian aku tersadar dengan posisi dudukku yang berbeda denganmu. Kamu tampak sangat sopan menyilangkan kedua kaki dan menaruh tanganmu pada ujung lutut, dengan jemari yang saring mengikat. Sedangkan aku? Mengangkat kedua kaki dan meluruskannya sampai memenuhi sofa.

“Seperti yang kau lihat, aku tak bersikap elegan. Aku wanita dengan suara yang menyakitkan telinga orang-orang. Bukan hanya itu saja, mereka bilang Aku sangat membangkang dan sering melawan mereka.”

“Tapi dimataku kamu hidup dengan pendirian kuat. Sayangnya temanmu, Ayahmu, dan siapapun yang ada di sekitarmu menolak itu.”

“Omong kosong…”

“Aku sudah banyak sekali bertemu orang. Sampai akhirnya aku hafal dengan karakter-karakter manusia.”
“Jadi kamu mau sombong sebagai penulis kondang di tingkat Nasional?”

Giliranmu yang tertawa terbahak-bahak. Meja kita kini menjadi sorotan khalayak umum.

“Aku punya kemampuan untuk membedakan mana pecundang, mana pembangkang, dan mana pejuang.”

Kita tertawa bersama, suasana kafe kecil ini menjadi sangat ramai karena ulah kita berdua. Sekian lama tak bertemu denganmu aku menjadi banyak belajar. Tapi sayangnya obrolan kita harus terhenti sejenak. Orang-orang mulai terganggu dengan suara tawamu dan tawaku.

Kita memutuskan untuk keluar sejenak menikmati hiruk pikuk kota yang padat dengan mengandalkan kaki sendiri. Tanganku mendekap ke depan tepat di bawah dada, sedangkan tanganmu bergelantung bergerak sejalan dengan langkah kaki.

“Kapan terakhir kali kita seperti ini?”

“Saat kita kelas XII SMA.”

Aku masih ingat jelas. Pulang sekolah adalah momen yang menyenangkan untuk aku dan kamu. Saat yang lain memilih berboncengan dengan sepeda motor yang mahal. Kita justru berjalan berdua, dan beriringan namun tak perpegangan tangan sama persis dengan saat ini. Kenangan itu masih melekat jelas.

“Kamu tidak pernah berubah, sedikit pun. Seorang pria pemalu, dengan gaya yang elegan dan sangat sopan. Yah.. setidaknya itulah penilaian gadis urakan sepertiku ini.”

“Kamu juga, saat orang lain memanggilku banci.”

Kita terus berjalan hingga akhirnya di depan ada sebuah taman lengkap dengan tempat duduk yang bisa dikita singgahi berdua. Taman tengah kota di siang hari memang sangat sepi, maklum saja sejuknya pohon yang rindang kalah dengan polusi udara dan sinar matahari yang menyengat.

“Kamu tahu aku tak pernah memiliki kenangan indah di kota ini, karena ucapan mereka.”

Aku mendengarkanmu dengan seksama. Ya, kamu mengulang lagi kisah sedih di masa kecil dan remajamu. Padahal kamu harus tahu, meskipun 5 tahun kita tak bertemu. Aku masih ingat jelas ceritanya. Ejekan banci yang paling kamu benci, dijadikan kacung teman-teman laki-laki, bahkan jadi korban kekerasan fisik dan finansial. Kamu dikalahkan oleh orang yang superpower. Hingga datanglah aku, gadis berandalan yang tak pernah taat dengan aturan.

“Kamu harus bersyukur. Jika bukan karena hal buruk itu, kamu tak akan punya cerita indah yang bisa dijadikan buku.”

“Iya, aku tahu. Tapi bukan berarti cerita burukku sebagai bahan konsumsi. Aku hanya merepresentasikan perasaanku dan balas dendamku kala itu dengan cara yang amat sangat positif.”

“Tapi kamu juga harus bersyukur. Jika bukan karena aku, tak akan ada rasa berani dalam dirimu bukan?” Ucapku yang sedikit menyombongkan diri.

Kamu tertawa dan mengiyakan. Bahkan dia bilang, suatu hari dia akan menulis satu buku khusus yang nantinya akan ditujukan padaku. Ia ingin memprasastikan diriku secara abadi.

“Kenapa harus aku? Sedangkan di sekitarmu sekarang banyak orang hebat yang lebih menjual untuk dijadikan sebuah karya fiksi.”

“Kamu tak pernah kalah hebat dimataku.”

“Iya kamu benar, aku adalah orang yang sangat bisa menyombongkan diri.”

“Iya, dari dulu. Coba sebutkan lagi, apa saja yang bisa kamu sombongkan kali ini.”

Aku melihat langit lagi, tapi berbeda dengan langit-langi di kafe tadi. Yang ku lihat sekarang jauh lebih biru, jauh lebih panas, jauh lebih cerah, dan jauh lebih baik. Entah kenapa langit ini seakan berbisik lelucon ke telingaku, padahal lelucon itu mungkin suara dari hati.

“Aku pintar, Aku jauh lebih bebas, Aku punya sedikit teman namun mereka sangat sangat mengenalku dengan baik, karena Aku seperti langit biru sore ini.”

Aku terdiam, ku amati langit itu dengan pelan dan seksama. Ya sepertinya aku melihat refleksi wajahku di sana. Aku melihatnya dengan jelas, hidung dan mataku tergambar di awan yang sangat tipis.

“Iya langit biru sekarang. Meskipun nanti akan ada mendung atau berubah menjadi petang, itu hanyalah perubahan. Karena Aku tetaplah langit biru yang cerah. Yang luas, dan tinggi.”

Kamu tak merespon apapun, akhirnya suasana kita menjadi hening. Sangat jauh berbeda dari sebelumnya.

“Aku mencintaimu, sejak dulu. Sejak SMA, dan masih mencintaimu sampai sekarang.”

Aku merasa terkejut. Tapi tidak terlalu, masih pada umumnya.

“Aku mencintaimu, sungguh.”

Kamu mengulanginya, tapi aku tidak merespon apa-apa. Bahkan aku memandangmu, saat kamu ucapkan kalimat itu kedua kali.

“Harus berapa kali ku katakan, sampai kamu menganggap ucapanku itu serius?”

Aku tak tahu pasti. Sebelumnya kamu memang sudah mengatakan ini. Saat lulus SMA, semester kedua kuliah, saat aku wisuda, dan sekarang.

“Apa alasanmu tidak pernah berhenti mencintaiku?”

“Karena sayangku hanya kamu. Seluruh hatiku telah kamu bawa, aku memang tak menyediakan tempat lain lagi. Hatiku sudah penuh dengan dirimu. Namamu, senyummu, sedihmu, lukamu, dan mimpimu.”

“Kamu tahu, aku adalah orang yang sangat sombong sekali. Bahkan aku bisa menjadi orang yang 3x lipat lebih sombong darimu. Meskipun yang ku miliki hanya sepasang kaus kaki.”

“Aku tahu, kamu adalah orang yang sangat meninggi. Makanya kamu selalu melihat langit dimana pun kita bersama. Tapi itu bukan alasanku untuk berhenti mencintaimu. Saat kamu meninggikan diri, maka aku ikhlas akan merendahkan hatiku. Biarlah kamu jadi langit di setiap pagi hingga dini hari.”

Kali ini aku memandang wajahmu. Ku perhatikan baik-baik gerak bibirmu yang tipis untuk ukuran seorang pria.

“Namun, aku akan tetap menjadi tanah yang bisa terus melihatmu meskipun berjarak jauh.”

“Aku tak mau menjadi orang yang superpower dalam hidupmu. Berpasangan denganku sepertinya bukan solusi yang tepat untukmu.”

“Aku tahu, kamu punya banyak alasan. Dan yang kamu katakan tadi adalah alasan lama yang sudah kamu sampaikan di waktu awal aku menyatakan ini.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Aku tak bisa menjamin apapun, aku hanya mampu mendampingi dan mengajakmu ke sana kemari.”

“Tapi bagaimana jika citramu sebagai penulis yang paling melankolis di negeri ini, dirusak oleh seorang wanita yang anarkis seperti aku ini?”

“Itu mudah, aku tinggal merendahkan diriku. Mungkin yang kamu sebut penulis terkenal itu adalah kata yang sangat tinggi. Aku sudah merasa cukup bila denganmu.”

Aku masih berpikir lagi. Jika tadi terus ku dongakkan kepalaku ke atas, kini aku justru menunduk, dan melihat kaki kita berdua.

“Mari kita merendahkan hati, dan saling membuka diri.” Kamu mendongakkan kepalaku lagi. Memintaku untuk menatapmu.

“Jangan pernah memintaku untuk menetap meskipun itu sekali saja. Karena bagiku permintaan itu akan berlaku selamanya.”

Kamu tersenyum.

“Tetaplah tinggal denganku, kali ini dan selamanya sampai nanti.”

Mungkin tak ada kisah yang menarik di antara kita berdua. Maklum saja, ini hanya sekilas cerita sederhana yang tak layak untuk dikonsumsi orang-orang. Bagiku kamu tetaplah penulis kondang meskipun setelah kamu umumkan hubungan kita. Banyak pihak baik dari fans maupun menejemenmu yang berantakan dan tidak terima, dan sekarang biarlah kisah kita berdua yang diabadikan cukup di hati, tak perlu media lain lagi.

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Bandara Kala Itu

Semuanya terjadi dengan baik-baik saja dan sesuai rencanaku. Hingga suatu pagi kabar buruk datang dan menghancurkan semua. Aku tak pernah menyangka jika nanti, bahkan suatu hari entah sekarang atau ratusan tahun lagi kamu seperti ini. Sebuah kabar buruk tentang kecelakaan pesawat pukul 01.29 Jakarta.

Bandara Kala Itu

Sumber photo : Photo by Ross Parmly on Unsplash

Rasanya baru semalam aku melepas pelukmu di bandara. Rasa hangatnya bahkan masih terasa hingga lekat bagaikan selimut sutra. Aku masih tak percaya sungguh…

“Yang sabar ya, kami belum tahu kondisinya. Kita doakan yang terbaik.” Ucap orangtuamu padaku, sesaat ku dengar kabar hilangnya pesawatmu. Tanpa pikir panjang aku melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumahmu. Di sana sama kacau balaunya. Ibu menangis keras, kakakmu juga, bahkan Ayahmu yang punya watak keras. Semuanya bersedih tak tahu bagaimana kondisimu saat itu. Aku bingung, dibandingkan Aku mungkin ibumu lah yang paling hancur. Tapi justru Ibumu yang sangat menguatkan ku pagi ini.

“Maafkan Aku tante..”

Tak ada kata lain yang bisa ku sampaikan selain maaf. Aku sangat menyesal, dan membenci diriku. Tepat satu minggu lalu, sebelum akhirnya kamu putuskan untuk pergi ke Bandara.

“Aku belum siap buat LDR sama kamu.” Tegasmu, ya kala itu kamu masih bucin-bucinnya.

“Heii, kamu ke Malaysia kan buat belajar bukan untuk apa-apa. Lagian LDR juga bukan masalah besar buat kita. Asal kita saling percaya.” Kalimatku yang berusaha menenangkanmu

“Tapi, Ka…”

“Don, kamu punya beasiswa untuk kuliah gratis di luar negeri karena pencapaian-pencapaianmu selama ini. Kira-kira mana lagi cewek mana yang merasa dirinya nggak beruntung bisa mendampingimu?”

“Tapi…”

“Udah jangan tapi, tapi. Pergilah dan kita akan tetap sayang dan saling percaya.”

Inilah salahku. Mengizinkanmu untuk pergi jauh, bahkan sekarang sangat jauh. Sangat, dan sangat jauh, tak ada lagi kesempatan untuk menemuimu.

Satu hari setelah kabar itu, aku seharian di rumahmu mandi, makan, bahkan tidur di kamarmu. Ibumu sangat baik, dia selalu menganggapku seperti anaknya sendiri, iya seperti kamu hanya bukan versi laki-laki.

Satu minggu berlalu, Aku sempatkan untuk mengunjungimu setiap malam. Orangtuaku mulai khawatir karena aku tak kunjung pulang ke rumah selepas acara tahlil. Hampir setiap malam Ayah dan Ibuku menemaniku berkunjung ke rumahmu.

Satu bulan, Aku masih mengunjungi rumahmu. Setidaknya seminggu sekali. Keluargamu memang belum mendapatkan kabar baik, apapun yang melekat dalam dirimu, pakaianmu, barang-barangmu, bahkan kacamatamu tak ditemukan oleh Tim SAR. Keluargamu berpasrah mereka bilang ini musibah dari Tuhan. Perlahan mereka akan belajar ikhlas, dan memintaku untuk melakukan hal yang sama.

Enam bulan berlalu, aku mulai jarang berkunjung. Ibumu selalu menanyakan kabarku setiap hari, setiap pagi memberikan doa-doa rohani agar aku selalu baik. Aku masih bingung kenapa beliau masih saja baik denganku, padahal kita bukan lagi siapa-siapa dan Aku juga sudah sangat jarang ke sana.

1 tahun tepat hari dimana kabar duka itu terdengar di telingaku. Kemarin ibumu memberi kabar jika ada acara tahlil satu tahun dirumah, ibumu memintaku untuk datang. Tapi aku memilih untuk menghindar.

Fotomu dalam bingkai di waktu kita masih berseragam sekolah, terus aku letakan di atas laci samping kasurku. Meskipun belum ada kabar baik tentangmu, entah kenapa aku selalu percaya kamu akan ada. Kamu akan datang. Dan aku sangat percaya itu.

Aku menyalakan TV di kamar, ada sebuah tayangan iklan yang lagi-lagi mengingatkanku tentangmu. Ya, tayangan iklan konser coldplay di Kuala Lumpur. Iya, itu adalah band favorit kita berdua. Setiap pulang sekolah dan selesai belajar kita habiskan waktu dengan gitar dan bernyanyi bersama. Hampir semua kunci lagu coldplay kamu hafalkan dalam waktu yang sebentar. Bahkan aku juga masih ingat, sewaktu acara pensi sekolah kita berdua berduet menyanyikan lagu “Fix You” dari lagu itu kita dinobatkan sebagai raja & ratu.

Lucunya, meskipun sudah lama. Semua hal tentangmu masih sangat melekat dan terasa erat. Lagu favoritmu hampir setiap hari aku dengar entah di radio, tempat perbelanjaan, atau beberapa orang-orang di kampusku yang menyanyikannya saat tengah berkumpul. Bukan hanya lagu yang terus melekat, film, hingga baju dengan gayamu juga sangat sering aku jumpai. Aku heran, dan aku benci. Semua ada, semua terdengar, semua terlihat, apapun yang kita pernah lakukan ada di sekitar mataku sekarang. Tapi, apa yang sangat aku butuhkan justru menghilang. Kamu, iya benar tak ada lagi yang bisa ku butuhkan selain itu.

Aku menangis tersedu. Di rumah sedang sangat sepi, melihat semua ini. Rasanya aku sangat sendiri. Terdengar egois memang, saat semua orang termasuk orangtuaku mengkhawatirkanku. Aku justru merasa sangat sengsara sendirian. “Maaf..” tak ada lagi kata yang bisa ku ucapkan setiap hari selain itu. Aku meraih bingkai foto kita, ku peluk hangat, tapi tak sehangat sata kita berada di bandara.

Aku menangis dalam lelap. Selamanya, sampai kapanpun kamu akan terus ada. Dalam hatiku, dalam ruang yang tak bisa digantikan oleh siapapun.

Aku menangis, dimimpiku pun masih terus menangis.

“Hei..”

Pria dengan kacamata yang sangat akrab ku tatap, muncul secara tiba-tiba. Membangunkanku perlahan dengan elusan tangan yang hangat. Ia menata poniku yang berantakan, dan menghapus air mataku.

Aku beranjak.

“Don..”

“Apa kabar?”

“Don..”

Kamu tersenyum, dan kita duduk bersebelahan di kasurku. Aku bingung bagaimana kamu bisa datang ke kamar? Apakah yang dikatakan Ayah dan Ibuku sewaktu pergi adalah menjemputmu kembali?

Aku memelukmu, hangat. Masih hangat seperti saat kita berada di bandara kala itu.

“Aku sangat sedih, aku sangat tidak baik saat kamu pergi.”

“Aku tahu, tapi kamu tahu sebelumnya aku sangat baik. Tapi melihatmu yang seperti ini, aku tak bisa sebaik itu.”

“Kamu harus tahu, selama satu tahun ini, orang selalu memintaku untuk ikhlasin kamu. Tapi Aku nggak bisa. Aku nggak mau. Kamu sangat aku butuhkan di sini. Bagaimana Aku bisa ikhlas kalau tanpamu aja Aku nggak bisa apa-apa.”

Aku menangis, semua aku tumpahkan kala itu. “Aku mau kamu tetap ada, selamanya.”

“Ka, kamu masih marah? Bicaramu seakan menantang semesta.”

“Aku nggak marah. Mana bisa aku marah sama kamu?”

“Bukan denganku, tapi dengan semesta.”

“Aku tidak pernah marah dengan semesta. Aku… Aku hanya… Aku hanya ingin kamu ada.”

Kamu tersenyum dengan sangat tulus. Aku belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya.

“Aku memang selalu ada Ka. Di hatimu, kamu bahkan menyisakan tempat untukku.”

Aku merasa kamu terlihat berbeda. Cara bicaramu tak pernah sedewasa ini, kamu tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Kamu sudah sangat berubah. Dulu kamu sangat ceria, bersuara paling keras di antara teman-teman lainnya. Bahkan tak malu untuk menari-nari sendiri di belakangku. Tapi sekarang, kamu terlihat surut. Rambutmu, wajahmu, pakaianmu, ini bukanlah kamu.”

“Kamu harus tahu satu tahun yang aku lalui selama ini, tanpa kamu.”

Kamu merapikan rambutku. Menyisirnya dengan tanganmu sendiri. Aku tahu kamu adalah orang yang sangat humoris, namun tak pernah romantis. Kamu juga mengisap pipiku, setiap air mata yang jatuh kamu usap terus. Aku bisa bayangkan betapa berantakannya aku sekarang.

“Tentu aku tahu. Jika tidak tahu mana mungkin aku kemari. Ka, kamu tahu aku sangat suka kalau kamu berpakaian rapi. Kamu tahu, kalau kamu adalah wanita yang pernah aku miliki. Kamu juga tahu, Aku tak bisa disini.”

Aku menangis, ada apa ini? Kenapa kita justru seperti ini?

“Ka, Aku sangat sayang kamu. Bahkan lebih sayang dari perasaanmu untukku. Aku nggak mau kamu kayak gini. Benar kata Ibuku, mulailah belajar ikhlas.”

“Itu sulit untukku.”

“Untuk semua orang tentu ikhlas sangat sulit. Tapi aku percaya, kamu pasti bisa tanpa peduli berapa lama.”

“Don, jangan minta Aku buat lupain kamu.”

“Tidak akan pernah aku meminta itu. Aku hanya memintamu untuk mengikhlaskanku.”

Aku semakin menangis, kali ini kamu tak mengusap pipiku lagi.

“Waktuku sudah habis Ka. Selamat bangun, dan aku ingin kamu menjalani hari yang lebih baik dari ini.”

Kamu pergi ke arah pintu kamarku. Aku mengejarmu, namun saat ku buka pintu kamarku Aku terbangun dari tidur. Aku menangis, dan terdengar oleh ibu. Aku masih menangis, sekarang aku hanya ingin satu hal. Kamu baik-baik saja di sana.

 

Mengubah Patah Hati Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah  Hati Jadi Cerita Fiksi

Mengubah Patah Hati jadi cerita fiski

Halo semua, sudah lama Aku tak menulis di blog ini. rasanya sudah sangat berdebu sekali bukan? Haha, Nah sesuai judul hari ini aku akan membahas tentang cara mengubah Patah hati menjadi cerita fiksi. Sebenarnya bukan cuma Aku yang melakukan hal ini, mungkin sudah banyak orang yang menjadikan pengalaman pribadi mereka menjadi sebuah karya entah dalam bentuk puisi, lagu, film, buku ataupun lainnya.

Memang karya yang dibuat yang bersumber dari perasaan kita berarti memiliki makna tersendiri. Beberapa orang yang pernah aku ajak bicara soal ini mungkin bilang “Siapa sih cowok yang bikin kamu Patah hati?” Haha, sebenarnya banyak. Eh, enggak. Aneh sih, menurutku wujud dari patah hati bukan hanya tentang hubungan asmara saja. Menurutku Patah hati tak selamanya tentang pacar, gebetan, atau hal yang berkaitan dengan cinta. Apa yang dirasakan hati kita tentu bukan hanya cinta semata, ada banyak perasaan yang kita rasakan baik itu positif maupun negatif. Menurutku pribadi Patah hati bisa berupa bentuk-bentuk emosional yang negatif, seperti perasaan nelangsa, dilematik, gelisah, dan lain-lain.

Patah hati nggak selamanya, diputusin pasangan bukan? Masak kita harus nunggu putus atau ditolak dulu baru bikin karya?

Lanjut ke pembahasan mengubah Patah hati jadi cerita Fiksi. Ya sebenarnya, Aku bukan penulis kondang yang kalian kenal. Aku hanya seorang penulis amatiran yang terus menyusun kata sampai sekarang. Dulu awalnya menulis adalah kebutuhanku untuk berekspresi dan berimajinasi. Aku sering bilang dengan orang terdekat khususnya, Aku memulai menulis sejak kelas 4 SD. Awalnya dari buku bacaan yang ada di LKS dan kartun yang Aku tonton. Jujur kedua hal itu sangat membantuku dalam mengolah imajinasi cerita. Dulu aku sangat malu dan setiap hasil tulisan selalu ku simpan sendiri. Perlahan mulai muncul rasa percaya diri, Aku mulai menulis di media sosial, SMS ke temenku, dan sampai akhirnya membuat buku serta menulis blog.

Seperti yang kita tahu, saat diri sedang Patah hati tentu yang ada hanyalah rasa marah, kesal, sedih, dan emosi-emosi negatif lainnya. Tentu hal itu membuat kita merasa nggak nyaman. Kalau Aku, merasa sangat sesak, Aku butuh media untuk mengungkapkannya. Secara psikologis, selain bercerita ke teman atau orang terpercaya. Menulis dan meluapkan segala perasaan kita adalah salah satu cara untuk mengurangi emosi negatif, ya bisa dibilang healing.

Sayangnya, beberapa orang justru meluapkan perasaan Patah hatinya dengan cara yang kurang tepat dan merugikan. Misalnya saja, pola hidup jadi berubah, jarang makan, dan gak bisa tidur. It’s okay, Patah hati emang sakit, tapi jangan ditambah dong dengan menyiksa diri. Cobalah untuk meluapkan rasa Patah hatimu dalam sebuah tulisan. Kamu bisa menulis dari satu kalimat dulu, Atau kamu menulis sesuatu yang seakan-akan kamu bercerita dengan orang lain. Tulislah apapun yang membuatmu tenang.

Jika kamu malu kalau suatu hari nanti, akan ada orang yang bakal baca tulisan itu. Kamu bisa membuat versi cerita orang lain. Buatlah seakan-akan kisah hidupmu sebuah cerita fiksi. Ubah nama setiap pelaku, tempat, dan waktu. Hal itu tentu tak akan disadari teman-temanmu. Selain itu, kisah hidupmu pribadi yang kamu samarkan bisa menjadi cerita fiksi yang menarik.

Untuk mencapai sebuah buku memang tak mudah, butuh waktu, konsistensi dan usaha yang cukup besar. Mulailah karya dari cerita sederhana, dari 1 paragraf, 1 halaman, 1 lembar hingga akhirnya menjadi 1 buku!

Nah, semoga ceritaku bisa membantu kalian dalam mengatasi segala bentuk patah hati. Cara terbaik untuk berterima kasih pada rasa patah hati adalah dengan menjadikannya karya.

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sehari setelah itu, Aku kembali ke tempat kemarin. Namun tak ada siapa-siapa, hanya ada orang biasa. Sepertinya acara itu hanya 1 hari saja. Aku kembali berganti tempat, Aku pergi pusat perbelanjaan. Namun sama saja. Aku tak menemukan badut anjing.

Aku berharap bisa bertemu mereka lagi. Tolong semesta, engkau yang mungkin paling memahami pertemukan Aku dengan mereka. Merekalah yang bisa membuatku lega. Tolonglah.

“Hei!”

Seseorang memegang tanganku. Aku menoleh, pria dengan postur tubuh tinggi. Aku cukup takut, Aku belum pernah bertemu orang asing. Apalagi sampai disentuh seperti ini. Aku terjatuh, sedikit ketakutan. Jujur ini bukan berlebihan, tapi cobalah pahami. Aku menyembunyikan wajahku, Aku sangat takut. Aku menangis.

“Maaf, tolong tenang. Maaf.”

Pria itu mendekatiku, namun tak lagi menyentuh. Aku masih dalam posisi yang sama. Ada dua orang wanita yang mendekatiku, membantuku untuk berdiri. Kedua wanita itu menenangkanku. Sedangkan pria yang tadi memegang tanganku berdiri dari kejauhan.

Aku sedikit lebih tenang.

“Kamu nggak papa? Perlu kamu bantu carikan taksi untuk pulang?”

Aku menggeleng. Aku sudah lebih baik.

“Tapi kamu benar udah baik?” Tanya wanita yang satu lagi.

Aku mengangguk. Aku yakin sudah baik, meskipun sebenarnya tidak benar-benar baik.

Mereka menanyakan beberapa hal tapi Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Pria yang tadi memegang tanganku mendekat. Sebenarnya masih ada rasa takut, tapi dua wanita yang menolongku berkata tidak apa.

“Maaf Aku mengagetkanmu. Aku tak bermaksud jahat.”

Aku masih diam.

“Eee… Aku udah lihat kamu sebelumnya di acara kemarin, acara salam hangat TEMAN DENGAR. Aku orang yang ada di dalam kostum badut anjing. Maaf karena nggak sempet kenalan kemarin.”

Aku mengerti sekarang. Aku tersenyum sedikit namun belum juga berbicara.

“Aku Okan, mereka berdua juga dari Teman Dengar.”

“Aku Yura.” Ucapku pelan.

Okan mengulurkan tangannya, Aku meraih tangan itu.

Semenjak pertemuan itu. Aku aktif berkegiatan di komunitas Teman Dengar. Setiap minggu, ada kegiatan berkumpul. Entah hanya sekadar bermain, membuat acara, atau mengajar anak-anak jalanan. Aku senang dengan komunitas ini. Mereka benar-benar teman yang mau mendengarkan cerita satu sama lain.

Kini kegiatanku juga lebih berwarna, buku dari psikiaterku sudah mulai penuh. Setiap hari ada 3 hal yang Aku tulis, dan setiap minggu Aku menceritakan kegiatanku bersama Teman Dengar. Jika buku ini habis, sepertinya Aku perlu membeli buku yang baru. Ya, Aku merasa lebih hidup sekarang.

“Yura, semenjak kamu gabung. Kamu selalu jadi pendengar kami. Aku harap akan ada kesempatan bagi kami untuk mendengarkan cerita darimu. Kamu bisa cerita, kapanpun kamu butuh.”

Aku terdiam sebentar. Benar, selain sedikit berbicara, Aku juga belum pernah bercerita tentang diriku padahal sudah 2 bulan lebih Aku bergabung.

“Maaf…” Aku sedikit kikuk. Tapi teman-temanku menggenggam tanganku, Aku merasakan kepedulian dari mereka. Ya, Aku harus mulai percaya pada mereka.

“Maaf, karena Aku baru cerita sekarang. Tapi Aku harap kalian tetap bersamaku. Maksudku tetap mengizinkanku di sini. Aku akan cerita, sekitar 2 tahun lalu…”

Ku ceritakan semua, mulai dari tragedi 2 tahun lalu, kegiatanku sehari-hari, hubunganku dengan tante Vanya, hingga ku ceritakan jika masih melakukan pengobatan psikologis. Raut wajah mereka berubah, semua tampak sedih dan iba padaku. Namun tidak dengan Okan, di justru tersenyum.

“Kamu hebat. Selama 2 tahun kamu berjuang sendirian. Aku tahu pasti rasanya kesepian dan putus asa. Aku tak bisa membayangkan jika berada di posisimu saat ini. Aku salut padamu, ketika beberapa orang menyerah, kamu tetap bertahan dan berjuang. Meskipun butuh waktu lama, tapi kamu harus tahu Tuhan tak akan meninggalkan umatnya sendirian. Aku, atau Teman Dengar mungkin gak bisa ngasih solusi, tapi kami mau menemanimu melewati semua ini. Jangan pernah merasa sendiri. Masih ada kami, masih ada orang yang sayang kamu, masih ada Semesta yang selalu bersamamu.”

Aku meneteskan air mata. Tangisanku tak terbentung lagi, Aku merasa benar-benar egois selama ini. Aku kira, Aku adalah orang yang paling menyedihkan di dunia. Hidupku terasa hampa dan mati rasa. Tak seharusnya Aku begitu, Aku terlalu larut dalam duka, hingga lupa dengan mereka, dengan tante Vanya, dengan siapapun yang berada di sekitarku. Aku bahkan lupa dengan Pencipta-ku. Aku sungguh egois.

Aku menangis tak terhenti. Suasana sore ini menjadi larut. Semua orang di ruangan mulai menemaniku menangis, namun ada beberapa yang tidak. Mereka justru memberikan senyuman yang tulus dan pelukan hangat.

Aku pulang cukup malam. Lampu di rumah sudah menyala, ini pasti tante Vanya. Aku masuk ke dalam, terlihat tante Vanya sedang membereskan dapur. Ia bahkan mengisi kulkas dengan buah dan sayur. Aku berjalan mendekat. Dari belakang ku peluk tubuhnya yang kurus. Semenjak mengurusku sepertinya tante Vanya jauh lebih kurus.

“Maafin Yura.”

Tante Vanya terkejut dengan sikapku. Ia juga terkejut mendengar kata-kataku.

“Maafin Yura, yang selalu ngerepotin tante. Maafin Yura karena terlalu berburuk sangka kalau tante bakal ngambil rumah ini. Maafin Yura, karena membuat tante terluka selama ini.”

Tante Vanya membalikan badannya. Air mataku menetes lagi. Tante menghapus air mataku, Aku melepaskan pelukan. Aku sungguh bersalah terhadapnya. Harusnya Aku tahu, bukan hanya Aku yang kehilangan Ayah dan Ibu, tapi tante Juga. Mana bisa ia ikhlaskan kepergian Ayah, satu-satunya kakak yang ia punya.

“Akhirnya Tante mendengar kamu bicara.”

“Yura sayang sama tante. Maafin Yura, karena terlalu egois. Yura lupa, tante pasti terluka karena sikap Yura, tante pasti juga terluka karena kepergian Ayah. Maafin Yura, karena selama ini Yura kira cuma Yura yang menderita, dan nggak ada satu orang pun yang akan memahaminya. Yura lupa kalo Yura punya tante Vanya. Orang yang sangat bisa diandalkan.” Aku tersenyum namun juga menangis.

Tante Vanya memelukku. Malam itu. Hari itu, rasanya hatiku terbuka lebar. Hatiku terasa lebih lapang. Aku bahagia sekarang. Jika Ayah dan Ibu melihat mungkin ia akan senang.

 

Hari ini, warna dihidupku yang dulunya hanya monokrom telah berubah

Aku mulai melukis lagi, ku ambil warna yang lebih cerah

Monokrom hanyalah dasar lukisan

Akan ku sampaikan kepada Semesta

Terima kasih telah menemaniku yang kesepian

Terima kasih telah memberikan jalan dan kanvas kosong

Aku akan melukis lagi dengan warna-warna pelangi

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #2

Siang yang terik. Sangat cerah, banyak orang beraktivitas di luar. Sedangkan Aku masih menatap jendela kamar. Persediaan makanku sudah habis, saatnya pergi berbelanja. HP-ku bergetar, itu tante Vanya lagi, kenapa belum cukup bertemu kemarin sampai akhirnya menelpon seperti ini?

“Yura, Tante telah mengirim uang bulanan ke rekening kamu. Simpan uang tabungan dari asuransi Ayah dan Ibu. Mulai sekarang biar tante yang mencukupi kebutuhan hidupmu.”

Aku hanya diam. Aku tak merasa senang, atau terhina. Aku hanya merasa hampa.

“Yura. Sampai kapan kamu berdiam diri seperti ini? Sudah 2 tahun, kamu tidak berbicara denganku. Tolonglah, tolong sekali, satu kata saja. Katakan sesuatu, jangan sampai tante lupa bagaimana suara kamu.”

Aku mematikan telponnya. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali berbicara dengan tante Vanya. Aku hanya berteriak saat sesi konseling, dan kalimatnya pun sama. Jika bukan karena teriakan itu mungkin Aku sudah lupa bagaimana suaraku, atau lupa bagaimana caranya berbicara.

Mi instant, makanan kaleng, snack, minuman botol, dan soda. Hanya itu kebutuhan dapurku. Aku tak pernah menyetok sayuran, buah, nasi, atau bahan makanan yang sehat lainnya. Selepas belanja, Aku selalu langsung pulang ke rumah.

Seseorang yang berkostum hewan anjing memberikannya padaku. Aku menerima brosur itu, hanya sekadar iseng saja. “KOMUNITAS TEMAN DENGAR” Ku simpan kertas itu dalam tas belanja.

Hari demi hari Aku lalui dengan sama. Tidur di sore hari, terjaga di malam hari, makan, dan melamun. Aku tak pernah keluar dari rumah. Jika keluar pun itu untuk kebutuhan hidup dan berobat.

“Yura. Sudah 2 tahun proses konseling kita. Perubahan kamu belum signfikan, bagaimana jika kita ubah metodenya.”

Aku diam, tak merespon apapun. Aku tentu akan mengikuti seluruh arahan psikiater, karena Aku juga ingin sembuh dari luka batin ini.

“Aku berikan buku. Mulai sekarang cobalah tulis hal-hal sederhana yang kamu sukai setiap hari. Lalu, kamu juga perlu menceritakan apa yang terjadi dalam satu minggu.” Aku menerima buku itu. Aku tak ada pilihan lain, selain mengikuti arahan psikiaterku.

Aku pulang dengan berjalan kaki. Hatiku, pikiranku, dan pandanganku kosong. Hampa sekali rasanya, Aku lupa bagaimana perasaan bahagia, bagaimana perasaan sedih, dan bagaimana perasaan marah. Hatiku sungguh mati rasa.

Aku terhenti, seseorang memegang tanganku. Aku terkejut dan sedikit takut. Aku menoleh berharap itu bukan orang jahat. Seseorang dengan kostum anjing yang sama. kami bertemu lagi, Aku jadi ingat brosur yang diberikan beberapa waktu lalu. Orang itu melakukan gerakan, mengisyaratkan ekspresi gembira. Dia juga menggerakkannya ke arah kiri. Memintaku untuk bergabung. Aku masih terdiam, kostum itu menggambarkan anjing yang ceria. Apalagi dengan gerakan yang menggemaskan, Aku tersenyum sedikit. Aku masih berdiri, orang itu masih menungguku. Ku putuskan untuk melangkah. Aku menuruti ajakannya.

Sebuah taman terbuka, di sana sudah disediakan kursi dan panggung. Aku duduk di bangku paling belakang. Suasana tidak terlalu ramai. Hanya ada 10 orang di bangku penonton. Iringan musik memeriahkan suasana. Aku menikmatinya, tak lama segerombolan anak-anak kecil datang. Mereka seperti anak-anak yang biasa menjual koran di jalan. Mereka tertawa, tampak menggemaskan. Beberapa panitia membagikan permen kepada kami. Terlihat anak-anak itu sangat senang saat mendapatkan permen lolipop yang berwarna-warni. Bahkan di antara mereka meminta 2 permen.

“Jangan cul, gigi kamu nanti tambah ompong.” Celetuk salah satu anak yang usianya tampak paling tua.

Anak itu malah merengek dan meminta 2 permen. Namun teman-temannya tak membolehkan. Aku tersenyum lagi. Aku melihat permenku, Aku tidak makan makanan manis. Ku berikan permen itu pada anak kecil yang merengek.

Anak itu tampak cerita dan berterima kasih kepadaku. Bahkan teman-temannya juga ikut berterima kasih. Aku membalas mereka dengan senyuman. Aneh dalam 1 hari, Aku sudah 3 kali tersenyum. Acara dimulai, sangat menyenangkan. Anak-anak juga tampak lebih ceria, mereka tampak bersemangat saat sesi game berlangsung. Bahkan mereka sangat antusias untuk bermain game dan memenangkan hadiahnya.

Aku tersenyum lagi, sangat indah. Tiba-tiba air mataku mengalir. Aku tak tahu perasaan apa ini, tangisan ini sangat jauh berbeda saat Aku melakukan sesi konseling. Tangisan ini membuat hatiku lega. Aku berusaha menahan air mata. Suasana sore ini sangat cerah, tak mungkin ku hancurkan dengan air mata. Aku terus mengusap air mataku, dan terus tersenyum. Perasaan apa ini? Apa semesta ingin menyampaikan sesuatu padaku?

“Ini Kak, permen.”

Aku mengangkat kepalaku. Anak kecil yang tadi ku beri permen, justru mengembalikan permennya padaku. “Jangan sedih. Aku kembalikan permen Kakak. Belom Aku gigit kok.”

“Terima kasih.” Tanpa sadar Aku mengucapkan kalimat itu.

Anak kecil itu, kembali bersama teman-temannya mereka bersiap untuk pergi. Sempat mereka melambaikan tangan padaku. Bahkan terdengar “Dada kakak cantik!”

Tepat pukul 1 pagi Aku masih terjaga. Aku merasa sedikit lega karena kejadian tadi sore. Buku yang diberikan dokter masih ku pegang. Aku ingin menulis sesuatu sekarang. Aku mungkin sudah lama tak berbicara, namun bukan berarti Aku lupa bagaimana cara menyusun kata.

Tanggal : 1 januari

Hal yang Aku syukuri hari ini:

  • Bertemu badut anjing lucu
  • Tersenyum lebih dari 3 kali sehari
  • Dikasih permen sama anak kecil
  • Dipanggil kakak cantik
Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Aku masih belum tidur, padahal ini sudah pukul 2 pagi. Mataku sudah bekedip dari tadi, tapi rasa ngantuk belum juga ku rasa. Sudah 1 tahun ini Aku mengalami Insomia, sejujurnya Aku ingin tidur nyenyak setiap malam. Aku beranjak dari kasur. Bagi sebagian orang kasur adalah tempat yang nyaman, namun tidak bagiku. Terkadang Aku takut dengan tidur malam, entah aneh sekali. Aku selalu cemas setiap kali tidur, mungkin ini adalah alasan mengapa aku insomia.

Aku mengarah ke dapur, aku memanaskan susu kotak. Ya, kata orang susu hangat akan mengantarkan kita pada lelap.

TANG…

Sebuah benda logam jatuh. Ini mengagetkan, Aku menjadi sedikit takut. Tak mungkin itu hantu, Aku sudah tinggal di rumah ini sejak kecil. Hal-hal ganjil seperti itu tak pernah ku temui selama ini. Aku memberanikan diri untuk mengambil benda jatuh itu. Sejujurnya sekaligus mencari tahu siapa atau apa yang menjatuhkannya. Aku menyalakan lampu, kosong, tidak ada siapa-siapa.

BRAKKKK

Sebuah benda tumpul, seperti ongkat kayu menghantam kepalaku. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Tak sempat Aku melihat sang pelaku, yang ku ingat hanyalah sosok tinggi berpakaian hitam.

Ya, kejadian semalam seperti mimpi buruk bagiku. Rumahku kerampokan, Aku mengalami luka lebam di kepala. Aku kira pencuri itu hanya mengambil barang berharga di rumah saja. Namun sepertinya tidak cukup. Pencuri itu juga mengambil nyawa Ayah dan Ibu.

“AA!!!!” teriakku begitu keras.

Meskipun 2 tahun berlalu, kejadian perampokan itu masih terasa seperti beberapa hari yang lalu. “AAA… Enggak jangan, tolong.” Aku selalu berteriak, meminta tolong, dan menangis.

“Tenang Yura. Tenang, di sini kamu aman.”

Aku masih berteriak dan menangis, meskipun psikiaterku mengatakan tidak apa-apa. Tapi tetap saja Aku ketakutan. Insomiaku semakin parah, bahkan Aku pernah 2 hari tak tidur sekali.

“Ini obatnya.”

Aku menghela napas. Bukan karena lega, tapi karena Aku merasa kenapa hidupku selalu penuh dengan obat. Kenapa 2 tahun lalu Aku tidak ikut mati bersama Ibu dan Ayah. Kenapa Aku masih bertahan di sini? Kenapa? Kenapa hanya ada Aku sendiri di dunia ini? Apakah ini hukuman dari semesta? Dosa besar apa yang Aku lakukan sampai semesta membenciku?

Aku pulang ke rumah. Aku tak ada pilihan tempat tinggal lagi. Hanya rumah dengan kenangan buruk ini yang Aku punya. Sudah 2 tahun Aku berusaha menjual rumah ini. Tapi, gagal. Berita tentang perampokan dan pembunuhan menurunkan minat pembeli terhadap rumahku.

“Yura.”

Aku menoleh ke belakang. Tante Vanya, dia pasti baru saja membersihkan rumah ini.

“Lebih baik kamu tinggal bersama tante. Tante khawatir kamu sendirian di sini. Tante janji bakal bantuin kamu buat jual rumah ini. Tapi, tolong jangan tinggal sendirian di sini. Terlalu berbahaya buat kamu.”

Aku pergi ke kamar, dan tak mendengarkannya.

“Yura! Tolong dengerin Tante.”

Aku masih mengabaikannya. Aku masuk ke dalam kamar. Aku tak peduli apakah Tante Vanya masih di sini atau pergi. Aku tidak menyukai tante Vanya, dulu sewaktu Ayah masih hidup dia selalu bertengkar dengan Ayah. Mereka memperdebatkan bisnis keluarga dan warisan. Tante Vanya orang yang terobsesi akan kesuksesan. Tapi entah kenapa semenjak Ayah pergi, ia berubah menjadi baik. Aku tak yakin kebaikan itu tulus.

Hari demi hari berganti. Tabunganku mulai menipis, selama 2 tahun Aku hidup dengan uang asuransi kematian Ayah dan Ibu. Sebagian besar habis untuk pengobatan. Kuliah? Aku sudah lama berhenti, Aku malu dan takut untuk bertemu orang baru. Padahal, aku punya mimpi yang besar terhadap pendidikanku sendiri.

Memikirkan hidupku sangatlah lelah. Aku merasa sedikit mengantuk sekarang.

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

“TILIK” Short Movie Bahasa Jawa Yang Membumi

Halo, sudah lama sekali Aku nggak review film hehehe. Ya maklumlah lagi pandemi kayak gini gak bisa pergi ke bioskop. Meskipun begitu, bukan berarti Aku tak memiliki tontonan. Di masa pandemi saat ini tentu banyak orang yang beralih ke streaming serial dan film yang berbayar atau bajakan. Bahkan sadar atau nggak saat ini, selama pandemi ini Drama Korea begitu laris di pasaran. Sebut aja The World Of Married, Crash Landing On You, Itaewon Class, sampai yang barusan selesai Pshyco But It’s Okay.

Aku memang termasuk orang yang suka nonton drama korea. Cuma semenjak lulus kuliah, dan mempersiapkan diri untuk TA (tugas akhir) jatah drakorku sangat Aku kurangi. Bahkan keblabasan sampai sekarang, padahal dulu candu banget bahkan kalo udah marathon gila banget nyampe makan dan mandi.

Eits… tapi kali ini Aku nggak mau bahas Drakor. Hahaha mumpu masih hangat suasana kemerdekaan alias 17an Aku mau bahas film pendek yang sangat viral diperbincangkan oleh netizen bahkan sempet trending di Twitter. Ya, nggak lain dan nggak bukan itu adalah ‘TILIK.’ Tilik merupakan film pendek yang diproduksi oleh Ravacana Film. Untuk set tempatnya sendiri berlokasi di kota istimewa Yogyakarta.

Aku mau bahas sedikit sipnosisnya.

Kisah ini menceritakan sebuah rombongan ibu-ibu yang hendak berkunjung atau lebih tepatnya menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit di rumah sakit kota Jogjakarta. Karena lokasinya yang jauh akhirnya rombongan ibu-ibu itu menggunakan truk angkut barang untuk menuju rumah sakit. Selama diperjalanan, banyak cerita yang mereka sampaikan. Ya, bisa dibilang rumpinya ibu-ibu tentang sosok gadis desa yang bernama Dian. Dalam cerita ada tokoh ibu-ibu yang bisa dibilang “Biang Gosip” bernama Bu Tejo. Nah, sama halnya cerita pada umumnya, ada sisi peran protagonis yang berusaha mengingatkan Bu Tejo untuk tidak asal cerita tentang sosok Dian, dia adalah Yu Ning. Selama perjalanan mereka sering kali berdebat, bahkan sempat karena perdebatan mereka truk yang ditumpangi kena tilang pak polisi. Singkat cerita mereka sampai ke Rumah Sakit, namun karena Bu Lurah masih dalam kamar ICU dan tak bisa dijenguk akhirnya rombongan ibu-ibu itu pulang kembali. Yang sedikit mengejutkan diakhir adalah apa yang diceritakan Bu Tejo ternyata benar adanya.

Setelah menonton film ini, banyak hal yang Aku sukai. Pertama karena Aku orang jawa, Aku merasa sangat related apalagi orang desa umumnya seperti itulah cara ngerumpinya. Mulai dari topik, sampai hal-hal sepele tentang ledekan yang berkaitan dengan informasi di internet sangatlah mirip dengan kondisi ibu-ibu yang ada di rumahku. Kedua, secara nggak langsung film ini mengajarkan kita tentang bahasa krama alus, emang sekarang banyak anak muda yang mengalami kesusahan jika berbicara krama alus, termasuk diriku yang kebiasaan ngomong bahasa Indonesia saat bekerja dan ngobrol dengan teman-teman kuliah. Mungkin Aku paham sedikitlah tentang krama alus, tapi ketika menonton film ini Aku merasa benar-benar diajari. Ketiga, film ini membangun nuansa jawa yang kental. Mungkin bagi orang yang tinggil di luar Jawa Tengah dan Yogyakarta, akan merasakan kehidupan sederhana orang-orang jawa. Keempat, Film pendek berdurasi 30 menitan ini, memiliki alur cerita yang ringan, ringkas, dan sederhana. Meskipun begitu, banyak pelajaran yang kita dapatkan. Seperti, jangan sembarang menceritakan hal yang belum tentu benar, selalu punya empati terhadap orang lain. Serta yang paling utama kita harus ati-ati kalau kemana-mana jangan sampai tahu tetangga, takutnya malah diomongin sampai segitunya, hehehe becanda.

Jujur film ini sangat menghibur, apalagi karakter Bu Tejo. Memang biang gosip adalah peran yang nggak baik dalam hidup bermasyarakat, tapi dalam film ini Bu Tejo-lah yang menjadi attention-nya. Mulai dari cara bahasanya, bahkan ekspresi dan gerakan mulutnya lah yang membuat para penonton terhibur dan merasa sangat related. Bahkan kata temen-temenku “Kek tetanggaku banget!”

Setelah nonton ini, rasanya Aku lebih membumi dengan sekitar dan negara Indonesia ini tentunya. Bahkan karena sangat related, Aku jadi ingat kehidupan di rumah, memang pada umumnya kalau mau jenguk atau tilik orang yang sedang sakit modelnya rombongan gitu, tapi nggak harus pakai truk bis atau mobil travel juga bisa. Setelah nonton Film ini, rasanya film Indonesia tak kalah menghibur dibanding Drakor atau film luar lainnya. Ya, ada baiknya kita menonton film-film seperti ini terlebih dahulu, rehatlah dari Drakor yang mungkin membuat kita baper tapi nggak bisa bikin kita kangen sama kampung halaman.

Nah, itu dia pendapat Aku tentang Tilik. Semoga kalian yang belum nonton, bisa nonton segera mumpu bisa ditonton gratis di YouTube! See You… Eh Sampai ketemu lagi!

Memulai Menulis Fiksi?

Memulai Menulis Cerita Fiksi?

Memulai Menulis Cerita Fiksi?Memulai Menulis Fiksi?

Hai Dears… hehe, akhir-akhir ini aku mau bilang kalau udah jarang banget bikin tulisan fiksi. Ya ternyata aku masih perlu belajar untuk membuat karya yang lebih baik lagi. Eittts… meskipun aku jarang nulis fiksi bukan berarti aku berhenti menulis ya!

Sebenarnya menulis fiksi itu gampang-gampang susah. Tapi bukan berarti susah banget, aku selalu ingat kata-kata orang terdekat jika setiap orang itu bisa menulis. Terlepas apakah hasil tulisannya bagus atau tidak. Tapi penilaian bagus dan tidak bagus sebenarnya itu persoalan selera pribadi, jika kamu ngerasa bagus tapi orang lain bukan berarti kamu yang salah.

Ngomong-ngomong tentang menulis fiksi, seperti yang aku jelasin aku udah biasa bikin cerpen sejak SD. Terkadang banyak temanku bilang kalau itu adalah bakat. Memang sih, dengan menulis rasanya segala emosiku dapat terluapkan. Sebenarnya untuk saat ini aku cenderung menulis kata-kata agar taste puitisku. Untuk kata-kata yang aku buat biasanya aku tulis dalam story Instagram atau kalau niat akau post sekalian.

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan agar orang bisa menulis terutama fiksi. Namun bagiku untuk membuat sebuah cerita fiksi, aku lebih sering menggunakan rasa gundah atau keresahan dalam hati. Ya, rasa resah, dilema, sedih, dan bentuk emosi lain akan sangat membantu dalam proses membuat cerita nanti.

Aku sempat membaca dalam sebuah buku yang dituliskan oleh Gari Rakai Sambu, seberapa dalam teknik atau teori yang dimiliki namun jika penulis tak mampu memberikan pengalaman emosional pada pembaca maka semua akan sia-sia. Jadi, buat Dears yang berjiwa baper jangan sedih bila dicap sebagai orang “lebay” atau “baperan” oleh teman sebaya atau lingkungan sekitar.

Dengan perasaan baper yang kamu miliki justru bisa menjadi bekal yang kuat saat membuat cerita fiksi. Khususnya yang bergenre drama atau romance. Orang yang memiliki sensitivitas yang tinggi (gampang baper) cenderung mudah tersentuh oleh hal-hal tertentu. Yang terpenting dalam memulai menulis fiksi adalah ceritakan segala bentuk perasaan yang kamu miliki, bayangkan saja jika kamu adalah sang karakter utama. Namun ingat jangan terlalu memaksakan diri, kamu bisa memulainya dari:

  • Menulis buku diary
  • Menceritakan pengalaman masa lalu
  • Mengungkapkan isi hati yang kemudian kamu wujudkan dalam bentuk cerita

Untuk memulai menulis itu kamu bisa memulainya dari 1 paragraf saja, kemudian bertambah menjadi beberapa paragraf sehingga membentuk cerita yang menarik. Intinya janga takut untuk mencoba!

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Toga Ini Untuk Kakak, Part 3Toga Ini Untuk Kakak, Part 3

Masa kuliah ku lalui dengan penuh kegiatan. Pagi hingga petang aku habiskan di luar rumah. Mencari pekerjaan yang bisa aku lakukan asal mendapatkan uang yang halal. Tanpa sadar, karena terobsesi membantu kakak, aku lupa dengan tanggung jawab ku sebagai adik. Hari ini aku pulang terlambat. Dari dalam rumah terdengar suara adzan isya’ aku melihat mbak Fitri. Menggeletakan badannya di samping Ibu. Akhir-akhir ini mbak Fitri malah semakin kerepotan karena mengurus ibu lebih sering. Bahkan di sela jam makan siang ia memilih pulang ketimbang harus makan bersama rekan kerjanya.

Niatku untuk meringankan beban mbak Fitri tapi malah sebaliknya. Mbak Fitri semakin kerepotan karena ulahku. Aku harus cari cara lain, aku harus bekerja di tempat lain.

Kini tahun-tahun terakhirku, berkat bea siswa yang diberikan pihak kampus. Dan uang tabunganku selama masa kuliah sudah banyak terkumpul. Bukan hanya itu dengan doa dari Ibu dan mbak Fitri, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku. Awalnya setelah memutuskan Indah, aku akan kesulitan untuk menyelesaikan ini. Namun malam itu di depan teras rumah. Aku melamunkan peristiwa tadi siang. Dalam hatiku sedikit menyesal melukai wanita sebaik Indah. Tapi pikiranku berubah setelah ku dengar kalimat indah dari mbak Fitri. “Ram, kamu tahu ungkapan jodoh nggak akan kemana?” sebenarnya aku tak terlalu percaya dengan kalimat itu, bagiku itu hanyalah hiburan bagi lelaki bujang yang dilanda kegalauan seperti aku.

“Kamu nggak percaya ya Ram? Jika memang Indah ditakdirkan berjodoh denganmu dia akan kembali. Hubungan kalian sudah 2 tahun, dia pasti sudah tahu sikap kamu seperti apa? Dia sudah tahu bagaimana keluarga kita? Bukannya dia sudah bilang mencintaimu dengan tulus juga?”

“Tapi aku nggak mau mengajak dia sensara mbak. Aku pengen indah tetap bahagia, hidup denganku malah membuatnya menderita.”

“Iya mbak tahu. Justru kalian adalah dua orang yang saling mencintai dengan tulus. Mbak tak ingin membuatmu semakin menyesal dengan keputusanmu. Kamu tahu hal apa yang paling tidak disukai wanita selain kesengsaraan”

Aku menggeleng. “Kebohongan dari orang yang paling ia percayai. Mbak harap Indah bisa mengerti apa yang kamu maksud. Jangan buat kamu berada dalam rasa bersalah terhadap wanita Ram. Kamu juga harus ingat Ketika kamu melepaskan satu wanita yang kamu cinta, akan ada wanita lain yang harus kamu jaga..”

Aku memalingkan wajahku, dan ku tatap dalam wajah mbak Fitri “Ibu.” Jawabku pelan.

Benar. Bukan waktu ku untuk menggalaukan Indah. Kalimat yang awalnya sebagai penghibur saja, kini malah menjadi prinsipku yang baru. Kemarin aku melihat Indah sudah menggandeng pria lain. Jodoh memang tak akan kemana, jika Indah bukan jodohku ya sudah pergilah..

Aku memandang dalam foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Seluruh harta kami telah berpindah ke pegadaian. Setelah kelulusan ku aku bertekad untuk mengembalikan semua hal yang berharga bagi kami. Komputer, mobil, bahkan rumah dan kebahagiaan. Aku tak ingin ada kesengsaraan yang terjadi. Kebahagiaan itu akan aku rakit mulai esok hari.

“Kami ucapkan Selamat atas wisudawan dan wisudawati, jaga nama baik almamater dimanapun kalian berada..”

Pidato penutupan Upacar Wisuda UIN Walisongo Semarang ke 90. “selanjutnya sambutan dari perwakilan wisudawan dan wisudawati, yang diwakilkan oleh Rama Trihartono Putra, S.Psi”

Langkahku semakin mantap. Dari atas tribun aku melihat mbak Fitri dan Ibu melambaikan tangan padaku. Aku mencoba menatap ke langit podium. Aku yakin Ayah juga melihatku di surga. Ayah akan bangga padaku, aku telah lulus sesuai apa yang harapkan. Bukan hanya itu, aku juga menepati janjiku untuk menjaga dua wanita yang paling berarti dihidupnya, mesti terkadang malah aku yang dijaga.

“Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Berkat rahmatnya kita semua dapat berkumpul di acara wisuda kali ini. Teman-temanku yang teramat aku sayangi, kadang kita terlalu banyak mengeluh dengan tugas yang diberikan bapak ibu dosen. Hingga kita lupa bagaimana bersyukur. Tapi aku tetap salut dengan keberhasilan kita bersama, ditengah keluh kesah yang kita rasakan. Mungkin kita lupa dengan mengucapkan terima kasih pada orang yang berjuang untuk semua mimpi-mimpi kita. Ayah, Ibu, kakak dan semua orang. Kita merasa jika perjuangan kita sungguh berat, tapi begitulah manusia yang tak bisa peka akan sekitar. Aku ingin di upacara wisuda kali ini bukan hanya kita yang saja merasakan kebahagiaan. Bukan hanya dosen kita yang senang melihat anak didiknya berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ayo kita bersama lihatlah sisi kanan kiri dan belakang. Lihat siapa orang yang telah berjuang menaruh setiap harapannya di pundak kita. Mari kita berikat penghormatan setinggi mungkin untuk Ayah, Ibu dan Kakak yang ada di sana… mereka adalah pahlawan yang tanpa kita minta, dengan ikhlas memberi. Hari ini bukan hanya untuk merayakan kelulusan kita, namun juga perjuangan mereka…. Kakak, Ibu terimalah penghargaan terbesar dariku. Toga kelulusanku.”

 

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Toga Ini Untuk Kakak, Part 2Toga Ini Untuk Kakak, Part 2

Aku selalu kalah jika berdebat dengan mbak Fitri. Entah bagaimana lagi aku membujuknya agar membiarkanku untuk mengganti perannya. Semua harta di rumah telah habis, mobil, motor, computer game, kulkas dan mesin cuci. Semua habis dijual untuk biaya terapi ibu dan uang pangkal kuliahku. Bahkan mbak Fitri mengambil cuti semester untuk mengambil kerja serabutan. Padahal tinggal 2 semester lagi dia akan lulus. Bagaimana lagi satu bulan lalu, dokter mendiagnosis jika ibu menderita gangguan mental Skezofrenia. Aku dan kakak bertekad untuk melakukan apapun demi kesembuhan Ibu.

Aku telah menawakan untuk ikut membantu perekonomian tapi ternyata watak keras kepala Ayah menurun ke anak sulungnya. Tugas ku sebagai adik hanyalah menjaga Ibu dan nilai setiap semesterku. Bagaimanapun aku tak boleh merepotkan mbak Fitri. Diam-diam aku mengambil beberapa projek dari dosen. Selain mendapatkan bea siswa, dalam setiap 3 bulan sekali aku juga mendapatkan tambahan uang saku dari kampus. Pelan-pelan uang dari kampus aku tabung. Aku tak tahu kapan bisa menggunakannya. Tapi aku janji tabungan ini akan aku gunakan untuk membalas budi mbak Fitri.

 “Ram, ini uang kuliah kamu.

“Mbak, kemarin kan aku cerita kalua aku dapat bea siswa. Jadi uangnya bisa mbak Fitri tabung untuk biaya kuliah Fitri sendiri”

“Ram, kebutuhan kuliah itu banyak loh. Ada laptop, fotocopy, buku. Apa kamu punya uang buat itu semua?”

“Mbak Fitri nggak perlu khawatir. Masih ada laptop Ayah meski seri lama tapi masih bisa aku gunain. Fotocopy dan buku aku bisa uang saku yang aku tabung. Kan setiap hari aku bawa bekal dan gak pernah jajan.”

“Ram..”

“Mbak, jangan cuma aku yang kuliah. Mbak Fitri juga, mbak Fitri selalu bilang kalau jangan berhenti buat meraih cita-cita. Kalau seandainya kita berhenti nanti Ayah bisa marah. Bukannya itu yang selalu mbak Fitri bilang ke aku?”

“Ram, biaya kuliah mbak itu nggak seringan kedengaranya. Tak mudah bagi mbak untuk menjadi seorang dokter. Mbak rela membuang jauh mimpi mbak, asal kamu tak bernasib kayak mbak Fitri. Boleh saja mbak kehilangan mimpi tapi jangan biarkan mbak kehilang kamu dan Ibu.”

Aku pikir, aku adalah satu satunya laki-laki tangguh di sini. Tapi mendengar apa yang dikatakan mbak Fitri aku sadar. Dialah yang paling tangguh. Tak mungkin bisa aku mengecewakan dia, bagaimanapun caranya aku harus berbuat hal yang sama. Dokter. Aku tahu uang saku dari kampus tak akan cukup untuk membiayai satu semester mbak Fitri.

Satu minggu ini, aku tak menghubungi Indah. Aku tahu dia marah, itu wajar karena aku adalah laki-laki yang tak berkomitmen tinggi. Waktu masih SMA dia memintaku untuk mendaftar di Universitas Diponegara, dengan jurusan yang sama dengan dia. Aku hanya mengiyakannya saja saat itu, padahal diam diam membohonginya. Aku sengaja memilih UIN karena biaya kuliahnya lebih terjangkau bagiku. Semenjak itu aku jadi sering berbohong pada Indah. Ketika dia meminta ketemu aku selalu beralasan mengerjakan tugas. Padahal aku sedang bekerja sambilan di warnet atau fotocopyan. Hal itu terpaksa aku lakukan, bagaimanapun aku tak yakin Indah akan memahami kondisiku. Indah telah terbiasa dengan kehidupan hedonis, mungkin sewaktu masih kuliah aku mampu menuruti semua kemauannya. Tapi sekarang untuk bertemu saja aku harus berpikir beberapa kali. Ndah, aku bukanlah Rama yang dulu, yang selalu manja padamu. Yang masih seperti anak laki-laki yang minta disuapi ibunya. Ndah aku telah banyak berdusta padamu. Bukan sekali atau dua kali, tapi setiap kali kamu  meminta sesuatu dariku. Aku sangat mencintaimu, tapi ada dua wanita lainnya yang lebih mencintaiku. Aku tak mungkin menggadaikan mereka hanya untuk wanita yang belum resmi menjadi istriku. Ndah aku tahu kamu akan mengerti, bagaimanapun kamu adalah seorang kakak dan calon ibu.

Aku harus menyiapkan diriu. Aku tahu Indah sangat menyayangiku, begitu pula denganku. Tapi hubungan ini tidak bisa dijalani lebih jauh lagi. Aku harus pergi dan Indah berhak mendapatkan yang pantas dengannya. Tentu saja bukan aku..

“Ram, aku nggak tahu kamu kenapa? Kamu nggak pernah ngangkat telpon dari aku, nggak pernah kasih kabar. Diajak ketemu susahnya minta ampun. Padahal banyak hal ingin aku lalui bareng kamu. Aku terima keputusan kamu untuk tetap kuliah di UIN. Tapi aku gak mau sikap kamu ke aku jadi kayak gini. Aku salah apa Ram? Apa kamu ada cewek lain disana?”

“Ndah, aku ini semua nggak adil buat kamu. Tapi aku harap kamu bisa terima keputusan ini. Aku mau kita..”

“Tapi aku nggak mau kita putus Ram!! Apa kamu minder sama aku karena kondisi keluarga kamu sekarang. Aku tahu kamu menghindariku karena ini. Berapa kali aku bilang kalau aku cuma sayang sama kamu!”

“Ndah aku tahu kamu marah sama aku. Tapi dengerin dulu penjelasanku, sebentar saja… kita memang gak bisa bersama kek dulu. Aku punya..”

“Kamu punya ibu dan kakak yang jadi tanggung jawabmu? Aku sudah tahu itu bahkan semenjak kita masih SMA”

“Aku punya wanita lain di UIN..!!”

Obrolan kami menjadi hening. Pertama kali dalam hidupku, aku berbuat terlalu jahat kepada wanita yang aku cintai. Ini bukan lagi sebuah kebohongan ini adalah pengkhianatan. Maaf Indah aku tak ada alasan lain. Membagi cintamu mungkin adalah luka terbesar yang akan kamu terima. Tapi adalah cara tercepat untukmu melupakanku. Kamu harus bahagia meski tanpa aku! Maaf Indah prinsip benar “jangan berani mengencani wanita jika yang kamu berikan hanyalah kesengsaraan.” Itulah prinsip yang aku pegang sekarang. Kamu tak boleh hidup susah denganku.

Sungguh aku tak tega melihatmu berlalu dengan kebencian, aku tak sanggup mengejarmu dan menghapus setiap air mata yang menetes. Kau adalah wanita yang baik, dan tak pernah meminta neko-neko. Di luar sana ada laki-laki yang sama kastanya denganmu. Maafkanlah aku biar segala rasa sakit yang kamu rasakan jadikanlah kebencian, aku siap menanggungnya.