Posts

Ujianku Gagal Part 2

Ujianku Gagal | Part 2

Ujianku Gagal | Part 2

 “Tadi gimana bisa jawab semua soalnya?”

Ujianku Gagal Part 2“sebagian besar bisa kok kak, aku yakin bakal lulus ujian”

“Nah gitu dong semangat”

“Kak besok aku pulang, bisa nggak sebelum pulang kita jalan-jalan ke pantai?”

Kak Firman memang paling nggak bisa untuk menolak permintaanku, seperti sekarang. Kami bersiap untuk pulang dan melanjutkan kencan berdua.

Pantai Grewang. Pantai yang masih sangat sepi, aku belum pernah ke sini. Pemandangannya tak kalah indah dengan pantai yang ada di Bali.

Kami mengitari  bukit karang yang masih bisa dibuat pijakan. Cukup curam dan menakutkan bagiku yang pertama kali ke sini. Namun ketakutanku terbayar saat berada di atas bukit. Hamparan laut yang membiru dan senja di langit sore ini. “Kamu suka La?” aku mengangguk sungguh aku tak bisa menjelaskan pantai yang indah bersama orang yang aku cinta.

Kami saling memandangi satu sama lain. Ternyata pemandangan seperti ini jauh lebih indah saat aku melihatnya di bola mata Kak Firman. Tangannya melerai rambutku yang berantakan tersapu angina laut. “Aku sayang sama Kakak” ucapan yang bahkan aku sendiri tak sadar.

“Aku juga La” tangannya kini membelai lembut pipiku. Wajah kami semakin mendekat, aku memejamkan mataku inilah saat terindah. Ciuman pertamaku.

“Kamu besok hati-hati di jalan ya La.”

Ini bukan ciuman tapi cuma bisikan. “Aku kira Kakak bakal cium aku!” ucapku sedikit kesal, aku sungguh menahan malu. Padahal mempersiapkan diriku untuk ini.

“La kamu belum boleh..”

“ciuman? Karena aku masih berusia 17 tahun jadi semua orang menganggapku masih anak kecil”

Jujur saja aku selalu marah jika aku masih dibilang anak-anak. Padahal baru satu minggu kemarin aku diluluskan, aku mulai menjadi wanita dewasa tapi apa tidak boleh aku mendapatkan ciuman dari pacarku sendiri?

Aku mengalihkan pandanganku. Aku tak ingin memperlihatkan wajahku yang murung, tapi… wajah Kak Firman mendekatiku. Lalu dalam 1 detik, aku merasakan bibirnya yang tipis menempel di pipiku. “Kamu adalah gadis yang dewasa sekarang.”

Setibanya di rumah. Aku merebahkan badanku di Kasur. Perjalanan 6 jam aku tempuh sendirian. Bagaimana lagi Kak Firman harus kuliah besok tak mungkin aku memintanya untuk mengantarku pulng sampai ke rumah. Lagi pula aku gadis yang dewasa sekarang.

Pengumuman hasil ujian sekitar satu bulan lagi. Aku menjalani hubungan Long Distance Relationship dengannya. Perjalanan yang cukup jauh membuat Kak Firman jarang pulang ke rumah. Hampir setiap malah aku habiskan dengan video call dengannya. Maklum saja semenjak kejadian di pantai Grewang hari-hari ku selalu dipenuhi kerinduan. Aku masih menyembunyikan hubunganku dengan Kak Firman dari Ayah dan Ibu. Aku berniat untuk cerita setelah pengumuman hasil ujian kemarin.

“Besok sudah pengumumannya. Kamu nggak deg-degan?”

“Banget kak. Aku takut kalua nanti gak lolos gimana? Kita gak jadi satu kampus, aku gak mau.”

“Hei, jangan pesimis. Ayolah kamu pasti bisa!” Kak Firman memang orang yang selalu menenangkanku, sama seperti saat ini.

Pengumuman hasil ujian dikirim melalui email masing-masing peserta. Sudah 1 jam ini aku berada di depan laptopku, aku masih membayangkan bagaimana kalau kami satu kampus. Berangkat dan pulang berdua. Makan siang di kantin bersama. Berjalan-jalan menyelusuri kota Jogja setiap hari. Membayangkan semua itu membuatku tertidur. Hingga aku mendengar dering dari HP-ku. Kak Firman mengatakan padaku untuk mengecek email.

Ujianku Gagal Part 1

Ujianku Gagal | Part 1

Ujianku Gagal | Part 1

Tas ranselku sudah penuh dengan pakaian ganti, perlengakapan mandi, dan tak lupa buku pelajaran. Pagi ini adalah keberangkatanku ke Jogja. Dengan ditemani oleh kak Firman aku menunggu terminal kota Pemalang. Ayah dan Ibu masih setia duduk disampingku. Padahal aku sudah mengatakan jika aku akan baik-baik saja, tapi mereka adalah orang tua yang penyayang. Tak akan tega meninggalkan anaknya pergi ketempat yang baru dikunjungi.

Ujianku Gagal Part 1

Bis jurusan Jogjakarta telah datang, aku mencium tangan kedua orang tuaku. Ibu dan Ayah memberikanku pesan untuk segera menghubungi jika sudah sampai. Aku hanya menganggup, ayolah aku sudah 17 tahun sekarang. Aku sudah dewasa.

Aku duduk didekat jendela, perjalananku kali ini sangat menyenangkan. Meskipun menempuh waktu hingga 5 –  6 jam bagiku tak masalah. Karena ada Kak Firman di sampingku. Sebenarnya hubunganku dan dia bukan hanya sekedar senior dan junior dalam sekolah. Sudah 6 bulan ini aku menjalin hubungan pacaran dengannya secara diam-diam. Aku belum berani mengatakan yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu kalau mantan guru private ku ini adalah pacarku.

Kami memang dipertemukan melalui les private, Kak Firman adalah alumni SMA ku, kini dia melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Yogyakarta. Menginjak kelas tigas SMA ibu mengundang Kak Firman untuk mengajariku di rumah. Ibu dan Ayah selalu berharap agar aku masuk Universitas Negeri, dan aku tak menganggap itu serius. Namun setelah aku resmi menjadi pacar Kak Firman, aku harus satu kampus dengannya.

Aku mataku tak berhenti melihat pemandangan yang ada di balik jendela kaca. Ini pertama kalinya aku pergi jauh tanpa orang tuaku. Perjalanan ini juga pertama kalinya aku bisa pergi dengan Kak Firman.

“La, mau?” ucap Kak Firman sambil menyodorkan sepotong roti padaku.

Itulah yang aku sukai dari Kak Firman, dia baik dan perhatian. Aku memang anak tunggal di rumah. Tak memiliki kakak ataupun adik. Aku juga jarang bermain dengan teman, berkat Kak Firman datang aku merasa tak pernah kesepian. Perjalanan masih sangat jauh, aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Sungguh bantal terhebat yang aku miliki sekarang.

Langit kota Jogja memang lebih indah daripada langit yang aku lihat dari jendela kamar. Setelah sampai di kota Jogja. Kak Friman mengajakku berjalan-jalan, menikmati suasana Jogja di malam hari. Jogja memang kota yang romantic, berjalan dan bergandengan tangan sejauh apapun aku tak merasa lelah. Padahal baru tadi sore aku sampai, namun ketika melihat pemandangan seperti ini buatku tak masalah untuk berjalan jauh lagi.

Aku dan Kak Firman menuju Malioboro, dia mengatakan jika nanti kami berdua satu kampus hampir Kak Firman akan mengajakku terus berjalan-jalan.

Akhirnya Kak Firman berhenti sebuah kedai penyetan pinggir jalan. Jam menunjukan sudah pukul 21.00 tapi suasana disini masih sangat ramai. Aku terus keheranan dengan kota ini, rasanya suasana Jogja membuatku terlihat seperti orang gila yang tersenyum sendiri.

“Kamu suka Jogja La?”

Senyumku semakin lebar ketika ku tahu orang yang aku cintai menikmati secangkir teh hangat denganku.

“Suka banget kak.”

“Semangat ya buat ujiannya besok, habis ini kamu istirahat”

“Tapi kak ada sesuatu yang ingin aku beli”

Sebenarnya Kak Firman melarangku untuk pergi lebih malam lagi, tapi aku adalah seorang yang manja. Karena bujukanku akhirnya kami memutuskan untuk mengelilingi Malioboro lagi.

Wanita memang selalu kalap jika sudah bersentuhan dengan barang-barang yang ada di pasar. Sama seperti aku sekarang, aku membeli berbagai pakaian untuk ku bawa ke rumah. Selain itu pernak pernik gelang dan kalung tak lupa dari daftar belanjaku.

“Bagus La, kayaknya cocok buat kamu”

Terlihat sebuah kalung silver dengan bandul bunga krisan yang cantik. Aku mengiyakan apa yang dikatakan Kak Firman, kami berdua saling bertatapan. Waktu di dunia serasa berhenti. Aku biasanya selalu kalah dalam lomba menatap, tapi ketika dengan Kak Firman kenapa aku tak mampu berkedip meski sedetik.

Tubuh Kak Firman semakin mendekat, apakah ini ciuman? Tunggu kak aku belum siap! Aku merasakan tangannya melewati bahuku. Rasanya sedikit berat, tapi ini membuatku hangat. Aku malu dengan orang yang melihat kami, tapi bagaimanapun aku sangat menyukai ini. Aku tak ingin Kak Firman melepaskan pelukannya dariku. “Sudah!”

Aku sedikit menengok ke bawah, kalung yang indah telah bergantung di leherku. Aku tak bisa berkata apapun, rasanya aku ingin memeluk Kak Firman lagi tapi nanti saja di tempat yang sepi. “Itu hadiah dariku, agar kamu bisa lulus ujian nanti.”

Kak Firman menunggu di luar ruangan, aku duduk dengan calon mahasiswa lainnya. Mereka menggunakan serangam almamaternya masing-masing. Cuma aku yang disini memakai putih hitam, bagaimana lagi aku tak tahu jika harus memakai seragam.

Ujian berlangsung selama 3 jam. Dari kaca jendela aku melihat bayang-bayang Kak Firman. Sungguh dia terlihat sangat tampan bila menggunakan kemeja merah kotak-kotak. Selama ini aku terlihat seperti adiknya karena aku selalu memakai seragam sekolah saat kami sedang bermain bersama. Bagaimana lagi, orang tua ku melarang kuliah hingga aku tamat SMA. Satu-satunya alasan agar aku bisa pergi dengan pacarku ada bimbingan belajar. Karena kondisi rumah yang selalu ramai dan membosankan Kak Firman lah yang menyarankan untuk satu bulan sekali belajar di luar rumah dan orang tuaku menyetujui itu.

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4“Tyas!! Hei sadar!”

“Duh Lastri apaan sih, ngagetin tahu nggak.”

“Lagian kamu tuh makan kebanyakan ngalamunnya. Kamu lagi jatuh cinta ya! Ayo cerita”

“Enggak kok Las, aku nggak papa.”

“Beneran? Yaudah kalau gitu kamu abisin gih baksonya, sayang tahu.”

“kamu tuh Las, bakso aja disayang apalagi…”

“Apalagi cowok.”

“Bisa aja kamu.”

Hari semakin berganti, tanpa sepengetahuan Lastri aku dan kak Putra sering jalan berdua. Ternyata dia adalah lelaki yang berjiwa tinggi. Bukan hanya itu kak Putra juga sering mengajakku berkumpul dengan temannya yang menjadi panitia ospek. Aku ingat kata temen SMA ku di Jakarta, kata mereka kalo ada cowok yang sering mengajakmu pergi berdua dan ngenalin temen-temennya. Itu adalah tanda kalo dia suka sama kamu!

“Las menurutmu kalo cewek nembak cowok gimana?”

“Bagus dong, lagian sekarang udah gak zamannya cewek harus nunggu loh. Lagian kamu mau nembak siapa?”

“Duh, aku cuma tanya doing bukan berarti aku sendiri yang nembak.”

Bahkan aku tak berkata jujur dengan Lastri tentang perasaanku ke kak Putra. Mungkin aku bisa cerita kalau hubungan kami sudah jelas.

Hari ini memang gak ada mata kuliah, tapi aku putuskan untuk pergi ke kampus. Kata Lastri benar sekarang sudah bukan zamannya wanita menunggu. Aku yakin kak Putra pasti juga menyukaiku, sebelum bertemu, aku membeli es krim di dekat kampus. Aku ingat kesalahanku yang memberi es krim cair ke kak Putra.

Aku mengirim pesan kepada kak Putra untuk menemuiku di taman Fakultas. Dia membalas oke akan datang. Jujur ini adalah pertama kalinya aku menyatakan perasaanku kepada laki-laki. Sebelumnya aku selalu menaruh gengsi yang tinggi. Bagiku gaya tetaplah yang diutamakan bagiku dan pacarku kelak, namun setelah mengenal kak Putra aku sadar. Gaya setiap orang berbeda-beda dan tak bisa disamakan.

“Hei udah lama nunggu?”

“Ah.. enggak kak, kakak baru selesai kuliah?”

“Iya, kamu kok sendirian aja. Lastri kemana?”

“Di kostan dia kak, paling lagi streaming film”

“Oalah dia suka nonton film, banyak hal yang belum aku tahu soal dia ya.. kira-kira selain film dia sukan apa lagi?”

Entah mengapa pertanyaan kak Putra membuatku sedikit curiga, kenapa begitu besar rasa penasarannya terhadap Lastri?

“Hei ngalamun.. kamu pasti bingung. Aku mau jujur sama kamu karena kamu sahabatnya Lastri, mungkin kamu bisa bantuin aku buat PDKT sama dia. Jujur nih, semenjak pertama kali ospek Lastri udah mencuri perhatianku. Wajahnya yang lugu membuatku selalu memperhatiin dia, apalagi waktu kerisuhan, aku sangat khawatir kalau Lastri kenapa napa. Sebenarnya aku sempet pesimis bisa deketin dia atau enggak, tapi semenjak kita akrab gini aku yakin kamu pasti bisa bantuin aku”

Hatiku hancur seketika, kenapa Lastri?? Aku menyukai kamu kak! Apa selama ini kamu nggak pernah nyadar?

“Hei bengong lagi, sorry ya Tyas. Aku malah cerita panjang kek kamu, btw kamu mau kan bantuin aku buat PDKT sama Lastri?”

Awalnya aku merasa begitu marah, aku sungguh kesal. Namun aku sadar ini bukan kesalahan Lastri atau kak Putra. Sedari awal memang aku tak memiliki kesempatan. Lastri telah baik denganku aku tak boleh membencinya. “iya Kak aku bantuin”.

Bayangan kak Putra memang sudah berlalu, tapi kesedihanku masih membendung. Kakiku terasa sangat goyah hingga tak mampu berjalan, mataku sudah mulai sembab. Aku harus bagaimana lagi? Rasa sakit ku masih terasa, tak ada seorang pun yang mengerti diriku.

“Mau es krim?”

Terdengar suara laki-laki yang pernah aku dengar sebelumnya, ku angkat wajahku dan ku tamatkan wajahnya. Senior yang menghukumku waktu ospek. “Orang yang patah hati harus punya tenaga buat nangis.”

Tanpa meminta izin dari ku, dia langsung duduk di sebelah. Aku tak bisa berkata apapun sauna sore itu cukup canggung.

“Kamu sudah berapa lama suka sama Yono?” aku tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengambil es krim ku yang telah mencair.

“Kenapa jadi canggung ya? Es krim yang mencair mugkin bisa mencairkan suasana kita. Oh ya, aku juga suka padamu sejak kita bertemu di kantin”

Apa? Aku tak salah dengar? Aku menatap wajahnya semakin dalam, air mataku menetes lagi. Namun kali ini ku teteskan di pundak dia. “kenapa tak sedari awal kakak bilang” aku menangis di pundak laki-laki yang aku takuti.

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 3

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 3

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 4Aku menengok ke belakang, dan tak gambar ekpresi apapun dari dia. Yang terlihat hanya teman-temannya yang menggoda karena dia menjadi anggota kelompokku. Aku tak tahu kenapa yang jelas aku begitu senang, akhirnya aku bisa mengucapkan terima kasih padanya.

“Oh ya, sebelum kita mulai buat diskusi kelompok. Sebaiknya kita kenalan dulu, aku Triyoso Sutyono Putra. Kalian boleh panggi aku”

“Kak Putra. Eh.. aku Tyas”

“Aku Lastri”

“Putra ngakpapa sih, tapi temen-temen aku biasanya manggil aku Yono. Tapi senyamannya kalian aja sih”

“Kak Putra, satu jurusan sama kita ya?”

“Sorry aku nggak biasa dipanggil Kak, panggil mas atau putra langsung aja nggak papa”

“Oh maaf kak, eh mas. Sejak SMA aku udah biasa manggil kakak kelas dengan Kak”

“Iya gakpapa. Yaudah senyamannya kamu aja Tyas. Malah jadi canggung kan sekarang, ayo mulai diskusinya”

Siang itu, pertama kalinya aku bisa berbicara langsung dengan dia, Putra. Aku sungguh ingin melanjutkan obrolan kami. Mungkin terdengan sedikit jahat tapi jujur sementara bolehkah Lastri pergi sebentar dan meninggalkan kami?

“Las, kamu mau es krim apa? Hari ini aku traktir es krim deh.”

“Beneran baik banget kamu, lagi berbunga-bunga ya kamu.”

“Apaan sih Las, udah ambil aja”

“Silahkan beli kak, mumpung kami sedang promo beli 2 gratis 1”

“Beli 2 GRATIS 1!!”

Aku dan Lastri memilih rasa yang berbeda, Lastri memilih es krim rasa mocha. Sedangkan aku memilih rasa strowberri dan coklat. “Yas, yang 1 kira-kira buat siapa?”

“Iya ya, eh Las kamu pulang ke kostan dulu gakpapa. Aku mau ke perpus bentar”

“sendirian berani? Gak mau aku temenin?”

“Gak usah, aku kan gak mungkin nyasar di kampus sendiri”

Terpaksa aku berbohong dengan Lastri. Aku ingin menemui Kak Putra sendiri dan mengucapkan kata terima kasih padanya. Semenjak diskusi kemarin aku merasa dia pasti lupa dengan kejadian inagurasi. Lebih baik aku mengucapkannya sekarang. Satu-satunya tempat yang aku tahu hanyalah kantin, warung kopi sebelah kampus atau ruang kelas. Maklum saja hanya 1 mata kuliah yang membuat kami bertemu.

Aku mencoba menyelusuri sudut kampus, kantin, tempat parker, ruang kelas. Namun tak juga ku temui dia. Hingga langkahku berhenti pada tepat disebuah lapangan olahraga milik fakultas pendidikan Jasmani. Terlihat dia sedang bermain basket dengan beberapa mahasiswa laki-laki lain. Sepertinya mereka adalah mantan panitia ospek kemarin. Aku ingin sekali mendekatinya namun ketika aku melihat satu sosok kakak senior yang memarahiku dan Lastri saat makan di kantin rasanya lebih baik aku melangkah mundur saja. “Eh yang disana boleh minta tolong ambilin bola?”

Niatku untuk kabur kini gagal, salah satu dari gerombolan senior itu memanggilku. Ku ambil bola tersebut, dan Kak Putra yang menerimanya. Aku berniat untuk langsung pamitan pulang namun setelah ku dengar “Tyas, mau langsung pulang? Gak mau coba gabung sama kita?”

Aku berpikir beberapa kali namun sisi lain kesempatan seperti ini tak mungkin datang dua kali. “iya Kak boleh.”

Kak Putra memperkenalkanku dengan mantan panitia ospek ini, dia juga bercerita jika kami menjadi teman satu kelas. Bukan hanya itu, senior yang memarahi waktu ospek ternyata tak semenyeramkan yang aku kira. Waktu berlalu begitu cepat Kak putra, pamit untuk pulang lebih dulu begitupun aku. Kami akhirnya jalan beriringan menyelusuri taman kampus.

“Kak, makasih ya”

“Untuk apa?”

“karena udah ngenalin aku sama mereka”

“Dah, santai aja lagian mereka juga seneng kenal sama kamu”

“Iya, aku juga. Dulu aku takut banget sama senior-senior selama OSPEK. Aku juga sempet dihukum karena makan di kantin”

“Dan sekarang masih takut?”

“Enggak sama sekali. Eh ya kak, aku lupa. Aku mau ngucapin makasih sama Kak Putra, karena dulu waktu malam inagurasi kakak yang udah nyelametin aku dari kerusuhan”

“Masak? Gimana ceritanya aku sampe gak inget.”

Aku pun menceritakan kronologi secara detail bagaimana aksi heroit Kak Putra malam itu. Akhirnya obrolan kami menjadi sangat menyenangkan. Beberapa kali Kak Putra memberikan lolucon yang sedikit garing sebenarnya, namun karena itu diucapkan oleh orang yang aku suka tak tahu kenapa aku selalu tertawa. Tunggu… orang yang aku suka?

“Oh iya Kak aku lupa! Ada es krim buat kam.. Duh es krimnya udah cair Kak, maaf ya”

“Udah gakpapa, sini nanti aku masukin freezer lagi juga jadi es  krim lagi”

Apa benar aku menyukai seniorku ini. bukannya aku hanya ingin sekedar berterima kasih telah menyelamatkanku dan Lastri? Harusnya perasaanku tidak lebih dari ini bukan?

Hari Pertama Masuk Kuliah Part 2

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 2

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 2Hari Pertama Masuk Kuliah Part 2

“Dengan ini Masa Orientasi Mahasiswa saya nyatakan selesai”

Sorakan anak-anak masa siswa baru terdengar keras dan membuat bising aula, aku memeluk Lastri. Akhirnya 4 hari penuh penyiksaanpun berakhir. Aku bisa bisa tidur nyenyak mala mini, upacara penutupan ospek selesai. Kegiatan selanjutnya adalah malam inagurasi, it’s time to party beib..

Aku merangkul Lastri dengan erat, suasana aula mulai sedikit berantakan, padahal tadi semua barisan disusun rapi oleh kaka senior. Semakin lama suasana aula jadi semakin anarkis, dorong-dorongan sesama mahasiswa terjadi. Tepat dibelakangku seperti ada 2 orang laki-laki yang bertengkar. Aku dan Lastri mencoba untuk menyingkir dari mereka. Tapi yang terjadi kami malah terjebak dan kesusahan untuk keluar dari kerumunan. Aku dan Lastri berusaha untuk membelah lautan manusia ini. Hingga aku tak tahu siapa, ada seseorang yang menarik tanganku dan menyelamatkan kami dari kerumunan.

“Kalian nggak papa?”

“Nggak papa makasih ya”

Dari pakaian yang ia kenakan, ia adalah salah satu kakak senior. Laki-laki berbadan agak kurus, menggunakan almamater warna biru. Kumis tipis menghias dan sedikit rambut gondrong, wajahnya tidak terlalu jelas ku lihat. Namun suaranya begitu khas begitu mudah ku hafalkan.

Akhinya malam inagurasi berakhir dengan tenang kembali, aku menarik tangan Lastri ku ajak dia untuk mencari kakak senior yang menyelamatkan kami. Jujur aku sangat penasaran degan dia. Aku ingat di lengan kanannya ada terikat sebuah sliyer berwarna hitam. Aku mencoba menyelusuri namun malam itu kami gagal menemukan sosok lelaki itu.

Kringg…!!!!

Bunyi alarm dari ponselku, tepat pukul 05.30 pagi. Inilah saatnya, hari pertama aku masuk kuliah. Lastri terus mengetuk pintu kamar, maklum saja untuk berdandan aku membutuhkan waktu 20 – 30 menit. Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak kelas 3 SMA. Karena aku sudah kuliah, tak ada lagi seragam putih abu-abu yang melekat. Aku sangat menyukai MIX&MATCH ku coba padu padankan mini dress dengan beberapa outer milikku.

“Tyas mau nyampe kapan? Ini udah jam berapa? Nanti kita telah masuk mata kuliah pertama.”

“iya Las, bentar.”

Dress mini motif bunga dan sweeter wana pulih sepertinya cocok denganku. Jarak kost sampai kampus tak terlalu jauh cukup berjalan sekitar 8 menit kami sudah sampai di salah satu gedung Fakultas Ilmu Sarta, Seni dan Budaya. Aku menggandeng tangan Lastri, sungguh jantungku sangat berdebar. Inilah hari yang aku tunggu selama ini. Aku telah resmi menjadi seorang mahasiswa, “Tyas kamu kenapa senyum-senyum sendiri? kayak wong edan tahu.”

“Haduh Las, aku tuh lagi seneng. Akhinya aku bisa kuliah di jurusan dan kampus yang aku suka.”

“Iya ya… Aku juga seneng banget. Oh ya nanti kita duduk sebelahan ya!”

Tanpa pikir panjang aku dan Lastri pergi menuju ruang kelas, tanpa kondisi ruang kelas sangat penuh. Kami duduk dibangku nomor dua dari belakang. Aku dan Lastri mencoba memperkenalkan diri dengan kawan lainnya yang satu kelas dengan kami.

Suasana kuliah memang sangat berbeda dibandingkan masih SMA. Setiap mahasiswa di kelas memberikan gayanya masing-masing. Aku tak merasa terganggu sedikitpun dengan mereka, bahkan aku melihat ada teman satu kelasku bertato pada bagian lengannya. Yah, maklum di Jakarta juga banyak ku temui wanita seperti itu. Tak selang begitu lama Dosen mata kuliah “Estetika dalam Drama” masuk ke ruang kelas.

“Saya absen satu-satu ya!”

“Iya Pak”

“Triyoso Sutyono Putra”

“Hadir Pak!”

Suara itu, sepertinya tidak asing bagiku. Aku memutas badanku hingga 180 derajat. Aku mencoba mencuri padang dengan seorang mahasiswa yang baru saja dipanggil namanya. Badan agak kurus, berkumis tipis dan sedikit gondrong. Apa benar dia yang menyelamatkanku di malam inagurasi kemarin? Tapi kenapa bisa kami menjadi satu kelas sekarang?

TYAS!!”

“Eh iya Las?”

“Kamu dipanggil dosen”

“Tyas Savirasatya Dwirandani”

“Iya Pak, Saya Hadir”

Semua orang jadi melihatku, termasuk dia lelaki yang ku perhatikan. Tingkah ku memang sangat memalukan apalagi jika sedang salah tingkah.

2 sks berlalu begitu cepat, tak lama setelah dosen keluar dari ruangan. Gerombolan mahasiswa berburu keluar termasuk lelaki yang sedari tadi aku amati. Sebenarnya dalam hati aku ingin menemuinya dan berkata terima kasih padanya. Tapi hampir setiap waktu di kelas, di depan ruang kelas, hingga di kantin ia selalu dikelilingi oleh teman-temannya. Kata Lastri Dia itu kakak tingkat yang sedang mengulang mata kuliah “Estetika dalam Drama”.

“Las, kamu inget nggak dulu waktu inagurasi siapa yang nyelametin kita dari kericuhan?”

“Lupa-lupa ingat aku”

“Masak kamu nggak inget Las, kayaknya dia deh yang nyelametin kita”

“Oh yaudah..”

“Ih Lastri kenapa kamu bilang gitu, kita belum ngucapin makasih sama dia”

“kamu yakin cuma bilang makasih? Jangan-jangan kamu naksir sama dia?”

“Ye.. bukannya gitu juga kali Las”

Sudah satu minggu ini aku dan dia menjadi teman satu kelas. Rasanya aku tak punya kesempatan untuk berbicara atu sekedar mengucapkan terima kasih padanya.

“Karena sudah saya jelaskan materi ini dalam 2 pertemuan, maka saya akan berikan tugas kelompok.”

“Yah…”

“Sudah jangan terlalu banyak protes. Saya yang akan bentuk kelompoknya. Untuk kelompok 1 : Sri Sulastri, Tyas Savirasatya Dwirandani, dan Triyoso Sutyono Putra”

Apa aku nggak salah denger? Aku dan dia menjadi teman satu kelompok? Ternyata Tuhan mengabulkan permintaanku begitu cepat.

Hari Pertama Masuk Kuliah Part 1

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 1

Hari Pertama Masuk Kuliah | Part 1

Ibu memelukku sangat erat, padahal selama perjalanan aku telah mengucapkan berbagai kalimat untuk menghiburnya. “Ibu jangan khawatir aku bakal baik-baik aja.”

Hari Pertama Masuk Kuliah Part 1

“Iya Ibu tahu, pertama kalinya dalam hidup ibu harus berpisah dengan kamu.”

“Bu kita udah bahas ini dari kemarin, Tyas bakal baik-baik aja bu di Solo. Ibu juga harus baik-baik di Jakarta.”

Sekali lagi ibu memelukku, Ibu sudah tidak mempedulikan lagi kehadiran Bang Irfan di belakang. Aku mengerti ini adalah pertama kalinya aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah hanya untuk melanjutkan pendidikanku di kota Solo. Sebenarnya di Jakarta juga banyak Universitas ternama, namun bagiku tak akan mungkin bisa aku belajar kesenian jawa jika tidak ditempatnya. Jakarta kota yang penuh dengan budaya hedonis, sedangkan Solo masih kental dengan adat dan budayanya.

“Ibu, Ayo pulang nanti sampai rumah bisa kemalaman”

Akhirnya ucapan Bang Irfan bisa menghentikan tangisan Ibu. Dengan berat hati Ibu kembali ke mobil. Aku mendampinginya, aku masih melihat bayang-bayang ibu dan melihat mobil Bang Irfan berlalu.

Suasana kamar kostku masih berantakan, banyak barangku yang belum aku tata. Semua barang dan kenganku tersimpan dalam kardus. Baiklah aku nggak boleh diem aja, harus mulai bersih-bersih sekarang.

Baju, sepatu, beberapa tas dan foto telah aku susun serapi mungkin dalam ruang kamar 4×5 m ini. Daripada harus tinggal di apartemen atau asrama lebih baik aku tinggal di kostan putri sederhana saja. Aku mencoba berkeliling kostan. Kondisi disini masih bersih, maklum saja ini termasuk kostan baru. Mungkin aku aku penghuni pertama disini. Perjalanan Jakarta – Solo memang melelakan, ditambah harus membereskan kamar.

Tokk Tokk…

Suara ketukan pintu membangunkanku, apa disini ada orang lain selain aku? Aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. Aku tak mendengar suara orang lain. Jujur aku sedikit merinding, apalagi kalau saat-saat seperti ini aku jadi ingat waktu kecil ditinggal di rumah sendiri. “Mbak…”

Mendengar suara itu aku langsung membuka pintu. “Ah iya ada apa ya?”

Seorang berpenampilan sederhana dengan daster motif bunga, dengan wajah yang masih sangat polos. “Mbak baru ngekost disini? Saya Lastri mbak. Saya baru pindahan kemarin.”

Kesan pertamaku saat bertemu Lastri, Udik. “iya mbak saya Tyas, baru pindah hari ini. Mbaknya Mahasiwa baru juga?”

“Iya mbak, Saya jurusan Seni Tari dan Gamelan. Kalo mbaknya?”

“wah sama mbak, saya juga ngambil jurusan itu.”

“Alhamdulillah nanti kita bisa jadi teman sekelas ya mbak.”

Dalam hatiku sebenarnya aku nggak yakin bisa menjadi teman sekelas yang baik untuknya, jujur aku sudah budaya jawa. Namun aku juga masih mengikuti adanya modernisasi.

Hari pertama masuk kampus,

Hari ini dijadwalkan mahasiswa baru untuk Technical Meeting mengenai perlengkapan dan aturan Ospek. Tema pakaian hari ini kemeja putih dan bawahan hitam. Meskipun memiliki tema warna, namun bagiku fashion tetaplah fashion. Aku tidak ingin tampak terlalu polos seperti mahasiswa baru lainnya. Aku harus tampil berbeda.

Selama acara berlangsung aku selalu bersama dengan Lastri. Bagaimanapun dia adalah satu-satunya orang yang aku kenal saat ini. Mulai dari latihan upacara hingga jam ISHOMA, Lastri terus menggandengku. Waktu istirahat hanya 30 menit karena aku tidak membawa bekal, meminta lastri untuk  menemaniku pergi ke kantin. Kondisi kantin ini cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang ada disini. tanpa pikir panjang aku mendatangi ibu penjual nasi goreng di kantin, tak lama nasi goreng pesananku datang. Kalau kelaparan mau makana terasa apaun pasti semua enak.

Tapi, dari kejauhan aku merasa ada kakak senior menuju kearah kami. Pura-pura tidak lihat saja… “Woiii jam ISHOMAnya udah habis ngapain masih disini?” sungguh apes. Kami berdua tidak diizinkan untuk kembali ke ruang aula. Kakak senior yang memergoki kami, meminta agar kami keliling lapangan 5 kali sambil nyanyi potong bebek angsa. Sungguh itu adalah hal yang memalukan, tapi entah kenapa aku menjadi tertawa, saat aku lihat Lastri kesusahan merapikan aksesorisnya.

“Potong bebek angsa… haa haa..”

“Kamu kenapa ketawa? Topi sama kaling kamu lepas”

“Oh iya.. Kaos kaki kamu juga mlorot”

“Siapa yang suruh berhenti nyanyi?!!”

“Sorong ke kiri, Sorong ke kanan lalalala…”

Usai berlari rasanya diriku dipenuhi dengan keringat, lebih baik hapus make up saja. “aku kelupaan bawa kapas pembersih. Duh gimana ya…”

“Tyas aku bawa tissue basah, kamu pakek nih”

“Wahh makasih Las”

Semenjak hari itu aku menjadi semakin dekat dengan Lastri, adalah kesalahanku ketika aku menilainya sebagai seseorang yang udik. Kepribadian yang Lastri miliki ternyata mengasyikan, ramah, baik, dan dia adalah gadis yang cukup pandai.

Selama ospek aku sering meminta bantuannya untuk melengkapi beberapa barang. Maklum saja aku masih minim pengetahuan mengenai Bahasa jawa dan aku juga belum berani untuk berkeliling kota Solo sendiri.

Aku Jatuh Cinta Part 3

Aku Jatuh Cinta | Part 3

Aku Jatuh Cinta | Part 3

Jujur kalian yang berada di posisiku pasti tidak dapat membayangkan perasaanku saat ini. Aku melangkah sedikit mundur darinya, bahkan saat akan berpisah pun aku masih mempermalukan diri di depan Bumi.

“Sorry..”

Aku Jatuh Cinta Part 3

 

Memang tak ada kata apapun yang bisa aku sampaikan selain maaf.

“Aku yang harusnya minta maaf Nin. Aku harap ada kesempatan lagi untuk bersamamu, meskipun aku sudah punya pacar sekarang. Tapi, jika takdir mengharuskan kita bersama aku pasti akan terima.”

Aku tak mengerti dengan ucapan Bumi saat itu. Kejadian di terminal Arjosari membuatku sedikit terpukul karena begitu mudahnya jatuh cinta terhadap laki-laki.

Sepulang dari Malang aku kembali melakukan rutinitasku bekerja, makan, tidur dan membersihkan situs blog yang berdebu. Tujuan awalku hanya ingin mencari konten yang menarik, dan Bumi adalah hal yang membuatku tertarik dari Malang.

11 Bulan 15 hari setelah kepulangan dari kota Malang…

“Nindy, istrinya Iko 2 hari yang lalu lahiran. Kamu diminta dateng ke Malang sama Tante. Libur kerja daripada di rumah terus”

“Iya Mah, besok Nindy berangkat ke Malang deh..”

Untuk memenuhi keinginan Tante dan Iko, libur kerja yang hanya 4 hari ini harus ku habiskan di Malang lagi. Untung saja aku tidak ke habisan tiket kereta. Aku mendengarkan musik sambil menikmati secangkir Bubble Coffe di ruang tunggu. Tiba-tiba aku terkejut ada seorang yang tidak aku kenal duduk di sebelahku dan mengambil satu earphone-ku. Jelas itu membuatku marah, akupun berusaha menegurnya namun “Bumi!”

“Hai Nin, Long time no see…”

“Bagaimana kamu bisa ke sini?”

“Aku ingin pergi ke Malang, kamu juga kan?”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Aku telah membaca semuanya. Malang-Love Never Die, Bumi Raksasa dari arah timur, Bus cinta dalam 14 jam perjalanan, dan Bumi untuk Nindy. Apakah semua artikel itu untuk aku?”

“Kenapa kamu begitu yakin? Aku sangat sulit menulis seseorang sudah punya pacar”

“Oh itu, aku telah putus sebulan setelah berpisah denganmu di terminal. Yang jelas bukan karena kamu.”

“Terus kamu mau apa?”

“Aku mau bikin kamu jatuh cinta dengan Bumi tempat kamu berpijak, dan Bumi yang sedang kamu tatap.”

“Boleh, coba aja. Aku mau lihat apa yang kamu bisa”

Kami saling melempar senyuman. Jujur saat kembali dipertemukan dengan Bumi pun aku merasa senang. Rasa patah hati saat pepisahan di terminal rasanya menjadi hal yang tidak pernah terjadi pada aku dan Bumi.

Karena aku tahu…

BUMI….. bukan lagi tempat untuk aku datang lalu pergi. Tapi BUMI…. Dia yang selalu menemani.

Aku Jatuh Cinta | Part 2

Aku Jatuh Cinta | Part 2

Aku Jatuh Cinta | Part 2

Aku Jatuh Cinta | Part 2Dan kebenaran yang selanjutnya aku tahu adalah Bumi memang orang yang baik. Semua terbukti bukan hanya aku saja yang kehabisan tiket tapi Bumi juga. Mungkin naik bus akan jauh lebih lama dibandingkan dengan kereta. Namun jika teman perjalananku kali ini adalah Bumi, sebanyak apapun waktu sepertinya aku siap.

Kata Bumi keberangkatan Bis sekitar satu jam lagi, dia mengajakku untuk makan di warung seberang terminal. Sebenarnya ini pertama kalinya aku pergi ke Malang pakai Bis. Semenjak kecil aku sudah trauma dengan Bis, pengalaman buruk saat mabuk kendaran dan rasa lelah yang luar biasa selama perjalanan membuatku enggan untuk naik bis. Meskipun jaraknya dekat, dalam hati aku berharap tidak melakukan hal memalukan seperti muntah di pakaian Bumi.

“Udah kenyang mbak Nindy makannya?”

“Oh udah kok, kamu panggilnya Nindy aja gak usah pakek mbak”

Tibalah waktunya bis berangkat, jujur jantungku berdetak sangat kencang, aku tidak tahu apakah karena sebangku dengan Bumi atau karena rasa takutku akan naik bis. Aku selalu membuang muka kea rah jendela. Aku yakin saat ini wajahku pasti sangat pucat. Selama perjalanan tak ada obrolan diantara kami, aku melihat Bumi sedang sibuk membaca buku. Hatiku masih merasakan kegelisahan, rasanya perutku mulai bergejolak. Lebih baik aku paksakan diri untuk tidur saja.

“kamulah satu-satunya…. Kamulah satu-satunya…. Kamulah satu-satunya.. Maafkan aku selama ini..”

Suara nyanyian yang terdengar lirih. Aku tidak tahu suara siapa ini, mataku terbuka sedikit. Pandanganku masih tidak jelas, tampak dua tangan yang sedang bemain dengan ponsel. Aku mencoba untuk memperjelas penglihatanku namun rasa kantuk mengalahkan itu.

Aku harap setelah mataku terbuka aku telah sampai di kota Malang. Aku benar-benar tidak berada di dalam bis ini terlalu lama. Rasanya perutku mulai sakit, benar-benar campur aduk tidak jelas apa yang terjadi dalam perutku. Semakin lama rasa sakit itu semakin mengganggu. Tidurku semakin tidak nyenyak, seketika mataku dan mulutku terbuka.

HUOOOKKK….

Hal yang aku takutkan terjadi, aku muntah di baju Bumi. Dia yang tadinya terlelap menjadi terbangun. Jujur aku sendiri jijik dengan kondisi ku sekarang, apalagi Bumi. Namun bukannya menjauh Bumi langsung malah dengan pelan membersihkan mulutku dengan tisu. Dia melap keringat di dahiku dengan tangannya sendiri. Aku bahkan tak membayangkan betapa kucelnya mukaku saat ini. Pasti aku jelek sekali.

Bis yang kami tumpangi berhenti di sebuah pom bensin. Karena ulahku semua penumpang mengeluh merasakan bau di dalam bis, selain itu kernet bis dan pak supir harus membersihnya. Terlebih Bumi jam 11.00 ia terpaksa harus mandi. Aku duduk termenung di pelataran mushola pom ini. Badanku rasanya sangat lemas sekali, rasanya aku ingin sekali menangis meminta dijemput Mamah. Tapi please itu sangat gak mungkin terjadi. Aku menyandarkan badanku, liburan ke Malang yang aku kira akan menyenangkan ternyata diawali dengan hal yang memalukan.

“Nin kamu nggakpapa? Butuh obat nggak atau masih pusing?”

“Perut aku jadi laper, tapi aku takut kalau makan nanti muntah lagi.”

“Yaudah kamu tunggu sebentar di sini.”

Aku hanya mengangguk, jujur aku malah menjadi merepotkan untuk Bumi. Dia benar-benar merawatku dengan baik, di membelikanku segelas teh hangat, mi cup yang hanya ku seruput kuahnya saja. Hingga dia memijat kepalaku. Sungguh belum pernah aku merasa diperhatikan sampai sejauh dengan cowok. Apalagi baru ku kenal beberapa jam yang lalu.

Pak supir memberikan aba-aba untuk masuk ke dalam bis lagi, aku menggandeng tangan Bumi. Dibalik tubuhnya yang besar ternyata dia seorang pria yang benar lembut. Bahkan aku sendiri bisa sedekat ini karena kebaikan dan kelembutan hati yang dimilikinya.

“Kamu tahu nggak salah satu cara aku biar nggak mabuk kendaraan?”

Aku menggeleng.

“Dengerin musik sambil nyanyi” Bumi memasangkan salah satu earphonenya ke telingaku. Kamulah satu-satunya yang ternyata mengerti aku maafkan aku selama ini… yang sedikit melupakanmu~

Bumi mengajakku bernyanyi pelan, sepertinya suara yang aku dengar tadi siang adalah suara Bumi. Aku tidak sempat bertanya kenapa dia sangat menyukai lagu ini? Padahal ini adalah lagu lawas. Aku juga bingung kenapa aku jadi ikut bernyanyi?

Pagi ini, tepat pukul 05.30 pagi kami telah sampai di kota Surabaya jarak dari Surabaya ke kota Malang sekitar 2 jam. Tandanya perjalananku dan Bumi akan selesai. Aku menatap Bumi yang keluar dari pintu Mushola. Aku heran biasanya bis malam tidak peduli waktu sholat dan meminta penumpangnya untuk menjamak sholat. Tapi kenapa bis yang kali ini aku tumpangani kali ini sangat pengertian dengan penumpangnya. Sholat 5 waktu tidak pernah terlewatkan, dan insiden tadi malam jadi waktu istirahat setelah makan siang.

“Hei! Ngalamun aja. Kamu udah sholat?”

“lagi nggak boleh sholat. Emm… nggak kerasa udah di nyampe Surabaya ya”

“Iya cepet juga, kalau naik kereta mungkin lebih cepet.”

“Btw sorry ya soal semalem, aku bener-bener nggak sengaja.”

“Iya santai aja, harusnya kalau kamu mau mabuk kendaraan bilang aja. Kan aku bisa nyiapin P3K. oh ya karena kemarin kamu tidur terus kita jadi nggak banyak ngobrol”

“Iya, sebenarnya aku sudah lama nggak naik bis. Terakhir kali naik bis Cuma waktu SD kelas 2, dan jaraknya cuma Jakarta – Banten doang. Karena waktu itu jalanan macet perjalanannya terasa sangat lama. Aku juga muntah-muntah waktu itu, dan sesampainya di Banten aku langsung bilang ke Mamah kalo gak mau naik bis lagi.”

“Sorry Nin, aku malah jadi nggak enak sama kamu. Harusnya aku nggak maksa kamu buat naik bis, pasti selama perjalanan kamu tersiksa banget ya.”

“Udah gak usah minta maaf, kamu udah ngerawat aku dengan benar kok!”

Obrolan kami terus berlanjut, menurutku jarak antara Surabaya dan Malang yang ku rasa jauh menjadi dekat. Selama perjalanan Bumi selalu bercerita banyak hal, ternyata dia adalah seorang atlet “Rock Climbing”. Mendengar itu aku langsung kagum dengannya. Pasti keseharian dia dipenuhi dengan hal-hal yang memacu adrenalin.

“Bumi itu tempat kita berpijak, Bumi juga namaku. Jadi saat setiap aku memanjat tebing, aku merasa bumi sedang memanggilku.”

Kalimat yang puitis untuk seorang cowok seperti Bumi. Aku tak bisa merespon apapun selain tersenyum padanya. Mata kami saling bertatapan, tangan Bumi yang besar menyentuh pipiku yang mungkin lebih kecil dari tangannya. Aku merasakan jari jemarinya yang mengelus-elus. Aku tidak sadar dan reflek langsung memeluknya, dan kebetulan saja suasana bis sangat sepi. Suasana dalam bis seakan sangat mendukung hampir sebagian penumpang di sini tertidur pulas. Tatapan kami semakin dalam, pelahan aku mendekatkan wajahku dengan wajah Bumi. Aku ingin untuk perpisahan terakhir kami kenanglah ini Bumi.

Aku mengecup hidungnya yang mancung, bagiku itu adalah lambang terima kasih untuk Bumi. Aku saling memberikan senyuman, pagi ini kami layaknya seorang pengantin yang sedang ingin berbulan madu. Semakin halus Bumi mengelus pipiku dengan kedua tangannya, dan semakin dalam aku menatap Bumi.

Tepat pukul 08.00 kami telah sampai di terminal Arjosari Malang. Tepat di pintu gerbang keluar, tanganku dan Bumi masih saling bergandengan. Jujur aku ingin perjalanan kali ini tidak berakhir seperti ini. Aku ingin perjalanan ini berakhir pada status pasangan kekasih.

“Kita harus berpisah.”

“Iya, terima kasih Bumi. Aku ingin sekali memelukmu”

Bumipun tersenyum tanpa pikir panjang, ia kemudian memelukku. Dalam pelukannya aku bercerita dan sekaligus berharap.

“Tujuanku ke Malang adalah untuk menemui saudaraku yang menikah. Setiap acara keluarga banyak orang yang membawa pasangannya, jadi bolehkah kamu menemaniku dan menjadi pasanganku?”

Mendengar itu Bumi melepaskan pelukannya. Ia menundukkan kepala, jujur saja meskipun baru mengenalnya satu hari saja. Aku merasa sangat yakin dengannya, aku tak peduli meskipun Ia menganggapku sebagai wanita murahan sekalipun. Aku hanya ingin jujur dengan perasaanku sebelum akhirnya kami berpisah.

Bumi mengangkat kembali kepalanya dan memandangku. Ia masih saja memberikan senyuman tapi kali ini senyumannya begitu masam.

“Aku sudah punya pacar di Malang Nin. Aku tak bisa mengkhianatinya.”

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1

Aku Jatuh Cinta | Part 1Sinar matahari meneroboh masuk melalui jendela kamarku. Betul saja karena silaunya membuatku terbangun, aku melihat jarum jam dinding yang tertempel di depan pintu kamar. Tepat sudah pukul 09.00 pagi. Dengan langkah sedikit malas, aku beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Ku basuh muka dan gosok gigi, karena hari ini aku libur kerja jadi aku tak berniat untuk pagi.

Aku kembali di meja belajarku. Ku nyalakan laptop yang semalam telah mati, meskipun aku tidak berada di kantor namun banyak pekerjaan lainnya yang harus aku kerjakan. Aku mengecek situs blog ku kembali, dan benar saja. sudah beberapa bulan ini tidak ada aktivitas yang aku lakukan. Situsku sudah sangat berdebu, semenjak aku resmi menjadi karyawan tetap di kantor rasanya waktu telah habis dengan berbagai macam deadline dan laporan.

Aku ingat saat pertama kali aku membuat blog ini. hampir setiap hari aku bercerita tentang kehidupanku, mengenai suka dan duka selama kuliah. Menurutku saat menulis di situs ini aku merasakan kebebasan. Aku sangat tidak peduli dengan komentar orang-orang, kalau mereka memuji aku sangat bersyukur tapi kalau berkomentar jelek aku biarkan saja.

Aku berpindah dari meja belajar ke meja makan. Mamah sepertinya telah menyiapkan sarapan, sebelum berangkat ke rumah Tante. Sepi sekali, dan rasanya aku sangat suntuk dengan kehidupanku sekarang.

TRINGGGG TRINGGG TRINGGG…..

Terdengar bunyi telepon, aku memanggil seseorang yang bisa mengangkatnya. Namun aku sadar sekarang aku di rumah sendirian. Kenapa setiap hari minggu semua orang menjadi sangat mager termasuk diriku.

“Hallo Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Nindy ya? Ini Tante Salma Nin.”

“Oh iya Tante gimana? Hari ini Mamah ke rumah sana kan?”

“Iya barus aja sampe. Oh iya kata Mamah kamu, kamu lagi libur kerja 7 hari ya?”

“Hehehe iya, emangnya kenapa Tante?”

“Kamu nyusul Mamah ke sini dong. Soalnya 3 Hari lagi ada acara Nikahannya Iko, daripada kamu sendirian di rumah mending ke Malang sini.”

“Boleh deh Tante, nanti aku coba cek tiket pesawat Jakarta-Malang”

“Nah, gitu dong nanti kamu titipin rumahnya ke pak satpam aja ya!”

Memang selama satu minggu ini aku tak memiliki rencana pergi kemanapun. Menurutku pergi ke Malang juga tidak masalah.

Kondisi stasiun pasar senen memang selalu ramai, padahal tadi pagi aku bilang bakan ngecheck tiket dulu. Tapi entah kenapa karena gak ada kegiatan lain aku ingin langsung berangkat ke Malang hari ini. Antrian loket hari ini cukup panjang, dan yang paling menyebalkan adalah saat ada orang yang langsung menyerobot antrian begitu saja.

Jujur saja aku paling benci dengan orang yang tidak tertib. Apalagi jika orang tersebut adalah anak muda yang usianya tak terlalu jauh dariku. Tanpa pikir panjang aku langsung menegurnya, namun bukannya baris dibelakangku cowok itu hanya berkata “Misi sebentar ya mbak ini urgent.”

WHATTTTT… omegattt emang susah hidup di Indonesia orang ditegur bukannya merasa bersalah malah beralasan. Apalagi gak ada petugas stasiun pun yang lihat kelakuan cowok satu ini. Aku terus mencoba menepuk pundak cowok satu ini tapi dia terus mengacuhkanku hingga akhirnya “udah kok mbak mari.”
jujur kekesalanku rasanya masih ingin ku luapkan, tapi lebih baik aku biarkan saja. Aku tak ingin membuang tenaga hanya untuk bertengkar dengan cowok gak jelas itu.

“Selamat Siang mbak 1 tiket ke Malang buat hari ini”

“Mohon maaf mbak, untuk tiket ke Malang baru saja habis. Jika mbak berkenan mbak bisa reservasi tiket ke Malang untuk besok pagi di loket 1.”

Kejengkelanku kini telah mencapai puncaknya, dasar cowok gak punya aturan udah nyerobot antrian tiket terakhir ke Malang pasti di beli sama dia! Ini udah kelewatan, cowok ini harus aku tegur. Aku sangat hafal dengan tas ransel yang ia gunakan. Tas gunung motif army dengan tulisan “Love Never Die.”

Aku haru menemukannya, tepat di ruang tunggu. Dengan penuh keberanian aku menghampiri cowok itu. Ku tepuk pundaknya dan dia pun membalikan badan. Aku tak taku sekalipun meskipun postur tubuh yang dimiliki tinggi dan besar. Meskipun aku hanya setinggi ketiaknya dan harus mengangkat kepala saat harus berbicara dengannya, tapi Aku tidak TAKUT!!

“Woii mas, gara-gara anda, saya jadi ke habisan tiket ke Malang. Apa anda nggak ada perasaan bersalah sama saya? Anda sudah menerobos antrian dan membeli tiket terakhir ke Malang yang harusnya itu milik SAYA!” tanpa aku sadari intonasi suaraku yang tinggi menjadi pusat perhatian orang-orang. Cowok itu hanya diam saja, namun perhatianku teralihkan saat aku melihat sosok kakek dan nenek yang berada dibalik badan cowok itu mengucapkan maaf padaku.

“Mbak maaf..” ucap si kakek dengan sangat lirih. Kalau udah wajahnya saja aku sudah merasa iba dan nggak tega. Kakek dan nenek ini sudah sangat renta bahkan kakek harus menggunakan tongkat kayu untuk berjalan. Sedangkan nenek memiliki wajah yang sangat meneduhkan, rasanya kemarahanku hilang seketika.

“Maaf ya mbak, tiket ke Malangnya kami yang beli. Antriannya terlalu panjang saya sama istri gak kuat untuk berdiri lama. Jadi mas ini bantuin kami buat beliin tiket kereta ke Malang.”

Astaga Nindy selamat kamu telah menjadi wanita yang terbukti galak dan jahat. Tanpa pikir panjang aku mencium kedua tangan kakek dan nenek itu, jujur aku akui akulah yang salah. Memarahi orang tanpa meminta alasannya. Pantas saja tidak ada orang lain yang menegur orang ini rupanya dia bukan mementingkan keegoisannya namun mementingkan orang lain.

Aku tak ingin terlalu memikirkan kejadian barusan. Lebih baik aku mencari makan didekat stasiun dan baru pulang. Untung saja aku belum mengabari keluarga di Malang. “Heii mbak.. tunggu sebentar” aku membalikan badanku karena aku merasa panggilan itu ditujukan padaku. Ternyata benar lelaki yang baru saj aaku tegur tadi.

“Maaf ya mbak atas insiden tadi, nggak seharusnya saja nerobos antrian dan sekarang mbaknya jadi kehabisan tiket.”

“Nggak papa mas, udah lupain saja. Lagian saya bisa berangkat besok kok, udah ya mas saya duluan.”

“Tunggu mbak, daripada harus ubah jadwal, saya kasih alternatif lain mbak.”

Entah kenapa aku orang yang tak mudah percaya dengan orang baru, namun dengan cowok ini aku begitu mudah untuk menyetujuinya. Dari stasiun pasar senen, cowok mengajakku ke terminal senen. Jujur aku sendiri heran kenapa aku mengiyakan saat ia mengajakku ke terminal. Nggak seharusnya aku ikut dengan orang ini, hanya karena dia terlihat baik di keramaian bukan berarti dia akan berperilaku sama di tempat yang sepi.

Aku terus berusaha menjaga jarak darinya, apalagi postur tubuh yang dimilikinya tak akan bisa membuatku berkutik atau melawan. Dalam pikiranku aku membayangkan berbagai teknik bela diri yang aku lihat di film-film action. aku harus benar-benar mengingat dan mempelajarinya dengan cepat.

“Mbak, ini tiketnya.”

“HAH? Tiket?”

“Iya, sebagai permohonan maaf ini ada tiket bis buat ke Malang, mohon di terima ya mbak.”

“Duh mas beneran gak usah. Lagian saya udah bilang gak masalah kalo berangkat besok pagi. Malah jadi ngerepotin kan saya.”

“Udah gakpapa mbak. Lagian tujuan saya sama kok mbak, Malang. Ini tiketnya sudah dibeli sayang kali mbak kalo nggak dipake. Oh ya kita belum kenalan mbak, saya Bumi”

“Nindy.”

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Hari berikutnya, Ujian hari ini dijadwalkan adalah Bahasa Inggris dan Fisika. Banyak temanku yang mengaku kalah dengan mata pelajaran ini. Bagaimanapun aku tidak boleh kalah! Aku terus belajar di depan ruangan, ku bolak-balik lagi halaman dalam buku catatanku. Ditengah suasana belajar beberapa siswa hilir mudik melewatiku. Sempat aku mendengar “kuncinya udah bocor” bahkan ini masih sangat pagi. Ayolah kenapa dengan diriku, kamu harus percaya usaha tak akan mengkhianati hasil!

Hari ini lagi-lagi aku masih melakukan hal yang sama, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakan soal ini. Semua yang aku pelajari hanya sedikit yang keluar di dalam soal. Akhirnya aku melakukan tindakan gegabah seperti kemarin.

Jam istirahatku hanya ku gunakan untuk belajar. Ratih menghampiriku, dia sangat perihatin melihatku di kelas. Dia berusaha menghiburku, hingga dengan sengaja dia mengirim semua kunci jawaban melalui pesan SMS ke padaku. Dia bilang “aku ingin kita lulus bareng-bareng”.

Selama ujian kedua berlangsung aku berusaha menahan diriku untuk mengerjakan apapun dengan segala kemampuan yang aku bisa. Perbuatan curang bukanlah bagian dariku. Tapi aku ingat kata Ayah saat kami makan malam di warung mi ayam “Nak, kalau nanti udah lulus dan dapat nilai terbaik Ayah janji bakal mengizinkan kamu untuk masuk universitas manapun”. Aku tak ingin mengecewakan Ayah dengan hasil nilai ujian yang buruk, dan aku juga ingin masuk unversitas yang aku pilih.

Ujian telah berlalu dan pendaftaran mahasiswa baru di berbagai universitas telah dibuka, sore ini aku duduk di depan teras rumah. Bersama Ayah aku menikmati secangkir teh. Kami bercanda seperti biasanya, aku menyerahkan selembar undangan dari sekolah. Surat yang berisikan pengumuman kelulusan siswa kelas XII besok lusa. Ayah sangat senang melihatnya, dan aku yakin besok namaku akan masuk siswa terbaik di sekolah.

Suara motor yang kencang, asap kenalpot, dan berbagai warna-wani memenuhi SMA. semua siswa kelas XII bersiap untuk menunggu keputusan sekolah. Aku duduk dibelakang bersama Ratih. Di dalam tas kami sebenarnya telah siap serbuk warna dan spidol untuk menandatangani seragam putih abu-abu ini.

Akhirnya pengumuman 5 siswa yang memiliki nilai UN terbaik di sekolah. Ayah akan ku buktikan padamu, jika aku adalah anak yang membanggakan! Satu per satu nama disebut. Namun yang terjadi..

Aku tak mendengar namaku di panggil. Kenapa? Aku coba mendengar satu nama terakhir, mungkin itu adalah aku. “yang mendapat nilai tertinggi di SMA Pancasila adalah RATIH TRIMULANSARI”.

Ratih tak berhenti memelukku! Dia sangat kegirangan. Ratih mulai melangkah menuju podium dan memberikan beberapa sambutan untuk siswa dan para orangtua. Kenapa? Kenapa harus Ratih, aku telah belajar dengan giat? Dan aku mendapatkan kunci jawaban yang sama dengannya! Tapi kenapa harus dia bukan aku? Seluruh jawaban Ratih adalah hasil bocornya kunci, sedangkan aku 60% berdasarkan apa yang aku pikirkan! Apa Ratih sengaja memberikan kunci jawaban yang salah? Tidak! Itu bukan salahnya dan dia bukan tipekal teman yang menusuk dari belakang. Pandanganku beralih keposisi duduk Ayah, dari belakang Ayah mungkin sangat kecewa denganku.

 “pengumuman hasil UN dilakukan seretak diberbagai sekolah di Indonesia banyak indikasi terjadinya kecurangan selama proses ujian berlangsung…”

Malam ini berita yang ada di berbagai channel di TV membahas mengenai UN. Aku masih menyantap makan malam bersama Ayah dan Ibu.

“sekarang memang banyak siswa yang dapat nilai bagus karena kunci jawaban. Itu sama saja bohong, nilai bagus tapi dari kecurangan… Ayah senang nilai yang kamu dapatkan adalah nilai murni dari hasil belajar.”

Dalam hati aku sungguh bersalah, hanya karena kepentinganku Aku rela membohongi Ayah yang seumur hidupnya mempercayaiku. Kali ini aku tak bisa menjawab apapun dari pernyataan Ayah. Aku hanya diam dan berpura-pura tak mendengarkannya. Maaf Ayah kali ini aku gagal membanggakanmu, adalah kesalahanku saat Ayah percaya dengan diriku tapi aku malah ragu. Maaf Ayah, aku telah berbuat curang.