Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Susah Senangnya Jadi Content Writer

Halo, hari ini sesuai janji di konten belajar nulis sebelumnya, kalau Aku bakal jelasin bagaimana sistem kerja content writer. Well, sebelumnya Aku kan udah bahas ya gimana mengubah patah hati menjadi cerita fiksi. Cielahh, sebenarnya menulis pada dasarnya sama sih. Mau itu nulis fiksi ataupun non-fiksi.

Cuma saat menulis fiksi dan artikel biasa, kita butuh sudut pandang yang berbeda. Hal itu juga berlaku loh, saat kita jadi content writer dan blogger. Kalau ditanya susah mana, jujur menulis fiksi lebih susah dibanding menulis artikel.

Menulis fiksi perlu imajinasi, dan sebagai penulis cerita kita harus bisa memvisualisasikan tempat, karakter, konflik, dan lain-lain. Butuh waktu dan komitmen untuk menyelesaikan ceritanya. Meskipun fiksi bisa dibuat versi cerita pendek, namun tetap saja. membuat cerita awal hingga mengakhirnya sesuai keinginan dibutuhkan fokus dan komitmen.

Nah balik lagi dipembahasan susah senangnya jadi content writer. Pada dasarnya, semua pekerjaan pasti ada susah senangnya. Karena Aku emang suka nulis dari kecil, jadi menurutku pekerjaan ini Aku nikmati. Ya, bekerja sesuai dengan apa yang kita sukai tentu menyenangkan bukan, meskipun ternyata hal itu nggak semudah yang kita kira.

Pertama kali Aku menjadi content writer sekitar bulan November 2018 silam. Saat itu aku baru lulus kuliah. Jujur Aku masih kerja part time saat itu, sambil nyari pekerjaan tetap di perusaah tertentu. Kemudian, salah satu temanku menawarkan pekerjaan ini. Saat itu, masih sekadar freelancer. Dulu, artikel yang ku buat sebanyak 5 buah artikel dengan jumlah kata 500, dan itu harus dikirim setiap minggu. Jujur pertama deg-degan sih, ya maklum saat itu aku masih nge-blog lewat steemit (platform blockchain gitulah…) dan di akun steemit itu pun aku juga lebih banyak cerita tentang fiksi.

Di bulan pertama rasanya membuat seratus kata itu susah banget. Setiap pulang kerja part time aku selalu lanjut nulis. Jujur Aku selalu bingung mau nyusun gimana? Ini tulisannya enak dibaca apa nggak? Ini nanti termasuk kena plagiasi nggak? Segala ketakutan Aku rasain saat menulis. Untunglah, di bulan-bulan berikutnya aku mendapatkan treatment yang berbeda, seperti diberi referensi website, yang bisa jadi sumber konten. Saat itu mulai rasanya sedikit ringan. Selama jadi content writer aku cenderung menerapkan konsep re-write.

Sebenarnya ada dua teknik copy writing yang bisa kita pake, yakni:

  1. Re-write (menulis ulang artikel dari 2 situs website yang menjadi referensi dengan gaya bahasa kita sendiri sehingga menciptakan artikel yang baru.)
  2. Translate (Kita mengambil artikel atau jurnal asing yang kemudian kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan disusun kembali menjadi kalimat yang enak dibaca).

Seiring berjalannya waktu Aku jadi terbiasa. Sekitar 4-5 Aku freelancer menjadi content writer website orang. Hingga akhirnya di pertengahan tahun 2019 Aku bekerja tetap sebagai content writer di sebuah kantor.

Awalnya senang dong, tapi beda freelance beda pekerja tetap. Jika freelancer hasil artikel yang diminta masih sedikit dan deadline-nya per minggu. Sekarang tantangan bertambah, setiap hari aku harus membuat 5 artikel sesuai keyword yang diberikan. Awalnya susah, namun lama-lama kebiasa. Hingga akhirnya jumlah artikel ditambah jadi 7 artikel perhari.

Selain jumlah artikel yang ditambah, tapi jumlah katanya juga. Pertama 500, 600, 800, hingga 1000 bahkan 1200. Memang setiap keahlian harus diasah bukan. Cara mengasahnya tentu dengan memberi tantangan pada diri.

Bagi  kamu yang suka dengan bidang kepenulisan mungkin pekerjaan content writer sangatlah cocok. Karena disini kamu akan belajar banyak. Seiring banyaknya pengalaman menulis secara nggak langsung kita akan lebih banyak membaca. Kita lebih banyak sudut pandang tentang sesuatu, bukan hanya kecepatan dalam menulis saja yang meningkat, namun kita bakal lebih lihai lagi dalam menyusun kalimat yang efektif dan memilih kata yang cocok.

Selain itu, bagi kamu yang juga content writer dan suka nulis cerita fiksi. Kamu beruntung, seperti yang aku bilang saat kita banyak membaca dan mendapatkan banyak sudut pandang. Kita bakal banyak ide-ide. Akan lebih mudah bagi kita buat menyusun cerita dan ide akan semakin liar. Dan aku alami sendiri, meskipun bukan dari keresahan hatiku. Tapi karena banyak menulis artikel tentang topik tertentu aku jadi paham (meskipun hanya kulit) tentang isu tertentu di masyarakat. Tentu itu bakal jadi hal seru kalau dibuat versi fiksinya.

Oh ya, sebagai content writer tentu proses menulis gak selamanya lancar. Dulu waktu awal aku selalu menjadi 100 kata sebagai takaran aman. Maksudnya aku nggak bisa santai kalau jumlah katanya belum 100. Tapi aku juga pernah ngalamin yang namanya “Eh selesai?” ya nulis berapapun kata rasanya enteng banget. Itulah pengalaman, hehehe semoga dengan apa yang aku bagi sekarang bisa jadi hal yang bermanfaat bagi kita semua. See You!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *