sunmori

Sunmori

sunmori

Aku senang menjadi orang selalu di belakangmu setiap kali kita menghabiskan waktu di Minggu pagi bersama motor maticmu ini. Orang hilang menghabiskan waktu untuk sunmori adalah hal yang luar biasa. Aku menyetujui itu. Menikmati perjalanan panjang dengan udara yang lebih sejuk adalah hal yang menyenangkan. Meskipun rute perjalanan kita selalu sama, namun kesan setiap perjalanan terus berbeda.

Pagi ini kamu mengajakku untuk makan bubur ayam sampai kota Salatiga. Untuk orang yang sekadar ingin cari sarapan, ini hanyalah buang-buang waktu. Untuk apa sejauh itu jika depan gang saja sudah ada penjual bubur ayam legendaris yang pembelinya mengantri berbaris-baris. Namun bagiku, tak ada yang terbuang jika semua itu dilakukan denganmu.
“Kamu tim bubur diaduk atau nggak?” Tanyaku menyela, pertanyaan receh seperti ini sangat serus untuk kita bahas berdua. Dibanding membahas hal lain seperti konspirasi dunia, yang sampai saat ini aku belum memahami itu.
“Diaduk, Aku belum terbiasa makan bubur ayam dengan cara lain selain itu”
“Aku juga, rasanya lebih nikmat kalau dicampur semua. Tetapi beberapa temanku bisa, makan bubur ayam tanpa mengaduknya”
“Yasudah, belajarlah dengan temanmu, agar bisa menikmati bubur ayam dengan 2 cara sekaligus” jawabmu dengan spontan
“Dibanding belajar cara-cara makan bubur ayam, aku lebih suka mencari alasan untuk terus makan bubur ayam denganmu saja.”
Kamu hanya tersenyum, dan kita melanjutkan makan. Jika ada perlombaan cepat makan, aku yakin kamu pasti yang akan menang. Sebelum aku menghabiskan setengah makananku kamu selalu selesai lebih dulu. Kamu selalu sabar menunggu aku selesai makan, kadang sambil menunggu aku selesai makan. Kamu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya sebagai penenang. Kamu tahu aku cukup benci dengan rokok, jadi kamu selalu membuang asapnya jauh-jauh dariku. Aku menghabiskan makananku dengan kamu, begitupun kamu dengan batang rokok yang kini sudah menjadi abu. Akhirnya kita lanjutkan perjalanan. Minggu pagi yang menyenangkan.

 

Aku menatap langit, awan di hari Minggu pagi memang terlihat sama. entah dari luar ruangan ataupun dalam kamar. Aku terus mengingat kenangan dulu setiap kali langit Minggu pagi itu ada.

Meski tak diluar untuk berjalan-jalan semua masih sama terasa. Pada kabirnya kamu juga meluangkan waktumu di minggu pagi untuk menemaniku, seperti sekarang.
“Jadi kamu rindu dengan angin pagi di hari minggu?” Tanyamu.
“Iya, bukan cuma paginya tapi memelukmu juga” jawabku dengan sedikit senyuman.
“Kamu tak harus menunggu hari minggu untuk memelukku, kamu bisa melakukan kapanpun selagi kamu mau” jawabanmu yang selalu menenangkan.
Kamu menggenggam tanganku erat. kita saling memandang, aku selalu tersenyum. Kamu selalu tampak indah di mataku.
“Mau makan bubur ayam sekarang?” Tanyamu dengan tersenyum tapi matamu begitu nanar. Aku mengangguk, kamu menyuapiku pelan-pelan. Kamu sudah hafal seberapa lama aku menguyah makanan. meskipun bubur adalah makanan yang aman untuk dikunyah sebentar. Tapi aku tetap menguyah lama seperti biasa.
“Dengan kondisi seperti ini, apa bisa aku sunmori lagi?” Tanyaku iseng
“Tentu saja bisa..” ucapmu yang semakin berat. Aku tahu kamu sangat tertekan, ada banyak rasa bersalah dalam benakmu. Aku meraih tanganmu. Ku minta agar semangkuk bubur yang tinggal setengah itu kamu taruh di atas meja. Aku menggenggam kedua tanganmu.
“Kamu tahu, setelah jatuh cinta padamu aku memiliki banyak bayangan indah. Tentang bagaimana kita menikah, bercinta, menghadapi masalah, dan punya anak. Semua itu cukup indah untukku bayangkan setiap kali kita berpelukan”
Air matamu mulai jatuh. Sekian tahun kita bersama baru kali ini ku lihat dirimu benar-benar rapuh. Padahal kamu termasuk pria yang menyembunyikan rasa sedihnya.
“Maaf, semua salahku. Harusnya aku yang sakit bukan kamu, harusnya aku yang memakai selang oksigen dan infus itu.” kini tangismu sudah tumpah. Kamu menunjukkan sisi lain yang selama ini tak diketahui banyak orang.
“Aku mengenalmu sebagai pria yang tak pernah terluka. Bahkan di hari pernikahan mantanmu saja kamu datang dan membawa hadiah yang besar”
Aku mengelus pipimu, ku usap lembut setiap air mata yang jatuh.
“Melihatmu sakit itu jauh lebih sulit.”
“Tapi selama kamu terus ada, aku tak akan pernah merasa sulit. Aku tahu kanker ini masih membutuhkan obatnya. Tapi bagiku, kamu sudah menjadi penawarnya”
“Aku takut kamu mati” ucapmu dan tangismu kini semakin menjadi-jadi.
“Semua dari kita akan mati. Tapi aku lebih takut, jika aku mati kamu akan terus menyalahkan diri sendiri. Kamu akan kesepian dan kehilangan kebahagiaan. Kanker paru-paru ini bukan sepenuhnya salahmu. Sejak kecil aku memang punya fisik yang riskan. Jadi ini bukan salahmu sepenuhnya”
“Harusnya aku berhenti merokok sejak kamu bilang, kamu membencinya”
Aku terdiam. Aku bingung apa yang harus aku katakan. Kini ku elus lembut bagian rambutnya. Ada sehelai, dua helai uban tanda jika kamu mulai menua.
“Aku memang membenci rokok. Tapi aku jauh mencintaimu, kamu sudah melakukan toleransi yang baik padaku. Ada banyak perokok aktif di sekitarku selain kamu”
Kamu memelukku dengan erat. Susana ruangan ini menjadi lebih dramatis.
“Berjanjilah padaku, setelah ini jangan ragu membuka hati dengan wanita lain.” Ucapan yang bijak yang mungkin terakhir kali bisa aku katakan padamu. Aku harap kamu melakukannya dengan sangat baik.
“Aku sudah menyiapkan satu ruang di hatiku yang hanya ada kamu. Dan tak ku izinkan siapapun untuk mengisinya cuma kamu yang boleh ada di sana, aku janji” sebuah kata bijak yang kamu ucapkan. Aku tersenyum dan menangis pula.
Semua kisah pasangan tentu berakhir berbeda-beda, kadang beberapa harus berpisah. karena memang tak sejalan, adanya pengkhianatan, atau memang tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Seperti kita sekarang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *