Sipa Dalam Kelana

Sipa Dalam Kelana

Sipa Dalam Kelana

Sipa Dalam Kelana

Sumber : Photo by Tommy Lisbin on Unsplash

Santoso Ilman Yudistira Putra Adiguna atau yang lebih akrab dipanggil Sipa. Dia adalah temanku di masa sekolah dulu, sejujurnya kami memang tidak akrab. Sama sekali tidak akrab. Bagiku Sipa hanyalah orang biasa yang terlalu banyak diperhatikan orang-orang. Tapi aku bukan termasuk ke dalam orang-orang itu.

Aku menjalani hidupku dengan sangat biasa, Lulus SMA, kuliah, mendapatkan gelar sarjana dan bekerja. Hingga suatu kejadian atau mungkin sudah rencana Tuhan, mempertemukanku dengan Sipa. Seseorang yang berada di luar rencanaku, sangat.

“Hallo kamu dimana? Aku jemput sekarang”

Telfon singkat yang bertanya namun terkesan memaksa. Aku sedikit kaget, di otakku dia adalah orang gila yang mungkin tak memiliki kerjaan yang jelas. Aku mengomel, menggunakan berbagai alasan sebelum diajak untuk melakukan tindakan yang mungkin diluar dugaanku.

“Udah, buruan shareloc.”

Sipa mulai bosan dengan omelanku. Aku setengah ragu, namun juga setengah ingin. Aku tak tahu, sekadar cerita saja, dia bisa tiba-tiba datang dan melakukannya. Ini benar-benar gila. Aku bersiap sederhana, tak ada riasan ataupun pakaian bagus yang ku kenakan. Selama hidupku aku hanya tampil rapi dan bagus beberapa kali dan di acara tertentu saja, sisanya aku berpenampilan sesuai keinginan hati.

Setengah jam menunggu, kamu datang tepat di depan kostku. Kamu menyalakan klason beberapa kali. Aku bersiap mengambil helm dan tas ransel. “Udah siap?” tanyamu.

“Emang kita mau kemana?”

“Pulang ke rumahmu?”

“HAH!!!”

Aku benar terkejut, setelah beberapa hari aku menangis karena rindu Ayah dan Ibuku. Lalu ku ceritakan semuanya padamu, tiba-tiba kamu datang dengan motor tuamu. Lengkap dengan gaya pakaianmu yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu.

Bukannya senang, aku malah mengomel padamu. Aku benar-benar heran sepertinya pikiranmu berisi tentang hal-hal yang tak pernah aku temui. “Udah Ayo.”

Aku beranjak dan duduk tepat dibelakangmu. Aku sedikit bingung, kemana sebaiknya aku berpegangan? Pundakmu? Tidak. Melingkari perutmu? Tidak akan pernah. Aku menemukan sejumput kain, entah bagian jaket jeansmu yang mungkin lupa untuk kau jahit.

Selama perjalanan kamu yang lebih banyak berbicara dibanding Aku. Padahal setiap kata yang keluar cukup sama untuk ku dengar. Suara angin, motormu, dan orang-orang berlalu-lalang cenderung lebih dominan.

Baru 30 menit kita berjalan tiba-tiba motormu bermasalah. Aku tak paham itu apa, kamu mencoba menjelaskannya dengan sangat sederhana. Tapi tetap saja, aku hanya bisa bila “Oke.” Karena memang tak tahu lagi jawaban apa yang paling cocok untuk meresponmu.

Aku meminta tolong pada seorang bapak yang berusia paruh baya. Aku tak paham, bahkan sampai sekarang aku masih terheran-heran. Aku hanya bisa melihat dan tak bisa membantu apapun. Kalaupun mengomel lagi, itu pasti akan memperburuk suasana kita.

“Jadi bagaimana caramu mengenal bapak itu?”

“Kami baru pertama kali bertemu.”

“Tapi kenapa bisa membantumu?” Aku masih tak mengerti, logikaku bertanya-tanya.

“Untuk anak vespa, mereka harus menolong anak vespa lain jika motornya sedang bermasalah di jalan.”

“Itu hukum alam yang berlaku pada setiap geng motor?”

“Mungkin.”

Kita berdua melanjutkan perjalanan. Melewati pusat kita hingga kepinggiran. Sesekali kamu fokus ke jalan, tapi kadang kala kamu banyak cerita. Terkadang dalam hati aku bertanya-tanya sendiri, kenapa aku bisa mengenalmu sih?

1 jam perjalanan tapi kita belum ada seperempat perjalanan. Aku menggerutu, adakah cara yang lebih cepat agar sampai di rumah? Kamu hanya bilang sabar. Mengesalkan memang, hatiku sebenarnya menggebu ingin segera sampai rumahku, badanku sangat lelah karena aktivitas seharian ini.

Sudah ketiga kalinya motormu ini bermasalah. Terpaksa kita turun, kamu mendorongnya sendirian. “Aku juga harus mendorong?” tanyaku yang terdengar sedikit ketus. Beberapa orang  menawarkan kita bantuan atau sekadar bertanya masalah apa yang sedang kami hadapi.

“Beginilah hidup di jalan. Banyak orang baik yang membantu kita kan.”

Aku hanya diam.

“Aku pernah jauh lebih stugle dibanding ini, bahkan sendirian.”

“Kalau tahu akan sesusah ini, pasti akan ku tolak ajakanmu sejak kamu tiba dikostan ku.”

Sepertinya selama perjalanan, aku bukanlah orang yang menyenangkan bagimu. Dan dalam hati, aku berharap kamulah yang menyesal mengajakku dan tak akan menawarkan tumpangan lagi.

“Safa perlu diistirahatkan.”

“SAFA??!!”

“Iya motorku ini, kamu sudah satu jam lebih memboncengnya tapi kamu malah tidak mengenalinya. Sini dielus dulu, siapa tahu dia mau nurut sama kamu.”

“Tidak mau.”

Sungguh alasan yang tak logis untuk mengelus sebuah benda mati, kemudian berharap dia tidak akan bermasalah lagi setelah itu.

Kamu masih menutun motormu atau Safamu sendirian. “Kita makan di angkringan depan”

Tanpa persetujuanku, kamu melaju lebih cepat. Aku duduk lebih dulu sambil mengamatimu yang masih sibuk mengobrol dengan bapak pemilik angkringan dan juga Safa. Baru dua jam kita bejalan, aku sedikit paham bagaimana polamu membangun relasi. Tak heran kamu tak pernah khawatir jika suatu saat, kamu pergi sendiri dan terjadi sesuatu padamu.

Kamu mengambil nasi bungkus, dan makan dengan gaya yang rakus. Aku heran, kenapa bisa demikian. Ahh sial, ada apa dengan malam ini rasanya cukup menyebalkan. Aku meneguk teh hangat, sambil melihat beberapa story WhatApps teman-temanku. Kamu sekarang sibuk dengan Handphone mu banyak orang yang menawarkan bantuan. Aku tidak peduli, dipikiranku malam ini adalah pulang dan segera istirahat.

Kamu bercerita tentang pengalamanmu, yang sebenarnya aku tidak tahu jelas bagaimana itu. Aku makan dengan santai, kamu masih sibuk dengan Hp-mu. Sejujurnya, selama perjalanan ini. Kita berdua menunjukkan 2 sikap yang berbeda.

Akhirnya kita melanjutkan perjalanan, sekarang sudah terhitung 3,5 jam kita bersama. Dan inilah puncaknya, motormu mogok lagi dan lagi. “Safa nggak bisa dipaksain lagi.”

Rasanya aku sangat ingin menangis, badanku semua lelah. Bahkan kakiku gemetaran nggak jelas. Tapi aku menahannya, menunjukkan perasaanku sekarang tak akan mengubah keadaan. Mungkin kamu kamu juga kerepotan, harus mengurus motormu dan diriku.

Kamu menghubungi beberapa orang untuk dimintain bantuan, dan mungkin orang-orang itu tak aku kenal sama sekali. Aku bingung sudahlah aku pasrah yang penting bisa pulang ke rumah. Dengan selamat tentunya.

Jika dalam situasi seperti ini, mungkin bersamamu adalah cara yang terbaik. Pada akhirnya kamu sangat pandai dalam menghadapi situasi sulit. Kamu juga pandai bagaimana meminta bantuan di jalan seperti ini.

Akhirnya ada sepasang orang lain menghampiri kita menawarkan bantuan yang itu memacu adrenalinku. Hal ini memaksaku untuk berpegangan lebih erat pada jaket jeansmu itu.

“Ini pertama kalinya kamu mendapatkan bantuan dari orang yang tak dikenal bukan?”

“Iya, dan ini juga pertama kalinya aku pulang dan mengalami mogok dijalan sebanyak 5 kali. Semua pengalaman ini adalah pertama kali.”

4 jam sudah. Ada orang baru yang aku kenal malam itu, dan kamu juga mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Menghampiri kita dan menawarkan bantuan. Kamu merasa terharu dengan segala bentuk bantuan yang diberikan Tuhan melalui orang-orang yang kita temui selama perjalanan ini. Akhirnya aku menunjukkan sedikit perasaanku padamu. Tapi yang terjadi kita justru berdebat. Aku yang teramat sayang dengan nyawaku tidak melanjutkan itu. Berusaha untuk mengademkan hatimu. Sebisaku. Untunglah ini bukan perdebatan hebat, ya hanya perdebatan biasa yang seperti kita lakukan melalui via chat.

Sampai di depan rumahku.

“Bagaimana? Kamu telah mengerti sedikit tentang duniaku, apa perasaanmu?”

“Sangatlah berantakan, jangan pernah mengajakku lagi setelah ini.”

Kamu tertawa, dan bilang “Belajarlah untuk tidak menyesali apapun malam ini.”

Kamu pergi begitu saja, pikiranmu sekarang adalah Safa. 5 jam berjalan denganmu sungguh perasaan yang aneh. Menjelang tidur aku masih membayangkan hal-hal yang kami berdua lewati tadi, itu seakan sebuah mimpi. Aku tak pernah menyangka jika akan mengalami hal itu.

Karena selama ini, aku lebih sering menjadi center diantara teman-teman ataupun lingkungan keluarga. Dimana hampir semua perhatian, cenderung mengarah padaku. Aku juga merasa hebat karena bisa bersabar dalam waktu sebanyak itu. Semua kejadian yang ada diluar dugaanku, dan setidaknya aku bisa menahan 50% perasaan yang sebenar-benarnya ingin ku luapkan selama perjalanan.

Aku benar-benar tak paham apa makna dibalik sikapmu dan perasaanku selama perjalanan itu. Entahlah, sudah hampir tengah malam. Saatnya istirahat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *