Selamat Ulang Tahun Part 4

Selamat Ulang Tahun | Part 4

Selamat Ulang Tahun | Part 4

“Nina…” suara lirih yang aku dengar beberapa waktu lalu. Aku sungguh hafal karena nadanya yang begitu khas. Bapak. Ku balikan badanku, dan benar. Dengan masih berseragam dinas yang tertutupi sebuah jaket dan helm yang masih dikenakan. Aku tahu bapak jauh-jauh dari tempatnya bekerja ke sini. Bapak yang sudah tak muda lagi, yang selalu mengeluh sesak nafas karena asap rokok yang selalu dihisapnya.

Selamat Ulang Tahun Part 4

Bapak yang sudah hampir 40 tahun ini. Dengan mata berkaca-kaca, aku tahu dia sangat merindukanku begitupun aku. Aku ingin sekali memeluk tapi setiap langkah mendekatinya semakin membuatku terluka. Langkah yang ingin maju kembali mundur. Aku begitu malu dengan diriku, situasi dramatis ini dilihat oleh orang-orang di sekelilingku entah guru atau sesame temanku. Aku malu Pak, aku malu dengan kondisiku yang terlihat seperti anak durhaka! Aku malu dan aku belum siap untuk menerima kenyataannya!

Tanpa pikir panjang, aku berlari menjauh. Sekali lagi Nino mengejarku, jujur aku lelah terus menghidari Bapak. Tapi aku belum siap untuk tinggal bersamanya lagi! Nino terus mengejarku dan berhasil meraih tanganki, jujur aku tak ingin mendengarkan nasehat apapun dari orang lain termasuk Nino.

“Aku tahu, kamu repot saat aku menumpang di rumahmu. Tapi gak seharusnya kamu minta Bapak aku buat datang ke sini, dan jemput aku pulang ke rumah.”

“Nina dengerin aku. Bapak kamu ke sini karena kemauannya sendiri. Gak pernah sekalipun terbesik dalam hatiku kalo kerepotan sama kamu. Sudah aku bilangkan aku akan sabar nunggu sampai kamu baikan.”

“Kamu gak paham No, tolong” aku menjatuhkan diriku, dan kamu berhasil menjadi pusat perhatian orang lain. Nino memelukku, dia tak berkata apapun. Dia hanya menyediakan bahu dan tangannya yang terus mengeluh rambutku.

Kejadian tadi siang membuatku sangat lelah. Padahal masih jam 19.30 tapi aku sudah terlelap dalam mimpi. Malam ini, Nino memintaku untuk tidak ikut belajar. Bahkan aku membiarkannya makan malam sendirian di ruang makan. Aku terlelap, dalam mimpi yang panjang. Aku merindukan Ibu, andai ada kesempatan bagiku untuk menemui ibu.

“Selamat Ulang Tahun kita kan doakan.. selamat panjang umum sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia.”

“Makasih Bapak makasih tante Gina.”

“Sama-sama sayang. Tante kasih kamu hadiah. Tada!! buku gambar sama pensil mewarnai, nanti kamu belajar gambar sama Bapak ya! Sini tante fotoin Nina sama Bapak.”

Tante Gina. Ulang tahunku ke 4 tahun, pertama kalinya dalam hidupku merasakan sosok Ibu. Pertama kalinya aku bisa merasakan memiliki orang tua yang lengkap. Wanita yang aku lihat di dapur adalah tante Gina. “Nina.. Nina.. Nina”

Aku terbangun dari tidurku, aku kira aku kembali ke masa kecil namun ternyata aku kembali pada kenyataan. Di depanku sudah ada Nino.

“Nina. Kamu ngigau lagi.. aku khawatir, kamu butuh minum?”

Aku mengangguk Nino mengambilkan air minum. Aku heran kenapa aku bermimpi seperti itu tadi. Apakah benar itu cerita masa kecilku, tapi bagaimana mungkin aku bisa lupa? Padahal aku selalu pandai dalam menghafal di kelas. Aku terus melamun dan bertanya-tanya.

“Surprise!! Happy Birthday to you… Happy birthday to you…”

Mungkin benar aku pelupa, bahkan malam ini aku tak ingat jika hari ulang tahunku. “Tiup lilinya Nin, tapi make a wish dulu!”

Aku memejamkan mataku, dan kemudian aku meniup lilinnya. Aku sungguh beruntung memiliki teman yang sangat empati denganku seperti Nino. “Nino, ulang tahun kita sama. Kenapa cuma aku yang make a wish?”

“Aku gak perlu make a wish Nin, aku cukup mengamini setiap permintaan kamu sama Tuhan, apapun itu.”

“No, makasih ya. Maaf aku selalu ngerepotin kamu. Kamu selalu baik sama aku…”

“Aku sayang sama kamu Nin. Aku mau jujur, tanpa sepengetahuan kamu aku pergi menemui Bapak kamu. Kondisi aku selalu berusaha buat ngabarin kondisi kamu setiap hari, dan sebenarnya aku juga ngabarin Bapak kamu saat kita mau pulang sekolah tadi siang. Tapi aku gak nyangka kalau ternyata Bapak kamu bakal datang.”

Aku menundukan kepala ku sambil ku dengarkan dalam-dalam setiap penjelasan Nino.

“Nin, Bapak kamu mulai sakit-sakitan semenjak kamu pergi dari rumah. Aku memang selamanya gak akan paham bagaimana perasaan kamu, jika aku gak mengalaminya sendiri. Tapi, aku juga gak mau kalau kamu harus kehilangan orang yang kamu cintai…” semakin lama air mataku mulai menetes.

“Mungkin berat bagi kamu buat sembuh dari rasa kecewa. Apalagi terluka dari orang yang kamu sayangi. Aku tahu kamu butuh waktu, tapi kamu juga harus memahami Bapak kamu melakukan itu. Karena menunggu sampai kamu siap untuk menerima ibu lagi. Bapak kamu tahu kok susahnya hidup tanpa figure ibu, maka dari itu dia berusaha untuk melengkapinya. Meskipun terdengar menyakitkan, Bapak kamu memilih wanita itu karena dia menyayangi kamu juga. Hal yang keliru adalah saat Bapak kamu menyembunyikan kebenarannya.”

Air mataku semakin runtuh, Nino meletakan kuenya. Lalu memelukku, bahunya seakan tersedia untukku selalu.

“Maaf ya No. Maaf…” aku tak tahu harus berkata apa selain kata maaf.

“Nin, jika Bapak kamu udah merusak setengah rasa cintamu. Maka biarkan aku yang akan memperbaikinya kembali, meskipun usia kita sama-sama 17 tahun. Tapi aku siap memberikan cintaku yang tulus padamu. Bisakah kamu menerima cintaku dan memaafkan Bapak kamu?”

Aku tak mampu berkata apapun, aku hanya sanggup mengangguk. Nino benar, dan aku yang salah. Aku harusnya lebih ikhlas, tak seharusnya aku bersikap seperti ini sama Bapak. Aku harus pulang besok!

Dengan berseragam sekolah, Nino mengantarkanku ke rumah. Suasana rumah sangat sepi, apa Bapak masih di sekolah? Aku putuskan untuk menunggu di depan rumah bersama Nino. Jantungku terus berdetak cepat menunggu kehadiran Bapak. Namun aku semakin goyah saat tetangga sebelah rumah berkata “Bapak masuk rumah sakit semalam Nin.”

Langkah semakin ku percepat, aku buru-buru menuju UGD. Terlihat tante Gina menunggu di luar. Dari kaca jendela terlihat dokter melakukan penanganan yang intensif ke Bapak. Tante Gina memelukku. Kali ini badanku begitu roboh, aku tak ingin kehilangan Bapak. Air mataku jatuh, badanku sangat lemas hingga sulit rasanya untuk berdiri. Nino menggenggam tanganku begitu erat, memberikan kekuatannya padaku.

“Nino semalam aku make a wish. Berharap rasa sakitku hilang dan aku bisa jauh dari Bapak, dan waktu pertama kali aku kabur dari rumah aku juga memohon pada Tuhan agar memilih siapa yang harus menghilang aku atau Bapak.”

Ucapku begitu pelan. Sambil ku tatap dalam wajah Nino.

“Nin, kamu harus percaya Tuhan gak akan mengambulkan permintaan Hamba-Nya yang tidak baik.”

“Tapi semalam adalah ulang tahunku dan kamu mengamini juga. Apa Tuhan bakal mengabulkannya?”

Nino tak mampu menjawab apapun. Tante Gina hanya mampu menangis, aku tak tahu dia mendengarkanku atau tidak. Rasanya hati dan tubuhku seakan mati. Aku tak bisa merasakan apapun bahkan yang aku lihat sekalipun terasa kosong.

Dokter keluar dari ruangan. Saking matinya tubuhku aku tak bisa mendengarkan jelas apa yang dikatakan dokter. Yang ku lihat dia hanya menggeleng, dengan raut muka yang sedih. Tante Gina semakin histeris, dan Nino mendekapku sangat erat. Lebih erat dari sebelumnya, aku melihat Bapak tak lagi berdaya. Itulah pertama kalinya di hidupku aku menyesal merayakan ulang tahun.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *