Selamat Ulang Tahun Part 3

Selamat Ulang Tahun | Part 3

Selamat Ulang Tahun | Part 3

Aku menyelusuri di kamarnya nanti tak ada jawaban. Lalu aku berpindah ke dapur, namun aku sangat terkejut. Mataku terus menatap sosok wanita dewasa yang belum pernah ku temui sebelumnya. Menggunakan daster bunga dan sepertinya masih berusia 30 tahun. “Tante siapa?”

Selamat Ulang Tahun Part 3

“Anu.. Nina, tante ini…”

“Sayang gimana? Udah mateng masakannya?” ucap bapak yang muncul dari kamar mandi dengan telanjang dada dan hanya mengguakan sarung.

“Mas Nina…”

Bapak melihatku masih terpaku memandang kondisi dapur saat ini. Bapak melihatku begitu terkejut, aku semakin tak percaya dengan apa yang aku lihat. Bapak yang aku kira sangat menyayangiku kini membagi cintanya dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku. Bapak yang aku kira rela menghabiskan sisa umurnya hanya untuk bersamaku, ternyata secara diam-diam dia bermain dengan wanita lain.

“Nina, dengerin Bapak dulu Nak. Bapak bakal jelasin semuanya.”

“Bapak jangan mendekat. Kalau Bapak maju selangkah saja, Nina bakal teriak biar semua tetangga ke sini.”

“Nina, Bapak mohon dengarkan Bapak” ucap Bapak dengan begitu lirih dan berusaha mendekatiku. Semakin Bapak mendekat hatiku semakin hancur, air mataku tak bisa terbendung lagi. Ku lihat wanita itu hanya bisa diam melihatku. Aku tahu sebenarnya ia sangat iba melihatku seperti ini. Tapi dia tetaplah jahat bagiku.

“NINA BILANG JANGAN MENDEKAT!!!!” pertama kalinya dalam hati. Aku berani membentak seseorang yang menjadi separuh dalam hidupku. Aku tahu ini salah, tapi aku tak punya cara lain untuk membuat Bapak berhenti melangkah.

“Nina kamu kenapa?”

Aku sangat malu dengan diriku apalagi ketika Nino melihat semua ini. Aku tahu dia sangat bingung, aku tak ingin terlihat semakin buruk di mata temanku sendiri. Tanpa pikir panjang aku langsung lari keluar dari rumah. Aku tak melihat ke belakang sama sekali, namun yang aku dengar hanya suara Nino yang terus memanggil dan mengejarku.

Jujur saat ini aku tak tahu kemana aku harus pergi. Aku hanya ingin menjauh dari rumah, aku hanya ingin menjauh dari Bapak dan wanita itu. Aku hanya ingin melarikan diri sejauh mungkin, meski ini sulit. Tapi aku mohon, biarkan Aku atau Bapak yang menghilang sekarang. Ini benar menyakitkan

“Nin, kamu nggakpapa?”

Nino berhasil mengejarku sampai ke halte bis, dan tak ku lihat bayangan bapak yang ikutserta. Seluruh badan ku masih sangat gemetar, rasanya lelah, takut dan kaget melebur menjadi satu. Aku mengambil bahu Nino. Ku lepaskan apapun yang ku rasakan sekarang. Bolehkah akau menghilang sekarang? Kenapa Bapak, orang yang selalu aku cintai menyakiti sedalam ini, dan kenapa harus sekarang? Kenapa harus sekarang saat ada Nino?

“Nin kamu mau pergi kemana? Bentar lagi larut malam.”

“Aku gak mau pulang No. aku gak mau ketemu Bapak sama perempuan tadi, jangan paksa aku buat pulang.”

“Aku ngerti Nin. Sebentar lagi supir aku jemput, nanti kamu ikut pulang ke rumah aku aja ya.”

Aku mengangguk, memang saat ini aku tak tahu harus kemana. Aku tidak bisa tidur di jalan apalagi harus kembali ke rumah. Nino, kali ini kamu benar menyelamatkanku. Walaupun sebenarnya aku benar malu di depanmu. Tapi Nino, bisakah aku pinjam bahumu lagi…

Perjalanan menuju rumah Nino cukup memakan waktu 45 menit. Menangis, selalu menghabiskan tenaga. Selama di perjalanan aku tertidur, mataku sudah semakin membengkak dan perih. Aku harus mengistirahatkannya.

“Bapak.. Bapak..” aku terus memanggilnya sambil meneteskan air mata. Aku merasa di alam mimpi bertemu bapak tapi sentuhannya di wajahku seakan nyata. Pelahan aku membuka mataku, pandanganku sedikit kabur. Di depanku duduk seorang lelaki, namun belum jelas sampai sekarang.

“Nina kamu udah baikan?”

Suara Nino. Jadi aku hanya memimpikan Bapak saja, aku tak sadar bagaimana aku bisa berpindah dari mobil ke sebuah kamar.

“Badan kamu panas, jadi aku kompres pakek air dingin. Kamu kayaknya deman. Dari tadi kamu juga mengigau. Karena khawatir jadi aku jagain kamu.”

Aku menghapus air mataku yang menetes, jujur hatiku masih terasa campur aduk. Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar terluka.  “Maafin aku ya No, aku jadi ngerepotin kamu.”

“Udah gakpapa, lagi pula Mamah Papah aku lagi dinas ke luar kota. Tadi aku udah telpon, dan katanya kamu boleh tinggal sementara di sini sampai kamu baikan.”

“Tapi kamu nggak perlu serepot itu ini No. Aku memang gak tahu terima diri jadi orang.”

“Nin, semua orang yang berada di posisi kamu. Pasti akan melakukan hal yang sama. Lebih baik kamu tenangin diri kamu dulu.”

Nino, aku selalu senang bersamamu. Meski tak sekalipun ku ungkapkan itu, tapi aku selalu bahagia kamu adalah orang pertama yang selalu ada saat aku terluka. Andai Bapak tahu bagaimana betapa baiknya Nino padaku, mungkin bapak akan minder dengannya.

Sejak semalam, Nino terus menjagaku. Aku juga berpesan agar hal ini tidak ia ceritakan kepada teman-teman di sekolah, dan Nino mengiyakannya. Aku harap kamu bukan lelaki yang ingkar sama seperti Bapak No.

Sudah 4 hari ini aku tinggal di rumah Nino. Jujur aku malu jika harus dilihat anak-anak saat kami turun dari mobil yang sama atau saat berbocengan ketika berangkat ataupun pulang sekolah. Aku selalu menundukan kepalaku karena malu. Aku tahu siapapun yang mengenal kami pasti menggosipkan yang macam-macam.

“Nin kamu kenapa murung seharian?”

“Aku ngerepotin kamu terus ya No? Apalagi banyak orang yang gosipin kita.”

“Terus kamu mau gimana?”

“Aku gak tahu No, aku…”

“Nina…” suara lirih yang aku dengar beberapa waktu lalu. Aku sungguh hafal karena nadanya yang begitu khas. Bapak. Ku balikan badanku, dan benar. Dengan masih berseragam dinas yang tertutupi sebuah jaket dan helm yang masih dikenakan. Aku tahu bapak jauh-jauh dari tempatnya bekerja ke sini. Bapak yang sudah tak muda lagi, yang selalu mengeluh sesak nafas karena asap rokok yang selalu dihisapnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *