Selamat Ulang Tahun Part 2

Selamat Ulang Tahun | Part 2

Selamat Ulang Tahun | Part 2

Aku terkejut dengan tawaran Nino. Aku tak memiliki pengalaman apapun tentang mengajar, di rumah aku hanya mampu belajar. Aku ingin menolak namun aku selalu terbawa suasana.

“Iya aku mau”

Selamat Ulang Tahun Part 2

Nino tersenyum lebar kepadaku kemudian memelukku erat, namun seketika melepaskannya. Kamu membuat berisik perpusatakaan. Semua mata tertuju padaku dan Nino. Tapi aku tak peduli karena di mataku saat ini ada Nino yang tersenyum begitu lebar.

“Bapak, Nina boleh minta ajarin gimana caranya ngajar?”

“Tumben, emang ada apa Nak, cerita sama Bapak.”

Aku pun menceritakan semuanya tentang Nino, tentang hubunganku dan dia serta bagaimana tawaran Nino tadi siang. Bapak hanya menyetujui itu, dengan catatan itu tidak akan mempengaruhi nilai ujianku nanti. Bapak memang seorang yang terus aku andalkan. “Pak, Ibu dulu guru matematika ya?” ucapku disela Bapak menjelaskan caranya mengajar.

“Guru matematika dan guru yang dicintai muridnya.”

“Kalau besok Nina mulai ngajar, berarti Nina udah kayak Ibu dong Pak.”

Bapak tak berkata apapun, dia langsung memelukku. Mungkin ini salahku selalu bertanya tentang Ibu, sehingga membuat bapak teringat padanya lagi. Tapi jujur aku ingin menjadi Ibu. Yang bisa aku pelajari hanya foto ibu dan buku catatan harian saat masih mengandungku. Aku ingin lebih mengenal Ibu, meskipun harus membuka luka Bapak. Maaf pak, bukan cuma Bapak saja yang rindu tapi aku juga begitu!

Setelah pulang sekolah, aku dan Nino sepakat untuk pergi keperpustakaan daerah. Di sana banyak sekali buku pelajaran. Kata Bapak kalau mau mengajari dengan baik hal yang harus dilakukan adalah cari minatnya dalam membaca. Meskipun aku tahu kesukaannya adalah komik tapi aku yakin masih ada hal yang ia sukai dan berkaitan dengan pelajaran tentunya.

“Kamu ngambil buku apa?”

“Aku ngambil, ini! Buku Oseanografi, dari dulu aku senang banget kalo diajak papahku ke laut. Apalagi ke kampong halaman papah Banda Neira. Aku kalau di sana banget renang, menyelam, sama mancing ikan. Karena itu kalau semisal udah lulus SMA nanti aku mau kuliah di kelautan biar bisa menjaga laut dan Banda Neira dari pencemaran lingkungan!”

“Wahh keren juga mimpi kamu!”

“Sorry aku malah jadi cerita gak belajar, Ayo Nin kita belajar! Eh maksudnya ajarin aku belajar”

Tips Bapak memang tepat, Nino jadi nyaman dalam belajar meski sebagian waktu kami habiskan untuk saling bercerita. Namun menurutku tak apa, karena Bapak bilang biarkan pertemuan awal sebagai waktu untuk lebih mengenal.

Sesuai kesepakatan aku dan Nino akan belajar kelompok 4 kali seminggu sepulang sekolah. Setelah kemarin aku mengajaknya ke perpustakaan. Hari ini aku meminta Nino untuk mengerjakan PR, dan akan ku cocokan besok pagi. Karena tidak ada ekstra atau pelajaran tambahan, aku bergegas untuk pulang. Bagaimana pun aku harus segera sampai rumah sebelum Bapak pulang.

“Nin, aku ikut ke rumah kamu ya?”

“Ngapain No, lagian kamu harus ngerjain PR dari aku kan? Kamu  pulang ke rumah kamu sendiri aja.”

“Iya PR-nya bakal aku kerjain tapi aku ikut ke rumah kamu ya. Kita udah satu tahun temenan tapi nyampe sekarang aku belum tahu rumah kamu.”

“Tapi rumah aku jauh dari sekolah No, harus naik bis dan transit 4 kali. Belum lagi jalan dari halte ke rumah.”

“Jauh dekat gak masalah Nin. Aku janji habis tahu rumah kamu aku langung pulang dan ngerjain PR di rumah.”

Jika Nino sudah bersikap memaksaku, mau bagaimana lagi. Aku sulit untuk menolaknya, aku mengizinkan Nino ikut pulang denganku. Namun dia harus menepati janjinya setelah ia tahu, harus segera pulang dan ngerjain PR.

Kondisi bis di sepulang sekolah memang ramai dan sesak. Meskipun begitu petugas bis tetap menerapkan peraturannya memisah bagian laki-laki dan perempuan. Aku dan Nino saling menatap, terlihat dia tidak nyaman dengan kondisi bis sekarang. Ya mau bagaimana lagi setiap hari aku seperti ini, sedangkan Nino selalu dijemput oleh supirnya atau terkadang dia membawa motor. Aku hanya tertawa melihat Nino. Selama perjalanan kamu hanya saling menatap entah ramai, sepi, duduk ataupun berdiri.

Hingga tak terasa 30 menit berlalu aku dan Nino berhasil sampai di halte terakhir. Nino terlihat sangat lelah, ya karena sedari tadi dia terus berdiri. Ada saja orang tua dan anak kecil yang meminta tempat duduknya.

“Nin, rumah kamu berapa jauh dari halte?”

“Nggak jauh. cuma jalan  10 menit aja. Kamu masih kuat?”

“Kuatlah Nin. Tapi kita mampir beli minum dulu ya.”

“Iya, ayo!”

Aku menggandeng tangan Nino sebenarnya spontan saja ku lakukan ini. Jujur aku tak ingin Nino pingsan dan merepotkanku. Untung saja jalan menuju rumahku tidak menanjak, hanya harus melewati beberapa gang kecil di sini. “Daerah rumah kamu banyak anak-anak kecilnya ya. Kamu pasti sering main sama mereka.”

“Siapa bilang? Mereka sering aku marahi, salah siapa gangguin aku kalo nyapu atau lagi belajar.”

“Haduh kecil-kecil galak, mana rumah kamu?”

“Tuh depan.”

Rumah dengan halaman yang tak luas ini yang telah aku huni sedari bayi hingga sekarang bersama Bapak. Tak begitu luas dibandingkan rumah Nino, namun sangat cukup bagiku dan Bapak. Aku mencoba mencari kunci rumah yang tersembunyi di bawah jendela kaca. Tapi kenapa kuncinya tidak ada? Apa bapak sudah pulang lebih dulu? Aku mencoba membuka pintu, dan benar pintu rumah tak terkunci.

Aku meminta Nino duduk sebentar sambil ku panggil Bapak. Bagaimanapun Nino adalah tamu, dan juga temanku. Bapak harus mengenalnya.

“Bapak!! Pak… Bapak..”

Aku menyelusuri di kamarnya nanti tak ada jawaban. Lalu aku berpindah ke dapur, namun aku sangat terkejut. Mataku terus menatap sosok wanita dewasa yang belum pernah ku temui sebelumnya. Menggunakan daster bunga dan sepertinya masih berusia 30 tahun. “Tante siapa?”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *