Selamat Ulang Tahun Part 1

Selamat Ulang Tahun | Part 1

Selamat Ulang Tahun | Part 1

Bagi sebagian orang masuk dalam sekolah terfavorite adalah sebuah mimpi besar. Sekolah yang berstandar internasional, dengan kasta sosial yang tinggi. Namun berbeda denganku, jujur dibalik prestasinya yang tinggi sekolahku ini. Ternyata banyak hal yang mungkin tak ada seorang pun yang menyangka, pertemanan disini hanya berdasarkan kemampuan ekonomi dan status sosial siswanya. Ada beberapa anak politikus yang bersekolah disini, bahkan anak artis papan atas juga demikian.

Selamat Ulang Tahun Part 1

Sedangkan aku, hanyalah anak kepala sekolah di Sekolah Dasar yang letaknya jauh dari pusat kota. Di sekolah ini aku berhasil mendapatkan bea siswa karena nilai tes ku masuk ke 3 besar. Selama satu tahun bersekolah di sini aku belum menemukan teman sejati kecuali Nino. Dia sama kutu bukunya denganku, namun yang membedakan dia peringkat 3 dari bawah.

 

Aku sering memarahi Nino karena memilih membaca komik dibandingkan buku pelajaran. Sejak MOS kami memang saling mengenal karena aku dan dia adalah siswa yang paling sering dibully oleh kakak senior.

“Nino bentar lagi ujian, kamu gak belajar?”

“Aku belajar kok tenang aja. Papah aku udah nyiapin guru private buat aku.”

“Justru karena papah kamu nyewa guru private hanyanya kamu lebih giat belajar sekarang, bukannya baca komik atau main game.”

“Iya bentar 1 game lagi Nin.”

“Kamu gak capek jadi capek jadi peringkat ke 147 di sekolah.”

“Nin, jangan mentang-mentang kamu pinter di kelas jadi ngeledek aku seenaknya dong.”

“Tahu ah cape aku sama kamu. Aku mau pulang terserah kamu mau ngapain.”

“Nin, tungguin kamu jangan ngambek gitu.”

Aku tak peduli Nino mengejarku dari belakang karena saat ini yang aku butuhkan adalah ketenangan. Waktuku sudah habis hanya untuk menceramahi Nino, setiap kali aku membahas peringkatnya di sekolah. Dia selalu memarahi ku, aku tahu dia pasti nggak suka. Tapi jika tidak begitu dia tidak akan mau belajar.

Aku menunggu bis di halte dekat sekolah, suasana halte memang sepi. Ya mau bagaimana lagi rata-rata di sekolahku siswa-siswinya memakai kendaraan pribadi mulai dari motor matic hingga mobil sport. Aku heran padahal pemerintah sudah memberikan pelayanan yang baik di kendaraan umum, tapi masih saja banyak orang yang memilih naik kendaraan pribadi padahal mungkin kebanyakan mereka tidak memiliki SIM. “menambah polusi saja..” ucapku pelan.

“Nina!! Kamu kenapa sih ngambek terus?”

Nino lagi, ya setiap kali aku meninggalkannya begitu saja di selalu berlari menyusulku. Lucunya dia selalu terengah-engah padahal aku hanya berjalan pelan. Suruh siapa lama sekali mengejar.

“Kamu marah sama aku Nin? Maaf ya Nin, jangan marah lagi dong”

Aku memalingkan wajahku darinya. Saat seperti ini aku selalu tak bisa menahan tawa setiap melihat dia mulai merayuku agar tidak marah. Ya meskipun tingkah lakunya seperti anak laki-laki lainnya. Tapi entah kenapa setiap kata maaf dari Nino sering membuatku luluh. Bukan cuma saat ini saja tapi kemarin dan seterusnya.

“Nak, gimana tadi sekolahnya?”

“Alhamdulillaih baik kok Pak. Bapak gimana tadi ngajarnya di sekolah?”

“Alhamdulillah baik Nak. Kamu udah istirahat Nak? Gak capek pulang sekolah terus masak buat bapak?”

Sudah menjadi kebiasaanku, sehabis pulang sekolah aku harus memasak untuk Bapak. Bagiku tak masalah, karena semenjak aku puber. Aku harus mampu mengurus pekerjaan rumah dan Bapak. Ibu ku meninggal tepat satu jam setelah melahirkanku, dan sampai sekarang Bapak belum menemukan wanita pengganti Ibu.

Itu bukan karena Bapak masih mencintai Ibu, tapi karena Bapak sangat mencintai aku. Aku lah yang belum siap menerima Ibu tiri bahkan saat ini. Semenjak SMP aku telah berlatih memasak. Mengepel, menyuci dan pekerjaan rumah lainnya. Itu semua ku lakukan agar Bapak tak mencari Ibu tiri untukku lagi. “Nina gak akan cape Pak, Nina akan lakuin apapun seperti yang Ibu lakukan dulu.”

Aku tahu pertanyaan Bapak menyimpan banyak maksud. Salah satunya adalah ingin mencari ibu tiri untukku. Dalam hatiku mungkin aku begitu lelah karena harus bersekolah dan mengurus rumah. Tapi aku ikhlas, asal Bapak menunggu aku siap menerima ibu baru. Entah kapan itu?

“Nin, semalem aku belajar ngerjain  soal matematika. Coba kamu cek jawabanku deh.”

“Tumben kamu belajar, coba aku lihat.”

Aku mengamati setiap coretan pulpen di bukunya. Sebelumnya Nino tak pernah bersikap seperti ini, aku curiga dia akan meminta contekan untuk ujian besok. Ku amati dalam beberapa menit setiap cara dan jawabannya namun…

“Nino ini kamu kerjain sendiri?

“Iya, kaget kan! Bener semua ya kan?”

“Salah semua Nino, katanya kamu mulai les private? Kok masih salah.”

“Hehe.. jadi papahku udah nyerah nyewa guru les private, jadi aku suruh nyari sendiri tapi gak ketemu.”

“Kenapa gak ikut bimbel aja?”

“Udah pernah tapi hasilnya sama aja. Eh, kamu mau nggak jadi guru private aku?”

Aku terkejut dengan tawaran Nino. Aku tak memiliki pengalaman apapun tentang mengajar, di rumah aku hanya mampu belajar. Aku ingin menolak namun aku selalu terbawa suasana.

“Iya aku mau”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *