Selamat Jalan Nenek | Part 4

Selamat Jalan Nenek | Part 4

Aku memapah Mbah Uti sampai ke kamar. Di usianya yang 79 tahun sulit bagi Mbah Uti untuk berjalan sendiri, bukan hanya berpegangan dengan tanganku. Mbah Uti juga memakai tongkat untuk menyanggah badannya saat berdiri atau berjalan. Jika sinetron atau FTV sudah selesai dia pasti kembali ke kamar, dan tidur. 3 jam kemudian Mbah Uti akan bangun lagi dan menonton Sinetron atau FTV lagi.

“Sini La, duduk sama Mbah.”

“Mbah Uti nggak mau tidur?”

“Iya nanti Mbah Uti tidur, tadi filmnya bagus kan La?”

“Iya bagus.”

“Mbah Uti boleh minta tolong, ambilin kotak merah di laci meja sebelah”

Aku tak mengerti tak biasanya Mbah Uti berperilaku seperti ini. Aku menuruti permintaannya, ku ambil kotak merah yang ada di laci. Kotak itu seperti perhiasan, jangan-jangan…

“Makasih ya La. Kamu tahu nggak kalau dulu Mbah Kakung sering ngasih hadiah ke Mbah setiap ulang tahun pernikahan. Hadiahnya nggak begitu besar tapi sangat membantu keluarga kita. Semenjak Mbah Kakung meninggal, hadiah ini sering keluar masuk pegadaian buat mencukupi kebutuhan anak-anak. Tapi akhirnya Mbah Uti bisa nebus ini semua.”
“Mbah Uti…”

“Sekarang anak-anak Mbah sudah tidak membutuhkannya lagi, Mbah sengaja menyimpannya biar bisa mengenang Mbah kakung. Tapi Mbah sadar, Mbah kakung sudah tersimpan di dalam hati Mbah. Perhiasaan seperti ini sudah tak lagi penting, jalau cita-cita cucu sendiri tidak tercapai.”

“Mbah..” ucapku begitu lirih, aku mengerti kenapa Mbah Uti memintaku untuk mengobrol dengannya saat ini. Air mataku mulai menetes. Jemari Mbah Uti yang lembut menghapus air mataku, aku mencoba tersenyum. Mengisyaratkan betapa bahagianya aku memiliki Mbah Uti saat ini, Mbah Uti juga membalas hal yang serupa. Bahkan senyum Mbah Uti lebih manis dibandingkan senyumku yang dilengkapi lesung dua pipi.

“Sekarang jangan sedih kalau nggak bisa kuliah, perhiasan ini nanti dijual aja. Bilang sama Ibu, kalau Mbah Uti yang bakal bayarin biaya pendaftaran kamu. Jangan nunggu sampe tahun depan, nanti Mbah Uti semakin Tua dan gak bisa lihat kamu wisuda.”

“Makasih ya Mbah.. aku kira nggak ada satu orang pun di rumah yang mau ngertiin Laela.”

“Siapa bilang? Semua ngertiin Laela, mulai sekarang belajar lagi ya. Nanti biar bisa jadi guru”

“Jadi Jurnalis Mbah bukan guru.”

“Ya terserah Laela mau jadi apa. Yang penting ilmunya bermanfaat.”

Aku memeluk Mbah Uti begitu erat, hari itu. Sangat ku ingat, saat ku kira tak ada seorangpun yang memahami aku, ternyata aku salah. Itu hanyalah sudut pandangku saja, Mbah uti adalah orang yang paling mendukungku waktu itu. Ia juga berhasil mendobrak hati ibu, hingga akhirnya mengizinkan aku kuliah di jurusan yang aku mau.

Aku masih duduk terdiam, ku tatap foto nenek dalam dompetku. Kini kami terpisah begitu jauh, dan sudah tak mungkin lagi bertemu. Aku masih duduk termenung, tak sadar jika Tio pacarku telah menemaniku sedari tadi.

“La kamu kenapa nangis?”

“Gakpapa kok. Aku keinget Mbah Uti, 3 hari lagi adalah acara 100 hari meninggalnya Mbah. Tapi aku masih saja di sini.”

“Kamu yang sabar ya La, kalau mau pulang kamu bisa minta izin kepala desa buat libur 3 hari.”

“Aku nggak tahu gimana? Meskipun diizinkan tapi Jarak Cibubur ke Wonosobo itu jauh yo..”

“Gak mau coba pakek kereta?”

Aku menggeleng, Ibuku saja semalam menelpon untuk tidak perlu pulang dari tempat KKN. Aku masih menangis, aku tidak tahu harus menceritakan apa. Tio menggenggam tanganku, aku merasakan kepedulian Tio.

“La, kalau mau nangis. Nangis aja gak papa…”

“Dulu simbahku bilang kalo Aku kuliah nanti bisa jadi guru. Tapi aku malah jawab kalo aku gak mau jadi guru. Dia juga bilang jangan terlalu lama nunda kuliah nanti Mbah Uti keburu tua dan gak bisa lihat aku wisuda.”

Tio lalu memelukku, dan menepuk pundakku begitu pelan. Aku semakin menangis, ku basahi almamaternya dengan air mataku.

“La, jangan nyalahin diri sendiri ya. Ini semua pasti ada hikmahnya, kamu tahu nggak ilmu komunikasi juga bisa jadi guru loh.”

Tio menarik napas sejenak dan melepaskan pelukannya.

“Sekarang ada banyak anak-anak dan Ibu-ibu yang nunggu sosialisasi dari kamu. Kamu nggak perlu jadi guru untuk mengajarkan mereka bagaimana cara berkomunikasi yang baik?”

Aku tersenyum pada Tio dan dia juga membalas senyumanku. Ia menghapus air mataku sama seperti Mbah Uti waktu itu.

“Lagian kamu gak cocok kok buat jadi guru… guru itu dibayar sedangkan kamu mengajar dengan kesukarelaan. Sejak pertama kali datang, bukannya kamu setiap hari ngajar anak-anak disini meskipun itu bukan bagian dari proker kita?… Kamu akan sadar jika permintaan orang tersayang kamu sudah kamu penuhi, jadi jangan menyesali apapun.”

“Tio.. Apa Mbah Uti akan datang ke wisudaku nanti?”

“Jangan menunggu wisuda, sekarang dia sudah datang… dalam lubuk hatimu terdalam.”

Aku tak tahu apakah yang dikatakan Tio sebuah gombalan saja agar aku bisa tenang. Tapi bukanlah masalah besar, aku lebih tenang sekarang. Tio benar Mbah Uti telah tinggal di hatiku, jadi tak seharusnya aku mengucapkan selamat tinggal atas kepergiannya.

Raga kami telah berpisah tapi perasaan dan kasih sayang Mbah Uti akan selalu kurasakan.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *