Selamat Jalan Nenek | Part 3

Selamat Jalan Nenek | Part 3

Rika menatapku begitu kaget, mungkin bukan hanya Rika tapi siapa saja yang melihatku di warnet itu. Aku sangat bersyukur karena tidak diterima di kampus yang aku pilih kemarin. Sekarang aku tinggal bilang Ibu untuk mengizinkanku kuliah di Ilmu Komunikasi Ahmad Dahlan.

“Aku nggak keterima di universitas negeri bu. Jadi boleh aku daftar di universitas swasta?”

“Kenapa Rika bisa keterima dan kamu nggak La. Padahal kalian sering belajar bersama.”

“Bu, kalau aku nggak diterima itu artinya belum rejeki, itu pun aku nggak cocok dengan jurusannya.”

“Kan Ibu sudah bilang kalau belajar itu lebih serius lagi, semua jurusan kalo kamu pelajari juga bakal cocok kan.”

“Kenapa sih Ibu selalu nyalahin aku yang gak pernah serius dalam belajar? Kenapa ibu gak pernah dukung kemauan aku buat kuliah di ilmu komunikasi?”

“Biaya kuliah itu nggak murah La. Ayah kamu saja satu bulan ini belum ngasih uang sama sekali, bagaimana ibu bisa bayar uang pendaftaran kamu? Kalau kamu nggak keterima di universitas negeri tahun ini, kamu harus daftar lagi tahun depan.”

“Aku gak mau!! Apa bedanya tahun ini sama tahun depan kalau Ibu nggak ngizinin aku buat daftar ke jurusan yang aku mau?”

“Ibu selalu mengizinkan kamu untuk bersekolah apalagi kuliah. Tapi kalau memang kondisi keluarga kita gak mampu apa kamu mau memaksakan?”

“Kenapa sih Bu? Mimpi aku terhalang sama keuangan keluarga kita?”

Tanpa sadar aku mulai menangis, Ibu tak merespon apapun. Ia justru kembali ke dapur, aku masih duduk di tempat meja belajar sederhana buatan Ayah. Semakin kencang aku menangis meskipun tak ada suara, Mbah Uti sudah tidur di kamar. aku tidak boleh membangunkannya karena suara tangisanku. Ternyata semenyakitkan ini tidak lulus di universitas, meskipun itu bukan hal yang diinginkan.

Aku semakin membuka kota kenangan selama menjadi bagian tim redaksi SMA. Saat itu aku bertugas sebagai editor, aku sangat senang dengan jabatan itu. Melalui tim redaksi sekolah aku mengenal Rika, Bimo dan teman-teman lainnya. Bahkan setiap rapat redaksi guru-guru yang masih di ruangan mampir ke ruangan kami. Memberikan makanan, minuman, bahkan ditraktir batagor. Harapan kecil yang berasal dari kegiatan kecil di sekolah harus ku pendam. Selamanya…

Sudah dua hari, aku perang dingin dengan Ibu. Kami memang sedikit bicara, namun aku tetap membantunya menyiapkan dagangan dan membereskan rumah. Selesai acara perpisahan, sudah tidak ada lagi aktivitas di sekolah. Jadi sudah tugasku untuk membantu di rumah. Selain itu sore ini aku ada janji dengan Rika, aku memintanya untuk menemaniku ke warnet lagi.. aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku masih menyimpan banyak cara, tak kan ku biarkan mimpiku yang ingin membanggakan keluarga malah menjadi beban bagi mereka.

“La kamu cari info universitas apa aja?”

“Universitas apa aja yang ada jurusan ilmu komunikasinya”

Aku tahu Rika heran denganku, mungkin baru kali ini memperlihatkan wajah yang serius. Aku mencatat betul biaya setiap SKS, SPI, buku, hingga perkiraan biaya hidup selama aku kuliah. Mungkin aku salah ketika berdebat dengan Ibu namun tak adabukti apa pun yang membuatnya yakin.

Waktu makan malam adalah saat yang tepat untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rencanakan. Meskipun dengan muka yang masih masam, ibu tepat melayani aku dan Mbah Uti makan malam. Ini saatnya..

“Bu, soal kuliah kemarin..”

“Ibu sudah bilang sama Ayah. Dia setuju kalau kamu ikut seleksi universitas negeri tahun depan.”

“Kenapa Ibu minta persetujuan Ayah bukan persetujuanku sendiri? Bu aku yang kuliah, aku yang punya masa depan. Aku sangat bersyukur karena Ibu dan Ayah membiayai pendidikan aku selama ini. Tapi nggak begini caranya.”

“Terus kamu mau cara yang bagaimana? Kamu sudah dewasa sudah saatnya memahami kondisi keluarga!!”

Tanpa mendengar penjelasaku Ibu membanting sendok nasinya dan kembali ke kamar. jujur aku tak ingin berdebat dengan Ibu, harusnya aku tahu Ibu adalah orang yang keras. Ia memang tidak cocok denganku, karena keras kepalanya menurun padaku. Aku mengalihkan pandanganku ke Mbah Uti, tampak dia begitu kaget dengan perdebatanku dan Ibu. Aku meraih tangannya, aku ingin mengisyaratkan jika kami tidak apa-apa.

Pagi ini sudah pukul 07.00 aku melihat meja makan sudah terisi beberapa makanan. Dapur sudah bersih, dan Ibu entah pergi kemana? Apa dia marah denganku karena perdebatan semalam?

Seusai sarapan aku berpindah ke ruang TV, di sana sudah ada Mbah Uti yang masih setia dengan acara FTV pagi ini. Aku duduk disampingnya taka da yang terucap antara kami. “La, kok berangkat sekolah?”

“Aku udah lulus mbah, jadi nggak harus ke sekolah.”

“Terus nggak belajar katanya mau kuliah?”

“Nggak dibolehin Ibu Mbah, disuruh tahun depan.”

“kenapa?”

“Aku gak lolos seleksi pendaftaran di universitas negeri, jadi suruh daftar tahun depan.”

“Kenapa tahun depan? Nanti kamu keburu tua loh La, bagusnya kuliah sekarang aja.”

“Laela pengennya juga gitu Mbah, tapi gimana Ibu nggak punya biaya.”

Mbah Uti tidak meresponku, aku tahu dia pasti tidak mengerti dengan masalah yang sedang aku alami. Sepertinya tak ada seorangpun di rumah ini yang mengerti aku. Uang adalah faktor pendukung terbesar, untuk kuliah. Sudahlah aku tak ingin semakin sedih…

“La anterin Mbah ke kamar.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *