Selamat Jalan Nenek | Part 2

Selamat Jalan Nenek | Part 2

Dalam hati ku ingin berkata jujur. Bagus darimana sih mbah itu sinetron Alay, lagian bucin banget si ceweknya rela ngasih apa aja meskipun cintanya nggak dibales sama si cowok.

“Iya bagus Mbah.”

“Tadi gimana sekolahnya?”

“Biasa aja.”

“Jadi kuliahnya nanti dimana?”

“Nggak tahu”

“Kok nggak tahu, emang Laela mau kuliah dimana?”

“Belum ada pengumuman Mbah, lagian aku nggak suka jurusan yang aku pilih kemarin. Aku pengen daftar Universitas lain nggak dibolehin Ibu.”

“kemarin daftar dimana emang?”

“Daftar pendiidikan Akuntansi, tapi aku nggak mau jadi guru Mbah. Aku maunya di Ilmu Komunikasi biar bisa jadi Jurnalis”

“Bagus.”

“Tapi nggak dibolehin Ibu.”

“Guru Bagus, bisa bantuin anak-anak jadi pinter. Dulu Mbah dulu gak punya kesempatan buat belajar di sekolah, pernah sekolah tapi Cuma 3 bulan. Terus di suruh pulang sama Mbah buyut buat nikah sama Mbah Lanang.”

“Terus Mbah nggak sekolah lagi?”

“Nggak. Nanti kalau semisal Laela jadi guru bisa ngajarin orang kan dapet pahala juga selaiin dapet gaji.”

“Tapi Laela lebih suka jadi jurnalis Mbah.”

“Jurnalis itu bagu apa ya La, Mbah Uti nggak tahu”

“Haha.. Jurnalis itu yang biasanya ada di…” tanpa sempat aku jelaskan ke Mbah Uti, Ibu sudah memanggil.

“La, Udah malem Mbah Uti ajak ke kamar.”

Obrolanku dan Mbah Uti berarkhir, Ibu memang galak. Bukan cuma sama aku doang tapi sama Mbah Uti juga. Dulu pernah ditegur sama Ayah kalau jangan terlalu galak sama aku, tapi watak Ibu memang keras. Padahal Mbah Uti kalo ngomong sama aku lembut banget, tapi kenapa Ibu galak banget. Apalagi kalau semisal aku nggak belajar atau nggak bangun pagi.

Bulan telah berganti setelah acara perpisahan kelas XII, hari ini adalah pengumuman hasil seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri. Aku tak berharap apapun dari hasil seleksi, justru ku tidak mengharapkan untuk diterima. Jika tidak diterima aku ada alasan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Menurut pengakuan guru BP, pengumuman dilakukan tepat pukul 16.00 melalui akun masing-masing.

Aku dan Rika masih stay di dalam warnet, menanti pengumanan. Wajah Rika tampak harap-harap cemas, aku mencoba menenangkannya. Mungkin dia heran mengapa aku tak secemas dia, “Udah keluar La!”

Aku dan Rika menyimak dengan seksama setiap kata yang muncul dalam hasil pengumuman.

Dengan ini menyatakan Peserta

Nama                                    : Rika Anitiyas

Progdi yang dipilih           : S1 – Manajemen Perekonomian Syariah (Universitas Negeri Yogyakarta)

Menyatakan dengan ini :

DITERIMA

“La aku Lulus seleksi La!! Alhamdulillah”

“Iya Selamat ya Ka! Sekarang giliran akum au coba cek”

“Iya La Buruan!! Semoga kita bisa satu kampus nanti”

Kali ini aku merasa sedikit cemas, jujur detak jantungku menjadi lebih cepat. Bahkan untuk mengetik No. Id dan password tanganku sampai gemeteran. Kalo Rika keterima mungkin aku juga begitu, apalagi nilai raport aku gak beda jauh sama nilainya Rika.

Dengan ini menyatakan Peserta

Nama                                    : Laela Mustika Ningrum

Progdi yang dipilih           : S1 – Pendidikan Akuntansi (Universitas Negeri Yogyakarta)

Menyatakan dengan ini :

TIDAK DITERIMA

“Alhamdulillah aku nggak lolos seleksi!!”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *