Selamat Jalan Nenek

Selamat Jalan Nenek | Part 1

Selamat Jalan Nenek | Part 1Selamat Jalan Nenek

“Allahu Akbar Allahu Akbar…”

Suara adzan subuh berkumandang,  tapi mataku masih berat untuk dibuka. Aku merasa Ibu sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk sholat di mushola dekat rumah. Semenjak lebaran kemarin, Ayah putuskan untuk merantau ke luar jawa tepatnya kota Makasar. Di rumah hanya ada 3 orang dan semua adalah perempuan, aku, Ibu dan Nenek.

Meskipun masih sangat fajar, namun ibu sudah bersiap-siap memasak. Maklum saja untuk membantu biaya sekolahku, ibu harus berdagang nasi bungkus yang di jual di sekolah-sekolah. Termasuk sekolah tempatku belajar.

Mungkin aku bukanlah anak yang serajin bagi Ibuku. Atau serajin anak-anak uyang digambar di TV atau cerita motivasi lainnya. Ketika ibu sibuk menyiapkan dagangan aku masih tidur, terkesan tidak adil memang. Tapi inilah karakterku sebagai anak tunggal di rumah. Sebenarnya dulu Ibu sempat marah padaku jika tidak membantu tapi setiap kena marah aku justru ngambek dan bertekad tidak keluar kamar meskipun harus bersiap berangkat sekolah.

“La, Laela! La, Ibu mau minta tolong buruan bangun.”

“Aku masih ngantuk Bu, bangunin 15 menit lagi aja.”

“Nggak bisa, Ibu butuh kamu sekarang.”

“15 menit lagi aja bu aku masih ngantuk ini.”

“La, Ibu mau masak kamu siapin air panas buat mandi Mbah Uti.”

“Mandi pakek air biasa sama agak siang kan sama aja Bu, gak usah bikin air panas”

PLAKKKK…

Akhirnya aku bangun, Ibu tak berkata apapun. Ya, dia marah denganku karena aku selalu beralasan jika tidak membantunya. Aku memanaskan air hanya 8 menit, berhubung airnya cukup banyak aku sengaja menyimpan setengahnya untuk diriku sendiri. Ku pindahkan air panas untuk mandi Mbah Uti ke ember, aku menambahkan segayung demi gayung air bak mandi ke dalam ember. Tak lupa aku mengecek apakah terlalu panas atau terlalu dingin.

“Bu airnya udah”

“Kalau udah ya Mbah Uti dimandiin, Ibu masih masak.”

“Nggak mau bu, Mbah Uti kalau pagi pasti BAB. Aku nggak mau bersihin kotorannya.”

Ibu kembali memasang wajah seramnya, dan bersiap-siap untuk memukul lagi pantatku. Aku mencoba menyiapkan mental, namun Ibu hanya beranjak dan pergi menuju kamar Mbah Uti.

Suasana di sekolah saat ini sangat sepi. Ya selama Ujian Akhir Sekolah berlangsung siswa kelas X dan XI diliburkan. Aku telah memasuki tahun ajaran terakhir, Aku harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional dan ujian masuk universitas. Aku membolak balik brosur Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebenarnya aku sudah memasukan nilaiku ke universitas negeri tapi aku tidak yakin jika nilai raportku bisa lolos. Apalagi jurusan yang aku daftar kemarin tidak sesuai dengan keinginanku. Aku sangat menyukai buku majalah dan aku ingin menjadi seorang jurnalis. Sedangkan kemarin aku mendaftar program studi pendidikan akuntansi.

Jujur dalam hati aku berharap jika aku tidak lolos seleksi Nasional, jiwaku bukan seorang tenaga pengajar. Tapi seorang yang ingin menyebarkan berita!!

“La, tungguin hasil seleksi nasional dulu ya. Baru cari universitas ”

“Tapi Bu… aku nggak cocok sama jurusannya”

“La, biaya kuliah di kampus swasta itu lebih mahal. Ibu sama Ayah belum tentu sanggup biayai, diusahain masuk Universitas Negeri dulu ya.”

“Iya Bu.”

Jujur aku sudah sering debat masalah kuliah akhir-akhir ini. Aku sudah lelah beradu argument dengan Ibu, biaya memang selalu dipermasalahkan. Apalagi pendapatan Ibu juga nggak menentu setiap hari, mungkin aku harus mengerti maksud Ibu. Biaya untuk pendidikan keguruan memang lebih murah dibanding dengan jurusan ilmu terapan. Sudahlah lebih baik aku nonton TV.

Aku mengganti beberapa channel, dan benar saja tak ada acara yang bagus sama sekali. Semua acara hanya dipenuhi talkshow comedy dan sinetron. “kok, gak ada kartun sih” ucapku pelan.

“Film itu aja, Mbah suka”

“Yang mana?”

“Yang tadi”

Karena Mbah Uti tidak tahu judulnya sinetronnya, dan aku juga gak ngerti apa yang disukai Mbah Uti. Akhirnya aku mengulangi lagi semua channel TV. “Yang ini!”

Sebuah sinetron yang menceritakan cinta segitiga, padahal sinetrn Indonesia juga endingnya selalu sama, dan alur cerita juga nggak pernah berubah. Aku sebenarnya sudah bosan dengan sinetron sejenis ini, tapi nggak tahu kenapa Ibu atau Mbah Uti suka banget. Ku nikmati sinetron ini dengan Mbah Uti, dan terdengar suara tangisan. Aku menengok ke belakang, benar Mbah Uti menangis di adegan perpisahan yang menurutku terlalu lebay. Mbah Uti masih menangis padahal sinetronnya sudah habis. Aku mengambil tissue yang ada di meja dan ku berikan pada Mbah Uti. “Filmnya bagus ya La”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *