Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #3

Sehari setelah itu, Aku kembali ke tempat kemarin. Namun tak ada siapa-siapa, hanya ada orang biasa. Sepertinya acara itu hanya 1 hari saja. Aku kembali berganti tempat, Aku pergi pusat perbelanjaan. Namun sama saja. Aku tak menemukan badut anjing.

Aku berharap bisa bertemu mereka lagi. Tolong semesta, engkau yang mungkin paling memahami pertemukan Aku dengan mereka. Merekalah yang bisa membuatku lega. Tolonglah.

“Hei!”

Seseorang memegang tanganku. Aku menoleh, pria dengan postur tubuh tinggi. Aku cukup takut, Aku belum pernah bertemu orang asing. Apalagi sampai disentuh seperti ini. Aku terjatuh, sedikit ketakutan. Jujur ini bukan berlebihan, tapi cobalah pahami. Aku menyembunyikan wajahku, Aku sangat takut. Aku menangis.

“Maaf, tolong tenang. Maaf.”

Pria itu mendekatiku, namun tak lagi menyentuh. Aku masih dalam posisi yang sama. Ada dua orang wanita yang mendekatiku, membantuku untuk berdiri. Kedua wanita itu menenangkanku. Sedangkan pria yang tadi memegang tanganku berdiri dari kejauhan.

Aku sedikit lebih tenang.

“Kamu nggak papa? Perlu kamu bantu carikan taksi untuk pulang?”

Aku menggeleng. Aku sudah lebih baik.

“Tapi kamu benar udah baik?” Tanya wanita yang satu lagi.

Aku mengangguk. Aku yakin sudah baik, meskipun sebenarnya tidak benar-benar baik.

Mereka menanyakan beberapa hal tapi Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Pria yang tadi memegang tanganku mendekat. Sebenarnya masih ada rasa takut, tapi dua wanita yang menolongku berkata tidak apa.

“Maaf Aku mengagetkanmu. Aku tak bermaksud jahat.”

Aku masih diam.

“Eee… Aku udah lihat kamu sebelumnya di acara kemarin, acara salam hangat TEMAN DENGAR. Aku orang yang ada di dalam kostum badut anjing. Maaf karena nggak sempet kenalan kemarin.”

Aku mengerti sekarang. Aku tersenyum sedikit namun belum juga berbicara.

“Aku Okan, mereka berdua juga dari Teman Dengar.”

“Aku Yura.” Ucapku pelan.

Okan mengulurkan tangannya, Aku meraih tangan itu.

Semenjak pertemuan itu. Aku aktif berkegiatan di komunitas Teman Dengar. Setiap minggu, ada kegiatan berkumpul. Entah hanya sekadar bermain, membuat acara, atau mengajar anak-anak jalanan. Aku senang dengan komunitas ini. Mereka benar-benar teman yang mau mendengarkan cerita satu sama lain.

Kini kegiatanku juga lebih berwarna, buku dari psikiaterku sudah mulai penuh. Setiap hari ada 3 hal yang Aku tulis, dan setiap minggu Aku menceritakan kegiatanku bersama Teman Dengar. Jika buku ini habis, sepertinya Aku perlu membeli buku yang baru. Ya, Aku merasa lebih hidup sekarang.

“Yura, semenjak kamu gabung. Kamu selalu jadi pendengar kami. Aku harap akan ada kesempatan bagi kami untuk mendengarkan cerita darimu. Kamu bisa cerita, kapanpun kamu butuh.”

Aku terdiam sebentar. Benar, selain sedikit berbicara, Aku juga belum pernah bercerita tentang diriku padahal sudah 2 bulan lebih Aku bergabung.

“Maaf…” Aku sedikit kikuk. Tapi teman-temanku menggenggam tanganku, Aku merasakan kepedulian dari mereka. Ya, Aku harus mulai percaya pada mereka.

“Maaf, karena Aku baru cerita sekarang. Tapi Aku harap kalian tetap bersamaku. Maksudku tetap mengizinkanku di sini. Aku akan cerita, sekitar 2 tahun lalu…”

Ku ceritakan semua, mulai dari tragedi 2 tahun lalu, kegiatanku sehari-hari, hubunganku dengan tante Vanya, hingga ku ceritakan jika masih melakukan pengobatan psikologis. Raut wajah mereka berubah, semua tampak sedih dan iba padaku. Namun tidak dengan Okan, di justru tersenyum.

“Kamu hebat. Selama 2 tahun kamu berjuang sendirian. Aku tahu pasti rasanya kesepian dan putus asa. Aku tak bisa membayangkan jika berada di posisimu saat ini. Aku salut padamu, ketika beberapa orang menyerah, kamu tetap bertahan dan berjuang. Meskipun butuh waktu lama, tapi kamu harus tahu Tuhan tak akan meninggalkan umatnya sendirian. Aku, atau Teman Dengar mungkin gak bisa ngasih solusi, tapi kami mau menemanimu melewati semua ini. Jangan pernah merasa sendiri. Masih ada kami, masih ada orang yang sayang kamu, masih ada Semesta yang selalu bersamamu.”

Aku meneteskan air mata. Tangisanku tak terbentung lagi, Aku merasa benar-benar egois selama ini. Aku kira, Aku adalah orang yang paling menyedihkan di dunia. Hidupku terasa hampa dan mati rasa. Tak seharusnya Aku begitu, Aku terlalu larut dalam duka, hingga lupa dengan mereka, dengan tante Vanya, dengan siapapun yang berada di sekitarku. Aku bahkan lupa dengan Pencipta-ku. Aku sungguh egois.

Aku menangis tak terhenti. Suasana sore ini menjadi larut. Semua orang di ruangan mulai menemaniku menangis, namun ada beberapa yang tidak. Mereka justru memberikan senyuman yang tulus dan pelukan hangat.

Aku pulang cukup malam. Lampu di rumah sudah menyala, ini pasti tante Vanya. Aku masuk ke dalam, terlihat tante Vanya sedang membereskan dapur. Ia bahkan mengisi kulkas dengan buah dan sayur. Aku berjalan mendekat. Dari belakang ku peluk tubuhnya yang kurus. Semenjak mengurusku sepertinya tante Vanya jauh lebih kurus.

“Maafin Yura.”

Tante Vanya terkejut dengan sikapku. Ia juga terkejut mendengar kata-kataku.

“Maafin Yura, yang selalu ngerepotin tante. Maafin Yura karena terlalu berburuk sangka kalau tante bakal ngambil rumah ini. Maafin Yura, karena membuat tante terluka selama ini.”

Tante Vanya membalikan badannya. Air mataku menetes lagi. Tante menghapus air mataku, Aku melepaskan pelukan. Aku sungguh bersalah terhadapnya. Harusnya Aku tahu, bukan hanya Aku yang kehilangan Ayah dan Ibu, tapi tante Juga. Mana bisa ia ikhlaskan kepergian Ayah, satu-satunya kakak yang ia punya.

“Akhirnya Tante mendengar kamu bicara.”

“Yura sayang sama tante. Maafin Yura, karena terlalu egois. Yura lupa, tante pasti terluka karena sikap Yura, tante pasti juga terluka karena kepergian Ayah. Maafin Yura, karena selama ini Yura kira cuma Yura yang menderita, dan nggak ada satu orang pun yang akan memahaminya. Yura lupa kalo Yura punya tante Vanya. Orang yang sangat bisa diandalkan.” Aku tersenyum namun juga menangis.

Tante Vanya memelukku. Malam itu. Hari itu, rasanya hatiku terbuka lebar. Hatiku terasa lebih lapang. Aku bahagia sekarang. Jika Ayah dan Ibu melihat mungkin ia akan senang.

 

Hari ini, warna dihidupku yang dulunya hanya monokrom telah berubah

Aku mulai melukis lagi, ku ambil warna yang lebih cerah

Monokrom hanyalah dasar lukisan

Akan ku sampaikan kepada Semesta

Terima kasih telah menemaniku yang kesepian

Terima kasih telah memberikan jalan dan kanvas kosong

Aku akan melukis lagi dengan warna-warna pelangi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *