Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Sajak Lara : Memeluk Kesepian #1

Aku masih belum tidur, padahal ini sudah pukul 2 pagi. Mataku sudah bekedip dari tadi, tapi rasa ngantuk belum juga ku rasa. Sudah 1 tahun ini Aku mengalami Insomia, sejujurnya Aku ingin tidur nyenyak setiap malam. Aku beranjak dari kasur. Bagi sebagian orang kasur adalah tempat yang nyaman, namun tidak bagiku. Terkadang Aku takut dengan tidur malam, entah aneh sekali. Aku selalu cemas setiap kali tidur, mungkin ini adalah alasan mengapa aku insomia.

Aku mengarah ke dapur, aku memanaskan susu kotak. Ya, kata orang susu hangat akan mengantarkan kita pada lelap.

TANG…

Sebuah benda logam jatuh. Ini mengagetkan, Aku menjadi sedikit takut. Tak mungkin itu hantu, Aku sudah tinggal di rumah ini sejak kecil. Hal-hal ganjil seperti itu tak pernah ku temui selama ini. Aku memberanikan diri untuk mengambil benda jatuh itu. Sejujurnya sekaligus mencari tahu siapa atau apa yang menjatuhkannya. Aku menyalakan lampu, kosong, tidak ada siapa-siapa.

BRAKKKK

Sebuah benda tumpul, seperti ongkat kayu menghantam kepalaku. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Tak sempat Aku melihat sang pelaku, yang ku ingat hanyalah sosok tinggi berpakaian hitam.

Ya, kejadian semalam seperti mimpi buruk bagiku. Rumahku kerampokan, Aku mengalami luka lebam di kepala. Aku kira pencuri itu hanya mengambil barang berharga di rumah saja. Namun sepertinya tidak cukup. Pencuri itu juga mengambil nyawa Ayah dan Ibu.

“AA!!!!” teriakku begitu keras.

Meskipun 2 tahun berlalu, kejadian perampokan itu masih terasa seperti beberapa hari yang lalu. “AAA… Enggak jangan, tolong.” Aku selalu berteriak, meminta tolong, dan menangis.

“Tenang Yura. Tenang, di sini kamu aman.”

Aku masih berteriak dan menangis, meskipun psikiaterku mengatakan tidak apa-apa. Tapi tetap saja Aku ketakutan. Insomiaku semakin parah, bahkan Aku pernah 2 hari tak tidur sekali.

“Ini obatnya.”

Aku menghela napas. Bukan karena lega, tapi karena Aku merasa kenapa hidupku selalu penuh dengan obat. Kenapa 2 tahun lalu Aku tidak ikut mati bersama Ibu dan Ayah. Kenapa Aku masih bertahan di sini? Kenapa? Kenapa hanya ada Aku sendiri di dunia ini? Apakah ini hukuman dari semesta? Dosa besar apa yang Aku lakukan sampai semesta membenciku?

Aku pulang ke rumah. Aku tak ada pilihan tempat tinggal lagi. Hanya rumah dengan kenangan buruk ini yang Aku punya. Sudah 2 tahun Aku berusaha menjual rumah ini. Tapi, gagal. Berita tentang perampokan dan pembunuhan menurunkan minat pembeli terhadap rumahku.

“Yura.”

Aku menoleh ke belakang. Tante Vanya, dia pasti baru saja membersihkan rumah ini.

“Lebih baik kamu tinggal bersama tante. Tante khawatir kamu sendirian di sini. Tante janji bakal bantuin kamu buat jual rumah ini. Tapi, tolong jangan tinggal sendirian di sini. Terlalu berbahaya buat kamu.”

Aku pergi ke kamar, dan tak mendengarkannya.

“Yura! Tolong dengerin Tante.”

Aku masih mengabaikannya. Aku masuk ke dalam kamar. Aku tak peduli apakah Tante Vanya masih di sini atau pergi. Aku tidak menyukai tante Vanya, dulu sewaktu Ayah masih hidup dia selalu bertengkar dengan Ayah. Mereka memperdebatkan bisnis keluarga dan warisan. Tante Vanya orang yang terobsesi akan kesuksesan. Tapi entah kenapa semenjak Ayah pergi, ia berubah menjadi baik. Aku tak yakin kebaikan itu tulus.

Hari demi hari berganti. Tabunganku mulai menipis, selama 2 tahun Aku hidup dengan uang asuransi kematian Ayah dan Ibu. Sebagian besar habis untuk pengobatan. Kuliah? Aku sudah lama berhenti, Aku malu dan takut untuk bertemu orang baru. Padahal, aku punya mimpi yang besar terhadap pendidikanku sendiri.

Memikirkan hidupku sangatlah lelah. Aku merasa sedikit mengantuk sekarang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *