Sabtu Malam

Sabtu Malam

Malam ini terasa sangat kelabu, mendung menutupi semua bintang yang aku pandang. Tapi aku tak masalah, masih ada kamu yang tak akan pernah bisa ditutupi oleh awan. Selayaknya orang di sabtu malam, kamu datang ke rumahku menyapa ibuku dan duduk di teras bersamaku. Aku tak pernah tak marah jika kamu datang secara mendadak sekalipun. Karena bagiku setiap hari adalah rindu.

“Kamu tahu puncak kejantanan seorang laki-laki itu seperti apa?”

Aku menoleh. Aku memandangimu, sebelum melanjutkan bicara kamu terus merapikan rambutmu yang panjang itu. Meskipun sudah sekian kali aku meminta untuk memotongnya.

“Hmmm… ketika mereka membawa tas belanja milik pasangannya.”

“Hahaha… itu terlalu remeh.”

“Tapi itu gentleman.”

“Iya, tapi menurutku bukan itu. Puncaknya adalah saat pria membawakan tas yang berisi persediaan susu. Karena sang istri tengah kerepotan menenangkan bayinya yang rewel.”

Aku tertawa, dan kamu juga ikut tertawa. Meskipun berkali-kali kamu bilang “Aku serius bilang itu, sayang.” Aku mengangguk, tak ada yang bisa mengalahkan keseriusanmu meskipun kamu juga ikut tertawa bersamaku.

Semenjak itu, aku sangat tidak sabar menantikannya. Menantikan hari dimana aku kerepotan mengurus bayi. Menantikan dimana aku melihatmu menggendong tas persediaan susu itu.

Satu minggu berlalu…

Di sabtu malam yang sama. Kita berdua sudah di depan teras rumah. Hari ini ada bintang yang bertabur dilangit, namun pandanganku hanya beralih kepadamu. Kamu lebih bersinar malam ini, mungkin karena akhirnya kamu memotong rambutmu yang panjang. Atau aku yang terlalu berlebihan jika sudah merindu.

“Apa lagi yang ingin kamu ceritakan? Aku sudah bersiap untuk mendengarkannya.”

Jika perempuan lain memilih untuk didengarkan sang pria. Aku malah sebaliknya, aku selalu merasa jika kamu memiliki cerita yang lebih menyenangkan dibanding aku. Itulan kenapa Aku ingin terus mendengarkanmu.

“Apa ya? Oh aku tahu. Kemarin malam aku bersama Ayahku pergi ke rumah nenek, biasa sih di sana mereka bertanya kapan Aku menikah.”

“Lalu kamu jawab apa?”

Aku sangat menunggu jawaban darimu. Membahas pernikahan artinya kamu membahas kelanjutan hubungan kita. “Emmm…. aku jawab, nanti kalau sudah bertemu dengan jodohnya.” Aku sedikit kecewa, jawaban itu seakan tidak menganggapku sebagai pasanganmu. Aku cemberut, sengaja ku pasang wajah masam di depanmu.

“Karena itu aku ke sini, meskipun jodoh sepenuhnya di tangan Tuhan. Tapi, aku mau masing-masing dari kita mempersiapkan diri. Sekarang mungkin belum waktunya kamu ku bawa ke hadapan keluarga besarku.” Sambung ceritamu.

“Bagaimana caraku mempersiapkan diri?”

“Jadilah pribadi yang baik dari waktu ke waktu.”

Aku tersenyum. Semenjak nasihat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk memperbaik sikapku, perilakuku, dan hubunganku. Aku tahu, sebelumnya Aku tak pernah memiliki hubungan yang baik dengan orangtua. Hubunganku dengan orangtua bukan tipikal yang terus bertengkar, namun juga bukan yang sering berkabar. Hubunganku hanya terasa hambar.

Perlahan aku memperbaiki kedekatanku dengan ibu, aku membantunya di dapur. Sampai-sampai ibu berkata, “Kamu mau kawin?” Aku hanya menjawab “Iya.” Bukan cuma itu, perlahan aku membangun hubungan yang dekat pula dengan Ayah. Meskipun kami sudah berpisah rumah sejak aku kelas 1 SMA. Perlahan aku menelpon Ayah, sekedar menanyakan kabar. Aku tahu ayahku telah menikah lagi dengan wanita lain. Itu membuatku terluka, sangat terluka.

Tapi kamu mengajarkanku, untuk menjahit kembali hubungan yang terlah putus sekian lama. Aku juga sadar, Aku perlu menjalin hubungan bak dengan Ayah. Karena kelak akan ada pria lain yang akan ku panggil Ayah juga, atau mungkin Bapak, Papa, atau setara dengan itu. Aku mau pria yang ku maksud itu kamu.

Di sabtu malam berikutnya…..

Aku menunggu di teras, tak kunjung ku lihat kehadiranmu. Apakah memang kamu terlambat. Aku masih menunggu, hingga akhirnya ada sebuah telpon dengan nomor baru di ponselku.

“Halo, dengan siapa ini?”

“Halo Rara, ini Bundanya Anton. Bisa ke rumah sakit sekarang?”

Jantungku berdebar, mungkin ada hal buruk yang harus siap aku dengar tentangmu. Aku sampai ditempat yang Bundamu maksud, disana sudah ada Ayah, Bunda, bahkan nenekmu yang pernah kau ceritakan itu. Aku baru sampai lorong, tapi Bundamu memelukku erat. Dalam pelukannya dia bilang “Nak Rara, mari kita doakan bersama kesehatan Anton.” Aku tak mengerti apa yang Bundamu bicarakan, hingga akhirnya aku mendekat di ruang ICU. Dari kejauhan, kamu tampak begitu pucat. Ada banyak selang yang menempel di dada dan lubang hidungmu.

“Anton Sakit apa?” tanyaku

“Sejak Kecil Anton memiliki jantung yang lemah.”

Jawab Bundamu sambil menggenggam tanganku.

“Tapi Dia selalu baik-baik saja di depanku.”

“Begitulah Anton.”

Jawaban Bundamu yang menangis namun masih menyertai senyumannya.

Semenjak malam itu, Aku menjadi lebih sering berdoa. Aku memohon dengan sangat kepada Tuhan atas kesembuhanmu. Bahkan Aku rela menyempatkan waktu di sepertiga malam untuk menyebut namamu. Aku berharap kamu sembuh, membuka matamu dan bisa melihatku.

Di sabtu malam setelah hari itu…

Aku kembali datang ke ruang ICU, kamu tak kunjung sadar. Orangtua pamit sebentar, mereka ingin membeli makan dan mandi. Kini hanya aku sendiri yang menjagamu dibalik sebuah kaca. Sudah 30 menit, kamu masih tetap sama. Sudah 1 jam, kamu tak berubah sama sekali, Aku tak lelah. Tak sedikitpun lelah meskipun sudah satu jam berdiri di sini. Aku merasa sesak, padahal kamu mungkin kesulitan bernapas sekarang. Aku merasa sakit, padahal bagian tanganmu yang ada jarum suntik.

“Aku ingin memelukmu.”

Mintaku dengan lirih. Air mataku mengalir, aku tahu kamu adalah orang yang benci melihatku menangis. Bukan karena kamu yang apatis, tapi kamu pasti tak tega, kamu pasti bingung harus berbuat apa. Aku ingin sekali saat ini, jarimulah yang menyeka semuanya. Aku sangat merindukanmu, namun bukan ini yang ingin ku lihat darimu. Kamu tampak redup, aku ingin kamu bersinar. Aku tak ingin air mataku atau bahkan Bundamu berlinang setiap malam.

Aku sudah terlanjut mencintaimu, bagikan semuanya. Dan Aku ikhlas untuk melaluinya berdua, bagikan sedikit sakitmu biar aku juga merasakannya. Biar sedikit bebanmu, sehingga kita bisa hidup bersamaan. Meskipun kamu tak pernah memiliki waktu untuk menyeka air mataku, tapi setidaknya datanglah saat aku bahagia.

Aku menangis sampai akhirnya Aku terjatuh. Energiku habis, mataku menutup. Aku pingsan.

Pagi harinya…

Aku membuka mata, tampak begitu cerah hari ini, entah karena lampunya atau memang sudah siang hari. Ditanganku sudah menancap jarum yang sama denganmu. Bukan hanya bagian itu saja, aku sama berantakannya denganmu, ada banyak selang di dadaku dan kedua lubang hidungku. Aku menatap langit-langit, meskipun tersadar mataku juga masih menyipit.

Aku menoleh ke depan, dibalik kaca sudah ada Ibu, Ayah dan istrinya. Ibu nampak sedih, Ayah juga. Aku melihat itu namun tak bisa berkata apa-apa. Aku menengok sebelah kiri hanya ada tirai yang tertutup. Ku tengkok pula arah yang berlawanan, tirai seakan sengaja terbuka. Itu Kamu, yang masih tak berdaya dan terlelap berminggu-minggu lamanya. Aku ingin meraih tanganmu, tapi siapnya tak ada hal lagi yang bisa ku gerakan selain kepalaku.

Aku masih menatapmu, sampai seorang Dokter menghalanginya.

“Kamu harus segera dioperasi, kanker mulai menyebar ke bagian jantung dan paru-paru.”

Aku hanya bisa mendengar dan tak bisa berkata apa-apa. Para perawat membawaku ke ruang lain yang tak ku tahu. Kita berpisah disini. Dalam hati aku hanya meminta kesembuhanmu secepatnya. Setidaknya jika aku benar dioperasi kamulah orang pertama yang ingin aku lihat setelah tersadar dari bius yang membuatku terlelap berjam-jam. Itu saja, “Sayang cepatlah sadar. Kita akan sama-sama berjuang sekarang.”

 

sumber gambar : pinterest

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *