REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

REUNIVIRTUAL #1 : Menyikapi Body Shaming dengan Mera

 

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Hallo semua! Hari ini Aku mau berbagi pengalaman. Mungkin pengalaman body shaming bukan hanya dialami oleh aku saja, kebanyakan orang juga mengalaminya. Dikatain gendut lah, pendek lah, kecil lah, terlalu kurus, lah, jelek, dan lain-lain. Awalnya ledekan itu sebagai bahan bercandaan, tapi lama-lama malah menyakitkan bagi mereka yang bersangkutan.

Jujur Aku juga orang yang sering sekali mengalami body shaming. Alasannya karena tinggi badanku yang masih dibawah rata-rata orang seusiaku. Body shaming aku alami sejak SMP. Awalnya biasa, atau lebih tepatnya saat itu aku nggak bisa ngelawan. Bingung gimana caranya bisa menjawab semua ledekan mereka. Hal itu terus aku alami. Tapi aku bersyukur, dibalik teman-teman yang mengejekku masih ada teman yang mau nemenin dan berteman denganku. Kekesalanku terhadap tindakan body shaming dari teman-teman membuatku mudah marah. Aku sering memukul mereka dengan tangan atau mengumpat padanya. Maklum waktu itu aku banyak nememukan kosa kata baru, dan belum bisa bersikap sabar. Cenderung lebih sering memberontak. Aku nggak peduli apa mereka merasa sakit, karena apa yang mereka katakan jauh lebih sakit. Aku merasa menyimpan dendam pada mereka yang mengatakan itu.

Emang sih body shaming bikin rasa percaya diri kita jadi turun. Apalagi kalo diledeknya di depan orang banyak. Wahh itu pasti rasanya malu dan marah banget. Lalu saat masuk SMA, Aku mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tepat kelas X aku bertemu dengan temanku Mera. Kami memiliki tinggi badan yang sama. Bahkan setiap kali jalan ke kantin berdua, kami dianggap kembar oleh anak-anak.

Siapa sih yang suka kalo dipanggil 1 meter tak sampai? Kalau ada mungkin dia bermental baja. Masa SMA aku memiliki teman-teman dengan bentuk tubuh yang lebih proposional dibanding waktu SMP. Anak laki-laki tubuhnya kurus tinggi. Sedangkan anak perempuan, body goals lah.

REUNIVIRTUAL #1 Menyikapi Body Shaming dengan Mera

Awalnya aku pede-pede aja karena di kelas aku bertemu banyak orang yang bertubuh mungil. Ya ngerasa ada temennya. Dan karena Mera dan teman-teman yang lain juga aku merasa lebih diterima oleh lingkungan di kelas ataupun di sekolah. Aku merasa lebih dihargai keberadaannya di banding diintimidasi. Meskipun body shaming itu tetap ada, dan beberapa orang memanfaatkan postur tubuhku untuk kepentingan pribadinya. Tapi aku merasa lebih aman di lingkungan SMA ini.

Karena apa yang aku alami sama seperti yang Mera rasakan, beberapa waktu lalu kami memutuskan untuk membuat 1 ide konten baru. Aku sungguh sangat bersyukur melalui konten #reunivirtual kemarin Aku dan Mera saling bercerita di moment kemarin. Melalui IGLIVE aku dan dia saling cerita tentang pengalaman Body shaming yang kami rasakan semasa SMA. Namun, saat masih SMA aku dan Mera merasakan dan memberikan sikap yang sama. Ya, menganggapnya sebagai lelucon yang menyenangkan. Karena jujur orang yang selalu meledek kami berdua punya gaya pelawak gitu.

Dari obrolan selama 1 jam itu, kami berdua sama-sama merasakan. Terkadang cara terbaik menyikapi body shaming atau bentuk bullying lainnya adalah dengan fokus pada diri sendiri. Memang kita nggak punya bisa meminta orang lain untuk lebih menghargai perasaan kita. Kita nggak punya kontrol atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Kita Cuma punya kontrol pada diri sendiri.

Mera juga mengaku kalau berkat body shaming dari temen-temennya dia justru memiliki mental yang kuat. Terkadang memang Mera sering bertanya, kenapa selalu dia yang diledek dari semua temen-temennya? Kalau dipahami lagi terkadang teman-teman yang sering meledek, justru mereka yang paham betul dengan karakter kita. Karena bisa saja mereka yang meledek kita benar-benar tak bermaksud untuk melukai kita. Memang berusah mengakrabkan diri, tapi ternyata cara itu membuat kita merasa tidak nyaman.

Balik lagi ke bagaimana menyikapi Body Shaming itu. Kuncinya kita harus berganti fokus. Jangan terlalu fokus pada hal yang membuat kita terluka atau kepada mereka yang melakukan body shaming. Fokuslah pada hal besar yang kita miliki. Kondisi fisik adalah sebagian dari kehidupan kita, ada hal lain yang lebih besar dari itu. Ya sebut saja perasaan kita dan pikiran kita.

Aku sendiri juga merasa sedikit bersyukur atas hal yang tidak aku sukai di masa lalu itu. Berkat bully-an dan tindakan body shaming teman-temanku Aku bisa membuat karya yang bisa melegakan hatiku dan dinikmati orang-orang di sekitarku.

Mungkin itu dulu, sedikit rangkuman dari Reunivirtual kemarin. Semoga dengan apa yang aku dan Mera sampaikan bisa bermanfaat bagi siapa saja. Sekian dariku, selanjutnya aku akan membahas banyak hal lain dengan teman lamaku di masa SMA. See You! #reunivirtual SEMASA

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *