Reuni Virtual Semasa #3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Reuni Virtual Semasa #3 : Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Reuni Virtual Semasa #3 : Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Hai, bertemu lagi. masih dalam series Reuni virtual beberapa waktu lalu aku menghubungi teman SMAku, namanya Atma Parindra. Sejujurnya kami nggak pernah saling ngobrol di sekolah, kalau bicara ya paling sekadar tanya “Ada si … nggak di kelas?” udah gitu doang.

Reuni Virtual Semasa #3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Aku memang tak akrab dengan Atma, tapi dulu waktu SMA Atma termasuk orang yang populer. Dia seperti memiliki gaya tersendiri dan dibilang cukup kreatif dibanding siswa-siswa lain. 1 minggu pertama saat masa Orientasi sekolah, kami pernah satu kelas. Sebelum akhirnya Atma pindah ke kelas ICT. Dia termasuk pribadi yang introvert.

Meskipun demikian, Aku tahu melalui akun media sosialnya dia melancong ke berbagai tempat. Bahkan Aku tahu jika beberapa waktu lalu ia bersama tim Borneo Tattoo melakukan ekspedisi kalimantan. Sebagai teman satu angkatan tentu Aku penasaran ingin mengulik kisah perjalanannya. Setelahku hubungi dan ku ajak untuk bergabung di acara reuni virtual dengan topik “Kebebasan Diri” ini.

Setelah masing-masing dari kami menyepakati jadwal, siaran langsung pun dimulai. Aku bertanya sedikit tentang ekspedisi Atma selama di Kalimantan. Atma hanya menjelaskan jika ekspedisi itu dilakukan dengan tujuan mengarsipkan tato-tato khas suku dayak baik dalam bentuk film dokumenter maupun buku.

Atma memang bisa dibilang anak pelancong, dia mengaku sering melakukan turing ke beberapa tempat di Indonesia. Mulai dari Jogja, kota-kota Jateng, NTT, NTB, Bali, dan Kalimantan. Dia merasa jiwanya lebih bergairah saat berada di jalan, memang itu arti kebebasan buat Atma. Berbeda denganku yang bebas menyusun kata, mengungkapkan perasaan, dan bercerita sepuasnya di meja depan laptop, dan alat-alat tulis.

Reuni Virtual Semasa 3 Kebebasan Diri Bersama Atma Parindra

Tapi meskipun berada di tempat yang berbeda, bukan berarti Aku yang terkekang dan Atma yang hidup liar. Bagi kami berdua kebebasan itu bukan hanya soal tempat, tapi tentang batin dan pikiran. Bahkan Atma sendiri menegaskan jika kebebasan yang mutlak tidak ada, saat seseorang memilih sesuatu atau melakukan sesuatu maka akan ada tanggung jawab atau konsekuensi yang harus dihadapi. Memang terkadang beberapa orang menganggap kebebasan adalah mereka berhak atas apa yang diinginkan, tapi kembali lagi setiap hal yang dilakukan ada risiko dan konsekuensinya.

Terkadang dalam perjalanan Atma bukan hanya mengalami kendala teknis saja namun juga terpisah dari rombongan karena beberapa hal, entah itu perbedaan visi atau hal lainnya. Ada insight baru yang aku dapatkan dari Atma, dan itu juga jadi salah satu hal penting saat membangun komunikasi dengan orang lain. Ia bilang apabila ditengah perjalanan mengalami perdebatan, Atma akan berusaha memposisikan dirinya menjadi lawan bicara. Tentu itu menjadi hal yang sering kita lupakan, saat sedang berdiskusi atau berdebat dengan teman, rekan kerja, atau pasangan sekalipun.

Jika dipikir lagi, semakin jauh Atma pergi atau berpetualang maka semakin besar dan luas pula jaringan relasi yang dimiliki. Namun bukan berarti anak rumahan tidak memiliki jaringan relasi, kunci dari membangun relasi tentu diri kita yang terbuka dengan orang lain.

Aku juga bertanya tentang satu hal yaitu finansial. Iya, tentu kesiapan finansial sangat penting sebelum berpetualang. Atma sendiri memiliki beberapa bisnis, seperti bisnis event, dan wedding photography. Selama ia melakukan ekspedisi 8 bulan bisnis-bisnis tersebut dikelola oleh orang terpercaya, untuk pembagian komisinya sendiri masih ia rahasiakan. Tapi dengan sistem seperti itu, kebutuhan batin Atma akan petualangan juga terpenuhi dan bisnis tetap berjalan. Namun bagi yang belum memulai bisnis, tentu kegiatan menabung itu penting. Pastikan uang tabungan dan perencanaan keuangan selama perjalanan itu jelas, dan jangan lupa sediakan dana darurat jika terjadi sesuatu sewaktu perjalanan.

Setiap petualangan yang dilakukan tentu memiliki masalah, salah satunya kehabisan uang. Untuk mengatasi itu, Atma bahkan sampai bekerja serabutan, entah sebagai Fotografer untuk para turist bahkan kuli bangunan. Menghadapi krisis keuangan saat di tempat orang lain tentu hal yang sulit, namun kembali lagi otak harus tetap berpikir tubuh harus bergerak manfaatkan segala yang kita miliki untuk melanjutkan hidup, petualangan atau bahkan cara pulang.

Ke depannya memang akan ada ekspedisi lagi, dengan visi tersendiri. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan selain finansial, kesehatan tentu penting apalagi dimasa pandemi seperti ini. Selain mengonsumsi vitamin, Atma dan teman-teman Borneo Tattoo harus melakukan pemeriksaan kesehatan. Mereka tentu tak ingin niat baik justru membuat panik orang-orang.

Jiwa Atma memang petualang, tapi dia tak lupa kemana ia harus pulang. Bebas bukan pada tempat, tapi bebas adalah saat kita bisa memilih, melakukan, atau berpendapat tentang sesuatu yang disukai dan diyakini tanpa ada tekanan dari orang lain, serta kita berani bertanggung jawab atas segala resikonya. Atma petualang karena memang jiwanya ada di jalan, namun beberapa orang juga berpetualang namun dengan media yang berbeda.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *