Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Reuni Virtual #2 : Nikah Muda? Bersama Ratih

Halo! Setelah beberapa waktu lalu aku bikin acara reuni virtual #1 yang membahas tentang body shaming, tepat kemarin (19/09) bersama teman SMA ku Ratih. Topik yang aku angkat kemarin sangatlah menarik, jujur ini demi menjawab pertanyaanku pribadi tentang “Nikah Muda”.

Reuni Virtual 2 Ratih dan Suami

Ya, beberapa orang mungkin menganggap nikah muda adalah hal yang menyia-nyiakan masa mudanya. Kenapa demikian? Gini, Aku pun juga berpikir begitu dulu. Masa muda adalah saatnya kita mengejar mimpi, berjelajah, mencari jati diri yang sebenarnya, dan belajar menjadi lebih dewasa. Tapi jika sudah menikah, rasanya hidup bukan milik sendiri saja, namun sudah milik berdua dengan pasangan.

Kebanyakan orang berpikir di usia muda memiliki ego yang besar dan kondisi emosional yang nggak stabil. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menghadapi berbagai problematikan pernikahan. Tapi sedikit cerita tentangku saat membahas topik ini. Sejujurnya ini topik yang cukup berat buatku, selain karena Aku yang belum menikah. Bagiku isu pernikahan muda cukup sensitif, sebelum memulai acara reunivirtual aku membekali diriku dengan beberapa pengetahuan tentang pernikahan. Aku cari UU perkawinan negara (Aku cari tahu berapa batas minimal seorang wanita menikah, Aku pribadi nggak mau jika ternyata temanku dikategorikan KAWIN ANAK, dan untunglah tidak). Aku belajar bagaimana kehidupan pernikahan melalui buku.

Sungguh, Aku sangat berhati-hati membawakan topik tersebut. Aku nggak mau, konsep awal yang ingin membedah kisah teman tentang kehidupannya yang menikah muda, justru menggiring opini audiens untuk sesegera mungkin menikah.

Lanjut ke pembahasan reuni kemarin, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Aku cenderung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ratih tentang kehidupannya saat menikah muda. Ratih menikah di saat usianya 18 tahun. Ia baru lulus SMA dan selang beberapa bulan akhirnya menikah. Tentu aku penasaran dorongan apa yang membuat dirinya pribadi memutuskan untuk menikah dengan orang yang selisihnya 13 tahun lebih tua? Bagaimana kondisi emosionalnya? Bagaimana dia menurunkan egonya?

 

Ratih menceritakan sedikit keputusannya menerima lamaran suami. Ratih mengenal suami sudah 3 tahun lamanya, setelah ia lulus. Ratih dan suami mulai menjalin hubungan spesial, selang 3 bulan. Akhirnya sang suami meminta restu kedua orangtua, singkat cerita setelah pertemuan kedua keluarga tanggal pernikahan pun diperoleh. Awalnya Ratih masih diberi kesempatan untuk merintis karir beberapa tahun, tapi ternyata ia justru akan menikah dalam waktu terdekat. Ratih sempat mengalami dilematik, antara lanjut menikah atau berhenti saja. Tapi ia pikirkan lagi, tentang kepribadian sang suami yang baik, sikap religiusnya, menurutnya sulit saat ini mencari seorang imam keluarga yang baik. dan mumpung ia menemukan calon seperti itu, akhirnya ia memilih menerima.

Di awal pernikahan Ratih juga mengalami gejolak emosi. Kehidupan pernikahan dengan kehidupan lajang tentu berbeda jauh. Namun, sang suami senantiasa sabar menyikapi gejolak emosi Ratih yang berubah. Sang suami tentu paham, selain karena usia Ratih yang masih muda, Ratih juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan. Ia bilang butuh waktu 3 bulan untuk menstabilkan emosinya. Apalagi, di usia pernikahannya yang baru 1 bulan, Ratih diamanahkan anak. kondisinya yang hamil membuat Ratih harus benar-benar belajar mengendalikan emosi dan menjadi lebih dewasa.

Ratih mungkin masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan merintis karir lagi. Tapi ketika anaknya lahir, Ratih mulai merasa dilema. Meskipun sang suami mendukung jika dirinya ingin mengejar cita-cita. Tapi sebagai seorang ibu, Ratih masih memikirkan tumbuh kembang anaknya yang masih berusia 4 tahun. berganti peran memang berganti sudut pandang, Ratih mungkin belum sempat mengenyam bangku Universitas. Tapi karena suaminya seorang guru, Ratih sering kali membantu suami mengoreksi hasil ujian para siswa saat UAS dan UTS. Yang itu berarti Ratih juga masih belajar, meskipun dirinya ibu rumah tangga.

Kalau membahas pernikahan memang ada aja yang dibahas, bahkan aku sempat bertanya pada Ratih, apakah dia pernah merasa menyesal karena menikah muda? Pernah merasa irikah dengan teman-teman seusianya yang bekerja atau kuliah?

Ratih menjawab jujur jika dia pernah merasakan itu. Apalagi jika dia membuka media sosial, yang isinya penuh dengan gambaran teman-temannya yang kuliah, yang merintis karir dan lain-lain. Sesekali ia bercerita dengan suami, tapi apa yang ia katakan justru membuat suami merasa bersalah. Akhirnya Ratih memendam perasaan itu, ia memilih kembali kepada komitmen yang dibangun berdua dengan pasangannya.

Kini peran Ratih tak lagi sama. Ratih menjadi anak perempuan, istri dan ibu. Peran tersebut terkadang membuatnya semakin belajar bagaimana ibunya dulu yang bersusah payah mendidik anak, sekaligus istri.

Dari obolanku malam itu, mungkin ada hal yang bisa dipetik dari kisah pernikahannya Ratih. Kunci pernikahan bukan berada di dalam diri sendiri saja, namun juga pasangan. Saat satu pihak sedang belajar maka pihak yang lain perlu bersabar.

Tujuanku tetap cukup terpenuhi malam itu. Aku ingin mematahkan streotip masyarakat yang bilang jika nikah muda itu menyia-nyiakan masa mudanya. Itu menurutku salah.

KONSEP MENYIA-NYIAKAN AKAN ADA JIKA KITA TIDAK MENIKMATI PERNIKAHAN ITU SENDIRI DAN MERASA MENYESAL ATAS KEPUTUSAN TERSEBUT.

Jadi kalau kita menikah di usia 18 seperti Ratih. Atau 20, 30, bahkan 40 tahun kalau kita tidak bisa menikmatinya dan tidak menjalin hubungan yang baik dengan pasangan semua itu akan sia-sia. Menikah muda, memang pilihan. Aku yang berusia 23 tahun saja sudah ditanya punya calon atau belom. Menikah bukan hal yang mudah, perlu banyak persiapan. Baik secara mental, emosional, fisik, dan finansial. Untuk itu sebaiknya pertimbangkan sebaik mungkin, jangan sampai merasa menyesal dengan keputusan bersama seseorang sehingga kita merasa menyia-nyiakan waktu saat bersamanya.

Itu dulu cerita dariku, semoga ada pembelajaran yang diperoleh dari sesi reuni virtual kemarin. Tunggu konten reuni virtual berikutnya ya!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *