Pria Tua

Sumber gambar : Photo by apri rianto on Unsplash

Aku adalah seorang pria yang tak pernah putus asa untuk mencari cinta. Hahaha, itu yang sering kali diucapkan oleh temanku saat kami tengah menikmati kopi dan sebatang rokok di angkringan langganan. Aku hanyalah pria biasa, tak punya paras tampan yang mampu membuat para wanita jatuh dan pingsan. Aku juga tak punya karisma bak seorang pangeran dari kerajaan, karna teman-temanku memanggilku Bajingan. Ups.. bajingan ini bukan seperti orang jahat dalam drama. Aku hanyalah bajingan yang sering ditinggal wanita.
Sebenarnya Aku tak masalah jika seseorang meninggalkanku, karena aku selalu berperinsip tetap dan tinggal adalah keputusan masing-masing. Hal ini bukan hanya berlaku pada percintaan saja, namun juga pertemanan.
Jika dilihat sore ini angkringan cukup sepi. Sebagian dari temanku sudah bekerja bahkan gaji mereka 3x lebih tinggi dariku. Tapi, mereka harus lembur setiap malam untuk menutup setoran.
Kalau ditanya apa pekerjaanku? Dengan bangga aku bilang Pengangguran. Benar. Sedikit cerita tentang masa laluku, aku seorang mahasiswa seni rupa di salah satu perguruan tinggi. Hari-hariku hanya bermain dengan warna cat dan prakarya tangan lainnya. Aku tahu, orang-orang menganggap remeh semua ini, bahkan mereka sering kali berkata. Apa yang aku kerjakan tak mungkin berubah jadi uang.
Sering kali orangtua dan lingkungan rumahku mendesak, mereka ingin aku segera mendapatkan pekerjaan yang layak. Setidaknya seperti teman-temanku lainnya. Tapi aku menolak, terikat kontrak, menghabiskan waktu berjam-jam, dibentak, dan Standar-standar lainnya. Itu bukanlah gaya, karena orang-orang tahu, sebebas apa diriku.
Sudahlah tak akan ada habisnya jika aku mengeluh tentang kehidupanku di rumah. Lebih baik ku gunakan waktuku untuk keluar rumah. Hari ini aku ada janji dengan teman perempuanku, iya teman. Sementara waktu ini kami memang masih berteman baik, aku harap ke depannya akan jauh lebih baik.
Aku mengendara, berkeliling kota menggunakan motor Honda Super Cub 80 cc yang kini menjadi primadona di kalangan anak muda. Hari ini aku ingin menjemput Laras, perempuan yang aku kenal di kedai kopi milik sahabatku satu bulan yang lalu. Lewat obrolan singkat aku meminta nomer HPnya, dan setelah itu kami rutin mengobrol via WhatsApp.
Hari ini pertama kalinya aku pergi ke rumah Laras. Ada harapan besar yang aku pendam dari obrolan kami selama ini. Bahkan dalam seminggu ini, aku dan Laras sangat sering menelpon satu jam sebelum tidur, sampai Aku mendengarkan suara dengkurannya kecil saat dia lupa mematikan telpon. Baru 1 bulan kenal tapi aku sudah berfantasi macam-macam.
Aku sudah sampai di depan gerbang rumah Laras. Di teras rumah dia sudah menunggu, menggunakan pakaian warna merah jambu yang membuatnya tampak sangat lucu. Aku menyalakan klakson motor, dan Laras menghampiriku.
“Hai Laras!” sapaku dengan sangat manis.
“Halo Ndi, em…”
Mimik wajah Laras berubah jauh, saat dia mendekatiku.
“Kenapa Ras?” Aku tahu mungkin dia keberatan dengan motorku, tapi aku masih menyimpan harapan jika dia menerimanya.
“Nggakpapa sih Ndi, tapi ini kah kita mau datang reuni. Kamu yakin ke sana pakai motor ini?”
“Iya biarpun lama, tapi aku sering membawanya ke bengkel secara rutin. Jadi bisa dibilang mesin ini tua tapi bisa bersaing dengan motor-motor jaman sekarang lah.”
Laras tampak masih berpikir.
“Kita pesen taksi aja ya. Nanti biaya patungan.”
Memang benar dugaanku. Sebenarnya aku tak masalah ataupun kecewa, karena Laras adalah wanita kesekian yang menolak ajakanku menggunakan motor tua peninggalan Bapak.
“Jadi, kamu malu denganku?”
Laras lama menjawab. Hampir terjeda 10 menit untuknya bilang “nggakpapa”
“Aku tahu, kamu malu dan nggak mau denganku setelah ini. Acara reuni nanti emang jadi kesempatanmu untuk memamerkan semua yang kamu punya. Ya, pekerjaan, pasangan, bahkan jabatan yang kamu pegang. Aku tahu kamu sangat keberatan untuk ku bonceng dengan motor tua peninggalan bapakku ini, karena yang kamu mau adalah mobil mewah terbaru.”
“Ndi bukannya begitu.”
“Kamu tak perlu merasa tidak enakan denganku. Aku sudah terbiasa dengan penolakan bahkan pengkhianatan sekalipun. Namun prinsipku, Aku akan berusaha total. Membahagiakan orang yang ku sayangi dengan segala yang aku miliki. Tapi…”
Aku menghela napas, akhirnya kalimat ini aku keluarkan lagi. Setelah hampir setahun lalu ku ucapkan juga pada perempuan sebelumnya.
“Tapi Ras, yang kamu butuhkan adalah hal yang tak aku punya. Itu tandanya kamu juga tak membutuhkanku, karena apa yang aku punya bukanlah keinginanmu. Dibanding kamu merasa tak enak hati, lebih baik kamu pergi sendiri dan aku akan kembali.”
“Sorry Ndi, bukan maksudku buat nyakitin kamu.”
“Ras, yang aku punya sekarang tak berkenan di hatimu, jadi untuk apa aku terus berharap padamu?”
Aku tak mendengarkan penjelasan Laras lagi. Aku menyalakan motor dan ku kembali ke angkringan lama berkumpul bersama isinya para bajingan muda yang kini mulai menua.
Baru saja ku duduk, namun salah satu temanku melihat wajahku yang merengut.
“Gagal percintaan lagi nih.” Ledeknya terhadapku.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *