Perempuan Tanah Jahanam, Taste Pertama Nonton Film Joko Anwar

Perempuan Tanah Jahanam, Taste Pertama Nonton Film Joko Anwar

Perempuan Tanah Jahanam, Taste Pertama Nonton Film Joko AnwarPerempuan Tanah Jahanam, Taste Pertama Nonton Film Joko Anwar

Seperti yang telah kita tahu, Joko Anwar merupakan salah satu sutradara kondang milik Indonesia. Karyanya sudah dilihat oleh jutaan orang, masih ingat film bergenre yang horror “Pengabdi Setan” atau film superhero Indonesia yang baru beberapa bulan kemarin rilis “Gundala.”

Aku memang belum pernah menonton Film Joko Anwar, tapi Alhamdulillah kemarin aku berkesempatan menonton salah satu karya terbarunya “Perempuan Tanah Jahanam.” Sebenarnya sebelum menonton aku memang menonton review dari “Cine Cribe.” Jadi bisa dibilang dapet bocoran sedikit.

Jujur saja, aku sebenarnya bukan orang yang menyukai film horror atau thiller. Aku lebih cocok dengan genre romance, drama atau comedy. Namun karena penasaran dengan taste dari Joko Anwar akhirnya aku memberanikan diri.

Sipnosis singkat

Kisah film ini mengangkat cerita tentang Maya seorang gadis yang awalnya bekerja sebagai karyawn gerbang tol. Rasa deg-degan mulai muncul saat ada seorang pria yang meneror Maya, apalagi dengan membawa sebuah golok dan hendak membunuh maya (jujur mungkin sebelah bangku ku merasa terganggu dengan jeritan selama adegan kejar-kejaran). Diperlihatkan pria tersebut mencoba untuk menggoreskan sebuah bekas luka yang ada di bagian paha Maya. Setelah kejadian itu Maya pun berhenti bekerja dan memilih untuk memulai usaha berdagang pakaian bersama sahabatnya Diny. Namun yang namanya nasib tak ada yang tahu, usaha mereka tak berjalan lancar dan terancam gulung tikar.  Dibalik foto keluarga tersebut tertulis nama “Rahayu” dimana Bibi Maya berkata nama itu adalah nama aslinya.

Di usianya yang 25 Maya menemukan foto lamanya bersama Ayah dan ibunya, di dalam foto Maya sepertinya tinggal dalam sebuah rumah yang besar. Ia dan  Diny akhirnya memutuskan untuk pergi ke kampung halaman demi rumah tersebut. Niat mereka ingin menjual rumah dan menjadikannya modal usaha yang lebih besar justru menjadi sebuah petaka.

Kedatangan ke kampung halaman

Desa Harjosari adalah desa terpencil yang begitu lekat dengan budaya jawa, dalam film digambarkan suasana desa yang sangat tradisional. Tanpa ada jalan aspal, kendaraan bermotor, bahkan listrik. Bukan hanya itu desa tersebut sangat terkenal dengan budaya wayang dan dalangnya Ki Saptadi

Namun dibalik semua itu ternyata desa mengalami kutukan selama 20 tahun. Setiap bayi yang lahir mereka tak memiliki kulit, akhirnya selama 20 tahun tak ada anak-anak yang bermain atau lahir di sana. Kedatangan Maya dan Diny ternyata tak disambut baik, tatapan mereka seakan mematikan. Hingga konflik pun muncul. Niat awal mengelabuhi warga dengan menyamar sebagai mahasiswa dicurigai, apalagi saat seorang warga menghampiri Diny. Mereka mengatakan jika berkas rumah telah disimpan dan akan diserahkan kepada hak waris yaitu Rahayu. Diny tahu jika Rahayu itu adalah Maya. Ia bersikap tamak, akhirnya ia mekaui jika dirinya lah si Rahayu. Namun bukan warisan yang didapatkan namun kematian.

Bagian sadis yang harusnya gak ngajak anak-anak

Ia harus digantung terbalik, salah satu adegan yang sulit dilupakan adalah saat ibu dalang Ki Saptadi menjemur kulit manusia bagian dada dan punggung. Yang diketahui jika itu adalah milik Diny, Maya berusaha mencari Diny hingga akhirnya bertemu Ratih. Ratih adalah salah satu warga yang bersikap baik, dan menolong Maya untuk keluar dari desa.

Setelah pelarian satu hari satu malam akhirnya semua rahasia terbongkar, Disaksikan seluruh warga desa. Maya harus mengorban kan nyawanya, namun ternyata kutukan berhasil dicabut. Dan ternyata dalang dibalik kutukan ini adalah Ibu Ki Saptadi.

Pendapat mengenai Film ‘Perempuan Tanah Jahanam’

Banyak adegan yang sangat melekat dalam memori. Namun menurutku nasari mengenai masa lalu dan cara untuk mencabut kutukan di sampaikan dengan terpaksa banget. Apalagi diletakan di bagian dua pertiga akhir, melalui sebuah narasi cerita yang cukup panjang.

Bahkan ada beberpa adegan yang menurutku cukup menganggu seperti Ibu dalang Ki Saptadi yang menari-nari. Mungkin itu maksudnya salah satu ritual namun entah mengapa adegannya gak pas dengan narasi yang dibacakan. Meskipun perlu diakui jika aktingnya bagus.

Bukan hanya itu, Ario Bayu yang memerankan Dalang menurutku sangat kurang medok bahasa Jawanya. Padahal Asmara Abigail (Ratih) cukup bagu mendalami sosok gadis jawa apalagi saat bilang “ASU!” waw… sebenarnya jika Ario Bayu sebagai tokoh bapak yang memiliki anak berusia 25 tahun (Maya alias Tara Basro) memiliki wajah yang terlalu muda. Ya… ajah Ario Bayu masih terlihat seperti pria usia 30an atau 40 tahun awal.Perempuan Tanah Jahanam, Taste Pertama Nonton Film Joko Anwar tiket

Namun ada hal yang perlu aku salutt dari film ini, terutama backsound. Kearifan lokal begitu terasa melalui lagu gamelan dan sinden. Selain itu, adanya porsi warga desa setempat ternyata juga semakin memperkuat nuansa desa jawa. Aksara jawa, gamelan, bahasa lokal merupakan salah satu cara cerdas untuk memperkenalkan budaya jawa pada penonton terlepas jika ini adalah film bergenre horror, thiller. Film yang cukup recommend untuk kamu yang ingin merasakan horrornya Indonesia. Namun yang perlu diingat jangan ajak anak kecil untuk menonton film seperti ini karena ada adegan yang tidak baik untuk tumbuh kembangnya.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *