Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Papah, Mereka Terus Membullyku | Part 1

Hari ini, rumah yang terlihat sangat ramai dan penuh dengan perabotan kini menjadi kosong. Meskipun aku masih berusia 13 tahun namun aku sudah mengerti bagaimana kenyamanan itu terbangun. Padahal baru 3 bulan kemarin kami pindah dari sini, tapi hari ini aku dan keluargaku harus pergi lagi. Pekerjaan Ayah memang berpindah. Ini bukan pertama kalinya untukku, ini sudah ketiga kalinya. Semenjak berusia 7 tahun aku sudah terbiasa berpindah tempat dan berusaha beradaptasi di tempat yang baru. Selama berpindah aku selalu mendapatkan pengalaman baru. Beberapa pengalamanku sebelumnya aku selalu mendapatkan teman yang baik, terkadang moment kepergian seperti ini membuatku semakin sulit untuk meninggalkan rumah yang baru 3 bulan aku singgahi.

“Kak, maafin Papah ya. Mau bagaimana lagi kita sekeluarga harus pindah”

Ucapan yang selalu aku dengar dari Papah setiap kali kami pindah. Aku masih menatap dalam rumah yang bercat putih di depanku. Aku merasakan tangan Papah merangkul bahuku, tanda jika aku tak boleh berlama-lama melamun.

Selama diperjalanan menuju kota tujuan kami. Aku terus membuka buku kenang-kenangan kedua dari kedua sahabatku. Padahal baru 3 bulan tapi aku telah mendapatkan banyak sahabat. Lembar demi lembar aku membuka. Buku ini berisi foto-foto kami. Sebelum ini aku sudah berusaha meyakinkan Papah jika aku ingin tinggal. Tapi itu tak mungkin bisa diterima. Anak SMP kelas 2 yang berusaha hidup sendirian tanpa orang tua. Aku melihat pemandangan melalui jendela mobil. Papah sedang fokus menyetir. Sedangkan Mamah tertidur dibelakang sambil menyusui adikku yang masih berusia 16 bulan.

Sebagai anak tertua aku harus yang paling tegar, meskipun aku masih diusia pubertas. Aku harus berusaha memahami kondisi keluarga. “Selamat Datang di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Kota baru, rumah baru, lingkungan baru..

Berpindah dari kota Surabaya, Makasar, hingga Yogyakarta. Aku berharap Yogyakarta menjadi tempat terakhir aku bersinggah.

Rumah baru yang kami gunakan adalah rumah kakek dan nenek. Rumah ini sudah 2 bulan kosong, sebelum aku menempati ini. Rumah ini sempat dikontrakan beberapa kali. Namun mendengar jika Papah akan pindah ke Jogja. Bu Sum, penjaga sekaligus rewang di rumah kakek meminta untuk orang yang tinggal mengontrak untuk berpindah ke tempat yang lain.

“Monggo Pak, udah saya bersihin kemarin, dari halaman depan sampai kamar non Putri sudah saya bersihkan”

“Kakak bilang makasih sama Bu Sum, kamarnya udah dibersihkan”

“Iya Pah, Makasih ya Bu Sum”

Hari itu Papah memintaku untuk membantu membereskan rumah. Sebagai anak sulung aku harus berperilaku baik dan membantu Mamah untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Semenjak adikku lahir, Mamah selalu memperhatikan adik. Hampir setiap hari kesibukan Mamah adalah bermain dengannya. Aku ingin sekali protes, tapi Papah selalu bilang jika Mamah juga sama perhatiannya denganku.

“Kak, besok temenin Papah buat cari SMP yang cocok buat sekolah baru kakak”

“Kakak gak sekolah, Pah. Kakak mau Home Schooling aja”

“Kakak kenapa gak mau sekolah?”

“Kakak capek pah. Setiap pindah sekolah nanti kakak harus pamitan lagi, harus sedih ninggalin temen-temen lagi. Apa nggak boleh kakak Home schooling aja? Kalau Home schooling kakak gak perlu kenal teman baru lagi dan gak perlu pamitan lagi.”

“Kakak boleh home schooling. Tapi Papah lebih suka kalau kakak punya temen di sekolah. Kecerdasan itu bukan hanya soal kemampuan kakak pribadi tapi juga bagaimana kakak bersosialisasi dengan teman-teman kakak. Papah janji ini adalah pindahan kita yang terakhir.”

“Waktu di Makasar Papah juga bilang kalau itu yang terakhir.”

Obrolan kami berhenti. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, aku tak peduli dengan Ayah. Aku tahu menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah, namun menjadi anak yang baik untuk orangtua juga sama susahnya. Papah tak akan mengerti betapa beratnya aku melepas teman-temanku dulu, bujuk rayu Papah tak membantu apapun. Perasaanku masih tertinggal di Makasar.

Aku terpaksa mengikuti kemauan Papah, selama di mobil Papah selalu bertanya ingin makan apa? Mau jalan-jalan kemana? Atau hal lain yang biasanya aku lakukan bersama Papah. Aku tahu ini adalah bujuk rayu Papah agar akum au sekolah. Tanpa meminta izin dariku, papah memberhentikan mobilnya di sebuah halaman sekolah. Aku tak merespon apapun, dengan atau tanpa izinku Papah akan melakukan ini. Menyekolahkanku di tempat yang tak aku setujui.

“Ini adalah sekolah Papah dulu. Bukan cuma Papah Om Bayu sama Tante Tira juga disini. Semua keluarga kita selalu belomba-lomba untuk masuk sekolah ini. Waktu Papah  SMP, ini jadi sekolah terfavorite, dan sampai sekarang juga sama favoritenya. Kak…”

“Pah.. Boleh nggak kasih kakak waktu? Kakak baru kemarin nyampe Jogja, kakak masih capek hari ini kan harusnya kita jalan-jalan bukan pergi ke sekolahan”

Ayah menurut, akhirnya kami pergi dari sekolah. Semenjak keluar dari mobil aku tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang. Aku tak membayangkan bagaimana jika aku masuk ke lorong sekolah, pasti semua mata akan mengarah padaku.

Setelah kejadian di sekolah, 3 hari Papah membiarkanku tetap di rumah. Papah tak lagi memaksaku, di tambah akhir-akhir ini dia sedang sibuk bekerja. Di rumah aku juga tidak diam saja, aku mencoba mencari info mengenai home schooling terbaik di Jogja.

“Kakak, mau nyampe kapan didepan laptop terus?”

“Bentar lagi Mah.”

“Kakak beneran gak mau sekolah? Emang kakak gak bosen kalo di rumah terus?”

“Kakak gak tahu Mah, kemarin Papah ngajak Kakak ke SMPnya dulu. Tapi kakak belum siap buat sekolah. Kakak takut gak punya temen nanti Mah.”

“Tapi kalau di rumah teman kakak cuma Papah, Mamah, Adik, sama Bu Sum.”

Hari pertamaku masuk sekolah. Aku ingin hari ini tidak ada kesan buruk dari teman-teman baruku. Setelah berdiskusi dengan Mamah dan Papah aku putuskan untuk bersekolah. Setiap masuk ke Sekolah yang baru, Papah selalu menitipkan banyak pesan terhadap wali kelasku. Dia selalu mengatakan jika aku memiliki kebutuhan khusus dibandingkan murid yang lain. Aku tahu itu adalah salah satu cara Papah agar aku bisa nyaman bersekolah, tapi jujur aku malah malu dengan diriku.

“Putri mari masuk kelas”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *