Pamflet Film ‘Telur Setengah Matang’

Nonton Bareng Film ‘Telur Setengah Matang’

Nonton Bareng Film ‘Telur Setengah Matang’Nonton Bareng Film ‘Telur Setengah Matang’

Mungkin diantara kalian suka jika makan nasi goreng yang ditambah dengan telur setengah matang? Meskipun ada sebagian orang yang tak suka jika telur yang mereka konsumsi dimasak dengan setengah matang, namun tentu ada cita rasa tersendiri yang dirasakan saat memakan makanan ini.

Nah, kali ini aku tidak akan membahas makanan. Aku akan membahas salah satu film indie yang diproduksi oleh larasati creative labs dengan judul ‘Telur Setengah Matang.’ Kebetulan kemarin aku berkesempatan untuk datang di acara bedah film tersebut bersama mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan beberapa narasumber. Kegiatan bedah film ini berkaitan dengan memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.

Sipnosis film

Pamflet Film ‘Telur Setengah Matang’

Film ini menceritakan seorang siswi Sekolah Menengah Pertama bernama Nina yang melakukan hubungan seks di luar nikah. Akibat dari tindakannya tersebut kini ia mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, apalagi sang kekasih tak menunjukkan tanggung jawabnya atas perbuatan yang dilakukan.

Siswa tersebut hidup bersama sang Ayah dan tergolong sebagai keluarga menengah ke bawah. Akibat dari kehamilan ini, Ia harus dikeluarkan dari sekolah. Bahkan dalam film tersebut digambarkan jika Nina bermaksud untuk menggugurkan bayinya, seperti mengonsumsi buah nanas setiap waktu. Bahkan saat diantar sang Ayah ke puskesmas yang meminta untuk mengarbosi ditolak oleh petugas setempat. Bahkan petugas menyarankan jika sebaiknya Nina dinikahkan saja.

Sebenarnya topik yang diangkat pada film berdurasi 16 menit ini adalah isu yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Apalagi anggapan masyarakat jika orang yang hamil diluar nikah seharusnya segera dinikahkan dengan sang pelaku menjadi solusi yang paling efektif, menjadi tamparan keras bagi penontonnya.

Akan tetapi sayang sekali, dalam film ini tidak digambarkan dengan jelas tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Mungkin bisa dibilang ending yang gantung saat film belum mencapai puncak klimaksnya. Namun terlepas dari kekurangannya film ini cukup diapresiasi karena telah mengangkat isu kehamilan di luar nikah pada kalangan remaja.

Sesi diskusi

Setelah film diputar, selanjutnya dibukalah sesi diskusi. Ada 3 narasumber yaitu: Mbak Uut dari Setara Semarang, Mbak Yori dari Psikolog Nusantara dan Mbak Hidayatullah Selaku Alumni UIN. Bukan hanya pembicaranya saja yang berkompeten namun acara ini juga dihadiri oleh salah satu komunitas feminisme. Aku lupa dengan nama komunitas itu jujur.. tapi aku sangat ingat argumen-argumen yang kuat yang dilontarkan oleh Mbak Nurul.

Jujur sesi diskusi saat itu cukup manyala, banyak mahasiswa yang menaruh rasa penasaran mengenai tindak kekerasan terhadap perempuan. Apalagi saat mbak Nurul berkata jika film ‘Telur Setengah Matang’ merupakan salah satu tindak pemerkosaan. sebagai informasi yang termasuk dalam tindakan pemerkosaan apabila tidak ada kesepakatan kedua pihak untuk melakukan hal tersebut. serta adanya unsur paksaan.

Yang bagus dari diskusi ini adalah menanggapi kasus kekerasan perempuan bukan hanya dari segi hukum atau psikologis saja. Mbak Hidayatullah pun ikut menanggapi dari sisi keagamaan, maaf jika selama ini wanita dianggap sebagai hiasan dunia yang dapat memicu perbuatan ‘zina.’ Hal inilah yang terkadang membuat korban kekerasan seksual khususnya wanita mengalami victim-blamming.

Melalui prespektif masing-masing meskipun kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dikurangi secara langsung, akan tetapi dengan membuka forum seks edukasi sehingga membuat seks terasa netral. Dan mengurangi judgesment pada korban kekerasan seksual serta memberikan dorongan padanya akan menjadi sebuah gerakan yang besar.

Acara yang terlihat kurang persiapan

Mungkin karena pengalamanku sebagai aktivis kampus, jadi rasanya aku sedikit ingin memberikan saran pada para panitia. Mengingat betapa banyaknya antusias para peserta, seharusnya moderator memiliki kemampuan mengontrol yang baik. Apalagi di tengah sesi jawab sesekali aku menengok jam di layar ponselku. Terlihat waktunya sedikit molor, selain itu persiapan seperti lampu ada baiknya disiapkan pada acara seperti ini, sehingga suasana acara tidak terkesan begitu gelap.

Sebenarnya ini hanya saran, meskipun memiliki kekuarang. Acara bedah film ini telah memberikan dampak yang baik pada pesertanya, terlihat dari ruang diskusi yang dibangun. Diharapkan akan ada lebih banyak lagi ruang-ruang diskusi di kota Semarang dan kota lainnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *