Menulis Lagi | Part 3

Menulis Lagi | Part 3

Menulis Lagi | Part 3

“Apa harus kamu ambil buku itu sekarang” nadaku sudah mulai meninggi.

“Aku harus segera mengambilnya Dan. Itu penting buat aku! aku akan mengambilnya sendiri”

Menulis Lagi | Part 3

“Terserah”

“Padahal sebelum menikah kau berjanji untuk mengizinkanku untuk terus  menulis, dan aku harap kamu nggak akan lupa itu.”

Priska berlalu, malam pertama kami di Bali harus rumah karena pertengkaran. Aku membiarkannya pergi, saat ini aku ingin menenangkan diri… aku harap Priska mengerti maksud dari kemarahanku.

Tak terasa aku tertidur di atas ranjang. Aku mengecek jam di ponselku, tepat pukul 03.00 dini hari. Priska tidak ada di sampingku. Aku mulai menyelusuri kamar, area penginapan dan akhirnya aku keluar menuju resto tempat kami makan malam. Jujur aku mulai khawatir dengan Priska sekarang. Aku putuskan mulai berlari, Resto ini sudah tutup. Aku mencoba bertanya kepada salah satu pegawai yang membersihkan halaman resto. Dia bilang memang ada wanita yang mengambil buku, namun sudah dari jam 12 tadi.

Aku semakin khawatir, jujur jika Priska dalam kondisi bahaya akulah orang yang patut disalahkan. Aku terus berlari menyelusuri setiap jalan di Bali yang sepi. Hingga langkahku berhenti di pos polisi. Langkahku gontai, saat aku mendengar kabar dari polisi jika ada seorang wanita yang menjadi korban perampokan.

Tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumah sakit yang disebutkan. Dalam hatiku, aku berharap itu bukan Priska. Tolong kabulkan, aku akan melakukan apa saja. Aku akan rajin beribadah, aku akan kembali mendekat padamu Tuhan! namun aku meminta pada-Mu, semoga wanita yang dimaksud bukan Priska.

Ketakutanku benar terjadi Priska terbaring koma dalam ruang ICU.  Kata dokter, bagian kepalanya mengalami benturan benda tumbul. Sehingga mengakibatkan penyumbatan darah pada otak. Jujur aku sangat takut mengabari keluarga yang ada di Jogja, namun sebagai suami aku harus bertanggung jawab. Aku bertanya pada dokter apakah bisa Priska dirujuk ke rumah sakit di Jogja? Dokter mengizinkannya setelah Priska sadar dan menjalani pemeriksaan. Jujur jika boleh bertukar posisi, aku rela berada di kondisi Priska saat ini.

7 hari kemudian, kemarin Priska sudah sadar dari komanya. Hari ini dengan di temani Bapak dan Ibu, Priska harus melakukan pemeriksaan. Diriku masih dipenuhi rasa bersalah, meskipun mata Priska telah terbuka. Namun tak ada kata yang ia ucapkan, pandangannya menjadi kosong. Aku semakin ketakutan dengan apa yang terjadi pada Priska.

“Akibat penyumbatan darah di kepala pasien, hal itu mengakibatkan rusaknya beberapa sistem saraf. Saya sarankan agar dia mengikuti terapi. Karena, kerusakan tersebut menyebabkan pasien kehilangan kemampuan dalam mengingat dan berpikir termasuk dalam membaca, menulis, dan berhitung. Karena luka yang dialami cukup besar, ditakutkan kemudian hari pasien akan mengalami komplikasi otak yang jauh lebih parah.”

Aku menangis, tak hentinya terus menangis. Begitu buruknya aku! suami yang tak bisa menjaga istrinya, suami yang menjadi penghalang mimpi istrinya. Aku terus menangis, bukan hanya aku tapi juga Bapak dan Ibu. Aku berulang kali meminta maaf pada mereka, aku adalah seorang yang tak amanah. Aku adalah orang yang menghancurkan putri mereka. Ibu terus mengelus kepalaku, begitupun Bapak memelukku begitu erat. “Aku memang sangat pantas kalian salahkan, maafkan aku. aku menghancurkan kepercayaan kalian.”

7 tahun pernikahan kami…

Seorang putri kecil duduk dipangkuanku. Setiap sore aku dan dia duduk di depan teras rumah, suasana Jogja memang sangat nyaman untuk dinikmati bersama orang yang dicinta. Bagiku sudah seperti kebiasaan membacakan buku cerita setiap sore dan sebelum tidur.

“Pa.. ada bukunya Mama?”

Aku selalu sedih setiap kali putri kecil ini menanyakan buku tentang ibunya. Sebenarnya itu bukan masalah, justru berita bagus jika dia memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap ibunya.

“Ada, bentar Papa ambilin.”

Dalam semua deretan buku yang tertata rapi di rak buku. Ku ambil satu buku yang teramat spesial. Bersama putri kecil itu, aku mendongengkannya. Cerita Indah tentang Ibunya.

“Buku Mama gak ada gambarnya ya Pa?”

“Gak ada gambar kayak di buku dongeng sayang. Tapi di belakang ada foto Mama.”

“Mama, cantik. Bukunya Mama Cuma 1 Pa?”

“Nggak, masih ada lagi… tapi kamu baca bukunya Mama kalau udah 17 tahun ya. Sementara kamu baca buku ini dulu.”

“Iya Pa, besok ziarah ke makam Mama ya Pa…”

Aku memeluk putri kecil itu, 3 tahun kepergian Priska. Sampai sekarang aku masih ingin menyalahkan diriku. Aku gagal menjaga Priska dua kali, dan aku membuat putri kecil ini tak pernah menemui ibunya sendiri.

– Kalimat Rinduku untuk Priska – Dia adalah penulis yang hebat bagiku, aku ingin cita-citanya untuk tetap menulis dapat menginspirasi banyak orang. Sejujurnya aku tak menyangka buku ini akan disukai oleh pembacanya. Buku yang sengaja aku tulis ini bukan hanya untuk mengenang Priska. Namun juga untuk mengenalkan Priska pada anaknya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *