Menulis Lagi | Part 2

Menulis Lagi | Part 2

Menulis Lagi | Part 2

Terdengar lagu “can’t stop falling in love” aku yakin inilah saatnya. Semakin aku gugup aku akan semakin menunda! “Pris.. aku mau ngomong serius sama kamu.”

Menulis Lagi | Part 2

“Ngomong apa, jangan bikin aku deg-degan ya!”

“Aku nggak bisa bikin kata-kata puitis yang seperti kamu buat dalam buku atau majalah. Aku juga masih sangat kaku jika kadang berbicara dengan orangtua kamu. Tapi aku berharap ini bukan sebuah masalah besar untuk kita. Semenjak pertama kenal denganmu, semenjak nonton konser dan makan berdua denganmu. Aku semakin sadar… kita adalah dua orang yang tak bisa dipisahkan. Jadi.. maaf jika ini nggak romantis, tapi maukah kamu menikah denganku?”

“Iya!”

“Hah?”

“Iya Aku mau Dan!!”

Scmua pengunjung dan karyawan bertepuk tangan, aku memasangkan cincin ini ke jari manis Priska. Kali ini giliranku memeluknya. Aku tahu wajahnya jauh lebih bahagia sekarang. Aku harap selalu seperti ini…

Sesampainya di rumah Priska, suasana kompleks rumah sudah sangat sepi. Selama perjalanan pulang kami terus berpegangan tangan. Padahal tidak menyebrang jalan raya, tapi rasanya kami saling membutuhkan satu sama lain. “Minggu depan aku bakal minta Papah dan Mamah buat ke Jogja ngelamar kamu secara resmi, kira-kira sebelum kita menikah ada sesuatu yang kamu pengenin?”

“Umm apa ya?”

“Bilang aja nggakpapa… nanti nyesel loh.”

“Kalau semisal nanti kita menikah kamu tetep ngizinin aku buat nulis kan?”

Aku tersenyum tak ku sangka keinginan Priska begitu sederhana. Saat gadis lain meminta perhiasan dan hidup mewah setelah menikah, Priska justru meminta izin agar terus menulis… tentu aku akan mengizinkannya, aku tak ingin menjadi penghalang dari hal yang ia sukai.

“Dani kok diem? Gimana boleh?”

Aku menyentuh kepala Priska, dan mengelus pipinya yang chubby. Ku pandang kedua matanya begitu dalam. Aku mendekat padanya, Priska masih terus menatapku. Begitu pun aku yang tak bisa melarikan diri dari tatapannya, semakin ku dekatkan wajah kami. Kemudia ku kecup keningnya penuh perasaan.

Priska masih menatapku namun raut  wajahnya kali ini malu-malu. Aku tersenyum lagi padanya..

“Aku gak akan pernah melarangmu untuk menulis. Kamu boleh menulis kapan pun kamu mau.”

Satu bulan setelah aku melamar Priska. Hari ini adalah hari pernikahan kami, sesuai dengan kesepakatan bersama akhirnya resepsi pernikahan dilakukan dengan adat jawa. Hari ini sungguh membahagiakan, aku melihat Priska sangat cantik dengan pakaian adat jawanya. Padahal setiap hari dia memang selalu cantik di mataku.. kebahagian hari ini bukan hanya untuk kami berdua tapi semua yang ada disini. Aku dan Priska saling memandang lagi, aku heran kenapa kita tak pernah bosan untuk saling bertatapan?

“Yeay!!! Akhirnya ke Bali!!”

“Iya, kamu seneng?”

“Seneng banget Dan, eh Mas..”

“Kamu masih canggung manggil aku Mas?”

“Iya, tapi aku bakal mencobanya mm… Mas.”

“Kamu boleh panggil aku senyaman kamu. Kamu nggak papa kan selama 1 bulan ke depan tinggal di Bali dulu?”

“Aku justru malah seneng Mas! Aku yakin, kalau nanti aku bakal nemu ide baru buat buku selanjutnya. Karena di Bali aku pasti bakal dapet banyak inspirasi cerita!”

Aku senang setiap kali melihat Priska bahagia, seperti sekarang…

Suhu kota Denpasar memang berbeda jauh dengan Jogja. Siang ini, tepat pukul 13.00 WTA aku dan Priska telah sampai di Bali. Sesampainya di penginapan kami langsung membaringkan tubuh di kasur dan menyalakan AC kamar. wajah Priska berubah, padahal saat masih di Jogja ia terlihat begitu semangat. Tapi sekaang ia sungguh tampak lesu. Perubahan cuaca memang dapat merubah suasana hati.

Malam ini, karena rencana melihat sunset di pantai Kute batal. Akhinya kami putuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kompleks hotel. Padahal urusanku di Bali hanya semata pekerjaan. Namun karena aku baru menikahi Priska aku harap ini adalah moment bulan madu kami berdua.

“Kamu kenapa bawa buku tulis terus?”

“Karena ini di Bali aku nggak tahu kapan ide aku muncul Mas. Kadang ideku bisa muncul kapan saja, karena Bali tempat baru buat aku. Aku yakin akan banyak ide yang muncul saat jalan-jalan begini.”

“Oh… yaudah kita makan dulu yuk”

Kami berdua bersinggah di sebuah resto yang letaknya tak jauh dari penginapan. Namanya juga Bali, pasti banyak turis asing di sini. Tempat ini memang tak seromantis restoran waktu aku melamar Priska, namun duduk bersama dengannya. Lebih dari cukup bagiku.

Priska masih sibuk menulis semua idenya ke dalam buku, angin berhembus cukup kencang malam ini. Membuat rambut Priska sedikit berantakan. Aku mencoba merapikannya kembali, aku heran kenapa dengan tampilan yang berantakan Priska masih tetap cantik.

aku ingin memarahi angin malam ini, karenanya aku merasa jatuh cinta kembali pada Priska. Matanya masih tertuju pada buku. Tanganku masih memainkan rambutnya, Priska masih belum memalingkan matanya dari buku. Aku berusaha menarik perhatiannya lagi, ku elus lembut pipinya. Namun dia hanya memandangku sesaat dan memberikan senyumannya.

Mungkin sedikit sulit menikahi seorang penulis apalagi jika seambisius Priska. Aku masih menyentuh pipinya, aku semakin terbawa suasana. Ku dekatkan wajahku padanya, ia masih tidak memperhatikanku. Mungkin cara ini bisa… pelahan ku dekatkan wajahku, dan ku cium bibirnya. Aku harap Priska bisa mengerti jika aku tidak ingin diacuhkan.

“Dani!!” ucap Priska sambil melepaskan diri dariku. Wajahnya terlihat sangat kaget, aku meraih tangannya. Aku berusaha membujuk agar dia tak marah.

“Pris.. gakpapa ini di Bali bukan di Jogja. Semua orang disini akan menganggap kita pasangan biasa.”

Priska masih terdiam, sepertinya caraku salah. Aku harus minta maaf, meskipun di Bali Priska adalah gadis Jogja yang memegang tata karma. Tak mungkin semudah itu ia memahami budaya Bali.

“Maaf aku salah, harusnya aku minta izin dulu dari kamu. Aku hanya ingin kamu perhatikan, selama kita di Bali aku harap ini waktu kita buat bulan madu. Jadi boleh luangin waktu kamu buat aku?”

Priska mulai memandangku. Ia tersenyum lagi dan memelukku.

Seusai dari tempat makan kami segera kembali ke penginapan. Aku menggenggam erat tangan Priska, tangan yang kecil. Tapi, sulit ku lepaskan. Lagu Shella On 7 mengiringi kami selama berjalan menuju penginapan.

Lagu Shella tetap kami lantunkan dan menemani kami berdansa dalam kamar.Aku memandang wajah Priska lebih dalam, kini aku ingin benar-benar menciumnya. Wajah kami semakin dekat, bibir kamu mulai merasakan sentuhan masing-masing. Namun… “Dani!!”

Priska melepaskan pelukannya.

“Aku melupakan bukuku di resto”

Jujur kali ini aku sedikit jengkel. Harusnya moment  romantis ini bisa kita lakukan dengan penuh kebahagiaan. Namun kenapa buku lagi, buku lagi…

“Dan, aku harus ngambil bukuku!”

“Kenapa kamu lebih mementingkan buku itu ketimbang aku?”

“Dani, maksud kamu apa aku nggak paham?”

“Pris, aku memaklumi kamu marah tadi saat aku menciummu di resto. Tapi, ini adalah waktu kita berdus kenapa kamu masih saja memikirkan hal yang gak penting?”

“Dani, buku itu penting buat aku. Itu bukan hanya buku, tapi juga seluruh mimpi aku, aku gak akan bisa nulis tanpa itu.”

“Apa aku nggak jauh lebih penting dari tulisan kamu?”

“Apa? Dan, baik kamu atau tulisan adalah hal yang gak bisa aku pilih. Kamu dan tulisanku sama pentingnya”

“Aku nggak percaya.”

“Aku harap kamu percaya Dan. Bukankah cinta dilandasi oleh kepercayaan?”

Aku hanya terdiam. Aku begitu kesal dengan Priska, terlihat dia bersiap pergi keluar untuk mengambil bukunya.

“Apa harus kamu ambil buku itu sekarang” nadaku sudah mulai meninggi.

“Aku harus segera mengambilnya Dan. Itu penting buat aku! aku akan mengambilnya sendiri”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *