Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Halo, berjumpa lagi. Hari ini aku mau bahas sesuatu yang sedikit baper karena membahas kata “sayang.” Emang sih ini bukan cerita fiksi yang aku tulis seperti biasanya. Memang kalau membahas rasa sayang kepada seseorang memang tak ada habisnya.

Melepaskan Obsesi Demi Dia Yang Disayangi

Menurut kalian sendiri sayang itu seperti apakah? Apakah tulus mencintainya tanpa pamrih? Tulus memberikan cinta dengan ikatan relasi romantis? Sayang memang banyak bentuknya, mungkin kita merasa sayang dengan orangtua, saudara, atau sahabat karib. Rasa sayang tentu juga bisa kepada kekasih hati, dalam hal ini aku masih mencangkup batas pacaran atau pedekate gitu.

Sebenarnya ada banyak teori tentang cinta yang mendeskripsikan perasaan cinta manusia. Namun karena aku tidak mempelajarinya secara mendalam teori tersebut. Langsung aja ke pembahasan kita tentang rasa obsesi.

Sebelumnya Aku pernah membuat sajak yang membandingkan rasa cinta atau sekadar obsesi belaka. Aku bukanlah orang yang berasal dari pakar relationship, tapi berkat aku menjadi content Writer dengan tema Psikologi, Seksologi, dan Relationship. Aku jadi banyak belajar dan mengenali diriku. Beberapa orang mungkin sulit mendekripsikan perasaannya kepada seseorang. Sama seperti apa yang aku alami dulu. Bagiku cukup sulit untuk akhirnya mendeteksi jika perasaan itu adalah obsesi. Mungkin sebagian dari kalian juga demikian. Awalnya kita terlalu sayang sama Dia, telalu takut hidup tanpanya, Terlalu sedih jika dikecewakannya, dan perasaan keterlaluan lainnya.

Awalnya kita mengira itu benar-benar sayang dan cinta. Dimana Cuma ada dia yang ada di hati kita, yang kita pikirkan, yang kita harapkan di masa depan. Namun semua hal yang kita rasakan, jika terlalu berlebihan tentu bukan hal yang baik. Kita menjadi lebih takut dan waspada dengan hal-hal buruk yang terjadi. Seperti penolakan, pengkhianatan, atau hal kecil seperti keinginan kita yang tak dituruti oleh pasangan.

Menyadari bahwa apa yang kita kira cinta namun ternyata obsesi belaka tentu bukan hal yang mudah. Perlu pengenalan diri, pemahanan dengan perasaan cinta itu sendiri. Meskipun istilah “Cinta tak harus memiliki” adalah hal yang menyakitkan, namun itu bisa menjadi hal yang benar. Hal yang pertama Aku sadari jika itu sebuah obsesi adalah apakah diri ini bahagia? Apakah diri ini nyaman? Apakah pasangan merasa bahagia? Apakah pasangan merasa terkekang?

Berkali-kali ku tanyakan hal itu. Terutama pada diriku sendiri, apakah Aku yakin dia yang paling ku inginkan di dunia? Terkadang kita selalu dibutakan oleh keinginan semata, tanpa sadar dia mungkin yang kita inginkan, namun tak bisa memenuhi kebutuhan kita. Apa kebutuhan kita? Tentu kebutuhan dasar kita adalah bahagia? Rasa obsesi tak bisa menjamin bahagia, obsesi hanya memberikan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran.

Hal itulah yang kemudian aku sadari, jika Aku tak bisa memiliki sepenuhnya pasangan. Karena dia adalah orang yang paling berhak atas dirinya, begitupun Aku. Perlahan Aku sadar, obsesi bukan hanya membuat pasangan terkekang namun juga hati kita. Kita tak bisa bebas, selalu terusik oleh kekhawatiran, dan perasaan-perasaan yang tak pasti lainnya. Jika kita sudah di titik ini sebenarnya keputusan langkah apa selanjutnya yang akan diambil tergantung pribadi masing-masing. Mungkin beberapa akan memilih untuk memperbaiki dirinya.

Namun ada juga yang memilih untuk melepaskan. Melepaskan rasa obsesi sekaligus orang yang disayangi. Tak mudah memang, tapi kita harus sadar kebahagiaan kita sendiri yang menciptakan. Kita tak bisa memulai hubungan yang sehat jika diri sendiri tidak bahagia lebih dulu.

Aku tahu, memilih keputusan kedua itu berat. Beberapa orang akan mati-matian melepas dan menangis bermalam-malam. Namun percayalah, hal itu mungkin akan baik untukmu. Karena kita sudah tak memiliki beban, lebih bebas dan bisa menjadi diri sendiri. Memang menulis nasehat sangatlah mudah dibanding mempraktekannya. Tapi cobalah pikirkan lagi, apakah mau bertahan dalam hubungan yang terus membuat kita khawatir. Perlahan pasangan tentu tak akan betah dengan sikap obsesi yang diklaim sebagai rasa sayang.

Kita perlu paham, terkadang kehadiran seseorang di dalam hidup kita, hadir bukan untuk mendampingi namun untuk mengajari. Mari kita belajar melepas obsesi demi orang yang disayangi.

“Orang yang kita temui sepersekian detik di jalan saja sudah mengajarkan sesuatu tentang hidup. Lalu bagaimana dengan orang yang bersama kita selama berhari-hari, bermingg-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sudah berapa banyak hal yang dipelajari darinya? Apa yang bisa kita pahami saat sedang bersamanya? Tentu tiada terkira.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *