Melankolonia

Melankoloni

Melankoloni

Melankolonia

“Jangan pernah merasa segan denganku”

Aku tertawa, sangat keras. Sampai semua orang yang ada di kiri dan kanan memperhatikan.

“Sebaiknya jangan katakan hal itu pada wanita yang kurang ajar sepertiku.”

Kamu menegup teh mu dengan sangat sopan dan elegan. Sejujurnya dari semua hal yang ku lihat sekarang, kamu selayaknya pria lembut yang sudah lama ku idamkan.

“Aku tak pernah menganggapmu kurang ajar.”

“Hah… Banyak teman wanitaku bahkan Ayahku mengatakan jika aku terlalu kurang ajar. Bahkan tak tahu malu kepada siapapun.”

“Apa yang membuat orang-orang menganggapmu kurang ajar?”

Aku berpikir sejenak, ku palingkan wajahku ke langit-langit kafe kecil ini. Kemudian aku tersadar dengan posisi dudukku yang berbeda denganmu. Kamu tampak sangat sopan menyilangkan kedua kaki dan menaruh tanganmu pada ujung lutut, dengan jemari yang saring mengikat. Sedangkan aku? Mengangkat kedua kaki dan meluruskannya sampai memenuhi sofa.

“Seperti yang kau lihat, aku tak bersikap elegan. Aku wanita dengan suara yang menyakitkan telinga orang-orang. Bukan hanya itu saja, mereka bilang Aku sangat membangkang dan sering melawan mereka.”

“Tapi dimataku kamu hidup dengan pendirian kuat. Sayangnya temanmu, Ayahmu, dan siapapun yang ada di sekitarmu menolak itu.”

“Omong kosong…”

“Aku sudah banyak sekali bertemu orang. Sampai akhirnya aku hafal dengan karakter-karakter manusia.”
“Jadi kamu mau sombong sebagai penulis kondang di tingkat Nasional?”

Giliranmu yang tertawa terbahak-bahak. Meja kita kini menjadi sorotan khalayak umum.

“Aku punya kemampuan untuk membedakan mana pecundang, mana pembangkang, dan mana pejuang.”

Kita tertawa bersama, suasana kafe kecil ini menjadi sangat ramai karena ulah kita berdua. Sekian lama tak bertemu denganmu aku menjadi banyak belajar. Tapi sayangnya obrolan kita harus terhenti sejenak. Orang-orang mulai terganggu dengan suara tawamu dan tawaku.

Kita memutuskan untuk keluar sejenak menikmati hiruk pikuk kota yang padat dengan mengandalkan kaki sendiri. Tanganku mendekap ke depan tepat di bawah dada, sedangkan tanganmu bergelantung bergerak sejalan dengan langkah kaki.

“Kapan terakhir kali kita seperti ini?”

“Saat kita kelas XII SMA.”

Aku masih ingat jelas. Pulang sekolah adalah momen yang menyenangkan untuk aku dan kamu. Saat yang lain memilih berboncengan dengan sepeda motor yang mahal. Kita justru berjalan berdua, dan beriringan namun tak perpegangan tangan sama persis dengan saat ini. Kenangan itu masih melekat jelas.

“Kamu tidak pernah berubah, sedikit pun. Seorang pria pemalu, dengan gaya yang elegan dan sangat sopan. Yah.. setidaknya itulah penilaian gadis urakan sepertiku ini.”

“Kamu juga, saat orang lain memanggilku banci.”

Kita terus berjalan hingga akhirnya di depan ada sebuah taman lengkap dengan tempat duduk yang bisa dikita singgahi berdua. Taman tengah kota di siang hari memang sangat sepi, maklum saja sejuknya pohon yang rindang kalah dengan polusi udara dan sinar matahari yang menyengat.

“Kamu tahu aku tak pernah memiliki kenangan indah di kota ini, karena ucapan mereka.”

Aku mendengarkanmu dengan seksama. Ya, kamu mengulang lagi kisah sedih di masa kecil dan remajamu. Padahal kamu harus tahu, meskipun 5 tahun kita tak bertemu. Aku masih ingat jelas ceritanya. Ejekan banci yang paling kamu benci, dijadikan kacung teman-teman laki-laki, bahkan jadi korban kekerasan fisik dan finansial. Kamu dikalahkan oleh orang yang superpower. Hingga datanglah aku, gadis berandalan yang tak pernah taat dengan aturan.

“Kamu harus bersyukur. Jika bukan karena hal buruk itu, kamu tak akan punya cerita indah yang bisa dijadikan buku.”

“Iya, aku tahu. Tapi bukan berarti cerita burukku sebagai bahan konsumsi. Aku hanya merepresentasikan perasaanku dan balas dendamku kala itu dengan cara yang amat sangat positif.”

“Tapi kamu juga harus bersyukur. Jika bukan karena aku, tak akan ada rasa berani dalam dirimu bukan?” Ucapku yang sedikit menyombongkan diri.

Kamu tertawa dan mengiyakan. Bahkan dia bilang, suatu hari dia akan menulis satu buku khusus yang nantinya akan ditujukan padaku. Ia ingin memprasastikan diriku secara abadi.

“Kenapa harus aku? Sedangkan di sekitarmu sekarang banyak orang hebat yang lebih menjual untuk dijadikan sebuah karya fiksi.”

“Kamu tak pernah kalah hebat dimataku.”

“Iya kamu benar, aku adalah orang yang sangat bisa menyombongkan diri.”

“Iya, dari dulu. Coba sebutkan lagi, apa saja yang bisa kamu sombongkan kali ini.”

Aku melihat langit lagi, tapi berbeda dengan langit-langi di kafe tadi. Yang ku lihat sekarang jauh lebih biru, jauh lebih panas, jauh lebih cerah, dan jauh lebih baik. Entah kenapa langit ini seakan berbisik lelucon ke telingaku, padahal lelucon itu mungkin suara dari hati.

“Aku pintar, Aku jauh lebih bebas, Aku punya sedikit teman namun mereka sangat sangat mengenalku dengan baik, karena Aku seperti langit biru sore ini.”

Aku terdiam, ku amati langit itu dengan pelan dan seksama. Ya sepertinya aku melihat refleksi wajahku di sana. Aku melihatnya dengan jelas, hidung dan mataku tergambar di awan yang sangat tipis.

“Iya langit biru sekarang. Meskipun nanti akan ada mendung atau berubah menjadi petang, itu hanyalah perubahan. Karena Aku tetaplah langit biru yang cerah. Yang luas, dan tinggi.”

Kamu tak merespon apapun, akhirnya suasana kita menjadi hening. Sangat jauh berbeda dari sebelumnya.

“Aku mencintaimu, sejak dulu. Sejak SMA, dan masih mencintaimu sampai sekarang.”

Aku merasa terkejut. Tapi tidak terlalu, masih pada umumnya.

“Aku mencintaimu, sungguh.”

Kamu mengulanginya, tapi aku tidak merespon apa-apa. Bahkan aku memandangmu, saat kamu ucapkan kalimat itu kedua kali.

“Harus berapa kali ku katakan, sampai kamu menganggap ucapanku itu serius?”

Aku tak tahu pasti. Sebelumnya kamu memang sudah mengatakan ini. Saat lulus SMA, semester kedua kuliah, saat aku wisuda, dan sekarang.

“Apa alasanmu tidak pernah berhenti mencintaiku?”

“Karena sayangku hanya kamu. Seluruh hatiku telah kamu bawa, aku memang tak menyediakan tempat lain lagi. Hatiku sudah penuh dengan dirimu. Namamu, senyummu, sedihmu, lukamu, dan mimpimu.”

“Kamu tahu, aku adalah orang yang sangat sombong sekali. Bahkan aku bisa menjadi orang yang 3x lipat lebih sombong darimu. Meskipun yang ku miliki hanya sepasang kaus kaki.”

“Aku tahu, kamu adalah orang yang sangat meninggi. Makanya kamu selalu melihat langit dimana pun kita bersama. Tapi itu bukan alasanku untuk berhenti mencintaimu. Saat kamu meninggikan diri, maka aku ikhlas akan merendahkan hatiku. Biarlah kamu jadi langit di setiap pagi hingga dini hari.”

Kali ini aku memandang wajahmu. Ku perhatikan baik-baik gerak bibirmu yang tipis untuk ukuran seorang pria.

“Namun, aku akan tetap menjadi tanah yang bisa terus melihatmu meskipun berjarak jauh.”

“Aku tak mau menjadi orang yang superpower dalam hidupmu. Berpasangan denganku sepertinya bukan solusi yang tepat untukmu.”

“Aku tahu, kamu punya banyak alasan. Dan yang kamu katakan tadi adalah alasan lama yang sudah kamu sampaikan di waktu awal aku menyatakan ini.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Aku tak bisa menjamin apapun, aku hanya mampu mendampingi dan mengajakmu ke sana kemari.”

“Tapi bagaimana jika citramu sebagai penulis yang paling melankolis di negeri ini, dirusak oleh seorang wanita yang anarkis seperti aku ini?”

“Itu mudah, aku tinggal merendahkan diriku. Mungkin yang kamu sebut penulis terkenal itu adalah kata yang sangat tinggi. Aku sudah merasa cukup bila denganmu.”

Aku masih berpikir lagi. Jika tadi terus ku dongakkan kepalaku ke atas, kini aku justru menunduk, dan melihat kaki kita berdua.

“Mari kita merendahkan hati, dan saling membuka diri.” Kamu mendongakkan kepalaku lagi. Memintaku untuk menatapmu.

“Jangan pernah memintaku untuk menetap meskipun itu sekali saja. Karena bagiku permintaan itu akan berlaku selamanya.”

Kamu tersenyum.

“Tetaplah tinggal denganku, kali ini dan selamanya sampai nanti.”

Mungkin tak ada kisah yang menarik di antara kita berdua. Maklum saja, ini hanya sekilas cerita sederhana yang tak layak untuk dikonsumsi orang-orang. Bagiku kamu tetaplah penulis kondang meskipun setelah kamu umumkan hubungan kita. Banyak pihak baik dari fans maupun menejemenmu yang berantakan dan tidak terima, dan sekarang biarlah kisah kita berdua yang diabadikan cukup di hati, tak perlu media lain lagi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *