Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 2

Hari berikutnya, Ujian hari ini dijadwalkan adalah Bahasa Inggris dan Fisika. Banyak temanku yang mengaku kalah dengan mata pelajaran ini. Bagaimanapun aku tidak boleh kalah! Aku terus belajar di depan ruangan, ku bolak-balik lagi halaman dalam buku catatanku. Ditengah suasana belajar beberapa siswa hilir mudik melewatiku. Sempat aku mendengar “kuncinya udah bocor” bahkan ini masih sangat pagi. Ayolah kenapa dengan diriku, kamu harus percaya usaha tak akan mengkhianati hasil!

Hari ini lagi-lagi aku masih melakukan hal yang sama, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakan soal ini. Semua yang aku pelajari hanya sedikit yang keluar di dalam soal. Akhirnya aku melakukan tindakan gegabah seperti kemarin.

Jam istirahatku hanya ku gunakan untuk belajar. Ratih menghampiriku, dia sangat perihatin melihatku di kelas. Dia berusaha menghiburku, hingga dengan sengaja dia mengirim semua kunci jawaban melalui pesan SMS ke padaku. Dia bilang “aku ingin kita lulus bareng-bareng”.

Selama ujian kedua berlangsung aku berusaha menahan diriku untuk mengerjakan apapun dengan segala kemampuan yang aku bisa. Perbuatan curang bukanlah bagian dariku. Tapi aku ingat kata Ayah saat kami makan malam di warung mi ayam “Nak, kalau nanti udah lulus dan dapat nilai terbaik Ayah janji bakal mengizinkan kamu untuk masuk universitas manapun”. Aku tak ingin mengecewakan Ayah dengan hasil nilai ujian yang buruk, dan aku juga ingin masuk unversitas yang aku pilih.

Ujian telah berlalu dan pendaftaran mahasiswa baru di berbagai universitas telah dibuka, sore ini aku duduk di depan teras rumah. Bersama Ayah aku menikmati secangkir teh. Kami bercanda seperti biasanya, aku menyerahkan selembar undangan dari sekolah. Surat yang berisikan pengumuman kelulusan siswa kelas XII besok lusa. Ayah sangat senang melihatnya, dan aku yakin besok namaku akan masuk siswa terbaik di sekolah.

Suara motor yang kencang, asap kenalpot, dan berbagai warna-wani memenuhi SMA. semua siswa kelas XII bersiap untuk menunggu keputusan sekolah. Aku duduk dibelakang bersama Ratih. Di dalam tas kami sebenarnya telah siap serbuk warna dan spidol untuk menandatangani seragam putih abu-abu ini.

Akhirnya pengumuman 5 siswa yang memiliki nilai UN terbaik di sekolah. Ayah akan ku buktikan padamu, jika aku adalah anak yang membanggakan! Satu per satu nama disebut. Namun yang terjadi..

Aku tak mendengar namaku di panggil. Kenapa? Aku coba mendengar satu nama terakhir, mungkin itu adalah aku. “yang mendapat nilai tertinggi di SMA Pancasila adalah RATIH TRIMULANSARI”.

Ratih tak berhenti memelukku! Dia sangat kegirangan. Ratih mulai melangkah menuju podium dan memberikan beberapa sambutan untuk siswa dan para orangtua. Kenapa? Kenapa harus Ratih, aku telah belajar dengan giat? Dan aku mendapatkan kunci jawaban yang sama dengannya! Tapi kenapa harus dia bukan aku? Seluruh jawaban Ratih adalah hasil bocornya kunci, sedangkan aku 60% berdasarkan apa yang aku pikirkan! Apa Ratih sengaja memberikan kunci jawaban yang salah? Tidak! Itu bukan salahnya dan dia bukan tipekal teman yang menusuk dari belakang. Pandanganku beralih keposisi duduk Ayah, dari belakang Ayah mungkin sangat kecewa denganku.

 “pengumuman hasil UN dilakukan seretak diberbagai sekolah di Indonesia banyak indikasi terjadinya kecurangan selama proses ujian berlangsung…”

Malam ini berita yang ada di berbagai channel di TV membahas mengenai UN. Aku masih menyantap makan malam bersama Ayah dan Ibu.

“sekarang memang banyak siswa yang dapat nilai bagus karena kunci jawaban. Itu sama saja bohong, nilai bagus tapi dari kecurangan… Ayah senang nilai yang kamu dapatkan adalah nilai murni dari hasil belajar.”

Dalam hati aku sungguh bersalah, hanya karena kepentinganku Aku rela membohongi Ayah yang seumur hidupnya mempercayaiku. Kali ini aku tak bisa menjawab apapun dari pernyataan Ayah. Aku hanya diam dan berpura-pura tak mendengarkannya. Maaf Ayah kali ini aku gagal membanggakanmu, adalah kesalahanku saat Ayah percaya dengan diriku tapi aku malah ragu. Maaf Ayah, aku telah berbuat curang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *