Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1

Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1Maaf Ayah, Aku telah Curang | Part 1

Suasana sekolah menjelang Ujian Nasional memang sangat meneganggkan. Sudah hampir 1 bulan ini mengikuti kegiatan Bimbel, bersama beberapa temanku yang lain. Meskipun disekolah diajarkan mata pelajaran yang sama, namun bagi Ayahku pendidikan di sekolah tak akan mencukupi kebutuhan belajarku.

Bukan hanya itu, sehabis sholat magrib TV di rumah tak boleh dinyalakan. Itu semua Ayah lakukan agar aku terus belajar dengan giat. Aku memang anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakak telah bekerja dan merantau jauh di kota Jakarta. Yang tersisa di rumah tinggal aku, Ayah dan Ibu. Ayahku adalah seorang penjahit yang hampir setiap hari merima vermak. Aku tahu biaya sekolahku cukup tinggi, dan Ayah hanya mengandalkan mesin jahitnya untuk menafkahi Aku dan Ibu. Meskipun kedua kakak ku telah bekerja, bukan berarti Ayah hanya tinggal meminta.

Ayah tahu kehidupan perantauan sangatlah sulit, ia tak ingin merepotkan kedua anaknya meskipun tujuannya hanya untuk membayar uang SPP bulananku. Aku ingat kejadian semester kemarin, saat pertama kali aku melihat raut muka yang sangat kecewa dari Ayah. Dalam sejarah pendidikanku aku mendapatkan nilai yang rendah. Walau taka da sepatah  kata apapun yang diucapkan Ayah, tapi dari mimik wajahnya aku yakin dia sangat kecewa denganku.

Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa satu bulan yang lalu Ayah mendaftarkanku di tempat bimbel. Aku berusaha meyakinkannya jika untuk meraih peringkat satu cukup belajar kelompok di rumah. Tapi Ayah adalah orang yang keras kepala, apapun alasanku Ayah tidak bisa diterima olehnya begitu saja.

Tiga hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional. Pihak sekolah mengadakan doa bersama, suasana Aula yang dulunya sepi dan hanya digunakan untuk kegiatan bazar atau ekstrakulikuler kini berubah menjadi sangat ramai. Aku berada di barisan paling belakang bersama 3 sahabatku lainnya. Selama acara berlangsung kami terus bercerita meski sesekali ditegur oleh beberapa guru untuk diam. Ketiga sahabatku mengatakan jika mereka sangat tegang dengan hasil Ujian Nasional nanti. Apalagi jika mereka tidak masuk Universitas Negeri.

Aku hanya mampu mendengarkan, karena bagiku aku yakin aku mampu melewati UN dengan mudah. Usahaku dalam belajar tak mungkin kalah dengan soal Ujian. Acara istighosah berlangsung cukup lama karena terdapat beberapa doa kami panjatkan. Tepat pukul 13.30 siang, kami siswa kelas XII keluar dan kembali ke kelasnya masing-masing. Pak guru mengarahkan kami untuk tidak mampir main dan segera beristirahat di rumah. Tapi kami bukanlah anak kecil yang dilarang untuk pergi ke tempat yang kami sukai.

Aku dan ketiga sahabatku yang lain mengemasi alat tulis dan buku yang sangat berantakan di atas meja. Tapi sepertinya suasana sekolah sangat aneh tidak seperti biasanya…

Memang sebagian besar dari siswa kelas XII sudah pergi meninggalkan sekolah. Namun aku merakan hal yang tak biasa ketika salah satu temanku diam-diam mengajakku di GOR sekolah. Aku sangat heran padahal hari ini aku dijadwalkan untuk bimbel. Dia bilang untuk menemaninya sebentar setelah itu dia akan mengantarku pulang. Sebagai teman aku hanya mampu mengikutinya.

Bukan hanya siswa sebagian besar guru juga sudah pulang, itu terlihat dari ruangan yang tinggal 3 -5 guru saja. aku mencoba berjalan biasa saja, tapi Ratih (temanku) kenapa mengendap-ngendap? Apa yang dia takutkan?

Rasa penasaranku terjawab saat masuk ke GOR sekolah. Disana berkumpul sekitar 14 siswa XII dari berbagai kelas IPA dan IPS. Ada beberapa yang tak aku kenali. Begitu sampai mereka langsung memintaku untuk segera menutup pintu. Forum apa ini?

Suara yang sangat pelan, Udin. Siswa dari kelas XII IPA 4 memimpin forum ini. Dari diskusi yang dilakukan sesame angkatan ternyata ini adalah pembahasan mengenai Kunci Jawaban UN! Aku sangat terkejut, rasanya aku ingin lari dari tempat itu! Tapi lagi-lagi Ratih berhasil membujukku.

Sehari setelah kejadian itu, membuatku semakin tak fokus dalam belajar. Kunci jawaban UN yang bocor sebenarnya bukan rahasia umum lagi di kalangan pelajar. Banyak orang yang terbukti lulus Ujian karena Kunci Jawaban yang digunakan. Awalnya aku sangat yakin dengan kemampuanku sendiri, namun dalam hati kecilku ini sungguh tidak Adil. Aku belajar dengan keras, bukan hanya aku tapi juga Ayah! Tapi mereka yang tanpa belajar dan selalu bertingkah nakal kenapa harus mudah diluluskan dengan nilai baik pula!

Setelah aku kalah berdebat dengan Ayah aku berjanji padanya akan mendapatkan nilai baik di Ujian Nasional tapi kalau begini aku akan kalah dengan temanku yang curang! Ini gak adil!

Ratih mengajakku ke kantin, hari ini iuran untuk membeli kunci jawaban telah ditetapkan. Total biaya yang harus dibayar ke calonya adalah 10 juta. Nominal yang sangat besar untuk anak SMA, oleh sebab itu hasil forum kemarin menyatakan jika setiap anak yang ingin mendapatkan kunci jawaban harus membayar 70 ke koordinator. Dan Ratih adalah salah satu koordinatornya.

Seharian aku menemani Ratih di kelas, kantin, dan kelas XII yang lain hanya untuk menarik iuran ke teman-teman seangkatan. Aku melihat hampir sebagian berkontribusi dalam tindakan curang ini.

“Na, kamu nggak mau ikut gabung?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku, aku berusaha yakin dengan diriku sendiri. Ratih membiarkanku, meskipun dia menjadi koordinator tapi dia tak memaksaku untuk terlibat. Bagiku 70 ribu adalah uang yang besar. Uang jajan harianku saja hanya 10 ribu. Bayangkan jika aku memutuskan untuk bergabung aku bisa saja tidak jajan dalam satu minggu ke depan.

Malam ini, Ayah membebaskanku untuk tidak belajar. Malam ini aku diajak Ayah untuk makan Mi Ayam di tempat Favorite kami. Selain karena harganya yang murah semenjak ibu mengandungku Ayah sering datang ke sini. Aku memang sangat dekat dengan Ayah dibandingkan dengan Ibu, karena setiap malam ibu harus menemani nenek yang sedang sakit.

“Nak, kalau nanti udah lulus dan dapat nilai terbaik Ayah janji bakal mengizinkan kamu untuk masuk universitas manapun” ucap Ayah.

Mendengar kalimat itu tentu saja aku langsung bersemangat menghadapi UN beso lusa. Di tengah kekhawatiranku selama ini ternyata ucapan Ayah membuatku semakin optimis dan percaya diri. Aku berjanji, Aku akan jadi anak yang membanggakan untuk Ayah! Adalah janji yang benar-benar aku ucapkan dari hatiku terdalam.

Inilah hari penentuan, suasana sekolah sangatlah tenang. Tak ada kegaduhan apapun, siswa kelas X dan XI diliburkan. Sedangkan kami masih dalam ruangan. Aku melihat teman-temanku begitu tenang saat ujian berlangsung. Soal telah dibagikan, ada beberapa hal yang bisa ku kerjakan namun ada pertanyaan yang membuatku berpikir cukup lama. Saking seriusnya mengerjakan aku tak sadar jika 10 menit lagi waktu ujian selesai. Aku sangat kebingungan aku baru mengerjakan tiga perempat dari seluruh soal. Sedangkan temanku yang lain dengan percaya diri meninggalkan kelas. Tanganku gemetaran, guru pengawan memintaku untuk bersikap tenang dan santai. Namun hal itu tidak mudah, aku sangat gugup. Aku mengarang semua sisa jawaban yang belum terjawab.

Jam istirahat berlangsung sekitar 30 menit aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi. Kemarin aku sungguh percaya diri, namun apa yang terjadi! Aku malah berpikir terlalu lama. Ratih sangat memperhatikanku, dia juga teman yang peduli denganku. Sebelum ujian kedua berlangsung dia menawarkan akan membagikan kunci jawabannya jika aku meminta, tapi.. aku harus yakin dengan diriku sendiri.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *