Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru

 

Semarang tepatnya 1 Oktober 2019 lalu, hari kesaktian pancasila. Entah niatan apa aku dan teman-temanku ingin mengunjungi salah satu ikonik kota Semarang. Mungkin kalian lebih familiar dengan monumen Tugu Muda, Lawang Sewu dan Masjid Agung Jawa Tengah. Bagaikan kota lainnya, Semarang juga memiliki kota yang penuh dengan sejarah kolonial Belanda. Kota Lama, mungkin bila dilihat sekilas daerah ini hampir mirip dengan kota tua yang ada di Jakarta.

Kotanya memang lama

Bangunan yang ada di wilayah ini memang terkesan kuno dan vintage, beberapa tahun lalu kota lama hanya diminati oleh segelintir warga semarang dan sekitarnya. Namun dalam dua tahun terakhir berkat pembangunan pemerintah kota lama di sulap menjadi kawasan wisata yang menyedot berbagai wisatawan.

Ada banyak spot foto menarik yang bisa dikunjungi, salah satu ikonik kota semarang juga berada di kawasan ini yaitu gereja blenduk. Aku tak tahu persis kapan gereja ini berdiri, namun kalian jangan khawatir karena di samping gereja ada taman kecil yang dihiasi dengan lampu-lampu warna-warni. Taman ini dinamai taman Sri Gunting, mungkin terdengar seperti nama spesies burung.

Bukan hanya spot wisata saja, di kawasan kota lama juga terdapat beberapa resto dan kafe yang bisa dikunjungi, antara lain Spiegel, Ikan Bakar Cianjur, Teko Deko, Istana Ice Cream, dan masih banyak lagi. Namun kali ini aku tidak akan membahas kuliner yang ada di kawasan kota lama Semarang.

Kebetulan hari itu adalah hari kerja, aku tepat pukul 17.15 WIB aku sudah sampai. Sambil menunggu ketiga temanku yang lain aku menikmati kota lama melalui kursi yang di sediakan Indomaret dengan sebotol air putih dan sebuah buku, aku menunggu dan mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Kondisi sore disini cukup bagus, sinar senja yang diperpadukan dengan arsitektur kolonial tentu saja akan memberikan kesan vintage banget dan mempercantik feed instagram.

45 menit berlalu, teman ku telah datang ya sebut saja Dicky namanya. Berbadan sixpack dan gagah perkasa (namun sekarang masih proses pembentukan). Sesuai janji dia mau menemaniku hunting foto di kawasan kota lama. Karena kedatangannya bertepatan dengan waktu magrib jadi sebelum memulai berfoto aku pergi ke mushola At-Taqwa yang jaraknya sekitar 150m dari taman Sri Gunting. Jika kalian ingin sholat di mushola ini sebenarany daerahnya aman sih menurut aku, tapi untuk mewaspadai saja ajak teman karena sepanjang jalan minim penerangan.

Namun rasanya baru

Seusai sholat aku pun mencari beberapa Spot foto yang menarik (menurutku). Menurutku jika kalian menyukai Street Fotografi di kawasan kota lama sangat cocok, hampir setiap jalan di beri lampu penerangan. Bisa dibilang ini perpaduan antara Malioboro Jogja dan Kota Tua Jakarta.

Oh ya kebetulan sekali selain hari kesaktian pancasila 1 Oktober diperingati sebagai hari kopi sedunia. Aku dan Dicki sangat beruntung bertemu beberapa barista kota Semarang dan sekitarnya, mereka membuka stand kecil dan menjajakan kopi secara gratis. Mereka juga menunjukan bagaimana proses membuat sebuah kopi, aku sempat bertanya-tanya sedikit mengenai kopi kepada mereka. Ya… sekedar mengakrabkan dirilah, menurut salah satu barista bernama Dimas “Kopi yang berkualitas tidak menimbulkan asam lambung. Justru kopi yang dikemas dalam sachet yang sering dibeli di toko-toko adalah kopi yang membuat asam lambung meningkat.” Setidaknya itu informasi yang aku dapatkan.Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia

Jenis kopi yang mereka tawarkan pada kami adalah Arabica, setelah aku minum seteguk, Pahit! Memang beginilah nasibku sebagai orang yang bukan pecinta kopi, dalam tegukan berikutnya ada rasa asam dalam kopi ini.

Setelah mendapatkan Kopi kedua temanku yang lain menyusul kami, sebut mereka Adri dan Yan. Akhirnya kami berempat berjalan-jalan di kawasan Kota lama. Oh ya.. di depan Museum 3D ada bapak-bapak pemain biola, kalau kalian ke sini jangan lupa kasih uang ya. Sebab permainannya emang bagus dan setiap alunan biolanya sangat bisa untuk dinikmati.

Selain resto dan kafe, di dekat taman jika kalian masuk sedikit terdapat jajaran festival kuliner, untuk harganya sendir jelas lebih murah dibanding makan di restoran. Ditambah lagi saat itu ada event live musik. Daripada kalian semakin penasaran ada beberapa foto yang bisa aku tunjukan…

Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia    Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi seduniaKota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia  Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia  Kota Lama Boleh Lama, Tapi Tetap Nuansa Baru-hari kopi sedunia

Ini hanya sedikit foto, sebenarnya masih banyak foto tapi gak mungkin aku upload semua ahaha bisa jadi satu album nanti. Untuk kalian semua Dear tunggu apa lagi? penasaran langsung datang ke Kota Lama ya!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *