Kita Yang Pernah

Kita Yang Pernah

Sore ini hujan sangat deras, Aku masih duduk santai di teras kantorku. Menunggu hujan reda, setiap kali hujan turun menjelang petang. Aku selalu ingat, hari dimana kita pernah terjebak hujan berdua.

Sepulang mencari buku untuk mata pelajaran teori warna, kita adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu kelas di kampus. Awal pertemuan kita adalah hari pertama OSPEK. Aku masih bingung tak ada teman satu sekolah denganku yang masuk dalam jurusan DKV Kampus kita. Kamu juga mengalami hal yang serupa, akhirnya di hari pertama ospek kita saling mengenal satu sama lain. Sejak saat itu, kita saling mengobrol. Kamu selalu membantu mengerjakan tugas kuliah yang mungkin itu mudah namun sulit bagiku. Kita juga sering menjadi teman satu kelompok, bahkan setiap kali masuk kelas, kita selalu bersebelahan.

Awalnya Aku menganggapmu sebagai sahabat baik. Sampai sore itu saat pulang dari gramedia, kamu menembakku. Di saat hujan seperti ini. Di saat kita masih menunggu hujan reda di parkiran motor gramedia. Sebenarnya aku bukan orang yang percaya dengan cinta. Tapi setengah hatiku sadar, kamu adalah orang yang selalu hadir selama ini. Jadi, tak ada salahnya untuk mencoba.

Aku menerimamu, kita sama-sama bahagia kala itu. Semakin hari kita semakin dekat, apalagi saat teman sekelas kita dulu tahu jika kita berdua memiliki hubungan spesial. Kamu bahkan dimintai banyak traktiran. Aku selalu geli jika mengingatnya.

Dulu, bersamamu adalah hal yang membahagiakan. Kamu selalu menjemputku di depan kost, tepat waktu. Bahkan lebih sering menunggu. Berulang kali kamu protes tapi Aku selalu manjawab.

“Cewek itu ribet, kalau bajunya nggak cocok mereka sama dandanannya nanti malunya setengah mati tahu.”

Aku bukanlah orang yang percaya diri saat memakai pakaian atau dandanan yang tak sesuai denganku. Padahal hampir setiap malam, entah mengerjakan tugas kuliah atau tidak. Entah di malam minggu atau malam-malam biasa. Kamu selalu melihatku apa adanya. Tanpa dandanan, dan daster bunga-bunga. Aku sendiri juga heran, kenapa di depanmu aku justru lebih percaya diri dengan diriku.

Hari terus berjalan. Kita juga semakin mesra, Aku ingat. Satu momen besar dalam hidupku, saat pertama kali kamu menciumku. Aku tak pernah dicium oleh siapapun. Cuma kamu kala itu, dan baru kamu saja yang berani melakukan itu padaku. Kala itu juga sama, Aku menelponmu tiba-tiba. Teman kostanku yang lain pergi ke rumahnya. Aku sendirian, dan di luar hujan deras. Aku takut jika sendirian di bangunan besar seperti kostku ini. Aku memintamu untuk menjemputku, Aku bilang. “Aku mau tidur di kostan temanku yang lain.” Aku ingin kamu segera datang ke kostan, sampai merengek saking takutnya. Akhirnya benar, 20 menit kamu tiba di depanku. Seluruh bajumu basah, kamu minta rehat sejenak, Aku juga masih bersiap-siap. Sampai akhirnya listrik padam. Aku berteriak, kamu datang dengan lampu senter Hp sebagai penerang seadanya. Tubuh kita berdua saling bertubrukan karena sama-sama panik. Entah mengapa saat itu, saat kamu basah kuyup. Kamu jauh lebih nakal. Kamu meraih tubuhku, perlahan mendekap, dan menciumku hangat. Itu ciuman yang cukup lama, sampai tak sadar jika lampu telah menyala. Dan, Aku semakin mencintaimu.

Setahun berlalu, Aku merasa kita adalah pasangan yang paling romantis di kampus. Kita selalu terlihat ceria dan bahagia. Tapi setiap hubungan pasti akan adanya bertengkar. Aku lupa apa pemicu awalnya. Mungkin karena ego kita yang mulai muncul dan meninggi. Aku mementingkan diriku, begitupun kamu kala itu. Aku menuntutmu ini dan itu, kamu tidak mau tahu.

Kita terus mempermasalahkan hal yang sama, setiap hari dan setiap kali diungkit. Aku berusaha mengalah, Aku mengikuti apa yang kamu minta. Aku berhenti memintamu berubah, Kamu juga kamu lebih meluangkan waktu denganku. Kita saling menguatkan, namun akhirnya bertengkar kembali.

Hari demi hari Aku mulai bosan denganmu. Padahal dulu saat kita baru bertemu, saat kita baru menyatakan perasaan, setiap hari rasanya rindu. Kini Aku muak denganmu, muak dengan hubungan kita yang terus begitu. Bertengkar, baikan, bertengkar lagi, baikan lagi. Itu seperti roda sepeda yang berputar tapi tak berjalan. Kita terus mengulangi kesalahan, tak mau berbedah diri. Bahkan mulai saling menghakimi dan tak menghargai.

Kita yang dulu pernah, merasa bahagia. Perlahan menderita di tahun hubungan kedua. Aku menangis di kamar temanku. Mengeluhkan sikapmu yang selalu mengecewakan. Beberapa dari temanku mengatakan bertahan namun ada juga yang memintaku berpisah.

Aku tak pernah tahu, bahkan sampai sekarang. Apakah kamu juga merasa begitu dulu?

Aku memendam semua rasa penasaranku. Dulu saat awal jadian, kita selalu mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Namun, kala itu Aku justru bingung harus membicarakan apa. Suaraku sudah sangat serat setelah semalaman menangis. Kamu juga tak memulai obrolan. Sebenarnya apa yang salah dari kita?

Kita yang pernah, saling menggenggam erat kedua tangan, dan pantang menyerah. Pada akhirnya kita sama-sama lelah. Aku lelah denganmu, dengan perasaanku, dengan hubungan ini. Aku juga tahu kamu merasa begitu, hanya saja kamu tak mengungkapkannya. Kamu lebih memilih untuk diam. Bahkan kamu bilang “Aku benci drama!” saat itu kamu marah besar, Aku hanya bisa menangis sepanjang jalan.

Kita yang dulu selalu ingin bertemu, akhirnya terus berseteru. Aku capek, aku sangat capek. Hubungan ini rasanya percuma. Aku lebih mencintaimu yang dulu, sekarang kamu terlalu sering melukaiku.

Saat hujan lagi. Aku menunggu kamu menjemputku di kafe dekat kampus. Kamu bilang ada pertemuan organisasi, Aku hanya megiyakan dan padahal saat itu kamu janji akan menemaniku mengerjakan proposal. Cuaca belum terang, kamu belum juga datang. Aku mengirim pesan, tapi kamu tak segera membalas. Aku tak bermaksud posesif saat itu, Aku hanya mengkhawatirkanmu.

Satu jam berlalu, hujan berubah menjadi gerimis. Beberapa area kampus tergenang air, Aku masih menunggu. Aku bahkan sempat menelponmu, tapi kamu bilang “Bentar lagi Aku jemput tunggu ya.” Aku sadar, Aku bukan prioritasmu lagi. Kamu sudah sibuk dengan duniamu. Bahkan Aku tak punya celah untuk berperan di dalamnya. Aku terlalu terasingkan sekarang.

Kamu datang dengan motormu. Meminta maaf karena sangat terlambat. Hujan kala itu, Aku meminta putus. “Kita putus aja. Aku lelah kita terus begini, yang Aku tuntut selalu hal yang sama. Dan yang kamu lakuin juga selalu sama. Kita nggak bisa gini terus. Kita nggak bisa bersama selamanya. Ada baiknya kita pisah.”

Sekuat tenaga ku jelaskan alasanku untuk berpisah denganmu. Kamu diam, Aku benar-benar tak tahu apa yang kamu pikirkan saat ku minta putus. Kamu mengangguk, kamu bilang iya. Kita benar-benar berpisah sekarang. Ucap hatiku saat itu. Kamu masih mengantarku pulang, kamu bilang Aku masih bisa menganggapmu teman. Jadi jangan pernah sungkan.

Meskipun aku tahu itu tulus. Tapi semenjak putus, Aku tak pernah mau meminta bantuan darimu. Sekuat tenaga ku tegarkan hatiku, ku sembuhkan sendiri rasa perih di hati. Aku berusaha tetap tegar saat kita bertemu. Kamu juga demikian. Padahal Aku sangat kacau, Aku butuh sandaran. Bohong memang saat Aku bilang Aku tak menyesal. Aku sangat menyesal, Aku ingin kita balikan. Tapi, kesempatan itu tak pernah ada.

Hujan selalu membawa kenangan itu padaku. Bahkan sampai sekarang, Aku masih ingat kamu. Hujan seperti simbol hubungan kita berdua. Kini hari sudah petang, hujan juga sudah reda. Sebuah mobil sedan terparkir di depan kantor. Itu suamiku, dia datang menjemput. Saatnya Aku pulang, hujan telah berlalu sama halnya hubungan kita. Aku harap kamu juga bahagia, Aku tak pernah tahu kabarmu yang sekarang. Aku hanya bisa berharap kamu punya kehidupan yang layak. ‘Kita’ yang pernah ada, namun sekarang ‘Kita’ tak akan pernah ada untuk kita berdua.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *