"Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

“Kisah Kasih Kekasihku” : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

“Kisah Kasih Kekasihku” : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

"Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik "Kisah Kasih Kekasihku" : Isunya Bagus Tapi Kurang Dijelaskan dengan Baik

Halo, hari ini aku mau review buku. Sebenarnya ini buku yang kurang dikenal banyak orang. Apalagi melihat tahun terbitnya 2016 lalu, dan aku mendapatkan buku itu di tahun 2019 saat acara bazar buku Patjar Merah. Cerita sedikit tentang momen saat aku membeli buku itu, sebenarnya aku adalah orang senang memborong buku murah saat acara bazar. Aku sangat mudah tertarik dengan buku yang tidak terlalu tebal namun berjudul menarik menurutku.

Saat melihat buku ini, Aku langsung tertarik karena judulnya. Aku senang membahas relationship, apalagi saat itu aku masih bekerja penuh sebagai content writer. Akhirnya setelah memilih 4 macam buku, aku membayar. Dan betapa kagetnya buku ‘Kisah Kasih Kekasihku’ ternyata isinya kurang menarik secara visual. Selain tone color yang cukup mengganggu, pemilihan font juga kurang tepat. Sulit untuk dibaca. Akhirnya, ku letakan buku itu dalam rak selama berbulan-bulan.

Karena sekarang ini aku memiliki banyak waktu luang, akhirnya ku buka kembali buku-buku lamaku dan Aku mulai membaca buku itu.

Buku “Kisah Kasih Kekasihku” ditulis oleh sepasang suami istri, Sirot Fajar & Futri Zakariyah. Jujur dari gambar sampulnya sih bagus. Dan itulah yang menjadi pemikat bagiku sehingga membeli buku ini.

Nah, membahas sedikit tentang buku ini. Buku ini berisikan, 50 sepintas cerita yang berkaitan dengan dunia rumah tangga. Prespektif yang diambil buku ini sebenarnya cukup beragam, akan tetapi yang paling dominan cenderung ke agama islam. Kisah-kisah pernikahan yang dijelaskan diambil dari kisah dari Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat. Tapi ada 1 kisah yang menceritakan tentang kehidupan pernikahan Nabi Ismail AS. Aku akan menuliskan beberapa hal yang dibahas, mulai dari:

  • Pasangan yang bahagia sejak malam pertama
  • Lebih mengenal pasangan satu sama lain
  • Saling menjaga rahasia rumah tangga khususnya urusan ranjang
  • Pasangan yang saling belajar entah dengan orang lain atau pasangannya sendiri (istri yang belajar dari suami, atau suami yang belajar dari istri)
  • Saat suami istri sedang berselisih
  • Kebiasaan kecil yang berkesan sangat dalam
  • Selisih usia kedua pasangan
  • Membawa kebaikan ke masyarakat
  • Menjaga perasaan pasangan
  • Setia mendampingi pasangan
  • Dan masih banyak lagi

Sebenarnya setiap cerita yang diangkat sangatlah menarik, entah dari kisah islami ataupun kisah lainnya. Akan tetapi sangat disayangkan mereka hanya sebatas bercerita tentang point-point-nya saja, tanpa ada ulasan lebih dalam. Bagiku yang mungkin belum menikah namun cukup senang dengan kegiatan membaca merasa apa yang disampaikan dari buku ini cukup nanggung. Rasanya berhenti di tengah jalan. Memang sih, semua yang ditulis itu berdasarkan sejarah dunia, jadi butuh waktu lama untuk mengulas lebih dalam.

Selain membahas tentang cerita-cerita pernikahan tokoh-tokoh bersejarah dunia. Dalam buku ini juga dijelaskan secara singkat tentang konsep ta’aruf. Bagiku, konsep ta’aruf mungkin seperti apa yang digambarkan di ayat-ayat cinta. Ya, sekali ketemu, klik, langsung nikah. Aku sendiri melihat sistem yang seperti itu merasa cukup ngeri-ngeri sedap. Maklum saja aku bukan dari background yang ahli agama banget. Meskipun ta’aruf itu baik, namun menurutku secara pribadi menikah itu hal yang susah. Mana bisa menentukan siap hidup dengan seseorang dalam sekali bertemu.

Akan tetapi dalam buku ini dijelaskan jika ta’aruf tidak saklek seperti itu. Konsep ta’aruf pada dasarnya konsep pengenalan antara dua orang (laki-laki dan perempuan) yang berkeinginan untuk menikah. Konsep ta’aruf bukan hanya sekali pandang saja, namun kedua pihak boleh melakukan pertemuan lebih dari sekali. Jangka waktunya pun juga tidak dibatasi, seseorang bisa melakukan proses pengenalan selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sampai pada akhirnya mantap menikah. Selain itu ta’aruf juga tidak hanya mengenalkan kedua calon namun juga keluarga besar mereka. Jadi setiap pertemuan umumnya, kedua pihak harus ditemani orang lain, baik itu teman dekat, kerabat, atau orangtuanya.

Sebenarnya buku ini cukup bagus, tapi ada beberapa hal yang disayangkan selain karena pemilihan tone color kertas (khususnya isi) serta font yang sulit dibaca. Cerita dan isu yang diangkat kurang digali lebih dalam. Jika hal itu diperbaiki mungkin akan lebih baik.

Itu dia sedikit review tentang buku yang beberapa waktu lalu ku selesaikan untuk membacanya, semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi semua! See you

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *