Kamu, Aku, Dan Satu Minggu

Kamu, Aku, Dan Satu Minggu

“Aku bingung dengan kita, bagiku kamu adalah orang baru yang ku kenal dalam waktu satu minggu.”

Aku meneguk segelas teh hangat tawar. Kamu masih menghisap rokok dan membuang jauh-jauh asapnya dari pandanganku.

“..Tapi kamu yang paling berhasil mencuri semua perhatianku dalam satu waktu.”

“Memang itulah kelebihanku.”

“Aku selalu penasaran, kenapa kamu bisa menarik semua perhatianku?”

“Itu mudah, karena Aku sendiri yang menginginkan kamu untuk lebih memperhatikanku dibanding yang lain.”

Aku meneguk lagi teh tawarku. Ini tegukan yang terakhir. Aku beranjak dari kursi dan pergi ke mas Tejo. Pemilik burjo langgananku ini. Semenjak mengenal dia, Aku mulai diajak ke tempat-tempat seperti ini.

“Kamu mulai menyukai burjo.”

“Karena ada susu Dancow coklat di sini.”

“Tapi yang kamu pesan tadi teh tawar hangat.”

“Susu Dancow coklat nomer 1, teh tawar hangat nomer 2 kesukaanku.”

“Baiklah.”

Kami menaiki motor berdua, Aku selalu diboncengnya. Jarak dari burjo ke rumah cukup jauh. Setidaknya butuh 30 menit untuk kami sampai, dengan kecepatan normal. Tapi, setiap pergi denganku dia selalu memperlambat laju motornya. Ya untuk apa lagi? Jika bukan untuk menceritakan tentang dirinya, dan mencari tahu lebih banyak tentangku.

“Kenapa kamu mengajakku ke burjo yang jauh?”

“Itu adalah burjo langgananku dan teman-teman waktu SMA. Mana bisa Aku tak singgah ke sana.”

“pernyataanmu tak menjawab sama sekali.”

“Aku tahu, sebenarnya jawaban yang kamu inginkan adalah Aku ingin lebih lama denganmu. Itu benar, tapi yang lebih benar yang barusan Aku jawab.”

Sejak seminggu lalu, kamu sangat sering berkunjung ke rumahku. Menghampiriku setelah sholat magrib, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menemuiku. Aku heran kenapa dia bisa seajaib itu. Iya ajaib, saat teman-temanku yang lain memiliki kesibukkannya dan memilih istirahat setelah seharian beraktivitas. Dia memiliki energi yang tak ada habisnya, seharian bekerja masih menyempatkan waktu ke rumahku. Bertemu denganku, bahkan meminta izin ke orangtuaku untuk mengajakku pergi sejenak.

“Kamu tahu, apa yang membuatku sangat ingin selalu denganmu.”

“Apa?”

“Kamu itu rapi. Bajumu, kehidupanmu, pekerjaanmu, bahkan tutur katamu.”

“Lalu?”

“Cocok untuk memperbaikiku yang berantakan ini.”

“Tapi Aku baru mengenalmu seminggu.”

Kamu tertawa, lepas dan cukup keras. Padahal di sebelah kanan dan kiri kita ada pengendara lain.

“Memangnya kenapa kalau seminggu?”

“Itu sungguh mustahil untuk memperbaiki hidupmu.”

“Memangnya butuh berapa lama?”

Aku berpikir sejenak. Aku tak ada niatan untuk memperbaiki hidupnya, sama sekali tak ada. Aku hanya memikirkan diriku. Dan mempersiapkan semua mimpiku sendiri.

“Butuh waktu berapa lama?” ucapmu dengan nada yang lebih keras, namun tidak membentak. Aku masih berpikir.

“1 tahun.” Cetusku asal.

“Baik satu tahun.”

“Bukan 2 tahun deh.”

“2 tahun juga nggakpapa.”

“Nggak, selama-lamanya..”

“Syukurlah jika kamu bilang begitu.”

“Selama-lamanya Aku nggak akan pernah bisa atau mau memperbaiki hidup kamu.”

Kamu tertawa namun tak sekeras tadi. Aku tak mengerti. Laju motor sedikit lebih cepat. Sekarang kamu malah meminggirkan motornya. Kamu menggambil rokok lagi. Kamu hisap pelan-pelan dan asapnya buang jauh-jauh.

“Apa yang membuatmu tidak sukai denganku.”

“Banyak.”

“Sebutkan sepuluh saja.”

Kamu membuang rokokmu, dan kita kembali melanjutkan perjalanan.

“Pertama, kamu orang yang baru ku kenal satu minggu ini… kedua, kamu menyebalkan melakukan apapun tanpa izinku. Ketiga, kamu keras kepala, sekali. Keempat, kamu tidak beraturan. Kelima, bukan Aku yang berhak untuk mengubah ataupun memperbaiki dirimu.”

Aku terdiam, masih memikirkan hal lain yang tidak Aku sukai darimu. Aku cukup lama berpikir, ya, Aku  memang belum mengenal baik dirimu. Seperti yang Aku bilang, kita baru kenal dalam satu minggu ini.

“Kenapa? Cuma ada 4 aja?”

“Kita kan baru saling kenal. Bagaimana aku bisa menilaimu sejauh itu.”

Kamu diam. Tak merespon apapun, Aku juga. Tak ada keinginan untuk menambah pernyataan lain, atau mengatakan kalimat basa-basi. Kini kita sudah berada di depan rumahku. Aku turun dari motormu.

“Kamu masih punya hutang 6 hal yang tidak kamu sukai dariku. Selama belum genap 10, Aku akan datang ke sini terus sampai kamu bisa menyebutkan sepuluh.”

“Aku bisa menyebutkannya sekarang.”

“Sssttt… jangan buru-buru. Aku ingin kamu lebih mengenalku, ku beri waktu agar kita saling kenal dulu.”

Aku semakin diam tak ada argumen lagi yang bisa ku keluarkan jika sudah seperti ini. Kamu pamit begitu saja. Pada akhirnya kita menjadi pribadi yang saling bertemu, seiring berjalannya waktu Aku mulai paham cara pandangmu. Dan beginilah kita dua manusia yang tak jelas apa maunya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *