IC-Talk  Social Impact In Startup Era 2019, “Spektakuler” Kah?

IC-Talk Di Startup Era 2019, “Spektakuler” Kah?

Dampak Sosial IC-Talk Di Startup Era 2019, “Spektakuler” Kah?

Semarang (21/09) Talkshow yang digelar oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari Universitas Stikubank, Interet Club. Sebenarnya menyambutku kemarin hanya untuk mengisi waktu luang di hari libur kerja. Aku juga bingung bagaimana menjelaskan posisiku saat itu, aku meminta peserta atau tamu undangan. Meskipun aku alumni organisasi, bukan berarti aku leluasa untuk membahas berbagai kegiatan yang mereka adakan.

Ajakan dari Mas Reza (membicarakan salah satu narasumber talkshow) untuk datang dan mendampinginya selama acara berlangsung. Aku cukup bingung apakah ini termasuk ulasan acara? Atau sebagian dari diaryku.

Kesan pertama dalam acara …

Acara dimulai sekitar jam 09.00 pagi atau justru lebih. Saat itu aku duduk di meja paling depan, untuk lokasinya sendiri terletak di Sasana Kridangga Lt. 9 kampus Kendeng UNISBANK. Jujur, kesan pertama aku masuk ruangan jujur sedikit nostalgia waktu ospek dan upacara wisuda. Sedikit menggambarkan ruangan, jujur ini termasuk ruangan yang luas dalam satu ruangan ada 3 garis lapangan batminton yang dibuat. Di sebelah kanan-kiri terdapat tribun dulu tempat itu diperuntukan orangtua wisudawan. Pada bagian depan terdapat sebuah panggung yang cukup besar dengan burung garuda yang gagah diatasnya.

Kedatanganku disambut baik oleh para panitia, tak lama setelah aku ikut nimbrung dengan beberapa narasumber yang lain. Acara pun dimulai, mungkin ini sedikit kritikan bagi panitia acara aku tahu ini adalah ruangan yang besar, namun sepertinya panitia kurang menyesuaikan set tempat. Jarak antara kursi peserta dan panggung narasumber cukup jauh. Mungkin jika setiap barisan 1,5 meter maju ke depan jarak yang ada tidak terkesan terlalu jauh.

Acara dimulai dengan pembukaan dari MC yang memperkenalkan diri, dan diikuti menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh semua orang di dalam ruangan. Selanjutnya ada sambutan dari ketua organisasi dan ketua acara, saat itu aku tak menghitung persis berapa menit yang dibutuhkan dalam sesi tersebut.

Setelah acara disambut oleh petinggi-petinggi organisasi, masih ada beberapa sosialisasi kalau tidak salah sosialisasi dari kegiatan Iconclass, Cymed sebagai salah satu produk mereka dan yang terakhir sosialisasi dari “cicil”. Pada momen ini aku merasa cukup bosan dengan apa yang sajikan di atas panggung. Hampir 20-30 menit ternyata dapat menurunkan tingkat interest-ku sebagai penonton. Aku tahu adik-adikku sedang belajar sekarang 🙂 tapi saat diriku memposisikan diri sebagai peserta memang sungguh kerasa pembawaan yang kurang menyenangkan dari sosialisasi mereka jadi terkesan lebih lama. But jangan berkecil hati karena masih ada banyak waktu untuk belajar.

Pembicara yang berkompeten

Setelah semua selingan disampaikan, barulah acara inti di Mulai, dengan dinarasumberi oleh Reza Aditya N. (Founder Bratamedia), Aditya Setiawan (Founder Idelokal), dan Aditya Dwi Putra (Founder Bizlab). Aku mungkin akan membahas sedikit materi yang dibicarakandari ketiga pmbicara.

Seperti yang telah kita ketahui banyak startup digital yang sedang berkembang di Indonesia. Setiap startup memiliki tujuan dan value-nya masing-masing. Dengan perkembangan saat ini mungkin ini adalah saatnya anak muda bergerak lebih maju khususnya di kalangan mahasiswa. Market yang begitu besar membuat kita sadar jika saat ini bukan waktunya berkompetisi atau memperbanyak musuh, banyaknya startup dan kebutuhan pasar yang bermacam-macam menuntun kita untuk saling berkolaborasi. Setidaknya itu adalah inti yang dibicarakan oleh Mas Reza.

Tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Mas Reza, Mas Aditya pun menambahkan materi yang benar-benar memberikan wawasan bagiku sebagai penonton. Misalnya teknik marketing yang bukan lagi memperkenalkan sebuah produk atau jasa saja. Namun berubah menjadi bagaimana seorang marketer menarik perhatian para calon cutomernya bahkan dari sisi psikologi sekalipun. Saat ini banyak orang yang berada di usia produktif, namun justru mereka tidak bekerja secara produktif. Bukan hanya itu Mas Adit juga menjelaskan terjadi sebuah “GAP!”dimana banyak orang yang kesulitan mencari pekerjaan, namun ternyata banyak perusahaan yang kesulitan mencari tenaga kerja yang berkompeten. Menjadi mahasiswa memang selau identik dengan kegiatan pekuliahan, namun kenyataannya mata kuliah yang diajarkan tak mencakupi apa yang dibutuhkan sebuah industri.

Materi terakhir dibawakan oleh mas Aditya Setiawan (Mas Awan), meskipun dia yang paling muda. Namun value yang dimiliki tidak kalah dari kedua pembicara yang lain. Muda, Kaya, dan Berguna… kalimat yang begitu melekat. Banyak orang yang mengidamkan pensiun di usia muda, namun tak banyak orang yang sadar seberapa manfaat dirinya bagi lingkungan selama dia hidup. Sebuah tamparan untuk kaum muda. Banyak orang yang membangun sebuah bisnis hanya untuk pencapaian pribadi sehingga melupakan apa manfaat dari bisnis yang dibuat. Dengan gayanya yang humoris aku akui value yang diberikan dapat menghipnotis siapapun yang berbicara dengannya. Bahkan untuk memulai sebuah bisnis Mas Awan lebih menyarankan agar memilih ide dengan impact yang besar terhadap lingkungan sosial. Banyak startup yang jatuh karena apa yang dibuat kurang bermanfaat bagi masyarakat. Niat baik akan menghasilkan hal baik pula.

Konsep bagus tapi,…

Kurang lebih itulah yang disampaikan ketiga pembicara, semuanya memiliki value masing-masing. Aku sangat memuji dengan konsep acara yang dibuat cukup menarik (kecuali bagian pembukaan dan sosialisasi yang terlalu lama). Konsep yang cukup kreatif dengan memberikan game yang pada akhirnya memberikan wawasan bagi pesertanya. Namun sangat disayangkan interest yang sangat minim dari peserta. Bahkan tak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan kepada ketiga narasumber.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, acara ini cukup berdampak baik bagi diriku secara pribadi. Materi yang begitu menarik, pembawaan narasumber yang berkompeten menjadikan nilai plus. Semoga dengan adanya acara seperti ini akan banyak kesadaran yang muncul pada kalangan muda mudi. Pada akhirnya acara talkshow diakhiri dengan closing statement dari kedua moderator. (jujur terdengar samar…) Aku sendiri sangat menyayangkan sambutan yang dibilang “Spektakuler” tapi tidak sesuai dengan apa yang terjadi, terlepas dari kepasifan peserta. Karena ada dari faktor ruangan dan teknis (mic yang bermasalah dan jarak pandang peserta yang kurang jelas dengan layar proyektor).

Namun saya ingat Indonesia apa yang diutarakan pembicara, jika Indonesia sangat siang menjadi konsumen digital. Namun Indonesia belum siap untuk menjadi pemain digital, perlu adanya edukasi dari pihak yang membutuhkan-digital. Dan semua bisa diawali dengan permintaan kita untuk lebih mandiri, karena setiap melakukan sesuatu Anda harus tahu apa alasan terbesar untuk Anda.

Mulai dengan Mengapa?

Sekian dari ceritaku semoga ada manfaat yang bisa kamu ambil!

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *