Ibu Lebih Sayang Kakak Part 4

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 4

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 4

Aku menoleh ke belakang, Kak Feril berdiri dan melangkah mendekatiku. “Biar aku mengantarmu..”Ibu Lebih Sayang Kakak Part 4

Sampai sekarang, aku belum merasakan ikatan batin yang dibilang orang-orang. Padahal saat ini kami sudah satu mobil, tak ada perbincangan apa pun. Kecuali saat dia menanyakan kemana alamat yang aku tuju. Suasana mobil terasa begitu hening, kak Feril fokus dengan kondisi jalanan yang ramai lancar. Sedangkan aku mengamati setiap sudut kota Bogor.

“Apa kamu ingin bertemu Ayah?”

Sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak aku percayai akan diucapkan oleh kak Feril. “Iya Boleh.”

Aku tidak berpikir sedikit pun kemana Ayah berada sekarang, bisa saja dia bekerja atau sedang bermain dengan temannya. Oh ya sebagai kesan pertama, alangkah lebih baik aku membawa sebuah bingkisan. Aku ingat dulu setiap hari Ibu selalu mengganti bunga mawar putih yang ada di ruang tamu jika sudah layu. Apa sebaknya aku membawakan itu?

“Kak. Boleh aku membeli bunga dulu sebelum bertemu?”

Kak Feril mengangguk. Aku hanya berdiam diri mengikuti kemana jalannya mobil ini pergi, sesuai dengan permintaanku. Kak Feril memberhentikan mobilnya di sebuah Florist. Aku meminta untuk dibuatkan satu buket cantik dengan 10 mawar putih. Tak perlu menunggu lama cukup 15 menit saja buket pesenanku telah jadi. Aku kembali memasuki mobil, aku harap Ayah akan menyukainya.

Tempat yang aku sendiri tak membayangkan, selama dalam mobil aku memang tak berekspetasi apapun. Namun aku mulai memahami apa yang disebut pertemuan, saat kaki ini menginjak daerah pemakanan. Kak Feril memintaku untuk mengikutinya, sepertinya aku mulai memahami. Kakak tak mengatakan apapun selama perjalanan. Dan… mungkin ini adalah jawabannya.

Kami berhenti di salah satu makam, dengan batu nisan yang tertulis nama Abdullah Mujib – meninggal 02 Februari 2016. “sudah 3 tahun” ucap kak Feril pelan. Aku mengarahkan pandanganku padanya, tampak matanya begitu sayu.. ia meneteskan air mata dan terus memandang makam tersebut. Aku tahu ini adalah makan Ayahku.

Aku kembali menandang makam Ayah begitu dalam. Ku taruh bunga mawar putih disamping namanya.

“Ayah meninggal karena apa?”

“Serangan jantung. Dia memang keras kepala, aku selalu melarang Ayah memakan berkolestrol tinggi. Tapi, dia selalu seperti anak-anak usia 5 tahun yang bandel.”

Aku tak tahu, aku tidak bisa merasakan kesedihan apapun. Rasanya air mataku sudah kering. Atau karena aku tak bisa merasakan kesedihan sama seperti kak Feril. Jujur aku sendiri juga sedikit kecewa ketika seumur hidupku tak bisa menemui Ayah kandungku sendiri. Tapi kenapa? Tak ada setetes air mataku yang keluar karenanya.

“Setelah kepergian Ayah, aku kira.. Aku adalah anak yang paling sengsara di dunia. Kepergian Ayah sebulan sebelum pernikahanku, aku telah melihat segalanya… pakaian, foto, gedung dan segalanya. Sejak kecil Ayah selalu berharap jika ia selalu menemani momen penting dalam hidupku. Dan pernikahan adalah momen berharga bagiku.. tapi Ayah melewatkannya.”

Kami berdua saling berpandangan, jujur aku bingung harus bersikap apa. Tapi aku merasakan, rasa kehilangan dari seorang anak untuk Ayahnya. Aku merasakan kesedihan seorang saudara perempuan. Matanya sangat mirip denganku, terutama saat kami sama-sama sedang menangis.

“Maafkan aku. Harusnya aku tak melakukan ini padamu, batinku masih berperang. Aku tak bisa menjanjikan apapun…”

“Maksudnya Kak Feril menolak ajakanku ke Malang?”

Dia mengangguk. Meskipun tadi aku berkata tak apa jika aku lebih menyukai cara lain dibandingkan harus mengajak kak Feril pulang. Tapi, sejujurnya ini bukanlah harapanku. Aku takut tante kecewa, aku takut ibu tidak segera sembuh. Aku takut untuk pulang kembali… Tenanglah Keyla!!! Tenangkan dirimu!

Aku menarik napas panjang. Aku menaruh kekecewaan berat kepada kak Feril dan seluruh keluarganya. Kalau semisal mengutuk bukanlah perbuatan dosa, jujur aku ingin mengutuknya, ibunya dan Ayah! Mereka pikir siapa yang paling sengsara saat ini?

“Baiklah… bukan salah kakak juga. Ini adalah salahku terlalu percaya dengan cerita tante Yuni yang mengatakan jika aku memiliki Kakak. Penolakan kakak membuatku sadar, Kamu memang bukan kakak kandungku! Dan kita memang tidak akan pernah bersaudara.”

“Maafkan aku.. tolong pahami kondisiku”

“Bagaimana aku bisa memahamimu, kamu saja tidak memperlakukan sebaliknya padaku..” Aku tahu ini kasar, tapi aku sudah lelah. Satu hari layaknya satu tahun “…Ternyata pergi ke Bogor adalah ide terbodoh yang aku lakukan untuk kesembuhan ibu. Aku harap ini adalah pertemuan kita yang terakhir.”

Aku melangkah pergi, aku mempercepat langkahku. Aku tak peduli kak Feril mengejarku, sebenarnya tante Yuni menyuruhku untuk menginap 1 atau 2 malam. Namun, menurutku aku tidak bisa terlalu lama di sini meski hanya satu malam.

Malam tepat pukul 19.30 Bandara Soekarno-Hatta. Aku mempesiapkan diri untuk pulang kembali ke Malang. Aku terpaksa me-reschedule jadwal penerbangan ke Malang. Aku telah menelpon tante Yuni, aku mengatakan padanya jika malam ini aku akan pulang. Kaki ku begitu lemas… padahal aku hanya menangis seharian tapi kenapa kakiku yang lelah?

Pengumuman penerbangan Armada Citilink Jakarta-Malang 15 menit lagi terdengar cukup keras. Tanpa pikir panjang aku melangkah menuju terminal 2, rinduku terhadap Ibu sungguh sangat besar sekarang.

“Key…”

Seperti ada yang memanggilku? Atau hanya firasatku saja, namaku kan pasaran jadi pasti itu ditujukan untuk orang lain.

“Keyla… Keyla tunggu!!”

Aku yakin orang yang dimaksud adalah diriku. Aku berbalik. Terlihat, kak Feril yang berlari ke arahku dan disusulkan oleh suaminya. Aku tak menyangka jika ia akan kemari, padahal tadi siang aku berharap itu adalah pertemuan terakhir. Tapi saat ini aku merasa senang, kehadiran kak keyla sepertinya akan  membawa kabar bahagia untukku.

Tanpa meminta izin, Ia langsung memelukku. Begitu erat, hangat.. itulah yang aku rasakan sekarang. “Maafin kakak… Kakak memang orang yang tak berani bertanggung jawab.”

Ia melepaskan pelukannya, aku hanya terkejut dan tak bisa berkata apapun.

“Maafin Kakak terlalu egois, untung saja kakak nggak terlambat. Selamanya kakak bakal menyesal jika malam ini kehilangan kamu.”

“Maksudnya kak?”

“Ibu sudah bercerita semuanya..” ucap kak Feril sambil terisak dalam tangisnya “… Kakak akan ikut kamu ke Malang. Kakak sadar kehilangan Ayah adalah kepahitan dalam hidup kakak, dan kakak tak ingin merasakan itu lagi. Kakak tak ingin kehilangan kamu ataupun Ibu.”

Malam itu, pesawat yang seharusnya aku naiki telah terbang ke langit kota Malang. Namun aku masih berdiam di bandara, aku mendekap erat Kakakku. Mungkin ini yang dibilang ikatan batin. Ya, kami sama-sama terluka, sama-sama mengalami hal yang rumit, dan sama-sama dibohongi. Namun bukan berarti kami harus saling membenci. Tidak percaya mungkin hal yang wajar awalnya, namun jika kita mengutarakan perasaan satu sama lain. Mungkin kita akan lebih memahami satu sama lain.

Mungkin benar, aku harus terluka lebih dalam untuk menggapai hal yang besar. Aku telah terluka oleh kebohongan Ibu, namun untuk apa berkutip pada masa lalu? Jika pada akhirnya aku menemukan ikatan yang baru, Kakak kandungku.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *