Ibu Lebih Sayang Kakak Part 3

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 3

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 3

Pelahan mataku terbuka, aku berada dalam ruangan yang tak ku kenali. Tampak begitu samar penglihatanku, aku beberapa kali mengedipkan mata sama semua terlihat jelas. Di depanku ada sosok laki-laki yang aku temui saat berada di rumah kak Feril. Dia sedang menggendong bayi, dan mengarahkan pandangannya padaku.Ibu Lebih Sayang Kakak Part 3

“Sudah mendingan?” ucap laki-laki itu.

Aku mengangguk, dalam hatiku menebak sepertinya aku berada di rumah kak Feril. Laki-laki itu membawakan segelas air di tangan kanannya. Dan menggendong bayinya di tangan yang satunya.

“Diminum dulu, sekarang kamu ada di kamar tamu kami. Kalau sudah mendingan mari ke ruang makan di sana sudah ada Feril dan Ibu.”

Aku tahu maksud laki-laki ini baik. Mungkin sekarang kak Feril dan Ibunya sedang memperdebatkan kedatanganku. Aku pun meminta untuk diantar ke ruang makan, jujur aku sedikit takut. Aku harap apa yang aku lakukan tidak akan menyakiti kak Feril dan Ibunya. Meskipun kedatanganku saja sudah membuat konflik besar di rumah ini. Jujur saja dalam hatiku aku tak ingin peduli siapa kakak kandungku sendiri. Namun, kesembuhan Ibu adalah hal yang terus aku pikirkan.

Suasana ruang makan yang biasanya begitu hangat oleh percakapan satu sama lain, kali ini terasa begitu dingin dan mencekam. Terlihat kak Feril dan Ibunya saling menatap dengan pandangan penuh amarah. Laki-laki itu memintaku duduk di samping Ibu Kak Feril. Suasana kali ini masih dingin tak ada siapa pun yang memulai pembicaraan. Hingga laki-laki yang menjadi suami kak Feril ikut bergabung dengan kami dan memulai obrolan.

“Tadi nama kamu Keyla ya? Sebelum memulai pembicaraan ada baiknya kita makan dulu. Kasian kamu pasti tidak punya tenaga setelah pingsan.”

“Nggak usah mas. Aku nggakpapa..”

Aku bukanlah orang bodoh, mana mungkin aku bisa nafsu makan dalam situasi serumit ini. Apalagi melihat ekspresi kedua wanita yang ada di dekatku. Mereka yang meperlihatkan ketidaknyamanannya atas kehadiranku. Mana mungkin aku bisa bersantai makan di tempat yang aku sendiri tidak nyaman.

“Kita tidak akan memulai pembicaraan sampai Keyla makan!”

Dengan nada yang tegas namun tidak agresif laki-laki itu menegaskan perilaku kak Feril dan Ibunya. Akhirnya kami makan dalam suasana yang sangat canggung. Baik aku maupun kak Feril dan Ibunya sama-sama kehilangan nafsu makan. Mungkin tak lebih dari 3 sendok nasi yang masuk dalam perut kami.

30 menit setelah makan… suasana kembali mendingin. Aku tak tahu bagaimana lagi, semua yang terjadi saat ini di luar prediksiku.

“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan jika aku ini kakak kandungmu?”

Jujur aku sendiri juga belum menyimpulkan jika aku adik kandungnya. Kejadian semalam tentang apa yang dibicarakan tante Yuni masih belum bisa aku percaya.

“Aku tidak tahu.. aku sendiri juga tidak bisa mempercayainya. Selama perjalanan aku selalu berpikir untuk menyangkal apa yang dikatakan tante kepadaku mengenai kak Feril. Bahkan untuk memanggilmu kakak saja aku belum mampu, hatiku, pikiranku bahkan tubuhku semua menolak…”

Aku mulai menjatuhkan air mata. Wajah kak Feril masih dipenuhi emosi, aku tak peduli jika dinilai ini adalah air mata buaya. Mungkin jika dia berada di posisiku dia akan paham betapa sulit menempuh perjalanan hanya untuk menemukan ikatan darah yang sempat hilang.

“…kemarahan yang kak Feril rasakan berada di luar rencanaku. Kalau ada cara lain untuk menyembuhkan Ibu selain menemui aku yakin aku akan pilih itu. Aku tahu kakak tidak bisa menerima kenyataan, aku sama.”

“Memang bagaimana kondisi ibumu sekarang?”

“Setelah pengangkatan tumor di otaknya, sebagian ingatannya hilang. Bahkan ingatannya membawa ibu ke 23 tahun lalu, sebelum aku lahir. Ibu hanya mengingat kak Feril dan Ayah, namun ia melupakanku. Dan kata dokter salah satu cara agar Ibu segera sembuh adalah membawa kak Feril dan Ayah.”

Suasana ruang makan berubah, terdengar isakan dari Ibu kak Feril. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Jujur rasanya aku ingin membencinya seumur hidupku, wanita yang berani merenggut kebahagiaan hidup. Namun aku tahu marah pada wanita itu tak akan membantuku, kak Feril akan menjadi sulit mempercayaiku. “Tante.. anda saja banyak waktuku di Bogor. Tentu aku akan melakukan apa pun untuk membalaskan dendam Ibu. Aku ingin seumur hidupku membenci tante, tapi aku tahu itu tidak akan membuat Ibu cepat sembuh..”

Aku menyeka air mataku yang menetes.

“…Aku tahu, tante mungkin sangat bersimpati padaku. Jika aku tak bisa meyakinkan kakak ku sendiri, bisakah tante mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak berharap jika aku berhasil membawa kak Feril, justru aku berharap aku sedang bermimpi. Aku bermimpi semalaman dan di pagi hari aku melihat wajah ibuku yang tersenyum padaku.”

Suasana ruangan larut dalam emosiku. Tak ada seorang pun yang menyelaku. Semua terdiam, jujur aku ingin mengungkapkan semuanya.

“Tante adalah wanita, pasti merasakan bagaimana menjadi seorang Ibu. Tante juga pernah menjadi seorang anak bukan? Harusnya tante paham jika apa yang lakukan ini…”

“Maaf..” satu kata yang mungkin tak akan pernah bisa menebus semua yang terjadi.

“Maaf Tan?..” aku mencoba menahan emosiku, aku yakin siapa pun yang berada dalam posisiku tak akan pernah bisa menerima itu selamanya. Aku memandangi semua orang yang ada di ruang tamu ini, Kak Feril hanya memalingkan pandangannya. Sementara suami kak Feril terlihat bingung harus berkomentar apa.

“Selama 23 tahun, aku percaya dalam kebohongan Ibuku sendiri jika Ayahku meninggal saat Ibu masih mengandung. Selama 23 tahun aku percaya jika aku adalah anak tunggal, dan hanya aku satu-satunya orang yang ia sayangi. Andai saja kebenaran ini aku  ketahui lebih awal, mungkin kita seperti kakak-adik yang sangat akrab. Anda aku tahu ini, mungkin sedari dulu aku menemui Ayah, aku akan memintanya mengambilkan raportku di Sekolah…”

Aku menghela napas begitu dalam, aku tak peduli lagi dengan air mata yang terus menerus menetes.

“Aku tahu kak Feril marah atau kecewa dengan kehadiranku. Tapi cobalah memikirkan bagaimana posisiku. 23 tahun tanpa Ayah, 23 tahun hidup dalam kebohongan. Menurutku itu sudah cukup menyakitkan, dan aku tak ingin menambah luka lagi… Saat harus melalui sisa hidup tanpa diingat oleh ibuku sendiri.”

Tanpa pikir panjang, aku beranjak dari tempat duduk. Aku rasa cukup sampai di sini perjuanganku membawa kak Feril. Aku tak ingin terlalu mengulur waktu lagi. “Aku tak memiliki banyak waktu, jika memang aku tak berhasil membawa kak Feril. Aku yakin tenaga medis rumah sakit akan menemukan cara lain. Aku pergi sekarang.”

Tanpa berpikir dua kali aku melangkah menuju pintu keluar. Aku sudah tidak peduli dengan ambisiku sesampainya di Bogor, semua hanya sia-sia.

“Tunggu biar aku antar.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *