Ibu Lebih Sayang Kakak Part 2

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 2

Ibu Lebih Sayang Kakak | Part 2

Bogor. Sebuah kota yang masuk dalam wilayah Jabodetabek, aku tak pernah berada di kota ini. Dulu waktu SMP ibu tak mengizinkanku untuk mengikuti studi tour ke Jakarta. Dia bilang Jakarta terlalu jauh, dan aku nanti kecapekan. Anehnya aku dulu menyetujui itu, Ibu benar-benar melindungiku dari kawasan kota-kota besar di wilayah barat kota Jawa.Ibu Lebih Sayang Kakak Part 2

Andai aku tahu hal ini lebih awal, mungkin dulu aku membrontak dan tetap mengikuti studi tour ke Jakarta. Bandara Soekarno-hatta begitu ramai, banyak orang yang menyambut kedatangan namun ada pula yang harus melakukan perpisahan. Sedangkan aku? aku sendiri bingung, apakah ini pergi atau pulang ke rumah ayahku sendiri.

Tante berpesan padaku, untuk menaiki taksi online kemana pun aku pergi. Dia melarangku untuk menaiki angkutan umum baik itu bus atau kereta listrik. Tak peduli semahal apapun biayanya, yang penting aku selamat dan dapat bertemu kakak dan Ayahku…

Perjalanan dari bandara sampai Bogor cukup panjang. Hampir sekitar 1,5 jam aku berada di dalam taksi. Akhirnya aku telah sampai di sebuah kompleks perumahan di daerah Ciomas, Sukamakmur. Menurutku ini kompleks perumahan yang cukup elite. Tante memberikan alamat rumah Ayah yang ia ketahui 5 tahun lalu. Aku harap dia masih disini… Apakah Ayah nanti akan mengenaliku? Atau justru berdalih dan mengatakan jika aku bukan anaknya?

Langkahku semakin getir. Ku lalui dengan kakiku kompleks perumahan yang belum pernah aku kunjungi, jujur ini cukup berbeda dengan rumah yang ada di Malang. Sebenarnya driver taksi tadi menawarkan untuk mengantarku sampai ke rumah yang dituju. Namun aku menolaknya, aku perlu beradaptasi dengan lingkungan ini. Aku juga perlu menyiapkan diri untuk mengajakan hal yang sampai sekarang tidak bisa aku percaya.

Rumah yang ku tuju, Rumah Blok D No. 28 sudah di depanku. Terlihat sangat sepi, semoga aku berhasil menemui kakak dan Ayah kandungku. Tanganku terus gemetar… bahkan mengetuk pintu rasanya begitu sulit. Sering kali aku mengalami perang batin. Pikiranku mengatakan untuk pergi saja, namun hatiku.. mengatakan aku harus tetap melakukannya.

Aku menarik nafas yang panjang, ku siapkan suaraku yang sepertinya terasa mulai serak. Aku menghapus air mataku yang setetes jatuh. Aku harus mampu melalui ini!

“Permisi..”

TOK TOK TOK…

“Permi…”

“Iya, cari siapa mbak?” di depanku. Sosok laki-laki muda dengan tubuh yang tegap dan tinggi. Apakah ini kakakku?

“Feril..ucapku sedikit pelan. Pemuda itu mengizinkan aku masuk ke dalam rumahnya. Pria itu memintaku duduk di ruang tamu. Dari jauh tampak sosok wanita yang sedang menggendong seorang bayi. Dalam hatiku aku bertanya dimana kakak kandungku, dan dimana Ayah?

Wanita yang ku lihat dari kejauhan mendekat ke ruang tamu. Bayi yang tadi digendongnya diserahkan pada si pria tinggi tegap itu. Aku tak tahu apakah ini ikatan batin atau tebakanku saja. Wanita itu adalah Feril.

“Iya mbak ada apa cari saya? Sebelumnya Mbak siapa ya?”

“Kak Feril, ini aku Keyla….” suaraku mulai terasa berat. Rasanya aku tidak sanggup untuk mengatakan sapa identitasku yang sebenarnya. “…Aku adik kandung Kak Feril.”

Layaknya sebuah petir yang sedang menyambar rumah ini. Terlihat ekspresi Kak Feril begitu sangat terkejut. Mungkin aku terlalu frontal mengatakan ini. Tapi aku tak memiliki cara lain.

“Aku tahu aku lancang… 23 tahun kita berpisah. Aku juga baru mengetahuinya kemarin, bukan Cuma kakak yang berat tapi aku juga. Tapi aku jauh-jauh ke sini cuma ingin ngajak Kak Feril dan Ayah pulang!”

Air mataku begitu pecah.. aku tak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Mungkin ini berat untuk Kak Feril, tapi begitu juga buatku!

“Maaf mbak. Sepertinya mbak salah orang kalau mau menipu. Saya ini orang berpendirikan mbak, gak mungkin percaya dengan tipu daya klasik seperti itu.”

“Kak aku tahu kakak kaget, aku juga sama.. tapi tolong dengerin aku.”

“Keluar mbak. KELUAR!!!!”

Aku dikeluarkan secara kasar oleh kakakku sendiri, aku tahu saat ini dia rapuh sepertiku. Aku tak tahu bagaimana caranya meyakinkan jika apa yang ku katakan adalah sebuah kenyataan. Aku terus menangis di depan halaman rumahnya. Aku tahu beberapa orang sekitar melihatku begitu melas. Seribu alasan diotakku mengatakan sebaiknya pulang ke Malang. Tapi.. aku tidak ingin selamanya Ibu melupakanku.

Aku masih terus menangis, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tak boleh menyerah sekarang. Tapi aku tak tahu lagi harus bagaimana sekarang?? Aku kehabisan akal, tenagaku semakin terkuras. Tubuhku terasa sangat gemetar, rasanya tenagaku pelahan habis. Sebaiknya aku ke penginapan sekarang. Aku harus mencari cara agar bisa membawa kakak dan Ayah pulang.

Aku menguatkan kakiku untuk berdiri, tapi tanpa sadar aku terjatuh. Mataku memberat. Tenagaku benar-benar habis sekarang…

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *